Yasmin dapat melihat, tepat di depan matanya. Cakra menyambut bocah bertubuh gempal tersebut ke dalam gendongan lalu mengecup gemas pipi bulat itu, selayaknya seorang ayah dan anak yang sedang menikmati waktunya.
Yasmin membeku di tempat, menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya tiba-tiba bergemuruh kuat.
"Tidak mungkin, dia pasti Cakra..." Yasmin sangat yakin jika pria di hadapannya adalah Cakra, suaminya. Karena tanda lahir yang ia lihat tadi, sangatlah mirip. Ditambah lagi wajah, hidung, rambut dan mata belonya begitu kentara. Yasmin menarik panjang seketika, menghirup udara di sekitar, menetralisir perasaannya yang kian tak menentu.
"Cakra!" Sekali lagi Yasmin berteriak.
Dari kejauhan, pria itu melirik Yasmin sekilas. Dengan raut wajah datar, dia menelisik penampilan Yasmin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Yasmin mulai menggerakkan lagi kakinya, saat melihat Cakra menyadari keberadaannya. Namun, mengapa ekspresi Cakra tak bisa terbaca sama sekali olehnya saat ini.
"Cakra! Tunggu aku!" Yasmin terkejut saat melihat Cakra malah melangkah pergi, meninggalkannya, sambil menggendong bocah tersebut.
Yasmin semakin mempercepat kakinya. Akan tetapi, karena kerumunan orang di sekitarnya. Punggung Cakra tak kelihatan lagi. Mata Yasmin celingak-celinguk berusaha mencari Cakra. Namun, nihil, Cakra tak tahu pergi ke arah mana sekarang.
Yasmin berdecak kesal sejenak.
"Aku yakin sekali, dia adalah Cakra, tanda lahirnya sangat mirip dengan Cakra," katanya kemudian. Tak menyerah, Yasmin berencana kembali ke kantor polisi, ingin meminta bantuan Hendra.
Selang beberapa menit, Yasmin sudah berada di kantor polisi. Dengan napas terengah-engah dia memanggil nama Hendra berulang kali hingga pada akhirnya Hendra menyembul keluar dengan raut wajah bingung.
Hendra melangkah cepat, mendekati Yasmin.
"Ada apa Yas? Kau kenapa?" Tanpa sadar Hendra memegang kedua pundak Yasmin. Raut wajah kekhawatiran terpatri amat jelas di wajahnya kini.
Yasmin tak langsung menyahut. Dia sedang mengatur pernapasannya. "Aku melihat Cakra, Hen. Dia ada di sini!" katanya sambil tersenyum lebar.
"Cakra?"
"Iya, aku tadi melihatnya, Hen. Dia masih hidup."
Hendra menghela napas. "Yas, kau mungkin salah lihat, ayo aku antar pulang ke kostmu!" Memegang pergelangan tangan Yasmin seketika. Namun, Yasmin mengibas tangan hendra dengan cepat.
"Tidak, Hen! Aku tidak salah! Dia Cakra, Hen. Ada tanda lahir di belakang lehernya, ayo sekarang bantu aku tolong cek CCTV di jalan!" Dengan penuh harap, Yasmin menatap Hendra.
Hendra terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Hembusan napas pelan keluar dari hidupnya kemudian.
"Baiklah, ini terakhir kalinya aku membantumu, Yas. Kau boleh saja merindukan Cakra. Tapi ini sudah keterlaluan," kata Hendra, rahangnya sedikit mengeras, sikap Yasmin yang keras kepala membuat Hendra sedikit jengkel.
Yasmin mengangguk cepat lalu mengikuti langkah kaki Hendra ke ruangan lain.
"Demi kau, aku memperbolehkan kau masuk ke ruangan ini, sebenarnya tidak boleh, tapi apa boleh buat."
Setiap kalimat yang dilontarkan Hendra barusan membuat Yasmin sadar bahwa selama ini dia kerapkali merepotkan Hendra. Namun, dengan siapa lagi, Yasmin harus meminta bantuan. Dia jarang memiliki teman. Yasmin hanya diam saja, tak berani menyanggah perkataan Hendra.
"Jalan apa? Di mana? Jam berapa?" Hendra kini sudah duduk di depan komputer. Dia bertanya tanpa menatap Yasmin yang berdiri di sampingnya.
"Jalan XXX, di trotoar, kalau jamnya aku tidak tahu, Hen. Mungkin lima belas menit yang lalu."
Hendra tak menanggapi lagi. Dia asik mengotak-atik kursor dan menekan keyboard beberapa kali dan mencari apa yang dikatakan Yasmin. Tak butuh waktu yang lama, di rekaman CCTV ada seorang pria yang memiliki wajah yang sama seperti Cakra sedang bersama seorang anak kecil.
Mata Hendra berkedip-kedip beberapa kali, melihat rekaman tersebut. Seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Namun, Hendra baru sadar bisa saja wajah Cakra dan pria tersebut serupa.
Cakra dan bocah tersebut masuk ke dalam taksi, yang tak tahu arah tujuannya kemana.
"Nah itu dia, Hen! Lihat, aku tidak salah melihat bukan, aku minta tolong denganmu, cari alamat dia, Hen. Aku ingin bertemu dengannya."
Hendra menoleh ke samping. "Tapi Yas, kau tidak lihat, dia mengabaikanmu, dan lagipula dia bersama anak kecil, bisa saja wajahnya mirip, Yas."
"Tidak Yas, aku yakin itu Cakra." Yasmin memegang pundak Hendra seketika. "Aku minta tolong padamu, Hen. Tolonglah, Hen. Hanya kau yang bisa membantuku saat ini...." Mata Yasmin nampak mulai berkaca-kaca.
Hendra menatap seksama bola mata Yasmin. "Baiklah, kau tunggulah di luar, Yas. Aku akan berusaha mencari keberadaannya, aku harap kau tidak sedih nanti, jika melihat hasil akhirnya."
"Iya, terima kasih Hen. Aku tidak akan melupakan jasamu." Setitik cairan mengalir lembut dari kedua pipinya. Yasmin buru-buru menghapus air matanya.
"Iya, tunggulah di luar, Yas. Sepertinya aku agak lama untuk mencari informasi pria itu."
"Bukan pria itu, Hen. Tapi Cakra."
"Iya maksudku Cakra."
Yasmin pun keluar dari ruangan lalu duduk di sofa sambil melihat ke pintu ruangan, di mana Hendra sedang mencari tahu tentang Cakra.
Suasana di kantor terlihat sepi, tak seperti biasanya. Yasmin berulang kali menguap saat langit di luar sana semakin menggelap. Bersamaan dengan itu, hujan pun mulai turun.
Tepat pukul tujuh malam, Yasmin terpaksa terbangun dari mimpinya, saat mendengar namanya di panggil.
"Yas, bangunlah." Hendra menepuk pelan pundak Yasmin.
Sinar lampu di ruangan, membuat mata Yasmin berkedip berulang kali. Dia menghalau cahaya tersebut dengan mengangkat satu tangannya di dekat wajah sambil membenarkan posisi tubuhnya.
"Jadi bagaimana Hen?"
"Minumlah dulu." Hendra menyodorkan sebotol air putih merk aqua pada Yasmin.
Yasmin menyambar botol tersebut lalu membuka tutup botol dan menegaknya hingga tandas. Rasa lapar yang dia rasakan tadi sore kini membuat perut Yasmin terasa perih. Dia meringis pelan.
"Kau kenapa? Apa kau sudah makan, Yas?" Mimik muka Hendra tampak khawatir. Dia duduk di samping Yasmin seketika.
"Sudah kok. Kau tenang saja, aku sedang datang bulan, makanya perih," kilahnya sambil meletakkan botol yang sudah kosong itu ke atas meja.
Tak ada tanggapan, Hendra malah memicingkan matanya.
"Oh ya, bagaimana hasilnya? Di mana rumah Cakra?" Yasmin terlihat sangat antusias. Dia yakin sekali jika Hendra sudah mendapatkan informasi apa yang ia inginkan.
Hendra mulai membuka beberapa lembar kertas yang ia pegang dari tadi dan berkata,"Yas, aku berharap kau bisa lebih bijak lagi ke depannya. Nama pria itu adalah Tomi, dia tinggal di Surabaya."
