Ponsel Joanna berdering, hal itu seketika membuatnya tersentak dan mendorong perlahan dada bidang Kennedy untuk melepas dekapan dari tubuhnya.
"Sayang maafkan aku !"
"Aku tak sempat menghubungi mu semalam,"
"Kau tak marah padaku bukan ?" suara Brian terdengar menyiratkan penyesalan.
Bukan menjawab, Joanna justru terdiam mengingat kesalahan yang telah ia perbuat malam itu.
"Sayang, Joanna !"
"Apa kau mendengar ku ?" Brian kembali memanggil lembut nama sang Istri.
"Iya, aku mendengar mu Brian," lidah Joanna mendadak berat untuk berbicara pada suaminya sendiri.
"Maaf."
Bulu kuduk Joanna kembali berdiri tatkala Kennedy sengaja memeluk serta mencium lembut dan menghembuskan nafasnya pada tengkuk leher Joanna.
"Sayang," Joanna berucap dengan suara tertahan.
"Aku tutup dulu telfonnya !"
"Aku harus membersihkan diri sekarang," wanita itu mencoba untuk menahan desahannya karena ulah Kennedy.
"Apa kau masih bermalas-malasan ?" Brian justru mencoba untuk memperpanjang percakapan.
"Semalam," kalimat Joanna kembali tertahan karena Kennedy yang tak juga menghentikan aktivitasnya.
"Aku kurang tidur karena listrik padam !" Joanna menjawab pertanyaan suaminya dan mencoba sekuat tenaga untuk mengatur nafasnya.
"Apa kau baik-baik saja ?" Brian panik karena pria itu paham betul dengan kondisi Joanna dalam situasi gelap.
"Iya sayang, aku baik-baik saja !"
"Maaf aku harus ke toilet sekarang," Joanna memutuskan sepihak sambungan telepon dari suaminya.
"Ken, tolong jangan seperti ini !" Joanna berbalik badan dan kembali melepas pelukan Kennedy.
"Nona, bagaimana jika aku menyukai mu ?" pandangan mata Kennedy tak teralihkan dari bibir tipis milik kakak iparnya.
Joanna menghela nafasnya,
Tanpa aba-aba Kennedy kembali mencumbu kakak iparnya pagi itu.
"Cukup Ken !" Joanna menyembunyikan wajahnya ketika Kennedy hendak ******* kembali bibir tipisnya.
"Tolong jangan seperti ini,"
"Tidak seharusnya kita melakukan ini !" wanita itu beranjak dan hendak meninggalkan ranjang nya, namun Kennedy menahan nya kembali.
"Kau tahu Nona ?"
"Aku memutuskan untuk memperjuangkan wanita itu !" Kennedy berucap dengan tatapan tajam pada manik mata Joanna.
Joanna terdiam tak mengerti,
"Apa maksudmu Ken ?" pertanyaan itu terlontar dalam hati Joanna
Kennedy yang melihat Joanna terdiam akhirnya kembali mencium lembut bibir Joanna sebelum akhirnya beranjak dan meninggalkan kamar kakak iparnya.
"Iya Kak ?" Kennedy kembali menghubungi Brian sembari mengerikan rambutnya yang masih terlihat basah.
"Apa Joanna baik-baik saja ?"
"Dia terdengar kurang sehat aku menghubungi nya tadi," Brian mencoba memastikan kondisi istrinya.
"Itu,"
"Nona memang kurang tidur semalam !"
"Apa Nona memiliki trauma pada kegelapan Kak ?" Kennedy tak kalah menuntut kejelasan dari Brian kakaknya.
"Kau benar Ken ?" Brian menjawab tanpa curiga.
"Pastikan lampu kamarnya selalu menyala,"
"Baiklah aku tutup dulu !"
"Maaf Kak, aku mencintai istri mu !" Kennedy berucap dalam hati saat Brian memutuskan sambungan telepon nya.
Rasa bersalah yang melanda pikiran Joanna membuat wanita itu akhirnya jatuh sakit.
Brian yang benar-benar telah mencemaskan keadaan Joanna akhirnya memutuskan untuk kembali meskipun pekerjaan nya belum terselesaikan.
"Linda, kau urus semuanya !"
"Pastikan semua beres, aku harus kembali pulang siang ini juga !" Brian tampak memasrahkan semuanya pada sekretarisnya .
"Kenapa dia selalu saja merepotkan suaminya ?" Linda bergumam jengkel karena merasa terbebani.
"Harusnya aku lebih bisa menggoda Tuan Brian malam itu," pemikiran licik si sekretaris kembali muncul.
"Kenapa dia begitu sulit untuk di rayu ?" gadis itu membuang nafas kesalnya.
Stress akhirnya membuat Joanna harus dilarikan dan berakhir lemah di ranjang rumah sakit.
"Sayang," Brian membelai surai Joanna.
"Nona baru saja tertidur Kak,"
"Dokter mengatakan, asam lambung Nona begitu parah !" Kennedy menghampiri sang Kakak yang tampak begitu cemas melihat kondisi istrinya.
"Apa Joanna sengaja menelantarkan pola makannya Ken ?" Brian menatap Kennedy dengan penuh tanya.
"Nona, dia selalu memikirkan mu Kak !" Kennedy turut menatap Joanna yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Kau pulang dan beristirahat lah, biar aku yang menjaganya untuk saat ini !"
"Mungkin Ayah dan Ibu Joanna akan kemari nanti sore,"
"Tolong jemput dan bawa mereka kemari !"
Kennedy hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Lama Joanna tertidur hingga Brian turut terlelap di samping nya dengan tangan yang tak terlepas menggenggam jemari istrinya.
"Kau sudah kembali ?" Joanna tersenyum cerah melihat Brian yang berada disampingnya.
"Tentu, kau membuat ku cemas !" Brian mengusap lembut pipi istrinya.
"Kenapa kau menelantarkan pola makan mu sayang ?"
"Apa aku harus selalu memperingatkan mu ?" pria itu kembali mencubit perlahan hidung Joanna.
"Kenapa tidak mengganti baju terlebih dahulu sayang ?" Joanna tampak memperhatikan Brian yang masih mengenakan kemeja kantor.
"Aku terlalu panik, hingga langsung kemari begitu mendarat di bandara."
Keduanya saling menatap dan akhirnya memeluk erat untuk saling melepas kerinduan.
"Waaahh, apakah kami mengganggu kalian ?" kedua orang tua Joanna serta Kennedy datang memasuki ruangan.
"Tidak Ayah," Brian tersenyum dan beranjak menyalami kedua mertuanya.
"Bagaimana keadaan mu Nak ?" ibu Joanna nampak begitu mengkhawatirkan nya.
"Semua sudah terasa lebih baik Bu," Joanna berucap seraya memeluk sang Ibu.
"Apa yang kau pikirkan dengan begitu keras hingga asam lambung mu kambuh Jo ?" sang Ibu nampaknya menyadari kebiasaan putri nya.
"Tidak ada Ibu,"
"Aku hanya terlambat makan beberapa hari ini," Joanna mencoba untuk menyanggah perkataan Ibunya.
"Lain kali paksa saja nona mu untuk makan Ken !" Brian melontarkan pernyataan pada Kennedy yang sedari tadi terdiam semenjak memasuki ruangan.
Kennedy hanya tersenyum sembari menatap Joanna, meskipun dalam hatinya terbersit rasa cemburu karena kepulangan Brian kakaknya.
Lebih dari setengah jam kedua orang tua Joanna berada di rumah sakit untuk memastikan kondisi dan sedikit bercanda tawa dengan menantu serta putrinya.
"Ayah, Ibu pulanglah bersamaku !"
"Saya juga mau membersihkan diri dan mengambil beberapa perlengkapan untuk mengerjakan tugas kantor," Brian turut beranjak tatkala kedua mertuanya nampak berpamitan dan mencium kening Joanna.
"Tapi sayang," Joanna mencoba menahan suaminya.
"Tak apa, ada Kennedy yang menemani mu disini,"
"Aku janji akan segera kembali !" Brian tersenyum dan dengan sengaja sedikit mencium bibir Joanna dihadapan semua orang.
"Brian memang suami terbaik bagi putri kita !" Ayah Joanna dengan bangga membisikkan kalimat itu pada sang Istri.
Kedua orang tua Joanna nampak tersenyum dan saling memandang.
Sementara Kennedy pria itu kembali berwajah datar mencoba untuk menyembunyikan rasa kesal karena kecemburuan yang melanda hatinya.
"Minumlah dulu obat mu Nona !" Kennedy tampak memegangi gelas air putih dan membantu Joanna untuk meminum obatnya.
Pria itu terlihat begitu telaten dalam melayani Joanna kakak iparnya.
Joanna hanya diam dan menuruti perkataan Kennedy.
Lama mereka saling bertatapan tanpa sepatah katapun yang keluar dari lisan keduanya.
"Nona, aku cemburu !" Kennedy membuka suara karena Joanna yang terlihat acuh pada keberadaan nya.
Joanna yang semula menutup mata akhirnya kembali memandang langit-langit kamar rumah sakit.
Cup.
"Ken, apa yang kau ...," ucapan Joanna terhenti karena Kennedy kembali mengecup bibir tipisnya.
Joanna, wanita itu seketika melotot dan mendapati wajah Kennedy yang terpampang jelas dihadapan nya.
"Jangan mencoba untuk mengacuhkan ku Nona !"
"Nona yang memintaku untuk memperjuangkan wanita yang ku sukai bukan ?" Kennedy berucap seraya menatap intens manik mata Joanna.
Tubuh Joanna kembali bergetar mendengar pernyataan Kennedy, wanita menyembunyikan sekujur tubuhnya dibalik hangatnya selimut ranjang rumah sakit.
"Kau terlihat sangat imut jika bertingkah seperti ini Nona !" Kennedy justru terkekeh menanggapi sikap Joanna yang mencoba menghindar dari tatapan nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments