Suara Itu...

Yasmin bangkit berdiri saat melihat Cakra, wanita berambut panjang dan bocah tersebut berdiri di hadapannya.

"Maaf aku membawa istri dan anakku, mumpung kami masih di Jakarta, karena nanti siang kami harus kembali ke Surabaya."

Belum sempat Yasmin menyapa, Cakra membuka suara terlebih dahulu.

Yasmin semakin yakin jika pria di hadapannya adalah Cakra saat mendengar suaranya sangatlah mirip dengan Cakra.

"Oh tidak apa-apa, perkenalkan namaku Yasmin." Yasmin mengangkat satu tangannya ke udara hendak berjabatan tangan.

Pria itu yang memiliki wajah amat kentara seperti Cakra, melirik ke samping sekilas.

"Maaf!" Pria yang memiliki postur tubuh tinggi dan tegap itu menyatukan kedua tangannya, menolak jabatan tangan Yasmin. "Namaku Tomi, ini istriku Meli dan itu anakku, Arion."

Arion sedang asik dengan dunianya. Dia tengah mengedarkan pandangan di sekitar.

"Hai aku Meli," sapa Meli ramah sambil membalas jabatan tangan Yasmin.

Yasmin tersenyum kaku setelahnya."Aa Iya, baiklah kalau begitu silakan duduk dulu."

Tomi dan Meli langsung duduk berhadapan dengan Yasmin.

"Arion, ayo ke sini duduk sama Ayah." Tomi menatap Arion seketika yang masih berdiri sambil memperhatikan interior cafe.

Arion mengalihkan pandangannya seketika lalu berhamburan memeluk Tomi.

"Ayah, Alion boleh makan es klim nggak?" tanya Arion.

"Nggak boleh Sayang, kemarin kan sudah makan es krim." Bukan Tomi yang menjawab melainkan Meli. Meli mengusap pelan kepala putranya itu.

Arion mencebikkan bibirnya seketika sambil menatap seksama mata Tomi. "Ayah, dikit aja, Alion mau es klim, please!"

Tomi tersenyum tipis. "Baiklah–"

"Mas, jangan ah, nanti dia pilek lagi loh," protes Meli, cepat.

"Tenang aja, aku jamin Arion nggak pilek lagi, nah sekarang Arion duduk sama Ayah ya!" Tomi mengangkat tubuh Arion seketika dan mendudukkan putranya di pahanya.

Yasmin menundukkan kepalanya saat melihat pemandangan yang membuat hatinya teriris-iris.

"Jadi, apa yang mau disampaikan?" Setelah menenangkan Arion, Tomi pun mulai membuka suara.

"Hm, begini, sebenarnya aku mau berbicara dengan anda, empat mata saja." Mengangkat wajah, Yasmin berkata dengan sangat hati-hati.

Riak muka Tomi berubah dingin. "Tidak bisa, istriku harus mendengar apa yang ingin kau sampaikan, bicaralah, aku akan mendengarkan dengan seksama."

Mencelos hati Yasmin mendengarnya. Yasmin tampak serba salah. Dia sangat canggung mengungkapkan siapa Tomi sebenarnya. Apalagi sekarang Yasmin bertambah yakin jika pria di hadapannya adalah Cakra saat melihat sayatan kecil di ujung jari telunjuknya. Dulu, Cakra sempat tak sengaja mengiris jarinya sendiri ketika memotong buah wortel.

"Baiklah kalau begitu, maaf kalau aku lancang."

Tak ada sahutan Tomi menatap Yasmin tanpa ekspresi sama sekali. Sementara Meli tersenyum tipis.

Yasmin menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan maksud dan tujuannya. Meremas blazer putihnya, Yasmin berkata," Maaf sebelumnya Mel, aku datang tiba-tiba menbawa kabar yang kurang baik untuk kau tapi demi kebahagiaanku juga, aku harap kau mengerti."

Sebelah alis mata Tomi dan Meli terangkat sedikit.

"Tiga tahun yang lalu, suamiku yang bernama

Cakra, memiliki misi di suatu tempat, yang aku sendiri pun tak tahu di mana. Dia hilang dalam misi tersebut dan sampai saat ini jasadnya belum ditemukan."

"Aku turut berduka, Yasmin." Meli melemparkan senyum tipisnya.

Anggukan pelan sebagai balasan Yasmin. Lalu Yasmin mulai melanjutkan perkataannya lagi. "Tapi aku yakin sekali dia masih hidup, Mel. Buktinya hari ini aku melihat tanda lahir yang sama di leher suamimu."

"Apa maksudmu?" Ekspresi Meli berubah drastis. Matanya nampak berkaca-kaca. "Maksudmu Tomi adalah Cakra, suamimu?" Suara Meli terdengar bergetar pelan sambil menitihkan air matanya seketika.

Yasmin mengangguk pelan sambil mengigit bibir bawahnya karena Cakra malah menatapnya dingin sekarang.

"Aku sudah menikah dengan Tomi lebih dari 5 tahun dan aku sudah memiliki anak yang sekarang berusia 3 tahun. Apa kau sedang menuduhku, Yasmin?" Meli terisak pelan dengan pundaknya yang bergetar hebat. Dia bangkit berdiri seketika.

