Selang beberapa hari kemudian.
Pagi-pagi sekali Yasmin terbangun dari ruang mimpinya. Hari ini dia harus bersiap-siap. Sebab kemarin Yasmin di hubungi perusahaan, di mana Tomi berkerja. Kali ini dia akan berusaha mendekati Tomi di kantornya pula.
Beruntung sekali, setelah mengirim lamaran sebagai karyawan divisi keuangan di perusahaan tersebut jauh-jauh hari sebelumnya. Yasmin tak menyangka, tak butuh waktu lama, ia akhirnya di terima. Padahal sewaktu di Ibu kota dulu, dia sempat kesusahan mencari perkerjaan.
Yasmin nampak senang. Jadi, kesempatannya untuk selalu bertatap muka dengan suaminya begitu besar. Dan tidak menutup kemungkinan ingatan Tomi bisa kembali seperti semula.
Semoga saja, dia bisa ingat denganku.
Sebelum berangkat berkerja, Yasmin mematut dirinya di depan cermin. Sambil memperhatikan penampilannya yang terlihat berbeda hari ini, dia memakai kemeja putih dan rok span selutut coklat serta blazer yang warnanya senada dengan rok. Rambut panjangnya ia ikat ke belakang, sehingga membuat wajahnya terlihat berseri-seri.
Setelah memastikan kondisi rumah aman, Yasmin pun melenggang pergi keluar. Begitu sampai di luar, Yasmin melirik kendaraan milik Tomi masih terparkir di luar, yang artinya Tomi belum berangkat berkerja.
Dia melirik arloji di pergelangan tangan, menunjukkan pukul enam pagi. Ya, Yasmin memang sengaja berangkat lebih awal karena tak terlambat di hari pertamanya berkerja. Apalagi dia harus mencari angkutan umum terlebih dahulu.
Sampai berjumpa di kantor, Sayang.
Yasmin pun mulai mengayunkan kakinya ke depan.
*
*
*
Tepat pukul setengah tujuh, Yasmin sudah tiba di perusahaan. Begitu sampai dia langsung ke ruangan HR. Setelah bertemu kepala HR, dia di arahkan ke lantai dua, di mana ia akan berkerja. Di sepanjang jalan, HR menjelaskan apa saja yang akan di lakukannya nanti. Sembari mendengarkan dengan seksama. Yasmin mengedarkan pandangannya di sekitar, menelisik keberadaan Tomi.
"Yasmin, apa sudah jelas?" tanya wanita berkaca mata bulat itu seketika.
Secepat kilat Yasmin melirik HR tersebut.
"Sudah Mbak, terima kasih penjelasannya, saya akan berkerja dengan baik nantinya, mohon bantuan dan bimbingannya," balas Yasmin sambil melempar senyum tipis.
"Baguslah, aku senang mendengarnya, nah ini kantormu, masuklah, mejamu di bagian pojok kanan. Tanya saja dengan karyawan yang di situ, mereka pasti tahu." HR menghentikan gerakan kakinya seketika di depan pintu utama ruangan. Langkah kaki Yasmin pun terhenti.
"Oh ya, baik Mbak. Terima kasih."
"Sama-sama, kalau begitu aku permisi dulu, ada yang harus aku kerjakan juga." HR menepuk pelan pundaknya lalu melangkah pergi, meninggalkan Yasmin.
Sebelum masuk ke ruangan, Yasmin mendongakkan wajahnya, melihat tulisan divisi keuangan terpampang jelas di atas sana. Dia menghela napas pelan kemudian, menetralisir perasaan gugup karena untuk pertama kalinya, akan berkerja di kantor.
"Yasmin, kau kah itu?"
Belum sempat Yasmin menggerakan kakinya, suara seseorang yang tak asing dari samping, menghentikannya.
Yasmin menoleh ke sumber suara. Sudut bibirnya melengkung seketika kala melihat Tomi ada di hadapannya sekarang.
"Iya, ini aku. Hai, Tom. Jangan bilang kau juga berkerja di sini?" tanya Yasmin, sekadar basa-basi.
Melihat senyum Yasmin yang cerah bak sinar mentari, jantung Tomi kembali berdetak tak karuan. Apalagi saat ini penampilan Yasmin terlihat feminim, membuat Tomi berdecak kagum di dalam hatinya. Buru-buru Tomi menepis pemikiran gilanya itu saat melintas wajah Meli dan Arion di benaknya.
"Iya, aku berkerja di sini. Apa kau karyawan baru di divisi keuangan?" tanya Tomi, penasaran, karena kemarin mendapat kabar akan ada karyawan baru di divisi keuangan. Tentu saja dia sebagai salah satu manager perusahan, mengetahui hal tersebut.
Yasmin mengangguk cepat.
"Iya Tom, aku tak menyangka ternyata kita sekantor, semoga kita bisa menjadi rekan kerja yang baik," ucap Yasmin sambil mengangkat tangan ke udara, hendak menjabat tangan Tomi.
