Seminggu kemudian. Tomi benar-benar menepati janjinya. Sejak saat itu dia tak pernah lagi menyapa Yasmin. Jika berada di kantor, pria itu akan berusaha menghindar. Meskipun begitu, Tomi merasa tersiksa. Dia pun heran sendiri jadinya. Bingung dengan perasaannya yang terkadang tak selaras dengan isi kepalanya. Namun, demi Meli. Dia akan berusaha tidak berinteraksi dengan Yasmin.
Sementara Yasmin. Hampir setiap hari mencoba, mendekati Tomi. Akan tetapi pria itu seakan-akan memberi benteng di antara mereka. Entah apa yang terjadi, Yasmin menebak jika perubahan sikap Tomi ada campur tangan Meli. Namun, Yasmin tak patah arang. Dia tengah menyusun rencana agar ia dapat mendekati Tomi walau hanya sekadar berbicara saja.
Minggu pagi ini, saat mendengar bunyi klakson motor tukang sayur. Yasmin bergegas pergi keluar hendak membeli sayur untuk diisi di dalam kulkas. Secara bersamaan pula, di sebelah rumah Meli pun melangkahkan kakinya menuju tukang sayur yang sedang melayani ibu-ibu kompleks.
Yasmin melirik Meli sejenak. Meli melayangkan tatapan tajam padanya seketika. Sontak dahi Yasmin berkerut samar, melihat mimik muka Meli. Tak mau berpikiran yang aneh-aneh, Yasmin mengabaikan Meli. Dia memilih berjalan cepat.
"Bang, ada sayur kangkung nggak?" tanya Yasmin seketika saat sudah sampai di dekat motor Mamang sayur.
"Ada Neng, mau beli berapa ikat?"
"Hm, dua aja Bang. Sama pokcoy juga boleh Bang."
Mamang sayur mengangguk cepat lalu mulai mengambil kangkung dan pokcoy yang diinginkan Yasmin. Selagi menunggu mamang sayur, mengemasi kangkung dan pokcoy. Yasmin pun masih memilih-milih sayur di hadapannya.
"Eh ada Mamanya Arion, tumben beli sayur Mbak?" Salah seorang ibu-ibu langsung membuka suara saat melihat Meli mendekat. Dia adalah tetangga sebelah rumah Meli juga, yang jaraknya agak jauh. Berbeda dengan rumah Yasmin, yang jaraknya hanya beberapa meter saja.
Meli melempar senyum tipis. "Hehe ya, makanan di rumah sudah habis. Nggak sempat beli, kesiangan tadi aku," katanya sambil melirik Yasmin sekilas. Yasmin hanya diam saja. Tak mau menegur wanita itu. Apalagi tadi dia mendapatkan tatapan aneh dari Meli.
"Oh ya Bang, pesan kangkung 1 ikat aja ya," kata Meli lagi pada mamang sayur. Mamang sayur mengangguk lalu mulai mengemasi pesanan Meli juga.
"Owalah, tumben kesiangan, biasanya udah bangun pagi. Oh ya Arion di mana Mbak?"
"Ya Mbak, soalnya aku kepikiran sama suamiku. Makanya tidurnya kemalaman. Biasa Arion masih tidur."
"Loh kepikiran kenapa Mbak suaminya, perasaan mesra terus deh?" Salah seorang yang lainnya ikut menimpali, penasaran dengan jawaban Meli barusan.
Meli memasang wajah sedih lalu berkata cepat, "Ada perempuan mau rusak rumah tangga saya Mbak. Pelakor zaman sekarang, banyak banget caranya. Rela-rela pindah dari Jakarta ke Surabaya, demi mau merebut suami orang lain."
"Ha siapa Mbak?"
Ibu berdaster bunga melirik-lirik ke sana kemari sambil menyenggol lengan temannya di sebelah lalu dan baru menyadari jika Yasmi adalah tetangga yang baru pindah dari Jakarta. Dia langsung berbisik-bisik di telinga temannya di sebelah, menyampaikan praduganya itu.
Bukannya menjawab Meli malah melirik sinis Yasmin seketika. Lantas para ibu-ibu curi-curi pandang ke arah Yasmin sambil berbisik-bisik satu sama lain.
Yasmin tersinggung dengan tatapan Meli. Dia melirik Meli. Pandangan keduanya pun langsung bertemu.
"Mbak Meli ini kangkungnya."
Mendengar suara Mamang sayur. Meli memutus kontak matanya lalu mengambil cepat kresek dari tangan mamang sayur dan tak lupa membayar belanjaannya.
"Udah dulu ya Mbak. Dijaga suaminya, saya mau ke dalam dulu. Malas banget lihat muka pelakor!" seru Meli cepat.
Mata Yasmin terbelalak. Belum sempat ia membalas perkataan Meli. Wanita itu sudah pergi terlebih dahulu.
"Bahaya banget pelakor zaman sekarang ya."
"Iya, kemarin aku ada lihat wanita ini keluar dari mobilnya Tomi."
"Benar Bu, saya pun ada lihat kemarin. Ckck."
Yasmin dapat mendengar apa yang dikatakan para tetangga tersebut. Dia tampak tak nyaman sama sekali.
"Neng ini sayurnya. Ada lagi?" Mamang sayur menyodorkan kantong kepada Yasmin.
"Nggak Bang, sudah cukup. Berapa Bang?" Dengan tergesa-gesa Yasmin mengambil alih kantong tersebut sambil mengabaikan obrolan para ibu-ibu yang masih membicarakannya saat ini.
"15 ribu Neng."
