Kecurigaan Orang Tua Joanna

Malam itu Brian terkapar dengan mudah di apartemen sekretaris nya, Linda.

"Aku benar-benar memuaskan mu kan Tuan ?" Linda berbisik nakal pada Brian yang masih nampak terpejam, wanita itu bahkan dengan sengaja merekam aktivitas nya bersama sang Tuan.

Brian hanya mengangguk menikmati sisa-sisa kenikmatan yang mengalir pada tubuhnya.

Pria itu pun akhirnya dengan mudah terlelap dalam dekapan Linda sang sekretaris.

"Dengan begini, langkah ku untuk menyingkirkan Nona Joanna akan segera tercapai !"

"Aku yakin wanita lemah itu pasti akan kembali sakit-sakitan saat melihat suaminya bermain gila dengan ku !" senyum licik Linda nampak terlihat begitu nyata menghiasi wajahnya.

Tiga hari terasa berlalu begitu cepat bagi Joanna, ia kembali kerumahnya bersama Kennedy.

Cara Kennedy membangkitkan kembali rasa bahagia di hati Joanna membuat wanita itu berhasil melupakan permasalahan rumah tangganya untuk sesaat.

"Joanna kau di rumah kan Nak ?" sang ibu yang lama tak menghubungi nya mendadak melakukan panggilan.

"Iya Bu,"

"Ibu sedang dalam perjalanan untuk berkunjung ke rumahmu Nak !"

"Benarkah Bu ?" raut wajah Joanna nampak begitu cerah seketika.

"Tentu Jo,"

"Sampai bertemu nanti Nak," sang Ibu akhirnya memutuskan panggilan.

"Ada apa Nona ?"

"Telfon dari siapa ?"

"Sepertinya Nona nampak begitu bahagia !" Kennedy menatap wajah kakak iparnya dengan sedikit curiga dan perlahan melangkah menghampiri Joanna.

"Ibu ku akan berkunjung kemari Ken !" Joanna nampak menyampaikan kebahagiaan nya dengan antusias pada Kennedy.

"Benarkah ?"

"Waah, diriku harus benar-benar berhati-hati kali ini !" Kennedy melirik nakal selat dada pada tubuh kakak iparnya.

"Tidak akan ada jatah permainan jika Ayah dan Ibu menginap disini !" Joanna kembali menanggapi kalimat Kennedy dengan tawa tertahan, wanita itu kini telah memahami setiap ungkapan isyarat dari adik iparnya.

"Apa Nona tega terhadap ku ?" pria itu kembali menampilkan sikap manja nya pada Joanna.

"Kau juga selalu tega Ken, bahkan dirimu sangat bersemangat ketika menghentak'kan nya secara kasar pada tubuh ku !" ucapan Joanna kembali berhasil memancing hasrat Kennedy.

"Mmmmmphh,"

"Jangan sekarang Ken,"

"Kau harus pergi bukan ?" Joanna menghentikan aktivitas bibir Kennedy.

"Kenapa diriku selalu tak bisa menahan diri dari pesona tubuh mu Nona ?" Kennedy kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh kakak iparnya.

Tautan bibir antara Kennedy serta Joanna kembali terlepas saat bel pintu rumah Joanna nampak terdengar berbunyi dengan nyaring.

"Aaaaagh," Kennedy mendesis dengan raut wajah kesal.

"Aku masih menginginkan mu Nona," pria itu tampak mengacak rambutnya.

"Tenanglah Ken, itu mungkin orang tuaku !" Joanna kembali mencium sepintas bibir Kennedy dan berlalu pergi dari hadapan adik iparnya.

"Nona, aku bisa gila jika seperti ini !" Kennedy menghela nafas dan masih tak terima serta terlihat meracau karena hasratnya yang harus terhenti.

"Ibu ?" Joanna seketika memeluk Ibunya begitu pintu terbuka.

"Aku merindukanmu Ibu,"

"Ibu juga sangat merindukanmu sayang !" sang Ibu nampak kembali memeluk hangat putrinya.

"Bagaimana kabar Ayah ?" Joanna kembali mencium tangan Ayah nya.

"Ayah baik Nak, seperti yang kau lihat !" Ayah Joanna tersenyum melihat putrinya yang tak kalah menampilkan senyum cerah.

"Selamat pagi ...," Kennedy nampak muncul serta menyalami kedua orang tua Joanna.

"Bagaimana kabarmu Nak,"

"Saya baik Bu," senyum tulus Kennedy membuat orang tua Joanna turut nyaman untuk berbincang bersama adik iparnya.

