Yasmin memegang pipinya sakit, menahan rasa perih akibat tamparan barusan. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap kesal ke arah Meli.
"Meli!" Mata Tomi melotot keluar, amarah terpancar jelas dari bola matanya. Dia bangkit berdiri dan mencekal tangan Meli. "Apa yang kau lakukan, Meli?"
Dengan napas memburu Meli menatap balik Tomi. "Apa? Tentu saja aku memberi perhitungan dengannya ha! Wanita ular ini berusaha menggodamu, Tomi!" katanya, mengebu-gebu.
"Dia tidak menggodaku, Meli," Tomi berkata sambil melirik Arion sekilas, yang tengah menggeliatkan sedikit tubuhnya karena bunyi keributan barusan, membuat mimpi Arion terganggu.
"Kau jangan membela dia, Tomi! Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi hah?!"
Mata Meli mulai berkaca-kaca. Semenit sebelumnya dia terbangun dari tidurnya dan mendengar suara teriakan Tomi yang berasal dari kamar Arion. Meli tentu saja heran. Bukankah setahunya Tomi tidur di ruang tamu. Akibat perselisihan pendapat tadi kata Yanti ditahan, membuat ia dan Tomi tak bertegur sapa.
Saat sampai di dalam kamar, mendidih dada Meli, menahan cemburu di dalam hatinya. Dia begitu takut. Sangat takut jika Tomi mulai mengingat Yasmin.
"Jangan seperti anak kecil Meli! Kita selesaikan masalah kita di luar sekarang."
Tomi hendak menarik tangan Meli. Namun, Meli secepat kilat menahan tubuhnya dan berkata,"Tidak mau! Selesaikan di sini saja!" Ia mengalihkan pandangan ke arah Yasmin kemudian melayangkan tatapan tajam.
"Wanita itu harus tahu diri, perkelahian ini disebabkan oleh dia!" Tangan kiri Meli langsung menunjuk-nunjuk wajah Yasmin.
"Ck! Sudahlah Meli, ayo kita keluar." Tomi menahan sebal. Dia melirik Arion sekilas lagi, Arion masih bergeming meski tangannya bergerak-gerak pelan ke segala arah.
"Tidak mau!" Meli menatap nyalang Tomi.
Tak mau membuat Arion terbangun, tanpa banyak kata Tomi menyeret paksa Meli menuju pintu kamar. Meli menjerit histeris membuat Arion pada akhirnya terbangun juga.
Melihat hal itu, secepat kilat Yasmin memeluk erat Arion hendak menidurkannya kembali.
Saat sampai di luar kamar, Tomi menyentak kasar tangan Meli.
"Apa kau sudah gila, Meli! Jangan membuat kegaduhan di tengah malam begini!" seru Tomi.
"Bukan aku yang membuat kegaduhan! Tapi wanita gila itu! Aku tidak mau tahu, dia harus keluar dari rumah ini sekarang!" Meli hendak masuk ke kamar Arion lagi. Namun, Tomi menghadangnya.
"Kaulah yang wanita gila sebenarnya, aku kecewa padamu, Meli. Seharusnya kau berkaca diri, mengapa Yasmin bisa ada di kamar Arion. Itu karena Arion yang memperbolehkannya masuk. Kau tahu sendiri kan Arion bukanlah anak yang mudah dekat dengan orang-orang. Tapi kau sebagai seorang ibu, tak mampu merayunya. Asal kau tahu, tadi aku tidak sengaja memegang tangan Yasmin. Kau harus tahu, aku yang salah, bukan Yasmin. Jadi, jangan mengatai-atainya lagi."
Kali ini suara Tomi terdengar pelan hingga menusuk kalbu Meli.
Saat melihat mimik muka Tomi, menandakan bahwa suaminya itu amat kecewa padanya. Raut wajah Meli berubah drastis.
"Malam ini kau menampakkan sifat aslimu kepadaku, Mel. Aku sangat kecewa padamu, sikapmu seperti anak kecil," tambah Tomi, penuh dengan penekanan.
Meli tertunduk dalam. Rasa takut ditinggalkan semakin menderanya. Dia berdecak kesal di dalam hatinya sambil mengumpat Yasmin..
Sialan! Wanita itu bisa saja merusak rencanaku, aku harus bergerak cepat. Ayolah, Meli. Gunakan kemampuanmu untuk berakting di depan Tomi.
Meli hendak mengapai tangan Tomi. "Sayang, aku minta maaf, aku tak berma–"
Tomi menepis cepat tangan Meli. "Sudahlah, tak usah dibahas lagi, aku benar-benar kecewa padamu," selanya sambil melangkah pergi.
Meninggalkan Meli menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Si4lan!
Meli mengumpat lagi di dalam hati. Setelah melihat punggung Tomi menghilang. Dengan tergesa-gesa Meli melenggang masuk ke dalam kamar Arion.
"Keluar kau dari kamar anakku!" serunya sambil berkacak pinggang.
Yasmin yang sudah berhasil menidurkan Arion, mengalihkan pandangan lalu beranjak dari tempat tidur.
"Tidak, aku tidak akan pergi, Arion memintaku tadi untuk menemaninya sampai dia bangun besok pagi," kata Yasmin dengan tenang sambil melipat tangan di dada.
"Ck! Tak usah banyak alasan, kau wanita ular ternyata, berusaha menghancurkan rumah tanggaku, awas saja kau! Aku akan membuat perhitungan!" kata Meli sambil melototkan mata.
"Silakan aku sama sekali tak takut." Yasmin mengangkat angkuh dagunya sembari melipat tangannya di depan dada juga.
"Dasar licik!" Meli mendengkus kesal, melihat keangkuhan Yasmin. Dengan tangan terkepal erat, dia berjalan beberapa langkah. Dia berdiri dengan jarak sejengkal dari Yasmin. "Wanita ular!" sahutnya.
Yasmin tertawa pelan. "Apa aku tidak salah mendengar?"
Semakin kesal Meli di buatnya, dia mengangkat tangannya ke udara seketika. Ingin menampar Yasmin. Namun, Yasmin menangkap cepat pergelangan tangan Yasmin lalu berbisik pelan di telinga Meli.
Mendengar apa yang dikatakan Yasmin barusan. Lidah Meli mendadak kaku. Secara bersamaan pula keringat dingin mulai membasahi tangannya.
Yasmin menjauhkan wajahnya seketika. "Berhati-hatilah berbicara, Meli. Sebaiknya kau pergi dari kamar ini, sebelum Arion terbangun," kata Yasmin lalu menurunkan tangan Meli secara perlahan-lahan kemudian naik ke atas tempat tidur Arion.
Meli bergeming di tempat, dengan tatapan takut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
apa hayo yg dibisikkan ketelinga yasmin🤔🤔
2023-08-05
0
EBI
tentang arion yg buta warna
2023-08-05
0