"Hm, iya. Mengapa kau bisa pindah ke sini? Bukankah kau berasal dari Jakarta?" Meli melempar senyum smirk sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Tomi seketika.
Tomi hanya diam saja. Namun, dia sedikit heran mengapa Meli sedikit agresif hari ini, tak seperti biasanya.
Yasmin menarik napas dalam lagi. "Iya, seminggu yang lalu, aku pernah melamar perkerjaan di Surabaya dan akhirnya kemarin baru saja lulus," katanya sambil melirik Tomi sekilas.
"Oh, baguslah, semoga betah tinggal di komplek ini."
Yasmin membalas dengan mengangguk pelan. Lalu Meli menoleh ke samping.
"Mas, nggak pergi ke kantor, nanti telat loh," balas Meli sambil bergelayut manja di lengan Tomi.
"Oh ya, kalau begitu aku pergi dulu." Tomi melabuhkan kecupan cepat di kening Meli seketika. Dia sedikit kaget karena baru menyadari Yasmin masih berada di depan mereka. Secepat kilat ia mengalihkan pandangan. "Maaf, Yas."
"Oh tak apa." Meski bibir mengatakan baik-baik saja. Namun, hati Yasmin tercabik-cabik, saat melihat kemesraan yang ditampilkan antara Tomi dan Meli.
"Tak apa Sayang, lagian kan kita suami istri, ya sudah pergi gih sana, hati-hati," ucap Mel sambil tersenyum smirk, seakan puas melihat raut wajah Yasmin.
Anggukan pelan sebagai balasan Tomi.
"Aku juga permisi kalau begitu." Karena tak ada lagi urusan Yasmin pamit undur diri. Meski tak ada tanda-tanda Cakra mengingatnya. Akan tetapi, Yasmin tak menyerah karena masih ada hari esok.
Sambil melipat tangan di dada, Meli melempar senyum tipis.
Tomi pun berjalan cepat melewati Yasmin menuju mobilnya. Sementara Yasmin kembali menatap Meli lalu membungkukkan badannya sedikit. Setelah itu melangkah pergi dari rumah Tomi.
Dasar wanita murah4n! Bagaimana dia bisa tahu keberadaan Cakra!
Meli berkata di dalam hatinya sambil memperhatikan Yasmin sedang curi-curi pandang ke arah suaminya.
Setelah melihat mobil Tomi menghilang dari pandangannya dia masuk ke dalam rumah.
"Ahk! Sial4n!" teriaknya sambil membanting pintu rumah. Sehingga asisten rumah yang sedang menyapu lantai terlonjak kaget.
"Nyo-nya," sapa wanita yang masih muda itu dengan terbata-bata.
"Apa?!" Meli malah melototkan matanya seketika.
"Maaf Non, saya baru datang, masih ada urusan sebentar tadi, saya lewat pintu belakang masuknya," Dengan hati-hati ia berkata. Asisten rumah tangga yang diperkerjakan Meli hanya berkerja dari jam 6 pagi sampai 5 sore saja dan tergantung pula atas keinginan Meli.
"Terserah Yan! Aku tak peduli kau mau datang jam berapa! Yang penting urusanmu rumah sudah selesai! Sekarang kau pergi ke dapur, buatkan makan siang untuk Tomi! Gara-gara kau tanganku melepuh memasak sandwich tadi!" Meli mendengus kasar setelahnya. Lantas suara nyaringnya, membuat Yanti mengangguk cepat dan meletakkan gagang sapunya.
"Untuk Arion juga ya Non?" Sebelum melangkah pergi, Yanti kembali membuka suara.
Meli berdecih sesaat. "Terserah! Bangunkan dia dan mandikan dia!" titahnya, lagi.
Yanti mengangguk lalu bergegas pergi dari hadapan majikannya. Selepas kepergian Yanti, Meli kembali mengumpat kesal.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memberitahunya." Meli tampak gusar. Dia pun bergegas ke kamar hendak menghubungi seseorang.
Begitu panggilan terhubung Meli langsung bersuara. "Apa kau tahu, Yasmin berada di sampingku sekarang! Maksudku dia tinggal di sebelah rumahku, entah apa motifnya, sepertinya dia sedang berusaha mengambil Tomi dariku."
Di sebrang sana, terdengar suara kekehan pelan. "Apa kau takut kehilangan Tomi?"
"Ck!" Meli membalas dengan berdecak kesal.
"Hahaha, tenanglah Meli. Kau tak usah risau, selama Tomi selalu di sisimu, dia tidak akan pergi. Lagipula Yasmin juga sedang aku pantau. Kau tak perlu khawatir." Seseorang di sebrang sana tersenyum smirk.
"Aku tidak mau tahu, Tomi adalah milikku! Hanya milikku! Jadi, jangan sampai kau lengah!" Dengan sorot mata tajam, Meli berkata-kata.
"Tenanglah, dia akan selalu menjadi milikmu. Yang harus kau lakukan sekarang, buat dia tak betah tinggal di situ."