Secepat kilat Yasmin memberi uang pada mamang sayur lalu menatap dingin ibu-ibu di depannya.
"Jangan nuduh sembarangan! Saya rekan kerjanya, Pak Tomi. Meli itu cemburu buta, lagian yang kemarin nawarin tumpangan itu Pak Tomi, bukan saya!" cerocos Yasmin sambil melangkah pergi seketika. Meninggalkan ibu-ibu komplek berdecak kesal mendengar jawaban Yasmin barusan.
Dari jarak beberapa meter, Meli belum masuk ke dalam rumah. Dia masih melihat ke arah para tetangga masih menggunjing Yasmin dengan mengumpat-umpat tak jelas.
"Cih, ini baru permulaan Yasmin," gumamnya pelan lalu melangkah masuk menuju rumah.
"Sayang dari mana?"
Begitu sampai di dalam rumah, Tomi yang baru saja dari kamar Arion bertanya pada Meli. Dia sedikit heran mengapa Meli membeli sayur. Pasalnya sayur di kulkas masih banyak karena Yanti kemarin sudah membelinya.
"Hehe dari luar Sayang beli sayur." Sambil melempar senyum kikuk, Meli mengangkat kantong hitam ke udara sejenak.
Tomi semakin heran. Namun, dia senang melihat Meli membeli sayur dan tak bergantung dengan asisten rumah.
"Baguslah, mau masak kangkung?"
"Nggak lah Sayang. Yanti dong yang aku suruh masak, entar kuku aku lecet. Oh ya, nanti sore kita ke mall ya Sayang. Aku mau beli tas," kata Meli, semangat.
"Boleh Sayang. Arion kita bawa ya." Tomi mengulas senyum tipis.
"Jangan Sayang, Arion istirahat di rumah saja sama Yanti. Hari ini kita berduaan pergi keluarnya ya, please. Kapan lagi coba." Meli menghampiri Tomi dan bergelayut manja di lengannya.
Tomi membuang napas berat lalu menganggukkan kepalanya.
*
*
*
Menjelang sore, sesuai rencana Meli. Pasangan suami istri itu pergi ke Mall. Meninggalkan Arion dan maid di rumah. Tak lupa pula Tomi memberi pesan pada Yanti untuk memberi Arion makan siang dan makan malam.
Saat ini, Arion baru saja terbangun dari tidur siangnya. Dengan langkah gontai dia berlarian keluar kamar.
"Ayah!" Saat sampai di ruang tengah, Arion mengedarkan pandangan, menelisik keberadaan Ayahnya. Namun, rumahnya tampak sepi sekali. Sambil menguap pelan Arion memanggil Ayahnya berkali-kali hingga Yanti yang sedang sibuk di kamarnya melangkah keluar.
"Hei! Bisa diam tidak!" teriak Yanti seketika.
Arion tersentak. "Kak–ak, Ayah di ma–na?" tanyanya, takut-takut.
"Pergi ke Mall!" balas Yanti sangat ketus lalu kembali bermain ponselnya. Dia senyam-senyum sendiri karena sedang berteleponan dengan pacarnya barusan.
"Ke Mall? Lama nggak Kak?" Arion kembali bertanya. Wajahnya tampak murung mendengar orangtuanya pergi tanpa membawanya.
"Mana aku tahu! Kau ini mengangguku saja!" Yanti tampak berang. Karena Arion mengusik kesenangannya.
Tubuh munggil Arion bergetar hebat. Dia pun memundurkan langkahnya seketika kala melihat Yanti menghampirinya sambil melototkan mata.
"Ke sini kau! Jangan pikir kau bisa lari hah!" Yanti menarik cepat tangan Arion dan menyentak kasar bocah itu, hingga Arion terjungkal ke lantai.
Arion langsung menangis. Tubuhnya langsung meringkuk, berusaha melindungi diri dari pukulan Yanti seperti biasanya. Tanpa di ketahui Tomi dan Meli, Arion kecil juga kerapkali disiksa Yanti.
Yanti semakin naik pitam kala mendengar suara tangisan Arion. Wanita itu memukul-mukul punggung belakang Arion hingga Arion terisak kuat. Matanya bagaikan iblis yang siap menjemput ajal.
"Ayah..." Kedua mata Arion menutup perlahan-lahan. Berharap rasa sakit yang mendera tubuhnya kini dapat segera menghilang. Namun, apalah daya harapannya tak terkabulkan sebab pukulan kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
Menjelang petang, Arion terpaksa membuka matanya saat merasa perutnya terasa perih, karena dari siang belum ada satupun nasi masuk ke perutnya. Dengan tergopoh-gopoh ia bangkit berdiri lalu melihat pintu utama rumah tak bergerak sama sekali.
Sepuluh menit yang lalu, Arion dapat mendengar Yanti mengatakan akan pergi keluar sebentar dan menyuruhnya untuk tidak kemana-mana.
"Lapar..." kata Arion dengan suara seraknya. Arion memegang perutnya seketika sambil menelan air liurnya berulang-ulang. Mata munggilnya seketika beralih ke samping, saat mencium aroma wangi yang berasal dari rumah sebelah.
"Tante Yasmin..." Arion tersenyum tipis seketika. Tanpa pikir panjang ia berlarian keluar hendak ke rumah Yasmin meminta makanan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
hadeew ..ibux sdh jahat ditambah pembantux ikut2an jahat..
miris banget nasibmu arion..
beneran kamu lari ke tante yasmin..kalo perlu jujur arion ..cerita sama tante yasmin..
2023-08-05
0
I'M Yacem
sebenarnya Arion itu anak siapa, meli Yanti ko jahat sekali...
2023-07-29
1