"Ken, dirimu ada kelas bukan ?"

"Kenapa belum juga berangkat ?" Joanna nampak kembali mengingatkan schedule Kennedy hari itu.

Pria itu akhirnya bergegas pergi dan meninggalkan Joanna bersama kedua orangtuanya.

Malam itu Brian pulang ke rumahnya, pria itu kembali sempoyongan karena alkohol yang menguasai tubuhnya.

"Brian !" Ayah Joanna nampak membuka pintu dan sangat terkejut saat melihat kondisi menantu kesayangan nya.

"Ada apa denganmu Bri ?" Ayah Joanna mencoba untuk menopang tubuh anak menantunya.

"Aku hanya sedikit butuh hiburan Ayah," ucapan pria itu nampak melantur sesuka hatinya.

"Ayah tahu anak panti asuhan itu ?" Brian mengarahkan jari telunjuknya pada wajah Kennedy yang berada dibelakang Joanna.

"Dia itu anak yang munafik Ayah !" Brian berteriak dan hendak memukul wajah Kennedy seketika.

"Brian cukup !"

"Joanna menahan tangan suaminya dan mencoba untuk menenangkan nya !"

"Lepas Joanna, kau seperti ini gara-gara dia bukan ?" Brian kembali memegang kerah baju Kennedy dan mencoba melayangkan pukulan.

Namun nahas nya,

Bukan Kennedy yang terjatuh justru Brian sendiri yang terkulai dan tak sadarkan diri.

"Ken, tolong bawa dia ke kamar !" Joanna berusaha untuk menyembunyikan air matanya dari Kennedy juga orang tuanya.

"Ada apa sebenarnya Jo ?" Ibu Joanna nampak bertanya dengan begitu lembut pada putrinya.

"Saya juga tidak tahu Ibu,"

"Mungkin Brian tertekan akan semua pekerjaannya di kantor."

Joanna kembali tak ingin menjelekkan nama Brian suaminya dihadapan kedua orang tuanya.

"Maaf Ayah, Ibu saya harus ke kamar sekarang !" Joanna akhirnya melangkah dan berlalu dari hadapan kedua orangtuanya.

"Apa kau baik-baik saja Ken ?" Joanna tampak memeriksa wajah Kennedy begitu mendapati Kennedy hendak keluar dan menuju kamarnya.

"Tenanglah Nona, aku baik-baik saja !"

"Orang mabuk itu tak akan pernah memiliki tenaga untuk menjatuhkan diriku !" Kennedy kembali mengusap lembut pipi Joanna kakak iparnya.

"Ken, boleh kah aku tidur bersama mu malam ini ?" Joanna menatap manik mata Kennedy sebelum akhirnya memeluk tubuhnya, pria yang begitu dewasa menurut hati Joanna.

"Tentu saja Nona, kenapa harus bertanya seperti itu ?" pria itu tampak menyentil dahi Joanna.

Kennedy kembali mengangkat tubuh Joanna dan membawa nya menuju kamarnya.

"Mmmmmphh, Ken ...," ucapan Joanna kembali tertahan saat bibir Kennedy kembali menyerang nya.

"Aku sudah menahannya selama seharian Nona," Kennedy seketika menutup dan mengunci pintu kamarnya.

Pria itu kembali menyerang seluruh tubuh Joanna, dari tengkuk leher, hingga medan pinggul sang kakak ipar.

Joanna serta Kennedy sudah tak lagi mempedulikan kondisi Brian ataupun kedua orangtuanya.

Mereka hanya ingin sama-sama menuntaskan hasrat yang tertunda sebelumnya.

"Nona, cobalah untuk memimpin permainan kali ini !" Kennedy membisikkan kalimat itu pada telinga Joanna.

"Apa maksudmu Ken ?" Joanna kembali menatap sayu wajah Kennedy, banyak hal yang nampaknya masih belum Joanna pahami.

Kennedy tersenyum seraya menuntun Joanna untuk menaiki tubuhnya.

"Nona semakin terlihat seksi dari sudut pandang yang seperti ini !" Kennedy kembali membelai lembut selat dada Joanna yang berada tepat di depan matanya.

"Ken ...," Joanna lagi-lagi mendesah dengan menyebut nama Kennedy.

"Sebut namaku Nona !"

"Dan raih kebahagiaan dalam dirimu,"

"Diriku benar-benar beruntung karena bisa melayani Nona seperti ini !" Kennedy nampak memahami ledakan yang hampir diraih oleh kakak iparnya.

