Malam pun tiba, setelah mengantar brownies tadi pagi ke rumah Cakra, Yasmin tak kehabisan akal. Esok atau pun lusa ia akan menjalankan misinya lagi. Sejak kemarin di otaknya sudah banyak rencana yang ia pikirkan dengan matang-matang.
Sedari sore hingga menjelang malam Yasmin duduk di depan laptop pemberian Hendra. Saat ini dia sedang membaca dokumen lampiran hilangnya Cakra yang begitu janggal menurutnya.
"Hm, aneh. Mengapa mereka bisa langsung berspekulasi kalau Cakra menghilang, maksudku kenapa tidak di tunggu beberapa hari dulu." Mata Yasmin tengah membaca hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim penyelamatan kepolisian kala itu.
Berdasarkan keterangan yang tertera, para tim berpencar sesuai rute yang telah ditentukan dan akan bertemu pukul satu pagi. Namun, hanya Cakra saja yang tidak datang tepat waktu sesuai instruksi. Tim pun berusaha menunggu. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda Cakra akan datang. Pada akhirnya mereka memutuskan mencari Cakra ke setiap sudut hutan belantara hingga menyusuri pesisir laut. Tapi hasilnya nihil. Cakra menghilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Bak hilang di telan bumi.
"Aneh sekali, sebenarnya misi apa yang mereka lakukan sih..." Sekali lagi Yasmin membuka suara sambil membaca hasil laporan yang tertera di dokumen. Entah apa misi yang dilakukan oleh Cakra dan tim karena tidak dicantumkan dengan jelas. Mungkin karena sifatnya undisclosed. Jadi tak boleh diketahui siapapun.
Yasmin menghembuskan napas beratnya karena tak ada kemajuan dari hasil penyelidikan tersebut. Dia pun menyudahi pencariannya dan mulai mematikan laptop.
Saat tangannya sibuk menekan tombol off laptop, telinga Yasmin menangkap samar-samar suara tangisan yang terdengar dari sebelah rumahnya seketika.
"Suara apa tuh? Nggak mungkin hantu, 'kan," cicitnya sambil menyungging senyum tipis. Namun, suara tangisan itu semakin terdengar nyaring dari sebelumnya.
"Arion?" Kali ini suara tangisan terdengar lebih jelas dan Yasmin menebak itu adalah suara Arion, anak Tomi alias Cakra. Tanpa sadar Yasmin bangkit berdiri lalu melangkah ke ruang tamu ingin memastikan sendiri melalui jendela, apa benar itu suara Arion atau bukan. Sebab di kamarnya tak ada jendela. Jendela hanya terdapat di ruang tamu dan ruang dapur saja.
Secara perlahan dia membuka jendela persegi tersebut lalu menyembulkan kepalanya sedikit sambil kedua matanya fokus melihat di halaman depan rumah Cakra. Tak ada mobil Cakra terparkir di pekarangan, yang berarti Cakra belum pulang ke rumah.
Yasmin mencoba menajamkan pendengaran namun bunyi klakson di depan rumahnya mengagetkannya tiba-tiba. Yasmin reflek mengelus dadanya. Setelah detak jantungnya stabil, Yasmin mengalihkan pandangan ke depan, melihat cahaya lampu mobil melalui jendela ruang tamu, tampak terang benderang.
Tak terlihat adanya pergerakan dari pintu utama mobil.
"Siapa ya? Perasaan aku belum punya teman deh." Yasmin bertanya-tanya siapa tamunya yang bertandang malam-malam. Pasalnya dia belum genap seminggu tinggal di Surabaya. Rasanya aneh jika ada seseorang yang mengunjunginya.
Yasmin bergeming di tempat. Dia tak mau bertindak gegabah. Dia harus bersikap waspada. Siapa tahu saja ada orang yang berniat jahat padanya sekarang. Dia pun membalikkan badannya pelan-pelan hendak ke kamar. Namun, suara orang yang sangat ia kenali di luar, menghentikannya.
"Yasmin! Ini aku, buka pintunya!"
"Hendra?" Mata Yasmin berkedip cepat saat mendengar suara Hendra.
"Yasmin! Kau ada di dalam, 'kan?" Hendra kembali memanggil.
Tanpa pikir panjang, Yasmin pun mengayunkan kalinya menuju daun pintu dan memutar gagang pintu. Ketika pintu dibuka, Hendra langsung tersenyum lebar.
"Yasmin," ucap Hendra sambil melirik ke kanan dan ke kiri sesekali.
"Kenapa kau ada di sini, Hen?" tanya Yasmin, penasaran.
"Aku hanya mau bermain sebentar, aku baru saja di pindah tugaskan ke sini kemarin." Ekor mata Hendra bergerak ke sana kemari lagi.
Yasmin melonggo sejenak. "Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Boleh kah aku masuk dulu, Yas. Aku baru saja sampai ke kota ini." Hendra menyengir kuda setelahnya.
"Astaga, maafkan aku, ayo masuklah, Hen." Yasmin pun mempersilakan Hendra masuk ke ruangan. Hendra duduk di sofa sambil mengedarkan pandangan di ruangan sejenak.
"Kau mau minum apa, Hen?" tanya Yasmin seketika.
"Tak usah Yas. Aku juga tidak bisa lama di sini."
"Yakin?"
Anggukan pelan sebagai balasan Hendra. Yasmin pun mulai duduk di sofa, berhadapan dengan Hendra.
"Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa dipindahkan ke sini?" Yasmin kembali bertanya. Dia amat penasaran mengapa Hendra tiba-tiba di pindah tugaskan.
"Entahlah, kemarin ketuaku tiba-tiba mengirimku bertugas di sini untuk menjalankan misi kami selanjutnya," balas Hendra.
"Tugas apa, Hen?" Yasmin mencondongkan badannya. Semakin penasaran, misi apa yang tengah dijalankan Hendra. Sebagai orang yang hampir menjadi polisi, tentu saja jiwa semangat Yasmin meronta-ronta jadinya.
Hendra terkekeh. "Undisclosed."
Lantas mata Yasmin mendelik kala mendengar jawaban Hendra.
"Hm, iya deh, iya rahasia."
Hendra menatap lekat-lekat wajah Yasmin. "Sepertinya kau betah di sini, Yas?"
"Iya tentu saja aku betah, ada suamiku di samping," kata Yasmin, mengulum simpul.
"Hm, jadi apa dia sudah mengingatmu?" Satu alis Hendra terangkat sedikit. Kali ini riak muka Hendra tampak serius tak seperti sebelumnya.
Helaan napas berat berhembus dari indera penciuman Yasmin. "Belum, Hen."
Hendra menyungging senyum aneh.
"Kenapa Hen? Apa ada yang lucu?" Entah mengapa Yasmin tak suka melihat mimik muka Hendra saat ini.
"Tidak Yas. Aku hanya aneh saja. Kalaupun dia mengingatmu nanti, apa yang akan kau lakukan setelahnya. Kau lihat kan dia sudah memiliki istri dan seorang anak, apa kau mau dimadu atau bagaimana?" Hendra malah balik bertanya.
Fakta yang disampaikan Hendra barusan, membuat Yasmin bungkam. Benar juga kata Hendra, apa yang akan ia lakukan setelahnya. Yasmin diterpa dilema sekarang.
"Aku..." Yasmin menundukkan kepalanya seketika sambil berusaha mencari kata-kata di benaknya.
"Sudahlah Yas. Tak perlu kau lanjutkan, aku harap misimu berhasil, kau istirahatlah sekarang. Aku juga mau ke Mess." Hendra bangkit berdiri seketika.
Yasmin mendongakkan kepalanya lalu beranjak dari tempat duduknya. "Baiklah, kau juga semoga misimu berhasil, Hen."
Hendra mengangguk.
Lalu Yasmin mengantar Hendra sampai ke pintu mobil.
"Kalau perlu bantuan, telepon saja aku, Yas. Mumpung aku di sini. Jika aku ada waktu, aku akan menyempatkan diri untuk datang kemari," ucap Hendra sambil mengusap pelan kepala Yasmin tanpa sadar.
Yasmin membalas senyum kaku. Sebab dia sedikit risih dengan perlakuan yang diberikan Hendra saat ini.
Dari jarak beberapa meter, pemandangan ini tak luput dari mata Tomi. Pria itu baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Ada hubungan apa Yasmin dengan pria itu?" gumam Tomi. Dadanya terasa terbakar entah karena apa. Dia pun bergegas turun dari mobil, melangkah cepat, mendekati Yasmin dan Hendra.
...Karena novel ini ikut lomba, author mohon semua bab di like ya agar dapat masuk penilaian terbaik. Terima kasih 🙏💕...
🌺 Ket : Undisclosed \= Rahasia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
Nurhasanah
ky,a Hendra nih dalang y
2025-02-18
0
ria
hendra🤔🤔..
apakah masalah yg timbul dlm diri yasmin akibat ulah hendra ..dan
hendra kerjasama dg meli memisahkan cakra dg yasmin..
krn meli suka cakra..
dan hendra suka yasmin🤔
2023-08-05
0
EBI
kok mencurigakan sekali
2023-07-26
0