Mendengar suara cempreng Arion, Tomi mengurungkan niatnya. Begitupula dengan Hendra. Tangan pria berbadan atletis itu mengendur seketika.
"Ayah, kok nggak masuk ke dalam?" Arion langsung mendongakkan wajahnya ke atas sambil melirik Yasmin dan Hendra sesekali.
"Sebentar ya, Ayah masih ada urusan." Hendra mengusap pelan kepala Arion.
Beberapa menit sebelumnya. Setelah di siksa oleh Meli. Wanita itu mengolesi kulit Arion dengan concealer dan foundation untuk menutupi luka-luka, lebam agar tak terlihat oleh Tomi, seperti yang dia lakukan seperti biasanya. Dan saat mendengar suara deru mobil di luar, Meli menyuruh Arion untuk menemui Ayahnya terlebih dahulu. Karena dia harus membereskan dulu beberapa kuas dan foundation di atas meja rias yang berantakan, agar tak ketahuan.
Arion hanya membalas dengan menatap sendu Ayahnya. Semantara Yasmin, mengulas senyum tipis melihat interaksi Tomi dan Arion sekarang.
"Hm, sepertinya aku pulang dulu, Yas. Hari sudah semakin malam. Aku juga harus berkerja besok." Hendra membuka suaranya seketika.
Yasmin dan Tomi pun mengalihkan perhatian pada Hendra.
"Oh ya, Hen. Berhati-hatilah," kata Yasmin.
Hendra membalas dengan mengangguk pelan. Kemudian dia melirik Tomi lagi. "Aku pergi."
Anggukan pelan sebagai balasan Tomi. Tomi merasa Hendra tak suka padanya, entah karena apa. Namun, dia menebak sepertinya Hendra memiliki ketertarikan dengan Yasmin. Sehingga perkataannya tadi, membuat Hendra tersinggung.
Selepas kepergian Hendra, Yasmin dan Tomi kembali menatap satu sama lain.
"Maaf karena tadi aku ikut campur urusan kalian, hanya saja sebagai tetangga juga, aku tak mau di komplek yang aku tempati ini tercoreng namanya," tutur Tomi kemudian.
Yasmin tersenyum getir sejenak. Padahal dia sudah berharap tadi kalau Tomi cemburu padanya, tapi, nyatanya tidak.
"Iya, tak apa, Tom. Aku juga berterima kasih karena ada tetangga yang baik sepertimu. Oh ya, bagaimana brownies yang aku buat tadi pagi? Apakah enak?"
Yasmin menatap seksama bola mata Tomi, berharap Tomi sudah memakan brownies yang ia buat kemarin.
"Astaga, aku belum mencicipinya, sepertinya Meli lupa mengirimnya padaku," terang Tomi.
Dia pun sedikit heran dengan Meli, mengapa tak mengirim brownies padanya, padahal tadi siang dia sempat mengirimi pesan untuk mengirim kue tersebut ke kantornya menggunakan go-send di aplikasi g*jek. Namun, Meli sama sekali tak membalas pesannya hanya di baca saja.
Yasmin melempar senyum kaku setelahnya. Sempat terlintas di benaknya, jikalau Meli seakan menghambat proses misinya. Untuk saat ini Yasmin akan bersikap waspada dengan Meli pula. Karena sepertinya, perjuangannya untuk mengembalikan ingatan sang suami sangatlah panjang.
"Oh ya, tak apa. Nanti ciciplah Tom," balas Yasmin.
"Iya. Tentu saja, aku pasti akan memakannya." Tomi tersenyum lebar.
"Ayah! Alion mau gendong!"
Perkataan Arion membuat Tomi mengalihkan pandangannya seketika. Tanpa banyak kata dia pun mengangkat tubuh putranya.
Sementara, Yasmin mengulum senyum, melihat tingkah Arion.
"Hoooammm...." Di dalam gendongannya, Arion menguap lebar seketika. Mata munggilnya itu nampak sayu-sayu. Kini bocah laki-laki itu sedang bersender di pundak Tomi sambil membuka bibir munggilnya itu, menahan kantuk.
Melihat hal itu, Tomi tersenyum simpul. "Sepertinya anak Ayah sudah mengantuk." Lalu dia menatap Yasmin. "Yasmin, aku masuk ke dalam dulu ya, anakku sudah mengantuk."
"Ya, silakan Tom. Aku juga mau beristirahat."
Tomi mengangguk cepat lalu membawa Arion,melangkah masuk menuju rumah. Meninggalkan Yasmin yang menatap penuh rindu punggung belakang Tomi.
Sesampainya di dalam rumah, Tomi mengedarkan pandangannya. Menelisik keberadaan Meli.
"Sayang, aku sudah pulang," sahut Tomi sambil mengelus pelan punggung Arion, yang matanya mulai mengatup perlahan.
Meli menyembul keluar dari dalam kamar sambil melempar senyum lebarnya.
"Pulang cepat hari ini, Sayang?" tanya Meli.
"Iya, Arion malam ini tidur bersama kita ya," ucap Tomi sambil melempar tas kerjanya ke atas sofa.
"Alion nggak mau, Ayah! Alion tidur di kamar Alion aja."
Sebelum bibir Meli bergerak. Arion berkata cepat. Rasa kantuknya barusan membuyar seketika. Dia menegakkan kepalanya lalu menatap Ayahnya.
