"Bisa kau datang ke hotel sekarang ?" Brian menghubungi Linda meskipun saat itu sudah bukan jam kerja.
"Dengan senang hati Tuan !" wanita itu menjawab serta mengakhiri panggilan dari Brian dengan suara yang terdengar manja nan nakal.
Tak ingin menghabiskan waktu bersama istri ataupun keluarga nya, Brian justru menghubungi Linda dan bergegas untuk segera kembali menuju hotel tempat ia menginap.
"Nona," Kennedy perlahan mendekati Joanna yang masih duduk termenung sendirian di salah satu kursi taman.
"Maaf, ini semua salahku !" pria itu tertunduk seraya memainkan jemarinya.
"Seharusnya ...," kalimat Kennedy terhenti, pria itu akhirnya memejamkan matanya.
"Mmmmmphh," pergulatan bibir itu kembali terjadi, bukan Kennedy tapi justru Joanna yang memulai nya.
"Tolong jangan katakan apapun Ken !" wanita itu menatap wajah Kennedy menarik tengkuk leher pria itu dan mengalungkan tangannya sebelum akhirnya kembali bertaut bibir.
"Diriku terlanjur membutuhkan dirimu," Joanna kembali berucap tertahan dengan air mata yang telah berlinang di pipinya.
"Nona, menangis ?"
"Apa aku menyakitimu Nona ?" Kennedy nampak cemas dengan isak tangis Joanna yang kian terdengar.
"Aku takut jika kau meninggalkanku Ken,"
"Aku mohon apapun yang terjadi ...,"
"Tetaplah tinggal bersamaku," wanita itu akhirnya menunduk dengan derai air mata.
"Aku benar-benar terlanjur membutuhkan mu," Joanna kembali berucap lemah serta nampak mengulang kalimat nya dan menangis dalam pelukan Kennedy.
Semenjak kejadian pada malam camping itu, Joanna semakin kehilangan rasa respect nya terhadap Brian.
Kasih sayang Joanna pun perlahan memudar meskipun rasa cintanya pada Brian masih sedikit tersimpan.
"Nona sudah bangun ?" Kennedy tampak merapikan surai rambut Joanna yang begitu berantakan dengan wajah natural.
Joanna hanya mengangguk dengan mata yang setengah terpejam.
"Ayolah Nona, segera bersihkan diri Nona terlebih dahulu baru kita makan !" Kennedy mendorong perlahan tubuh Joanna untuk menuju kamarnya.
"Aku masih mengantuk Ken !" wanita itu kembali merengek.
"Apa Nona lupa untuk mendapatkan hadiah Nona hari ini ?" Kennedy nampak memancing ingatan Joanna.
"Jadi kita akan pergi hari ini Ken ?" mata Joanna seketika terbuka lebar, rasa kantuknya hilang entah kemana.
"Kau sungguh tak ada kelas hari ini ?" wanita itu kembali memastikan pendengaran nya.
Kennedy hanya tersenyum mengangguk melihat reaksi dari kakak iparnya.
"Aku tak akan pernah ingkar jika sudah berjanji Nona !" pria itu kembali tersenyum dan membelai pipi Joanna.
"Haruskah kita bermain dikamar mandi ?" Joanna memancing Kennedy dengan melepas beberapa kancing piyama tipis nya.
"Aaaaaaggghhhh, aku sudah membersihkan diri Nona !"
"Tapi aku ingin merasakan guyuran air dingin dari tangan kekar mu Ken !" Joanna kembali menggoda Kennedy dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Apa Nona benar-benar sudah berani padaku sekarang ?" Kennedy hendak menangkap tubuh wanita itu, tapi Joanna tampak begitu gesit.
Ia sengaja berlari dan mengolok-olok Kennedy dari kejauhan.
"Kita lihat saja nanti Nona !" Kennedy nampak terkekeh dengan kelakuan konyol wanita pujaan hatinya.
Brian kembali memasuki ruang kerjanya, pria itu sedikit bahagia karena berhasil memenangkan tender yang selama ini telah ia nantikan.
Senyum cerah nampak menghiasi bibirnya, pria itu seketika mengambil ponselnya dan hendak memberitahukan kebahagiaan nya pada Joanna.
Namun akhirnya ia mengurungkan niatnya.
Kebiasaan itu selalu ia lakukan sebelumnya, tapi tidak untuk saat ini.
Brian kembali terduduk lesu mengingat semua yang telah terjadi dalam pernikahan nya akhir-akhir ini, hubungan nya dengan Joanna sudah tak seperti dulu lagi.
"Joanna kenapa kau melakukan ini padaku ?" Brian memejamkan matanya, bayangan adegan panas antara Joanna serta Kennedy begitu melekat dalam pikirannya.
"Apa Tuan lelah ?" Linda, wanita itu nampak telah memijit pundak Brian yang tengah memejamkan matanya.
"Kemari lah Linda," pria itu meminta sekretarisnya untuk kembali duduk dalam pangkuan nya.
"Mmmmmphh,"
"Tuan ...," Linda nampak terkejut dan mendesah seketika saat Brian telah menyusuri selat dadanya.
Tak ingin kalah dari Brian, Linda turut menekan wajah boss nya untuk semakin memperkuat kecupan pada kedua aset pribadi nya.
"Tuan, saya menginginkan nya !" Linda kembali membelai kejantanan milik Tuan nya.
Adegan-adegan panas Joanna bersama Kennedy serta rasa kecemburuan Brian membuat pria itu kembali merasakan panas tubuhnya.
Brian akhirnya mencium brutal bibir sekretaris nya dan membuat wanita itu terlentang pada meja kerjanya.
Pakaian kerja Linda yang nampak begitu minim serta ketat, membuat Brian dengan mudah untuk melancarkan aksinya dalam menggagahi Linda.
"Kau benar-benar ****** yang sesungguhnya Linda !" Brian nampak bermain dengan begitu kasar pada Linda untuk pertama kalinya.
Pria itu akhirnya menemukan kembali gejolak birahi pada kejantanannya.
Bayangan wajah Joanna yang merengkuh nikmat bersama Kennedy membuat pria itu meluapkan emosi serta hasrat nya pada sang sekretaris.
"Nona menyukai tempat ini ?" Kennedy tak berhenti dalam memperhatikan paras cantik kakak iparnya yang tengah terduduk sembari memainkan kakinya didalam air.
Ya, Kennedy sengaja membawa Joanna ke sebuah villa dengan pemandangan yang langsung tertuju pada laut.
"Dari dulu aku selalu ingin mengunjungi tempat seperti ini Ken !"
"Tapi kau tahu kan, Brian selalu menolak dengan alasan pekerjaan."
Raut wajah Joanna nampak kembali berubah.
"Kenapa kau tak mengajak Ayah juga Ibu Ken ?"
"Pasti akan sangat menyenangkan jika mereka juga ada bersama kita !" Joanna kembali mengalihkan perhatiannya dan melontarkan pertanyaan pada Kennedy.
"Tidak Nona,"
"Diriku sengaja mengajak Nona kemari tanpa sepengetahuan siapapun," Kennedy tersenyum serta mendekat pada wajah kakak iparnya.
Lama mereka saling beradu pandangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Kenapa kita harus bertemu disaat Nona sudah menjadi istri orang lain ?" Kennedy kembali menyentuh bibir Joanna dengan jemarinya.
Pria itu memperhatikan setiap inci bagian wajah dari wanita yang telah ia kagumi selama ini.
Joanna yang tak lagi malu untuk menyembunyikan hasratnya dari Kennedy, membuat wanita itu seketika dengan berani kembali memancing Kennedy untuk mencumbuinya.
"Tak ada ampun bagimu kali ini Nona," pria itu tersenyum nakal serta mengangkat tubuh Joanna bersamanya.
"Aku akan mengalahkan mu Ken !" Joanna kembali menyatukan bibirnya pada bibir Kennedy.
Keduanya sama-sama tak saling melepaskan tautan bibir mereka hingga sampai di atas ranjang kamar didalam villa.
Rambut hitam Joanna yang tergerai indah semakin membuat pria itu menggila akan hasratnya terhadap tubuh kakak iparnya.
"Nona ...,"
"Kenapa tubuhmu selalu senikmat ini ?" suara berat Kennedy nampak memecah kesunyian villa.
"Aku selalu merindukan setiap momen panas kita saat melakukan hal ini Nona !" tangan Kennedy sama sekali tak berhenti dalam menyusuri tubuh halus nan indah milik kakak iparnya.
Kecupan bibir nya juga tak kalah brutal, selat indah diantara dada Joanna selalu menjadi tempat favorit bagi Kennedy untuk meninggalkan tanda kepemilikan nya pada tubuh Joanna.
Sementara Joanna wanita itu lagi-lagi hanya mampu mendesah pasrah, dan menyerahkan seluruh tubuhnya pada Kennedy.
Villa yang sunyi serta suara deru ombak dari lautan seolah menjadi saksi bisu betapa panasnya hasrat kedua insan yang tidak seharusnya melakukan hubungan terlarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments