Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy

"Apa sebenarnya kemauan Tuan Brian ?" Linda, sekretaris cantik nan seksi itu selalu dibikin kesal oleh perubahan sikap boss nya terhadap dirinya.

"Tak apa Linda, walau bagaimanapun kau telah berhasil memasuki area pribadi nya."

"Dia bahkan dengan terang-terangan mencumbu i bibir ini didepan istrinya bukan ?" wanita itu kembali berbicara pada dirinya sendiri dalam hati serta menampilkan senyum liciknya.

"Kau sudah kembali Ken ?" Joanna tampak tersenyum dan mencoba untuk duduk perlahan, ia membelai kepala Kennedy yang masih terlelap dengan genggaman yang tak terlepas dari tangan kirinya.

"Nona ?" perlahan Kennedy menggeliat dan membuka matanya.

"Apa aku mengganggu tidur mu ?" wanita itu kembali tersenyum manis serta menatap Kennedy.

Pria itu hanya menggeleng dan akhirnya menciumi tangan Joanna.

"Nona, kenapa kau ini bandel sekali ?" Kennedy bertanya seraya membelai pipi Joanna.

"Belum ada dua hari ku meninggalkan dirimu,"

"Dan Nona sudah harus dibawa ke tempat seperti ini kembali ?" Kennedy menatap dalam mata kakak iparnya.

Bukan menjawab, Joanna justru memeluk Kennedy dan menangis seketika.

"Ada apa Nona ?" Kennedy terkejut dan mengusap perlahan punggung Joanna kakak iparnya.

"Nona, dengarkan aku ...,"

"Tenanglah, kau bisa cerita apapun padaku," suara lembut Kennedy semakin membuat wanita itu terisak.

"Tak apa kau bisa menceritakan semuanya jika isak tangis mu sudah tertumpah semuanya Nona,"

"Aku tetap berada disini untuk mendengar mu."

Usapan lembut serta perlakuan hangat Kennedy terhadap Joanna membuat wanita itu benar-benar merasa beruntung memiliki adik ipar seperti Kennedy.

Wanita itu akhirnya menceritakan semua keluh kesah serta kepahitan dalam hidupnya di malam sebelumnya.

"Dia benar-benar sudah keterlaluan," Kennedy, pria itu nampak berucap kesal dalam hati dan tak berhenti mengusap punggung Joanna.

"Jika dirimu terus memperlakukan Nona seperti ini, akan ku pastikan Nona tak akan membutuhkan dirimu lagi Brian."

Sorot mata Kennedy sungguh nampak begitu tajam tanpa sebuah kedipan.

Pria itu benar-benar dibuat mendidih akan ulah Brian terhadap wanita yang begitu dicintainya.

"Nona,"

"Kau harus segera pulih secepatnya,"

"Aku berjanji akan memberikan hadiah padamu saat kau benar-benar pulih nanti."

Kennedy berucap seraya menatap dalam dan mengusap lembut air mata di pipi Joanna.

"Hadiah ?" kalimat Joanna terdengar begitu tersendat karena isak tangisnya yang belum reda sepenuhnya.

"Aku bukan anak kecil Ken," wanita itu akhirnya menampakkan senyum nya sekilas.

"Apakah harus menjadi anak kecil hanya untuk mendapatkan hadiah ?" Kennedy turut tersenyum karena melihat paras manis Joanna.

"Jangan menangis Nona,"

"Itu membuat hatiku turut terluka," Kennedy kembali mendekap tubuh Joanna.

"Diriku hanya tak menyangka, bahwa Brian bisa se_tega itu padaku Ken," Joanna kembali bergumam perlahan dalam pelukan adik iparnya.

Suara dering nada dari ponsel Joanna akhirnya membuat mereka melepas pelukan.

"Iya Ayah ?" Joanna tampak menjawab panggilan Ayahnya.

"Kau di rawat lagi di rumah sakit Nak ?" sang Ayah terdengar begitu mencemaskan keadaan Joanna.

"Aku sudah baik-baik saja sekarang Ayah,"

"Dimana Brian Jo, bisa Ayah bicara padanya ?"

Joanna tampak bingung mendengar pertanyaan dari Ayahnya.