Tomi tersenyum tipis setelahnya. Dia pun membalas jabatan tangan Yasmin. Saat kulitnya bersentuhan, ada gelanyar aneh yang mulai menjalar di relung hatinya, namun Tomi tak bisa mengartikan perasaan apa itu.
"Iya, semoga saja. Aku manajer di divisimu, jangan macam-macam denganku, Yas," kelakar Tomi. Dengan tergesa-gesa dia menurunkan tangannya karena tak mau terlalu bersentuhan tangan.
Ketika melihat tingkah Tomi, lagi dan lagi Yasmin tersenyum getir. Mengapa Tomi susah sekali untuk didekati. Tomi seakan menciptakan benteng di antaranya.
Semangat Yasmin, ini baru permulaan.
Yasmin berkata di dalam hatinya.
"Oh ya Tom, bagaimana browniesnya, apa sudah kau coba?" Yasmin baru saja teringat jika semalam Tomi mengatakan akan menyantap brownies buatannya.
Tanpa sadar Tomi melengkungkan sudut bibirnya. "Enak banget, Yas!" sahutnya sambil mengangkat jempol.
Yasmin tertegun. Melihat reaksi yang sama kala itu. Memori indah bersama Cakra menari-nari di benaknya seketika.
Beberapa tahun silam, dua hari sebelumnya kepergian Cakra.
Sore itu, warna jingga di atas pencakar membuat langit nampak indah. Saat Yasmin sedang berkutat di dapur hendak memasak. Tak ada angin, tak ada hujan, Cakra menyelenong masuk ke dapur. Dan meminta pada Yasmin membuatkannya brownies coklat.
Yasmin tersentak kala kedua tangan kokoh melingkar di perutnya tiba-tiba.
"Sayang, buatkan aku brownies coklat dong, aku pengen makan itu." Cakra menaruh dagunya di pundak Yasmin.
Yasmin melirik Cakra sekilas.
"Astaga, kau membuat aku kaget, Sayang. Brownies lagi? Bukannya kemarin sudah?" katanya tanpa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk sayur sop di panci.
"Brownies buatanmu enak banget, Sayang!" sahutnya sambil jari jempolnya ke udara. "Aku mau lagi."
"Tapi kan bahan-bahannya sudah habis, Sayang!" protes Yasmin tanpa menatap lawan bicaranya. Sebab bahan-bahan untuk membuat brownies memang sudah habis.
"Tenang saja, aku akan membeli bahan-bahannya ke supermarket sekarang, buatkan ya." Cakra mengecup gemas pipi Yasmin seketika. Yasmin kelimpungan karena kecupan suaminya sangat brutal sehingga dia geli sendiri karena tangan Cakra juga tak tinggal diam di bawah sana.
"Sayang, geli, iya, iya nanti aku buatin, tapi ini lepas dulu, gimana aku mau gerak! Aku masih masak Sayang," cicit Yasmin. Namun, Cakra tak peduli. Pria itu malah mengendus-endus pelan ceruk leher Yasmin. Hingga Yasmin terkikik-kikik, menahan geli.
Sore itu adalah moment paling indah bagi hidup Yasmin. Cakra merupakan sosok pria yang sangat berarti untuknya. Dia penyayang, tak pernah menuntutnya dan selalu bisa di andalkan. Cakra ibaratkan tiang kehidupannya. Namun, semua kebahagiannya sirna dalam sekejap, dikala Cakra menghilang tiba-tiba.
"Yas!"
Yasmin tersentak kala suara Tomi membuyarkan lamunannya seketika.
Yasmin menggeleng cepat. "Maaf, Ca... Em maksudku Tomi, baguslah kalau kamu suka. Brownies coklat itu adalah makanan favorit suamiku," ucapnya sambil menatap dalam bola mata Tomi. Berharap Tomi dapat mengingat kenangan-kenangannya dulu.
Tomi tak langsung membalas. Pria itu pun sama. Menatap lekat bola mata Yasmin. Wanita di hadapannya, seakan memiliki magnet bagi dirinya. Tomi takut. Takut jatuh cinta dengan Yasmin.
"Iya Yasmin, suamimu adalah orang paling beruntung, mendapatkan wanita yang bisa membuat kue brownies. Istriku, Meli, dia tidak terlalu lihai memasak tapi dia pandai sekali merawat anakku, Arion. "
Hanya kalimat itu yang dapat dilontarkan Tomi. Dia tak mau Yasmin sampai terbuai dengan pujiannya. Walau bagaimanapun ada Meli, yang harus dia jaga perasaannya
Bagai tertusuk sembilu, hati Yasmin terasa perih, mendengar pria yang dicintainya malah memuji wanita lain. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Sambil melempar senyum hambar, Yasmin menatap sendu mata Tomi.
"Hm, beruntung sekali jadi Meli ya. Dan aku yang tidak beruntung, karena suamiku sampai sekarang tidak mengingatku sama sekali," ucapnya dengan suara agak gemetar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
semangat yasmin ..
2023-08-05
0
ria
aamiin..semoga yasmin
2023-08-05
0
EBI
wuihh HR nya dah standby jam setengah 7
2023-07-27
1