"Nona, jangan pernah mencoba untuk menolak ku !"
"Atau akan semakin ku buat kau mendesah dengan lepas dibawah tubuh ku !" Kennedy kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengeksplorasi setiap inci tubuh Joanna.
"Ken ...," wanita itu akhirnya hanya mampu menyebutkan nama Kennedy, ia turut hanyut dalam buaian hangat yang kembali Kennedy berikan pada setiap inci bagian tubuhnya.
Kedua insan manusia yang tidak seharusnya saling mencintai itu akhirnya ambruk, raut wajah lelah dan puas serta nafas terengah menandai berakhirnya aktivitas terlarang diantara keduanya.
"Aku mencintaimu Nona," Kennedy nampak mencium seluruh bagian wajah Joanna.
Joanna tampak tak begitu menghiraukan ucapan Kennedy, ia masih saja menutup mata menikmati sisa-sisa getaran hebat pada tubuhnya.
Kennedy, pria yang dari awal mengagumi Joanna itu bahkan terlihat tak berhenti mencium dan membelai setiap aset pribadi milik kakak iparnya.
"Ken, jam berapa ini ?" Joanna tersentak serta terbangun seketika untuk memeriksa detik waktu pada ponselnya.
"Brian ?"
"Apa dia sudah pulang ?" raut wajah Joanna nampak begitu panik seketika.
"Tenanglah Nona !"
"Dia bilang, akan pulang terlambat bukan ?" Kennedy kembali tak membiarkan Joanna untuk menjauh darinya.
"Aku ingin selalu seperti ini bersama mu !" Kennedy nampak mengendus lembut area telinga kakak iparnya.
"Ken, aku lelah !" mata Joanna tampak sayu,
"Bersihkan dulu dirimu Nona,"
"Jangan sampai Brian mendapati Nona tertidur dalam kondisi seperti ini !" Kennedy mencium lembut kening Joanna dan beranjak untuk kembali menuju kamarnya.
Joanna hanya menatap punggung Kennedy yang semakin menjauh dan keluar dari kamarnya,
Wanita itu tak pernah menyangka bahwa Kennedy, adik iparnya kini telah dengan berani memaksa nya untuk berhubungan badan.
Brian yang menyaksikan semua kejadian itu melalui rekaman cctv kamar Joanna, membuat pria itu kembali menitikkan air mata.
"Seharusnya aku bahagia bukan ?" pria itu tampak kembali menenangkan dirinya sendiri.
"Inilah yang ku inginkan sebelumnya !" ia kembali tersenyum getir.
"Aaaaaaggghhhh, sial !"
"Aku bahkan tak pernah memikirkan rasanya akan sesakit ini !" pria itu kembali menendang sofa pada ruang kerjanya untuk meluapkan emosi.
Joanna menatap sekeliling kamar nya, wanita itu mencoba mengingat kapan terakhir kali ia bersenggama dengan suaminya.
"Kenapa dengan diriku ?" Joanna kembali termenung seorang diri.
"Aku benar-benar telah mengkhianati suamiku !" rasa bersalah kembali menghampiri hati dan pikirannya.
Wanita itu akhirnya beranjak dari tempat tidur dan bergegas untuk membersihkan diri.
"Apa dia belum pulang ?" Joanna nampak duduk dan menanti Brian di meja makan rumahnya.
"Kenapa ponselnya tidak aktif ?" wanita itu nampak berkali-kali untuk mencoba menghubungi sang suami.
Lelah karena aktivitas nya bersama Kennedy, membuat rasa kantuk menghampiri wanita itu.
"Ayolah Bri,"
"Kamu harus terbiasa dengan semua ini !"
"Kamu sendiri yang telah meminta pada Kennedy bukan ?" Brian kembali beradu tanya dan mencoba berdamai dengan dirinya.
Rasa haus membuat pria itu akhirnya melangkah keluar dari ruang kerjanya.
"Sayang, kenapa kau tidur disini ?" Brian membelai pipi sang istri.
"Kau sudah kembali ?" Joanna tersadar dan mencoba duduk tegak di kursi meja makan.
"Akan segera ku siapkan makanan !" wanita itu mencoba untuk beranjak dan melayani sang suami.
"Tidak sayang, aku tidak lapar sekarang," Brian menahan Joanna dan kembali membuat istrinya terduduk di pangkuan nya.
Lama mereka saling beradu pandang.
Mata sayu Joanna membuat Brian tersenyum dan mencoba untuk menciumnya.
"Aku mencintaimu !" kalimat itu mengakhiri kecupan lembut Brian pada bibir istrinya.
Joanna yang telah lama merindukan sentuhan dari suaminya, membuat ia mencoba memancing Brian untuk bermain dengannya.
"Sayang, tidak untuk saat ini !" Brian menghentikan tangan Joanna yang hendak melucuti kemeja putih yang ia kenakan.
"Aku lelah karena semua pekerjaan di kantor," ia tersenyum membelai bibir sang istri.
"Kau tak keberatan bukan ?" pria itu kembali menatap mata sayu milik Joanna dan mencubit perlahan pipi istrinya.
Joanna hanya mengangguk menanggapi kalimat suaminya.
Ia juga nampak memaksakan senyum diwajahnya.
Malam itu Joanna tertidur lelap dalam pelukan suaminya.
Brian sama sekali tak ingin menghiraukan kejadian yang telah Kennedy lakukan bersama istrinya.