Joanna akhirnya terkulai lemas dengan nafas memburu pada dada bidang Kennedy.

Matanya hanya bisa terpejam menikmati setiap belaian lembut dari tangan Kennedy.

"Tidurlah yang lelap Nona Joanna !"

"Aku mencintaimu," kalimat itu merupakan kalimat penutup yang selalu Kennedy lontarkan setiap kali menyelesaikan permainan nya dengan Joanna.

Kram perut yang selalu dialami Joanna setiap kali datang bulan membuat wanita itu kembali terbangun dan menatap sekeliling tempat tidur nya.

"Kennedy ?" wanita itu bergumam perlahan sebelum akhirnya kembali mendesis kesakitan.

"Kau itu kenapa selalu menyusahkan diriku ?"

"Kali ini urus dirimu sendiri !" Brian berucap dengan raut wajah datarnya.

Joanna hanya terdiam dan tak ingin menanggapi perkataan suaminya.

"Diriku mungkin tak akan pulang nanti malam, jadi berikan alasan yang tepat jika orang tuamu menanyakan tentang diriku !"

"Bri, apa kau benar-benar ingin seperti ini ?" Joanna menatap sendu mata sang suami.

"Apa maksudmu Joanna ?" tangan Brian kembali mencengkeram kasar dagu Joanna, ia sama sekali tak peduli dengan air mata yang telah membasahi pipi Joanna.

"Di mataku saat ini, kau itu tak lebih dari sekedar beban !" Brian kembali berucap ketus pada wajah sang istri.

"Kau tahu Linda sekretaris ku ?"

"Saat ini hanya dia yang paling memahami ku !" pria itu akhirnya berlalu pergi dengan membanting kasar pintu kamarnya.

Joanna mencoba untuk menerima segala perubahan Brian suaminya, wanita itu masih berharap akan membaik nya hubungan pernikahan mereka, meskipun ia harus menangis seorang diri setiap kali Brian mengacuhkan dirinya.

Episodes
1 Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2 Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3 Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4 Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5 Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6 Cinta Yang Tak Semestinya
7 Rayuan Sang Sekretaris
8 Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9 Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10 Event Fotografi Kennedy
11 Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12 Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13 Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14 Permainan Dengan Penutup Mata
15 Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16 Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17 Kecurigaan Orang Tua Joanna
18 Luapan Emosi Kennedy
19 Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20 Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21 Lebih Dari Sekedar Hancur
22 Langkah Berat Sang Wanita Malang
23 Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24 Ketika Semua Telah Bersemi
25 Bulir Padi Yang Membahagiakan
26 Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27 Wanita Sadis Penghimpun Luka
28 Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29 Gadis Masa Lalu Kennedy
30 Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31 Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32 Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33 Pameran Pasar Malam
34 Miniatur Mobil Merah
35 Seorang Kawan Berambut Pirang
36 Janin Yang Tak Di Harapkan
37 Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38 Wanita Kurus Itu Joanna
39 Benarkah Ini Kennedy ?.
40 Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41 Kesalahpahaman Joanna
42 Hamparan Ladang Gandum
43 Malam Gelap Gulita
44 Sikap Dewasa Kennedy.
45 Ketakutan Yang Telah Sirna.
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2
Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3
Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4
Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5
Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6
Cinta Yang Tak Semestinya
7
Rayuan Sang Sekretaris
8
Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9
Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10
Event Fotografi Kennedy
11
Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12
Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13
Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14
Permainan Dengan Penutup Mata
15
Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16
Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17
Kecurigaan Orang Tua Joanna
18
Luapan Emosi Kennedy
19
Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20
Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21
Lebih Dari Sekedar Hancur
22
Langkah Berat Sang Wanita Malang
23
Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24
Ketika Semua Telah Bersemi
25
Bulir Padi Yang Membahagiakan
26
Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27
Wanita Sadis Penghimpun Luka
28
Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29
Gadis Masa Lalu Kennedy
30
Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31
Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32
Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33
Pameran Pasar Malam
34
Miniatur Mobil Merah
35
Seorang Kawan Berambut Pirang
36
Janin Yang Tak Di Harapkan
37
Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38
Wanita Kurus Itu Joanna
39
Benarkah Ini Kennedy ?.
40
Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41
Kesalahpahaman Joanna
42
Hamparan Ladang Gandum
43
Malam Gelap Gulita
44
Sikap Dewasa Kennedy.
45
Ketakutan Yang Telah Sirna.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!