Yasmin mendengarkan dengan seksama, apa yang dikatakan Hendra barusan. Walau Hendra mengatakan pria itu adalah Tomi bukan Cakra. Tapi, Yasmin memiliki feeling yang kuat, jika Tomi adalah Cakra.
"Saat ini dia datang ke Jakarta bersama anak dan istri untuk liburan." Hendra kembali menambahkan.
"Tapi aku dia adalah Cakra, suamiku, Hen. Aku yakin dia pasti hilang ingatan. Apa dia memiliki pernah menginap di rumah sakit dalam waktu yang lama?" Yasmin mengutarakan asumsinya.
Decakan kesal malah keluar dari bibir Hendra. Karena Yasmin benar-benar keras kepala. Ia kembali membaca informasi yang dia dapatkan seputar Tomi dan memang benar 3 tahun yang lalu Tomi pernah dirawat tapi karena operasi usus buntu.
"Iya, dia memang pernah dirawat lama, tapi itu karena dia dioperasi Yas."
"Tidak, itu pasti dimanipulasi, kau pikir aku bodoh, Hen. Suamiku hilang tiba-tiba tanpa jejak, aku yakin atasanmu atau komplotan-komplotanmu itu, menyembunyikan sesuatu dariku! Cakra ku sudah kembali sekarang."
"Yas, sudahi kegilaan ini, aku akan mengantarmu pulang sekarang!" Hendra bangkit berdiri seketika.
"Tidak! Mana nomor handphonenya, Hen. Aku ingin bertemu dengannya!"
Sebelum Hendra menjauhkan kertas tersebut. Yasmin menyambar cepat kertas yang di dalamnya ada informasi penting tentang Tomi. Sekali lagi Hendra berdecak kesal. Mata Yasmin langsung memindai kata demi kata di dalam kertas tersebut. Dia mengulas senyum tipis, melihat nomor Cakra tertera di dalamnya.
"Terima kasih Hen. Aku harus pulang sekarang, besok aku harus menemuinya!" Yasmin bangkit berdiri seketika.
"Aku akan mengantar kau pulang!" Hendra mencekal cepat pergelangan tangan Yasmin, sebelum wanita itu menolaknya. Yasmin pasrah saat dia diseret keluar.
*
*
*
Setelah selesai mandi, Yasmin langsung mengotak-atik ponselnya hendak menghubungi Cakra. Dengan semangat ia menekan-nekan layar ponselnya lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.
Saat menunggu panggilan diangkat. Wajah Yasmin berubah lesu ketika panggilan tak juga diangkat. Namun, dia tak menyerah. Yasmin mengetik pesan dan mengatakan ingin bertemu hendak menyampaikan sesuatu.
Pesan pun dikirim. Yasmin begitu resah. Tanpa sadar dia mondar-mandir sendiri di dalam kamar kost miliknya itu.
Ting!
Bunyi notifikasi masuk pun terdengar seketik. Buru-buru Yasmin mengusap ponsel androidnya itu. Senyum riang terlukis di wajah manis Yasmin seketika saat Cakra akhirnya membalas pesan dan mengajaknya bertemu di suatu tempat.
"Akhirnya, kau kembali juga, Sayang...." desisnya pelan sambil tersenyum lebar.
Esok harinya, sesuai janji yang telah disepakati. Pagi-pagi sekali Yasmin sudah bersiap-siap ingin bertemu Cakra. Dia terlihat antusias. Begitu sampai di tempat tujuan, Yasmin langsung mencari tempat duduk dan menghempas pelan bokongnya di kursi. Dalam hitungan detik, Yasmin melebarkan senyuman kala melihat dari luar jendela Cakra melangkah perlahan. Namun, raut wajah Yasmin berubah drastis ketika melihat di belakang Cakra, seorang wanita berambut panjang dan modis merangkul tangan Cakra, diikuti bocah laki-laki yang ia lihat kemarin.
Yasmin meremas kuat dadanya seketika, saat dadanya terasa perih, melihat pemandangan di depan sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
semangat kuat yasmin..
2023-08-04
0