Kennedy yang mendengar hal itu akhirnya mengambil alih ponsel dari tangan Joanna,

Pria itu beranjak dan memberikan penjelasan serta menenangkan kedua orang tua Joanna.

"Terimakasih Nak Kennedy, tolong jaga anak kami."

"Maaf karena kami tidak bisa mengunjungi Joanna kali ini."

Orang tua Joanna akhirnya mengakhiri percakapan teleponnya.

Joanna kini kembali dibuat terpukau oleh sikap Kennedy.

Wanita itu tak berhenti tersenyum menatap wajah Kennedy.

"Kenapa kau menatapku ku seperti itu Nona ?" Kennedy yang menyadari gerak-gerik nya telah diperhatikan oleh Joanna akhirnya menyentil perlahan dahi kakak iparnya.

"Aku hanya merindukan mu," kalimat itu terlontar begitu saja dari bibir Joanna.

"Jangan memancing ku Nona,"

"Kondisi Nona belum pulih benar untuk bisa bermain dan melawan ku !" Kennedy berbicara perlahan dan menyatukan hidungnya dengan hidung Joanna.

"Ken ...," Joanna mendorong perlahan tubuh Kennedy yang dengan sengaja mencium lembut bibir tipisnya.

"Aku benar-benar tak akan mengampuni mu jika kita telah berada dirumah nanti," Kennedy kembali berbisik dengan nakal di telinga Joanna.

Mendengar hal itu bulu kuduk Joanna terasa berdiri, wanita itu menampilkan raut wajah seksi nya dengan menggigit bagian bibir bawahnya.

Kennedy kembali tersenyum karena berhasil memancing nafsu birahi dalam diri kakak iparnya.

Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, Joanna akhirnya di perbolehkan pulang dengan beberapa catatan dari dokter.

Selama itu pula Joanna semakin kehilangan sedikit perasaannya terhadap Brian,

Ya, pria itu sama sekali tak ada berkunjung dan menampakkan dirinya selama Joanna di rawat dirumah sakit.

"Apa yang Nona pikirkan ?" Kennedy meletakkan nampan berisi obat serta minuman di meja kecil samping ranjang Joanna.

"Tidak ada Ken," wanita itu nampak sedikit memaksakan senyum di bibirnya.

"Jangan menutupi apapun dariku Nona," Kennedy kembali berucap seraya menyentuh lembut bibir Joanna.

"Kau masih memikirkan nya bukan ?" Kennedy menatap manik wajah Joanna dengan tatapan yang begitu tajam.

Kennedy akhir nya kembali memimpin permainan bibir serta lidah antara dirinya dengan Joanna yang tak lain adalah kakak iparnya.

Pria itu benci setiap kali mendapati wajah lesu Joanna karena memikirkan Brian sang Kakak.

Kennedy selalu mencoba untuk menampilkan permainan hebatnya dalam memuaskan hasrat Joanna demi membuat Joanna lupa akan trauma serta rasa sakit yang ia derita.

"Aku sangat merindukan semua ini Nona," deru nafas Kennedy yang telah berada di atas tubuh Joanna membuat wanita itu pasrah akan semua perlakuan Kennedy terhadap dirinya.

"Nona menyukainya ?" pria itu kembali berbisik pada telinga Joanna.

"Katakan sayang,"

"Aku ingin mendengar kalimat nakal keluar dari bibir mu !" Kennedy berucap seraya menyentuh bibir Joanna, pria itu juga semakin berani untuk mencumbu Joanna dengan brutal.

"Ken ...," kalimat itu kembali terucap dari bibir mungil Joanna.

"Diriku sungguh merindukanmu," suara berat Joanna semakin terdengar begitu seksi ditelinga Kennedy.

Lagi, Joanna benar-benar telah dibuat lupa akan semua kerumitan masalah hidupnya bersama Brian oleh perlakuan hangat Kennedy.

Ia hanya mampu mencengkeram punggung Kennedy dan mendesah nikmat setiap kali pria itu menghentak kasar kejantanannya.

"Nona ...," kalimat itu mengakhiri puncak kenikmatan Kennedy sebelum akhirnya ambruk di samping tubuh Joanna.

Kedua insan manusia yang menjalankan hubungan yang tak semestinya itu saling beradu deru nafas.

"Haruskah ada ronde kedua malam ini Nona ?"

