"Yasmin!" Tomi memanggil Yasmin dengan suara yang sedikit nyaring. Lantas Yasmin dan Hendra menoleh serempak ke samping.
Saat melihat pria yang dirindukan mendekatinya, tanpa sadar Yasmin menebarkan senyuman. Sementara raut wajah Hendra berubah drastis menjadi datar.
"Iya, Cak..., em maksudku Tomi. Baru sampai rumah ya?" tanya Yasmin, sekadar basa-basi sambil matanya melirik mobil Tomi di ujung sana.
"Iya, biasa hari senin, kerjaanku memang banyak. Oh ya, siapa pria ini? Pacarmu? Lalu bagaimana dengan suamimu yang masih menghilang itu?" tanya Tomi to the point.
Saat melihat sorot mata Hendra, entah mengapa Tomi merasa pria di hadapannya ini seakan tak suka padanya.
Sejak tadi pagi ketika berjumpa dengan Yasmin. Tomi tak menampik ada sesuatu yang aneh dengan organ jantungnya. Namun, dia menepis pemikiran gilanya itu. Karena dia tak mau melukai hati Meli. Akan tetapi, semakin di henyakkan, pikirannya semakin kacau. Tomi jadi tidak fokus berkerja. Dia pun memutuskan pulang ke rumah lebih awal kali ini, tak seperti sebelumnya yang pulang jam 11 malam.
Yasmin melirik Hendra sekilas. "Dia–"
"Aku pacarnya!" Belum juga Yasmin melanjutkan perkataannya, Hendra memotong ucapannya seketika. Sambil mengangkat tangan ke udara, Hendra menatap dingin Tomi.
Yasmin lantas terkejut.
Begitu pula dengan Tomi. Mendengar kata pacar, mendidih dadanya. Dengan terpaksa ia membalas jabatan tangan Hendra sambil melirik Yasmin.
"Pacar? Lalu kau kemana kan suamimu, Yasmin?" Tomi tersenyum sinis setelahnya. Semakin terbakar membara dadanya kini.
"Tidak, dia bukan pacarku, Tom. Ini semua salah paham. Aku tidak mungkin memiliki pacar. Lagipula Hendra adalah temanku dan Cakra juga." Yasmin menoleh ke samping dengan melayangkan tatapan tajam pada Hendra. Sedangkan Hendra malah mendengus kasar.
Mendengar hal itu, perasaan Tomi sedikit lega. Dia menatap lekat mata Yasmin sembari sesekali melirik Hendra.
"Benarkah?" tanya Tomi.
"Iya. Hen, jelaskan pada Tomi kalau kau bukan pacarku!" Yasmin menyenggol cepat lengan Hendra seketika. Berharap Hendra dapat menjelaskan kesalahan pahaman yang telah terjadi. Yasmin sangat heran, mengapa sikap Hendra sangat berbeda. Di tambah lagi raut wajah temannya itu tak enak dipandang saat ini.
Hendra membuang napas kasar. "Iya, namaku Hendra, temannya Yasmin dan juga Cakra. Kalaupun aku pacarnya Yasmin. Memangnya kenapa? Kau ada masalah?" Hendra bertanya dengan suara agak dingin.
Kedua mata Yasmin berkedip cepat. Tak menyangka Hendra akan melontarkan kata-kata yang akan membuat Tomi semakin salah paham.
"Hen..." Untuk kesekian kalinya, Yasmin menyenggol lengan Hendra. Namun, Hendra tak mengubris Yasmin sama sekali. Dia malah memandang Tomi, yang kini menatapnya tajam.
"Aku hanya bertanya, apa tidak boleh. Apa kau tahu kemarin Yasmin, mengatakan kalau wajahku mirip dengan suaminya. Rasanya cukup aneh, bukan kah Yasmin masih menunggu suaminya untuk pulang tapi mengapa dia memiliki seorang pacar juga."
Tomi mengeluarkan pendapatnya kemudian. Sambil melempar senyum smirk, ia dapat melihat pria yang tak di kenalnya itu, sorot matanya, memancarkan sesuatu yang tak bisa dia artikan sama sekali. Namun, Tomi juga merasa tertantang dengan Hendra.
"Hati bisa saja ber–"
"Stop Hen! Hentikan omong kosongmu, kau sudah kelewatan!" Yasmin menyela seketika. Dia sudah tak mau lagi mendengar perkataan Hendra yang bisa saja mengagalkan rencananya itu.
Tomi dan Hendra tersentak seketika.
Hendra menoleh ke samping. Sorot matanya yang semula dingin berubah sendu.
"Tom, kau jangan salah paham. Di antara aku dan Hendra hanya teman saja, di hatiku hanyalah Cakra seorang, sampai saat ini aku masih mengharapkannya kembali ke pelukanku," jelas Yasmin sambil menatap dalam bola mata Tomi. Berharap Tomi dapat mengingat kenangan-kenangan mereka dulu.
Tanpa sadar Tomi mengulas senyum tipisnya. Tatapan Yasmin membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan sekarang. Dia pun semakin bingung dengan reaksi organ dalamnya itu.
Astaga, Tom. Ingatlah Arion dan Meli.
Senyuman hangat yang terlukis di wajah Tomi memudar seketika berganti dengan senyum kakunya. Dia pun mulai membuka suara.
"Iya, Yas. Baguslah, semoga saja Cakra dapat kembali." Tomi mengalihkan pandangannya pada Hendra.
"Maaf kalau aku terlalu ikut campur urusan kalian," ucap Tomi kemudian pada Hendra.
"Aku pun sama, maafkan aku karena tadi sudah lancang mengatakan aku pacar, Yasmin." Hendra membalas dengan tersenyum tipis. Tomi membalas dengan menganggukkan kepalanya sedikit. Kemudian Hendra melirik ke samping.
"Yas, aku minta maaf mengatakan aku pacarmu, aku tak bermaksud Yas," ucap Hendra sambil menatap dalam bola mata Yasmin.
Yasmin reflek mengulum senyum simpul. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja Hendra sedang keletihan sehingga bicaranya melantur kemana-mana. "Iya, tak apa, aku harap kau lebih bijak lagi, Hen, ke depannya."
Hendra membalas dengan tersenyum pula. Senyumnya sangat hangat dan lebar hingga Tomi yang masih berdiri di hadapan mereka, rahangnya mengeras seketika.
Tomi tak suka, melihat Hendra dan Yasmin saling menatap satu sama lain sekarang.
Mengapa mereka terlihat mesra! Apa mereka berpacaran? Yasmin, bukanlah wanita yang setia ternyata! Kasihan Cakra, semoga saja dia cepat kembali.
Gigi-gigi Tomi bergemelatuk sejenak. Detik selanjutnya dia menggeleng cepat, berusaha menghilangkan prasangkanya itu. Namun, keinginan hatinya tak selaras sama sekali. Tanpa sadar dia mulai menggerakkan bibirnya.
"Hmm, maaf menganggu kalian, tapi alangkah lebih baiknya kau tak bertamu malam-malam ke rumah Yasmin, Hen."
Perkataan Tomi barusan membuat Hendra memutus kontak matanya seketika dengan Yasmin.
Hendra menatap tajam.
"Memangnya kenapa? Yasmin kan temanku, lagipula aku kemari ingin melihat keadaannya dia baik atau tidak, siapa tahu saja ada orang jahat yang berusaha menganggunya," ucap Hendra, penuh penekanan.
Yasmin mulai merasa hawa yang menguar dari tubuh Tomi dan Hendra sangat berbeda. Dingin dan gelap. Yasmin amat was-was dengan perbincangan mereka sekarang. Keduanya seakan berperang dingin, entah karena apa.
Suasana mendadak mencekam.
"Justru itu, walaupun teman, kau harus tahu batasanmu, ini perumahan komplek, Hen. Orang-orang akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kalian, mulai hari ini, bertamulah di bawah jam lima sore," kata Tomi, masih menatap dingin.
"Jangan mengaturku! Kau juga bukan siapa-siapanya, Yasmin! Aku temannya! Kau hanya orang asing." Hendra malah menunjuk-nunjuk wajah Tomi.
Ingin sekali Tomi melayangkan pukulan di wajah Hendra. Tapi dia masih menggunakan akal sehatnya. Tomi beralih menatap Yasmin.
"Yasmin, apa perkataanku ini salah?" tanyanya.
"Tidak, perkataanmu tidak salah, Tom."
"Yas, kenapa kau berpihak dengannya!" sergah Hendra tiba-tiba.
Yasmin sedikit terkejut saat Hendra meninggikan suaranya.
"Aku tidak berpihak dengannya, Hen. Ada apa denganmu? Bukankah tadi kau sudah minta maaf denganku, tapi mengapa kau ulangi lagi? Perkataan Tomi benar, aku baru tinggal di sini, tetangga di sini, belum terlalu mengenalku, Hen. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Sebaiknya kau bertamu di bawah jam lima saja."
Hendra lantas bungkam. Hanya decakan kesal yang keluar dari bibir tebalnya itu.
Tomi tersenyum penuh kemenangan.
"Kau sudah dengarkan, Yasmin saja setuju dengan pendapatku, maka dari itu, jangan sering-sering datang kemari!" seru Tomi sambil tersenyum licik.
Melihat raut wajah Tomi, tanpa sadar Hendra mengepalkan kedua tangannya.
Tomi memicingkan mata, melihat reaksi Hendra. Dia berusaha mengatur napasnya agar tak terpancing emosi. Namun, sorot mata Hendra kini, seakan menantangnya untuk berduel.
Tangan kanan Tomi mengepal kuat seketika, tengah mengambil ancang-ancang hendak melayangkan pukulan di wajah Hendra.
"Ayah!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Mesri Sihaloho
jangan jangan Hendra temanan sama Mely
2023-09-02
0
ria
semangat yasmin..
waspada sama hendra ..yasmin💪
2023-08-05
0
EBI
kayaknya Hendra musuh dalam selimut 🙃
2023-07-26
1