“Apa-apaan ini?!” Rahang Tomi mengetat, amarah terpancar jelas dari bola matanya. Di belakangnya, mata Yasmin mulai berkristal-kristal kala darah mengalir lembut dari keningnya.
Sementara, Meli berlarian keluar kemudian menunjukkan wajah terkejutnya. Arion pun bergegas pergi keluar mengikuti Bundanya.
Para tetangga lantas menghentikan gerakan tangan mereka lalu berkata-kata,”Astaga Pak Tomi, ingat anak istrimu, jangan karena wanita ini lebih cantik darimu, kau terpikat dengannya!”
“Iya benar itu, Bu. Dasar gatal banget tuh pelakor!”
“Padahal istrinya juga nggak kalah cantik ya!’
Tomi mengerutkan kening, tampak berpikir. Tak mengerti dengan arah pembicaraan para tetangganya. Dia yang baru saja dari belakang rumah, tentu saja keheranan dengan perkataan yang dilayangkan para tetangga padanya sekarang.
Meli malah tersenyum sinis, melihat Yasmin terisak pelan sekarang.
“Apa maksud kalian?” tanya Tomi, masih belum mengerti.
“Ckck! Lihatlah pria ini, sudah ada bukti di depan mata, masih menyangkal. Aku kasihan dengan Meli,” jawab salah seorang di antaranya.
“Aku benar-benar tak mengerti, menyangkal apanya?” Tomi masih berusaha mencerna ucapan tetangganya itu. “ Apa kalian menuduh Yasmin menggodaku?” Tomi mengalihkan pandangan ke arah Meli seketika sekilas. Lantas Meli memasang wajah sedih dan muram.
“Itu bukan menuduh Tomi, tapi itu memang faktanya. Wanita itu penggoda, ingin merusak rumah tangga kalian! Kau tanyakan saja pada Yasmin sendiri, kemarin dia datang ke rumahmu dan berlagak memberikan kau brownies kan pada kalian, sementara kami tidak ada diberi! Kemarin kami mendengar dari istrimu kalau wanita ini mengatakan kalau kau suaminya juga saat kalian di Jakarta! Lalu tiba-tiba datang ke Surabaya, tinggal dan berkerja di tempat yang sama denganmu. Bukankah tidak mungkin dia berencana memisahkan kalian, Tomi!”
“Tidak, aku tak bermaksud seperti itu.” Yasmin mencoba membela diri. Dengan berlinang air mata, ia menatap Tomi.
Tomi tergugu. Menatap dalam bola mata Yasmin.
“Ah sudahlah Bu, Ibu. Lebih baik kita ke rumah pak RT untuk mengusir wanita itu dari kompleks ini! Aku tak mau tempat tinggalku, di huni seorang pelakor!” Para wanita berdaster itu melangkah pergi menuju rumah Pak RT seketika.
Meninggalkan Yasmin, Tomi, Meli dan juga Arion masih berdiri di depan rumah mereka.
“Yasmin, apa benar yang dikatakan mereka?” Raut wajah Tomi menjadi dingin sekarang. dia baru menyadari bahwa apa yang disampaikan oleh tetangganya tadi, ada benarnya juga.
“Sayang, tak usah bertanya dengan dia! Bukankah semua sudah jelas, semenjak kedatangan Yasmin, kita selalu bertengkar, dulu kita tak pernah berkelahi. Tapi sekarang, kita selalu berselisih pendapat.” Sebelum bibir Yasmin bergerak. Meli sudah terlebih dahulu membuka suara.
Tomi melirik Meli sekilas.
“Tidak, itu semua tidak benar, Tom. Aku hanya ingin ingatan suamiku kembali, itu saja!” Dengan mata masih mengalir, Yasmin berkata.
“Yasmin! Apa kau punya bukti kalau Tomi adalah suamimu ha! Apa kau sudah gila hah?!” Meli mulai menampakkan kepiawaiannya dengan ikut terisak pelan juga. “Kau lihat Tomi! Wanita ini masih menganggapmu suaminya! Sepertinya dia berniat ingin memisahkan kita! Ingat Arion, Tom!” katanya sambil menggendong Arion dengan cepat.
“Arion belum tentu anak kalian!” teriak Yasmin seketika di depan wajah Meli.
Mendengar perkataan Yasmin, Tomi mengangkat tangannya ke udara seketika dan mendaratkan tangannya di pipi Yasmin.
Yasmin tersentak, rasa panas dan pedas menjalar pipinya. Dia memegang pipinya lalu menatap sendu Tomi.
“Hati-hati kau berbicara! Apa kau punya bukti, Yasmin! Arion adalah anakku! Pergi kau dari sini sekarang!” Dengan sorot mata menyala-nyala Tomi berseru.
Yasmin terpaku di tempat. Menahan kepedihan di dalam hatinya saat ditampar oleh pria yang dia cintai. Sementara, Meli tersenyum penuh kemenangan, melihat Yasmin ditampar oleh Tomi.
“Tante Yasmin.” Arion sangat terkejut, melihat Ayahnya menampar wanita tersebut barusan. Dia berusaha menggapai pipi Yasmin. Namun, segera ditepis Tomi. Pria itu menggambil alih dari gendongannya kemudian mengajak Meli dan Arion masuk ke dalam rumah.
“Cakra … mengapa kau belum mengingat aku …” Dengan napas tersendat-sendat, Yasmin menatap nanar punggung Tomi yang berjalan masuk perlahan menuju rumah.