Pria itu merelakan Joanna untuk merengkuh nikmat bersama Kennedy demi menutupi kekurangannya.
"Maaf Joanna !" kalimat itu kembali terucap dalam relung hati Brian, pandangan matanya pun tak teralihkan dari wajah manis Joanna yang tengah terlelap dalam dekapannya.
"Nona, aku tak akan pernah melepaskan dirimu mulai saat ini !" Kennedy tersenyum mengingat wajah Joanna yang nampak begitu seksi ketika berada dalam kendali permainan nya.
"Dirimu benar-benar telah membuat ku candu !" ia mencoba untuk menutup mata dan mengistirahatkan tubuhnya.
Pagi itu semua nampak berjalan seperti biasa.
"Kak, seperti nya aku akan pulang sore ini !" Kennedy nampak membuka percakapan di meja makan.
"Kenapa Ken ?" Brian melontarkan pertanyaan seketika.
"Aku ingin mengikuti aktivitas fotografi besok pagi," Kennedy menanggapi sang Kakak dengan memainkan sendok dan garpu ditangan nya.
"Ada beberapa event yang ingin ku ikuti akhir pekan ini Kak !" pria itu berucap meskipun mulutnya penuh dan mengunyah makanan.
"Tidak bisakah kau berangkat dari sini ?" Brian kembali menanggapi kalimat Kennedy dengan meneguk air putih dalam gelasnya.
"Ayolah Ken,"
"Aku tidak tenang jika harus meninggalkan Nona mu seorang diri !"
"Ibu tidak mungkin bisa kemari, karena harus menjaga Ayah !"
"Kau tahu sendiri kan kondisi Ayah sekarang ?"
"Sayang, aku tak masalah !"
"Semuanya sudah membaik bukan ?" Joanna turut membuka suara dan berharap supaya suaminya mengizinkan Kennedy untuk pergi.
"Benarkah ?"
"Aku sibuk untuk sementara waktu ini sayang !"
"Kemungkinan aku tak akan bisa mengantarmu ke butik sewaktu-waktu saat kau membutuhkan ku !"
Joanna terdiam bingung
"Aku bisa ...," kalimat wanita itu kembali tertahan mendengar suara Kennedy.
"Baiklah Kak !"
"Aku akan berangkat dari sini."
Kalimat Joanna yang kalah cepat dari Kennedy membuat wanita itu tak bisa mempertahankan pendapatnya.
"Joanna, percayalah akan ku buat dirimu bahagia sayang !" Brian berucap dalam hati sembari menatap wajah istrinya yang terlihat begitu cemas.
"Aku berangkat sekarang !" Brian beranjak menghampiri dan mencium kening Joanna sekilas.
Pria itu sengaja menampilkan langkah cepat dengan alasan detik waktu yang telah memburunya.
"Nona, aku juga harus berangkat !" Kennedy mengakhiri santap paginya.
"Ada beberapa keperluan lensa yang harus ku beli !"
"Apa Nona mau ikut dengan ku ?" Kennedy mencoba menawari kakak iparnya supaya tak sendirian di rumah.
Joanna hanya menggeleng pelan menanggapi perkataan Kennedy.
"Ada apa denganmu Nona ?" Kennedy berucap serta beranjak mendekati kakak iparnya.
"Pergilah Ken, aku akan di rumah saja !" wanita itu membuang nafas kasar dan memalingkan wajahnya.
Cup.
Kennedy kembali memberikan kecupan pada bibir Joanna dengan sesuka hati.
Plak.
Satu tamparan keras dari tangan Joanna berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Kennedy.
"Apa yang kau lakukan !" raut wajah Joanna berubah seketika, wanita itu bahkan mencoba untuk mengintimidasi Kennedy dengan tatapan tajam.
"Ayolah Nona, jangan pilih kasih terhadap ku !" Kennedy menampilkan senyum devil di wajahnya serta membuat Joanna kembali terduduk di kursi meja makan.
"Bukankah sudah kukatakan padamu, aku bertekad untuk mendapatkan wanita yang ku sukai ?" Kennedy membisikkan kalimat itu tepat ditelinga Joanna.
Joanna hanya bisa terdiam bingung mendengar semua kalimat dari lisan Kennedy.
Tubuhnya nampak bergetar karena menahan emosi.
"Aku bahkan telah menaruh hati ini terlalu dalam padanya," Kennedy membuat wajahnya semakin dekat dengan kakak iparnya.
"Dan wanita itu adalah dirimu Nona Joanna !"
"Jika Brian bisa mendapatkan kening mu,"
"Akan ku pastikan diriku bisa mendapatkan lebih dari itu !" pria itu kembali mencoba mengambil ciuman dari bibir Joanna.
"Kamu benar-benar sudah gila Ken !" Joanna berteriak dan menangis saat itu juga.
Brian yang belum sepenuhnya keluar dari rumahnya hanya bisa diam membeku, mendengar semua perdebatan antara Kennedy dan juga Joanna.
Pria itu kembali menghela nafas mencoba untuk meminimalisir rasa cemburunya.
Brian yang menyadari ketidak nyamanan istrinya terhadap kehadiran Kennedy membuat hatinya turut merasa bersalah pada Joanna.
"Maaf kan diriku sayang,"
"Andai kondisi ku tak separah ini,"
"Aku pasti sudah menghajar Kennedy !" pria itu kembali bergumam seorang diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments