Esok harinya. Setelah meminta bantuan kepada Hendra lagi. Yasmin pun akhirnya dapat pindah ke kota Surabaya, kota di mana Cakra tinggal. Berkat bantuan Hendra pula, ia bisa tinggal bersebelahan dengan Cakra. Semula Hendra menolak dengan tegas permintaannya namun, Yasmin tak menyerah. Dia memohon pada Hendra dan berjanji setelah urusannya selesai, tidak akan menganggu Hendra lagi.
Pagi-pagi sekali, saat Yasmin tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kota tersebut. Hendra, tiba-tiba datang dan menunggunya di depan kost. Hendra mengatakan akan mengantarnya ke sana. Yasmin tampak senang sebab temannya itu memperdulikannya walau dirinya pun sebenarnya tak hati, karena selalu direpotkan.
Saat ini, Yasmin dan Hendra berada di dalam mobil. Sedari tadi tak ada pembicaraan di antara mereka. Nampaknya Hendra belum menerima keputusan temannya itu.
"Yas, kau yakin dia adalah Cakra?" Akhirnya Hendra membuka suara. Dia pun menoleh ke samping sekilas.
"Aku sangat yakin, Hen. Semuanya sangat mirip dengan Cakra, aku yakin sekali dia adalah Cakra dan aku akan membuatnya kembali mengingatku," kata Yasmin, sangat antusias.
Helaan napas kasar berhembus cepat dari hidung Hendra. "Tapi aku tidak yakin," jawabnya dengan menyungging senyum aneh.
Sambil menoleh ke samping, Yasmin mengerutkan dahi. "Kenapa kau tidak yakin?"
"Yasmin, Yasmin, pria yang kau kira Cakra sudah memiliki istri dan anak, belum lagi usia pernikahan mereka lebih tua dari usia pernikahan kau dan Cakra, aku yakin kau salah orang." Tanpa menatap Yasmin, Hendra mengeluarkan pendapatnya sambil memperhatikan kendaraan lalu-lalang di depan melalui kaca mobil.
Yasmin menghela napas pelan. Saat mendapat penolakan kemarin dari Cakra, sempat terbersit di pikirannya bahwa Tomi bukanlah Cakra, suaminya. Namun, Yasmin mengikuti feelingnya yang tidak pernah salah. Apalagi saat melihat secara langsung, wajah Tomi sangatlah mirip dengan wajah Cakra. Ditambah lagi suara dan postur tubuhnya serta jejak tanda lahirnya serupa juga.
"Teruslah berasumsi, Hen. Aku tidak meminta pendapatmu. Tapi aku yakin sekali kalau Tomi adalah Cakra. Aku akan membuktikannya nanti, sekarang yang harus aku lakukan adalah membuat ingatannya pulih," ucap Yasmin lalu menatap lurus ke depan. Dia heran mengapa sampai saat ini Hendra masih tetap tak percaya dengannya. Padahal kemarin Hendra jelas-jelas melihat rekaman CCTV juga, yang menampakkan wajah Cakra.
Hendra menghembuskan napas berat. "Semoga berhasil, Yas. Aku harap kau tak terluka nantinya, tidurlah dulu Yas. Perjalanan kita masih panjang." Hendra akhirnya mengalah.
Yasmin melirik sekilas sambil melengkungkan sudut bibirnya.
"Hm, ya Hen. Aku harap kau dapat mengerti keputusanku. Oh ya, kalau sudah sampai bangunkan aku ya."
Hendra menoleh sambil melempar senyum tipis. "Iya, tidurlah."
Anggukan pelan sebagai balasan Yasmin. Kelopak matanya pun mulai mengatup pelan-pelan.
Sambil merubah posisi kepala, Yasmin memeluk tubuhnya sendiri lalu mulai memasuki ruang mimpi. Sementara Hendra mulai mengalihkan pandangannya lagi ke depan.
Menempuh perjalanan kurang lebih sembilan jam lamanya, kendaraan roda empat milik Hendra berhenti tepat di perumahan komplek.
Rumah minimalis berwarna tosca dan di pekarangan rumah tampak dihiasi beberapa pot bunga yang begitu asri dipandang.
Hendra dan Yasmin langsung turun mobil. Kemudian mengedarkan pandangan di sekitar sejenak.
"Bagus sekali, terima kasih Hen. Kau banyak sekali membantuku, aku tidak tahu lagi bagaimana caranya membalas kebaikanmu nanti,"kata Yasmin, setelahnya.
"Iya Yas, tak usah kau pikirkan, aku ikhlas membantumu," kata Hendra sambil membuka bagasi mobil hendak mengambil tas Yasmin.
Yasmin melempar senyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke samping seketika, melihat rumah Cakra berdiri kokoh dan di halaman rumah terdapat mobil mewah merk CRV.
Dengan jarak beberapa meter rumahnya dan rumah Cakra bersebelahan, rumput-rumput pendek dan pohon kecil yang menjadi pembatas rumah mereka.
"Yas, aku akan memasang CCTV di setiap sudut rumahmu," kata Hendra seketika.
Yasmin beralih menatap Hendra dengan dahi berkerut samar. "Untuk apa, Hen?" tanyanya, penasaran.
"Untuk berjaga-jaga saja, kau tinggal sendirian di sini, aku tidak mau kau kenapa-kenapa. Rumah ini bukan seperti di kosmu Yas, tak apa kan?" Hendra mendekati Yasmin sambil membawa tas.
Yasmin tampak berpikir keras sejenak kemudian mengangguk kepalanya. Kalau dipikir-pikir benar juga kata Hendra, apalagi nanti dia akan tinggal sendirian di rumah ini.
"Ini kuncinya, kau masuklah dulu aku mau mengambil CCTV di mobil. Aku tidak bisa berlama-lama ada yang harus aku kerjakan juga." Hendra menyodorkan tas dan kunci berwarna silver kepada Yasmin.
Yasmin mengambil alih kunci dan tasnya dari tangan Hendra lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka aroma khas rumah yang tak ditempati menyeruak ke indera penciumannya seketika. Rumah minimalis ini akan menjadi tempat tinggal beberapa bulan atau tahun kemudian. Terlihat interior berupa sofa mini tersedia di ruang tamu.
Dengan bantuan Hendra, Yasmin dapat tinggal di sini. Hendra mengatakan kalau rumah ini dia sewa sebentar untuk dia menjalankan misinya.
Yasmin masuk lagi ke ruangan lain yaitu ke dapur. Di mana sudah ada beberapa peralatan memasak dan makan. Yasmin mengeluarkan kopi dan gula yang sengaja dia bawa sendiri dari Jakarta. Dia ingin berhemat, mengingat dirinya belum memiliki perkerjaan tetap. Yasmin bersyukur sekali Hendra sebagai teman dekatnya selalu dapat diandalkan, di saat dia sedang kesusahan. Walau kadangkala temannya itu berbeda pendapat dengannya.
Setelah asik mengamati setiap sudut ruangan, ia memutuskan untuk menyapu seluruh ruangan tersebut karena debu yang menempel di lantai masih terasa di telapak kakinya.
Selang beberapa menit, Yasmin sudah selesai. Ia pun keluar hendak melihat apa yang dikerjakan Hendra. Saat sampai di luar Yasmin melihat Hendra nampak sibuk memasang CCTV.
"Hen, kau mau minum apa? Teh atau kopi, aku membawanya dari Jakarta!" Yasmin sedikit berseru karena jarak antara ia dan Hendra lumayan jauh.
Hendra menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh ke bawah. "Terserah Yas! Ingat jangan ma–"
"Iya, iya, aku ingat, jangan manis, seleramu kan kurang lebih sama seperti Cakra. Ya sudah, kau lanjutlah dulu, Hen. Aku mau ke dapur!" Yasmin menyela seketika. Tanpa mendengar jawaban Hendra. Ia melenggang pergi masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Hendra yang menatap punggung Yasmin dengan tatapan penuh arti. Selepas kepergian Yasmin, dia kembali melanjutkan perkerjaannya. Selesai dengan CCTV di depan, Hendra hendak menaruh CCTV di samping rumah Yasmin.
"Meli, aku pergi dulu, aku sudah menidurkan Arion tadi. Arion ada di kamarnya!"
Hendra reflek menggerakan kepalanya ke sumber suara kala mendengar suara seseorang dari rumah sebelah. Kedua mata Hendra menatap seksama seorang pria yang memiliki wajah sangat mirip seperti Cakra, sedang berjalan keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di halaman depan. Merasa diperhatikan Tomi melirik ke samping tiba-tiba. Pandangan Hendra dan Tomi pun langsung bertemu.
Hendra menatap Tomi dengan sorot mata yang tak bisa diartikan sama sekali. Tatapan matanya datar dan raut wajahnya tak menunjukkan ekspresi sama sekali.
Sementara, Tomi malah fokus dengan seragam abu-abu tua yang menempel di tubuh Hendra. Lantas keduanya saling memandang satu sama lain sejenak.
Detik selanjutnya, Hendra memutus kontak matanya dan beralih mengotak-atik CCTV.
"Shfft..., kenapa kepalaku sakit..." desis Tomi pelan sambil memegang kepalanya yang berdenyut hebat seketika. Tomi meringis sejenak, menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya, entah karena apa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
aq dipihakmu yasmin..
tomi setelah beradu pandang sama hendra..terasa pusing kepala..
bau2 kalau tomi memang benar cakra..
insting seorang istri..
2023-08-04
0
EBI
mencurigakan jadinya
2023-07-22
1