"Hm, iya, gampang itu. Aku tutup dulu." Setelah mendapat persetujuan dari ujung sana. Meli memutuskan sambungan seketika.
Meli melempar ponselnya ke atas kasur lalu menarik napas panjang. Menetralisir perasaannya yang tiba-tiba kacau.
Saat melihat wajah Yasmin tadi. Dia tak mau Tomi kembali mengingat Yasmin. Sambil berjalan mendekati nakas, dia melihat figura foto pernikahannya dengan Tomi alias Cakra terpampang jelas di hadapannya.
Begitu sampai di dekat nakas, dia mengambil benda persegi tersebut lalu mengusap-usap pelan foto.
Cakra, aku sangat mencintaimu...
Meli tersenyum lebar, memperhatikan Tomi yang begitu gagah berdiri di sampingnya.
"Lihat saja kau, Yasmin. Aku akan membuatmu pergi dari sini secepatnya," desisnya pelan sambil melototkan matanya.
Prang!
Meli terlonjak kaget kala mendengar bunyi pecahan kaca dari ruang tengah. Secepat kilat ia melangkah keluar dari kamar. Matanya membulat sempurna, melihat vas bunga miliknya berserakan di lantai. Dia melihat Arion berdiri tak jauh dari vas bunga.
Saat melihat Meli di hadapannya, tubuh Arion bergetar hebat. Dengan sorot mata mulai berkaca-kaca ia berkata,"Bunda... Maafin Alion tadi nggak sengaja kesenggol Bunda."
"Nggak sengaja kau bilang ha!" teriak Meli, menggelegar hingga Arion tersentak seketika. Dengan takut bocah munggil itu memundurkan kakinya ke belakang.
"Yanti!" teriak Meli kemudian. Akan tetapi, tak ada sahutan. Meli semakin naik pitam lalu melangkah cepat, mendekati Arion dan menyentak kasar Arion hingga bocah itu tersungkur ke atas lantai.
Arion menjerit histeris sambil memanggil Ayahnya.
"Dasar anak nakal! Apa kau tidak punya mata ha!" Meli berjongkok di hadapan Arion lalu menampar kuat pipi bulat Arion sehingga bocah itu menangis kuat setelahnya.
"Alion, nggak sengaja Bunda, maafin Arion...." lirih Arion sambil memegang pipi yang terasa panas sekarang.
"Alasan! Berhenti menangis bodoh! Kalau kau tidak berhenti menangis! Hari ini kau tak boleh makan!" titah Meli seketika. Mengabaikan isakan tangis Arion yang menggema di ruangan. Bocah itu menangis tersedu-sedu, dia berusaha menghentikan tangisannya tapi tetap tak bisa karena rasa sakit yang mendera tubuhnya teramat sakit dan perih.
"Aku bilang berhenti!" Untuk sekian kalinya Meli menampar pipi Arion di sebelah kiri hingga air mata Arion semakin meluruh kembali.
"Bunda... Maafin Alion..." Tangan munggil Arion mencoba menyentuh lengan Bundanya. Namun, Meli menghempas kasar tangan Arion.
Meli bangkit berdiri seketika.
"Diam kau! Berdiri kau sekarang!"
Sambil berusaha menahan tangisnya. Dengan tergopoh-gopoh Arion bangkit berdiri. Pipi bulat itu sudah banjir dengan air mata. Dia mendongakkan kepalanya ke atas sambil mengusap-usap pelan bola matanya, berharap air matanya tak keluar.
"Kalau kau tak berhenti menangis! Malam ini kau tidak akan makan!" seru Meli sambil menampar pipi Arion lagi.
Pipi bulat Arion tampak memerah akibat bekas tamparan Meli barusan.
"Ayah...." Arion kembali menitihkan air matanya. Mata munggilnya itu sedang mencari-cari keberadaan Ayahnya di ruangan.
Meli tersenyum sinis sejenak. "Tak usah kau memanggil Ayahmu ha! Dia pulang malam hari ini!" serunya sambil menampar kuat pipi Arion lagi.
Arion tak mampu menahan keseimbangan sehingga ia tersungkur di lantai.
Bocah bertubuh tembab itu hanya bisa menangis. Ingin melawan pun tak mampu, tubuh dan tenaganya tak sebanding dengan tenaga Bundanya. Dia hanya bisa meringkuk di lantai sambil melindungi kepalanya, sebab sekarang ia melihat Bundanya mengambil gagang sapu di sudut ruangan. Bundanya akan memukulnya dengan gagang sapu seperti yang biasa Bundanya lakukan sebelum-belumnya, jika ia membuat kesalahan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
kelihatan aslix kamu meli kalo tomi gk dirumah..
kasiiaan kamu arion..anak pungutkah kamu🤔..kok meli kayak ibu tiri..
ayo tomi..kembalilaa cakra..yasmin sekian lama menunggumu
2023-08-05
0
ria
nah kan..siapa disini yg murahan dan jahat🤔
2023-08-05
0
EBI
buset dah
2023-07-24
0