Yasmin pun memutuskan pulang ke rumah, sambil membawa luka yang menganga di dalam hatinya.
*
*
Malam pun tiba. Sejak kejadian tadi pagi, Yasmin semakin terpuruk dan terluka. Sedari tadi dia melamun, memikirkan nasib pernikahannya. Ketua RT tadi siang datang ke rumah, menyuruhnya untuk angkat kaki dari sini besok.
Yasmin diterpa dilema ketika Hendra yang saat ini dibutuhkannya tiba-tiba menghilang dan tak ada kabar. Dia ingin memberikan sampel rambut Arion besok pada Hendra. Yasmin tak memiliki cukup uang untuk melakukan pencocokkan DNA di rumah sakit. Maka dari itu, hanya Hendra lah yang dapat dia andalkan. Namun, Hendra sangat sulit dihubungi sekarang. Padahal kemarin pria itu masih bisa dihubungi.
“Apa aku harus menyerah sekarang,” gumam Yasmin. Sinar matanya dipenuhi keputusasaan.
Setelah bergelut dengan batinnya sendiri dari tadi, Yasmin memutuskan tidur. Akan tetapi, belum sempat dia merebahkan diri di atas kasur. Suara seseorang memanggil namanya dari luar rumah, membuat Yasmin terpaksa beranjak. Matanya melirik jam dinding sekilas, yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Siapa ya? Apa mungkin Hendra?” gumamnya, pelan. Yasmin pun bergegas ke ruang depan. Saat membuka pintu rumah. Yasmin tampak terkejut, melihat Tomi berdiri di hadapannya sambil menggendong Arion.
“Maaf Yasmin, menganggumu malam-malam. Arion mau ditidurkan olehmu,” sahut Tomi menatap dalam mata Yasmin yang sembap. Sejam sebelumnya, Arion merengek ingin tidur bersama Yasmin. Meli sempat melarangnya tadi membawa Arion ke rumah Yasmin. Namun, tangis Arion membuat Meli sakit kepala.
“Ya, Bunda. Alion mau ditidulin Bunda… ini Alion ada bawa buku dongeng,” kata Arion sambil menguap lebar.
Yasmin mengulas senyum tipis. Dia menatap sendu bocah itu.“Boleh Sayang, kemarilah, ayo sini sama Bunda tidur di kamar ya, nanti Bunda bacakan dongeng,” katanya sambil mengangkat tangannya hendak mengambil Arion dari tangan Tomi.
“Di luar saja Yasmin. Meli tidak mengizinkan Arion masuk ke dalam. Ayo duduk saja di bangku taman depan rumahku,” ucap Arion tanpa ekspresi sama sekali.
Yasmin mengangguk pelan.
Sesampainya di luar, tepatnya di halaman depan rumah Tomi. Arion kecil sudah bersender di paha Yasmin sambil mendengarkan Yasmin membacakan cerita dongeng tersebut. Dia berbaring di tengah-tengah Yasmin dan Tomi. Mereka duduk di bangku panjang kayu menghadap ke arah jalan yang di depannya hutan-hutan, cahaya lampu di jalanan dan sinar bulan menerangi ketiganya.
Sementara Meli, memperhatikan mereka sedari tadi. Di depan pintu rumah, dia berdiri menyenderkan kepalanya ke dinding sambil melipat tangan di dada.
“Hoammm … lalu apa lagi tadi Bunda… anak kelincinya pelgi ke mana?” Dengan mata terpejam Arion berkata.
Yasmin terkekeh pelan. “Pergi ke hutan, Sayang,” ucapnya, lembut. Tak ada sahutan, Yasmin mengelus pelan kepala Arion dan kembali bersuara. “Sekarang Arion tidur ya.”
“Hmmm.” Arion malah mengubah posisi badan dan melingkar tangannya di perut Yasmin. Suara dengkuran mulai terdengar dari hidungnya.
“Aku minta maaf soal tadi pagi, Yasmin.” Di samping Tomi membuka suara tiba-tiba, dia berkata tanpa menatap lawan bicaranya.
Mata Yasmin menoleh lalu menatap lurus ke depan, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
“Tak apa, Tom. Aku juga salah mengatakan Arion bukan anak kalian.”
“Hmm,” balas Tomi.
“Aku juga yang salah, berharap suamiku adalah kau, Tom.” Mata Yasmin mulai digenangi air mata. “Aku minta maaf karena mengira kalau kau adalah suamiku selama ini. Tapi, sepertinya suamiku memang sudah tak ada lagi di dunia. Setiap hari aku selalu menunggu kedatangannya, selama ini aku tersiksa karena tak ada dia disisiku. Aku sangat merindukan Cakra…” Dengan napas tersendat-sendat Yasmin berkata. Pundaknya bergetar pelan, menahan sesak dan kepedihan yang merasuk relung hatinya.
Tomi melirik Yasmin, bak tertusuk belati, jantungnya perih kala mendengar suara isakan tangis Yasmin sekarang. Tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya seketika.
“Kau tenang saja, Tom. Besok aku akan pergi … aku tidak akan menganggu kalian lagi…” Yasmin tertunduk dalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
EBI
😭😭😭
2023-08-06
1
ria
semoga kebenaran tetap berpihak padamu yasmin..
takdir jodohmu tetap cakra..meski
jalan terjal kalian lalui..
ingat yasmin..Tuhan tidak pernah tidur..
mereka yg menyakitimu pasti akan mendapat karma..
semangat yasmin😙😙
2023-08-05
1
ria
semangat kuat yasmin..
2023-08-05
1