"Aku melihat kesehatan mu telah benar-benar pulih dengan sempurna," Kennedy memiringkan tubuhnya dan menatap Joanna yang masih terlentang memejamkan mata menikmati semua kenikmatan yang membanjiri tubuh sintal nya.

Joanna seketika turut memiringkan tubuhnya untuk menatap Kennedy.

"Kau, kenapa begitu nakal sekali ?" wanita itu kembali mencium bibir Kennedy.

"Diriku hanya berani nakal seperti ini jika bersama mu Nona," pria itu terkekeh seraya menarik selimut berwarna putih pada ranjang kamar Joanna untuk menutupi tubuh kakak iparnya.

Episodes
1 Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2 Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3 Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4 Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5 Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6 Cinta Yang Tak Semestinya
7 Rayuan Sang Sekretaris
8 Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9 Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10 Event Fotografi Kennedy
11 Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12 Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13 Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14 Permainan Dengan Penutup Mata
15 Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16 Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17 Kecurigaan Orang Tua Joanna
18 Luapan Emosi Kennedy
19 Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20 Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21 Lebih Dari Sekedar Hancur
22 Langkah Berat Sang Wanita Malang
23 Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24 Ketika Semua Telah Bersemi
25 Bulir Padi Yang Membahagiakan
26 Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27 Wanita Sadis Penghimpun Luka
28 Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29 Gadis Masa Lalu Kennedy
30 Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31 Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32 Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33 Pameran Pasar Malam
34 Miniatur Mobil Merah
35 Seorang Kawan Berambut Pirang
36 Janin Yang Tak Di Harapkan
37 Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38 Wanita Kurus Itu Joanna
39 Benarkah Ini Kennedy ?.
40 Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41 Kesalahpahaman Joanna
42 Hamparan Ladang Gandum
43 Malam Gelap Gulita
44 Sikap Dewasa Kennedy.
45 Ketakutan Yang Telah Sirna.
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Kennedy Yang Harus Turut Campur Tangan Karena Tragedi Kecelakaan Sang Kakak
2
Lekuk Tubuh Indah Sang Kakak Ipar
3
Klaustrophobia Yang Menghantui Joanna
4
Kehangatan Yang Tak Terlupakan
5
Tautan Panas Di Atas Ranjang Rumah Sakit
6
Cinta Yang Tak Semestinya
7
Rayuan Sang Sekretaris
8
Kuah Panas Sup Wortel Ayam
9
Isak Tangis Yang Berakhir Di Sofa
10
Event Fotografi Kennedy
11
Luka Tikam Yang Begitu Tajam Menyiksa
12
Air Mata Joanna, Luka Bagi Kennedy
13
Rencana Camping Sang Ibu Mertua
14
Permainan Dengan Penutup Mata
15
Senja Indah Dengan Tanda Kepemilikan
16
Menu Makanan Bagi Si Wanita Pemilih, Joanna
17
Kecurigaan Orang Tua Joanna
18
Luapan Emosi Kennedy
19
Luka Itu Memudarkan Segala Rasa
20
Runtuhnya Rumah Tangga Joanna
21
Lebih Dari Sekedar Hancur
22
Langkah Berat Sang Wanita Malang
23
Tangisan Sang Ibu Yang Kehilangan Putrinya
24
Ketika Semua Telah Bersemi
25
Bulir Padi Yang Membahagiakan
26
Wanita Sang Pemuas Hasrat.
27
Wanita Sadis Penghimpun Luka
28
Manisnya Buah Mangga Bak Penawar Luka Bagi Joanna
29
Gadis Masa Lalu Kennedy
30
Selai Strawberry, Kebahagiaan Sederhana Bagi Joanna
31
Direct Message Sosial Media Milik Joanna
32
Retakan Lubang Pada Kolam Ikan
33
Pameran Pasar Malam
34
Miniatur Mobil Merah
35
Seorang Kawan Berambut Pirang
36
Janin Yang Tak Di Harapkan
37
Pencarian Media Tanam Di Pasar Tradisional
38
Wanita Kurus Itu Joanna
39
Benarkah Ini Kennedy ?.
40
Perbincangan Sean Bersama Kennedy
41
Kesalahpahaman Joanna
42
Hamparan Ladang Gandum
43
Malam Gelap Gulita
44
Sikap Dewasa Kennedy.
45
Ketakutan Yang Telah Sirna.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!