"Mel, kau salah paham, aku tidak bermaksud menuduhmu, bisa saja–"

Tomi menyela,"Stop! Jangan mengucap satu patah katapun, aku dan Meli sudah lama menikah. Berani sekali kau mengatakan bahwa aku adalah suamimu yang sudah mati itu–"

"Aku yakin sekali, kau adalah Cakra. Kau pasti hilang ingatan. Aku sempat memeriksa riwayat rumah sakitmu, dulu pernah dirawat di rumah sakit, 'kan?"

"Kau sudah gila. Suamiku operasi usus buntu waktu itu. Sudahlah, Mas. Aku mau pergi dulu, wanita ini sepertinya ingin menghancurkan hubungan kita, terserah kau mau menanggapinya atau tidak, aku pergi, ayo Arion sama Bunda ya." Meli menghapus cepat airmatanya dan menggendong Arion seketika. Namun, Tomi menahan tangan Meli, hendak mengajak istrinya pulang bersama.

"Tunggu dulu Cakra, aku punya bukti!" Yasmin buru-buru mengambil foto yang tersisa satu di dalam tasnya. Namun, sepertinya foto tersebut susah untuk dijangkau. Dia merogoh tasnya lebih dalam lagi.

"Jangan memanggilku Cakra. Aku bukan Cakra!" Tomi melayangkan tatapan tajam pada Yasmin, yang kini sedang panik karena foto yang dia bawa tak juga dapat ditemukan. "Ayo kita pergi," katanya sambil memegang tangan Meli.

Yasmin menyentuh tangan Tomi seketika. "Tunggu!"

"Lepaskan tangan suamiku!" Secepat kilat Meli menghempas kasar tangan Yasmin. Lalu menarik tangan Tomi untuk keluar dari cafe. Meninggalkan Yasmin menuangkan semua isi tasnya di atas meja. Kedua matanya berbinar-binar melihat foto semasa kuliah bersama Cakra. Yasmin bergegas keluar sambil membawa foto tersebut.

"Cakra! Meli! Tunggu, ini fotonya!" Yasmin berlarian mendekati Tomi dan Meli sedang menunggu taksi di tepi jalan.

"Ini fotonya, percayalah Cakra. Kau adalah suamiku. Lihatlah foto ini!" Dengan napas tersengal-sengal, Yasmin menghadapkan foto yang sudah nampak lusuh itu pada pasangan suami istri itu. Yasmin menatap lekat-lekat mata Cakra, berharap Cakra dapat mengingat dirinya setelah melihat foto mereka.

"Mengapa kau sangat licik, aku tak mengenalimu sama sekali, bisa saja ini photoshop yang kau buat sendiri!" Tomi berkata dengan sorot matanya yang tajam.

"Tidak, untuk apa, ini foto asli kita." Yasmin mendekat lalu berusaha mengapai tangan Tomi. Tapi, segea ditepis Tomi. Kini hatinya begitu perih mendapat penolakan dari suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan kepedihan yang merasuk ke relung hatinya.

Tomi melengoskan mukanya lalu mengajak Meli dan Arion untuk masuk ke dalam taksi yang baru saja berhenti tepat di dekat mereka.

"Cakra!" Yasmin menatap nanar kepergian Cakra. Perasaannya begitu kacau sekarang. Padahal dia yakin sekali jika Tomi adalah Cakra. Semuanya sangat mirip, tak ada yang beda. Dari mata, rambut, hidung, warna kulitnya bahkan gaya berpakaiannya sekalipun sama, yang membedakan hanya sikapnya saja.

Semenit pun berlalu, Yasmin masih berdiri di tepi jalan sambil melihat fotonya dan Cakra. Setelah puas menangis ia menghapus cepat jejak air matanya. Dia tidak boleh menyerah dan akan membuktikan bahwa Tomi adalah Cakra. Maka dari itu, Yasmin akan berencana menjalankan misi untuk mengembalikan ingatan Cakra dan dia pun berencana untuk pindah ke tempat tinggal Cakra yang berada di Surabaya, agar lebih dekat dengan Cakra.

Yasmin memutuskan kembali ke cafe, hendak mengambil tas dan ponselnya untuk menghubungi Hendra, meminta bantuan.

Sementara itu, di sisi lain. Tepatnya di taksi yang ditumpangi Tomi.

"Aku tak habis pikir Mas, pelakor zaman sekarang banyak sekali triknya! Padahal aku kasihan dengan keadaannya yang di tinggal mati suaminya," kata Meli sambil sesekali menghapus air matanya yang mulai mengalir lagi.

Tomi tak menyahut. Dia sedang asik melihat tangannya yang disentuh Yasmin tadi. Ada sesuatu yang aneh, tapi Tomi tak dapat menjelaskannya.

"Mas!" Meli menoleh. "Kenapa?"

Tomi melempar senyum tipis. "Tidak kenapa-kenapa Sayang, sudah, kau jangan menangis lagi. Lihatlah Arion bingung melihat Bundanya menangis."

Sedari tadi Arion diam-diam memperhatikan kedua orangtuanya. Bocah berambut tebal itu mengedipkan cepat matanya. Kekehan pelan terdengar dari bibir Tomi seketika.

Terpopuler

Comments

ria

ria

semangat kuat yasmin..
semoga takdir berpihak padamu😙

2023-08-04

0

EBI

EBI

hemm

2023-07-22

1

I'M Yacem

I'M Yacem

lanjut thor

2023-07-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!