Wajah Seorang Wanita

Tepat pukul sebelas malam, Yasmin tanpa sadar ikut terlelap di samping Arion. Karena rasa lelah yang menderanya membuat dia lupa tidur di rumah Tomi.

Terdengar suara dengkuran halus yang berhembus dari hidung Yasmin dan Arion. Keduanya tidur sambil berpelukan satu sama lain. Arion tampak nyenyak dalam pelukan Yasmin. Begitu pula sebaliknya.

Seketika pintu kamar Arion di dorong pelan seseorang dari luar. Tomi melangkah masuk perlahan-lahan ke dalam kamar, dengan mengendap-endap. Wajahnya nampak kusut karena tak bisa tidur sedari tadi. Kejadian hari ini membuatnya malas untuk tidur bersama Meli. Meli membuat dirinya kecewa. Bagaimana bisa seorang ibu malah tenang-tenang saja, melihat putranya disakiti orang lain.

Tanpa sadar Tomi mengulas senyum tipis, melihat Yasmin dan Arion berpelukan satu sama lain di atas tempat tidur. Secara perlahan-lahan dia duduk di tepi ranjang.

"Terima kasih, Yasmin," gumamnya pelan sambil memperhatikan wajah teduh Yasmin. Dia senang setidaknya saat ini ada seseorang yang peduli dengan Arion. Tanpa sadar Tomi memandangi wajah Yasmin sedari tadi. Sampai-sampai matanya tak berkedip sama sekali.

Jantung Tomi berdegup kencang ketika Yasmin merubah posisi tidurnya dan sekarang dia dapat melihat wajah Yasmin dengan sangat jelas. Entah mengapa wanita itu seakan memiliki magnet baginya. Sejak pertama kali berjumpa, Tomi merasa suara Yasmin tak asing pendengarannya. Tapi dirinya menyangkal.

Kening Tomi berkerut kuat, tampak berpikir keras.

"Sebenarnya kau siapa, Yasmin? Mengapa kau datang ke tengah-tengah keluargaku dan mengaku kalau kau istriku, kalaupun kau adalah istriku, bagaimana bisa? Lalu ..."

Perkataan Tomi terjeda kala tangan Yasmin bergerak tiba-tiba dan mengenai jari-jarinya, yang sedari tadi ia letakkan di tepi ranjang.

Tomi membeku di tempat saat sekelebat bayangan-bayangan aneh mulai muncul di benaknya. Kepalanya rasa sakit dan seperti tertimpa bongkahan batu besar, satu tangan Tomi berusaha memegang kepalanya, yang berdenyut hebat sekarang.

Samar-samar wajah seorang wanita menari-nari di kepalanya.

"Ahk...." Dengan mata terpejam, Tomi meringis pelan.

"Sayang, bagaimana rasa browniesnya? Enak tidak?" tanya wanita itu sambil memeluknya dengan erat.

"Sayang, kalau makan pelan-pelan dong, nggak ada yang ambil kok." Wanita itu tertawa pelan. Tawanya sangat indah dan menghangatkan dadanya.

Bayangan itu semakin membuat kepala Tomi serasa ingin meledak.

"Sayang, nanti kalau kita punya anak, kita kasi nama apa?"

"Argh!" pekik Tomi seketika sambil memegang kepalanya. Wajah wanita itu mulai lenyap perlahan-lahan dalam memorinya. Sebuah wajah yang tak bisa ia lihat dengan jelas karena buram dan samar-samar. Namun, suaranya sungguh tak asing, mampu membuat hatinya dipenuhi kupu-kupu.

Yasmin tersentak kala mendengar suara teriakan. Dia membuka cepat kelopak matanya. Netranya membola, melihat Tomi berada di kamar dalam kondisi wajahnya yang dibanjiri buliran keringat. Secepat kilat ia terduduk lalu berkata,"Cakra, eh maksudku Tomi, kau kenapa?"

Tanpa sadar Yasmin menyentuh punggung tangan kiri Tomi.

Tomi berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah. Secara perlahan-lahan dia menurunkan tangannya dari kepala lalu menatap dalam mata Yasmin. Bola mata itu, akhir-akhir ini membuat jantungnya berdetak tak karuan.

"Tom, kau kenapa?" Yasmin mulai panik, karena melihat, dari wajah Tomi menetes air keringat. Lantas Yasmin memegang dahi Tomi, ingin memastikan apa pria itu tengah sakit. Sementara, Tomi bergeming di tempat, tak menjawab, tak pula melarang Yasmin menyentuh keningnya.

"Astaga, Tom. Sepertinya kau sakit, sebaiknya kau beristirahatlah sekarang." Yasmin khawatir kala merasakan suhu badan Tomi tak normal. Dia menatap balik Tomi jua.

Pandangan Yasmin dan Tomi langsung bertemu. Keduanya saling memandang satu sama lain, tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Hanya ada bunyi detak jantung mereka yang berdegup-degup kencang.

Di ruangan, keheningan tercipta sesaat. Baik Yasmin dan Tomi, masih menatap.

Plak!

Yasmin terkejut kala pipinya terasa panas tiba-tiba. Matanya terbelalak, melihat Meli berada di kamar Arion, entah sejak kapan.

"Meli!" teriak Tomi.

Terpopuler

Comments

ria

ria

semangat berjuang yasmin..semoga kebenaran segera nampak..dan takdir jodohmu segera kembali padamu

2023-08-05

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!