"Oh begitu, Arion nggak takut tidur sendirian?" Tomi mencium gemas pipi bulat Arion seketika.
Arion melirik Meli sekilas. "Nggak," kilahnya sambil menggeleng cepat. Padahal sebenarnya dia takut dimarahi Bundanya. Pasalnya tempo lalu saat dia pernah tak sengaja ketiduran di kamar orangtuanya dan esok paginya, berujung di pukul Bundanya berkali-kali.
Meli tersenyum hangat setelahnya.
"Baguslah, anak Ayah pemberani." Tomi mengecup lagi pipi bulat Arion secara bergantian. Detik selanjutnya, dia mengalihan matanya ke arah Meli.
"Oh ya Mel, mengapa kau tak membalas pesanku tadi siang, aku memintamu mengirimkan aku brownies yang diberikan Yasmin."
Meli pura-pura terkejut. "Astaga, aku lupa Sayang. Lagipula browniesnya sudah dihabiskan Arion," kilahnya sambil memanyunkan bibirnya sedikit. Padahal siang tadi, dia membuang brownies Yasmin ke dalam tong sampah. Dia tak mau sampai Tomi mengingat kenangan-kenangannya bersama Yasmin.
Lantas Tomi menatap Arion lalu mengembangkan senyuman.
"Benarkah, anak Ayah habiskan ya? Berarti enak dong?" kelakarnya sambil menjawil gemas hidung Arion.
Mata munggil Arion melirik Meli kembali. Kemudian menatap Ayahnya.
"Iya Ayah, enak, enak sekali!"
Arion tak bohong karena dia memang sudah mencicipi brownies Yasmin. Yang di buang Meli ke tempat sampah, dia tak sengaja melihat Bundanya membuang brownies tersebut. Karena tak di beri makan sama sekali oleh Bundanya. Secara diam-diam Arion kecil pun terpaksa mengambil sisa-sisa brownies di dalam tong sampah dan memakannya.
Tomi hanya membalas dengan tersenyum hangat. Arion hanya diam saja.
Meli menatap tajam Arion. Karena putranya itu malah memuji makanan yang tak pernah di santapnya sama sekali.
Arion langsung memeluk erat Ayahnya kala mendapat tatapan tajam dari Bundanya itu.
"Baiklah, sepertinya si pemberani ini sudah mengantuk, kalau begitu aku mengantar Arion ke kamarnya dulu ya Sayang, kau masuklah ke kamar, pasti kau kecapekan seharian menjaga Arion," kata Tomi, kemudian.
Meli tersenyum lebar. "Hehe, kau tahu saja Sayang. Iya hari ini Arion sangat superaktif. Setelah kau mengantar Arion ke kamarnya, susullah aku ke kamar ya."
"Iya, aku tidak akan lama."
*
*
*
Begitu sampai di ruangan kecil yang di dominasi cat warna putih. Tomi langsung membaringkan Arion di atas ranjang.
"Arion tidur ya, Ayah juga mau beristirahat," kata Tomi sambil duduk di tepi ranjang.
"Ayah mau makan brownies tante Yasmin ya?" Bukannya mengiyakan perkataan Ayahnya. Arion malah melontarkan kalimat yang membuat Tomi memicingkan matanya. Sebab raut wajah Arion tampak sedih.
"Ya, tapi udah habis sama superhero ayah ini, 'kan." Tomi mencubit gemas pipi Arion.
"Tunggu sebental!" Arion beringsut dari atas kasur seketika dan berlarian menuju lemari kecilnya yang terdapat di sudut ruangan.
Tomi mengerutkan dahi, melihat tingkah anaknya itu.
Arion membuka cepat lemarinya dan menyambar brownies yang dia simpan tadi siang. Dia tak serta-merta menghabiskan brownies yang dia ambil, berjaga-jaga siapa tahu saja esok atau lusa Bundanya tak memberinya makanan lagi. Namun, mendengar Ayahnya menanyakan brownies tersebut. Arion merasa bersalah. Jadi dia akan membagi brownies tersebut pada Ayahnya.
Kaki munggilnya bergerak perlahan menuju ranjang sambil membawa brownies tersebut.
"Ini Ayah, Alion sisain buat Ayah!" Arion melebarkan senyum lebarnya, berharap Ayahnya senang.
Tomi mengulas senyum tipis. Tak menyangka putra satu-satunya itu menyisakan kue untuknya.
"Untuk Ayah?
Arion mengangguk semangat.
Tanpa banyak kata, Tomi mengambil potongan kecil brownies tersebut dan memasukannya ke dalam mulut.
Saat lidahnya mengecap rasa manis. Tomi terpaku di tempat. Hatinya begitu perih dan sakit, entah karena apa. Secara bersamaan air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya.
"Ayah!" Arion panik, melihat Ayahnya menangis saat ini. Dia pun bergegas naik ke atas tempat tidur dan berdiri di hadapan Tomi.
"Ayah, Ayah kenapa?" Arion mengusap perlahan air mata Ayahnya sambil menatap heran. Karena Tomi hanya diam saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
semangat tomi..semoga ingatanmu segera kembali
2023-08-05
0
ria
semoga kamu mengingatx tomi walau sedikit
2023-08-05
0
ria
kasiiaan kamu arion..
2023-08-05
0