Setelah mengutarakan pendapatnya, Yasmin langsung melangkah pergi. Dia tak mau Tomi melihat air matanya. Secepat kilat kaki jenjangnya itu berayun ke dalam ruangan. Setitik air mata mengalir lembut dari sudut matanya. Yasmin menghapus cepat air matanya itu.
Sementara Tomi terpaku di tempat, melihat punggung Yasmin menghilang di ruangan. Tentu saja ia melihat bola mata Yasmin menahan tangis. Sekali lagi ia dapat jantungnya berdenyut perih, entah karena apa.
Tomi pun dibuat bingung. Tak mau terlalu memikirkan wanita lain di benaknya. Lantas Tomi memutuskan masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ingin memulai perkerjaannya di kantor. Namun, selama berkerja dari pagi hingga menjelang siang. Bayangan wajah Yasmin selalu menghantuinya, sehingga Tomi kurang fokus berkerja.
Sadarlah, Tom. Ingat istri dan anakmu ada di rumah!
Tomi memijit pelan pangkal hidungnya, berharap bayangan wajah Yasmin tak menari-nari dibenaknya lagi. Setelah merasa cukup menghalau pikirannya, Tomi kembali mengetik di laptop.
*
*
*
Menjelang sore, Tomi akhirnya dapat menyelesaikan perkerjaannya. Meski sesekali bayangan wajah Yasmin melintas di benaknya.
"Akhirnya aku bisa pulang..." desisnya pelan sambil beranjak dari tempat duduk. Lalu merapikan meja kerjanya.
Begitu sampai di pintu utama, langkah kaki Tomi terhenti. Dari jarak beberapa meter, ia dapat melihat Hendra berdiri di dekat mobil seperti menunggu seseorang.
Apa dia mau menjemput Yasmin?
Sambil memandangi Hendra, Tomi berkata di dalam hatinya. Bayangan Hendra dan Yasmin yang saling memandang satu sama lain melintas cepat. Dadanya tiba-tiba panas.
Tomi menatap nyalang Hendra seketika, yang saat ini tengah berdiri sambil menyenderkan badan di pintu mobil. Lalu dia mengalihkan pandangan ke pintu utama kantor. Yasmin keluar dari dalam sambil membenarkan rambutnya yang agak berantakan.
"Yasmin," sapa Tomi sembari melangkah kaki, menghampiri Yasmin.
Ayunan kaki Yasmin pun terhenti. Dia menoleh ke sumber suara lalu melempar senyum tipis, walau bagaimanapun dia tak boleh menunjukkan kesedihannya di depan Tomi.
"Iya Tom, ada apa?" Yasmin menurunkan tangannya dari kepala.
"Ayo pulang bersamaku!" Tanpa menunggu persetujuan dari Yasmin, Tomi menyambar cepat tangannya. Lalu mulai mengayunkan kakinya menuju parkiran mobil.
Yasmin lantas terkejut.
"Tapi Tom, aku bisa pulang pakai goj*k." Yasmin berjalan sedikit tergesa-gesa karena harus menyeimbangi langkah kaki Tomi yang lebar itu.
"Gojek tidak ada di jam segini, mumpung rumah kita searah," ucap Tomi sambil melempar sinis pada Hendra yang kini sedang menoleh ke arah mereka.
Yasmin tergugu, bingung harus menjawab apa. Meskipun begitu dia senang karena Tomi mengajaknya pulang bersama.
Sedangkan Hendra menatap tajam Tomi dari kejauhan.
"Masuklah!" titah Tomi pada Yasmin. Saat sampai di dekat mobil.
Yasmin mengangguk pelan lalu masuk ke dalam kendaraan roda empat milik Tomi.
Lima menit kemudian, mobil itu sudah mulai bergerak meninggalkan pelataran perusahaan tempat Tomi dan Yasmin berkerja. Di dalam mobil, keheningan pun tercipta. Sedari tadi Tomi berdecak kesal di dalam hatinya, karena tanpa pikir mengajak Yasmin pulang kerja bersama. Padahal dia sudah mewanti-wanti untuk tidak ingin berduaan bersama Yasmin. Namun, hati dan pikirannya tak selaras sama sekali.
Di samping, Yasmin heran melihat tingkah Tomi sebab sedari tadi pria itu sama sekali tak berniat mengajaknya berbicara.
"Tom, terima kasih ya kau sudah mau memberikan aku tumpangan." Pada akhirnya, Yasmin yang mulai membuka suara.
Tomi tersenyum kaku. "Iya, sama-sama," katanya tanpa menatap lawan bicara. Dia masih berperang dengan batinnya. Dan berharap kepulangannya tak dilihat Meli. Dia tak mau membuat Meli salah paham. Apalagi dia tahu perangai Meli memang mudah terbakar cemburu.
Setelah itu, tak ada lagi pembicaraan. Yasmin menatap lurus ke depan sambil sesekali melirik Tomi yang sedang fokus mengendarai mobilnya.
Selang beberapa menit, Tomi menghentikan mobilnya di depan rumah Yasmin. Tadi dia melewati jalanan yang berlawanan arah agar tidak dilihat oleh Meli. Kedua matanya sesekali melirik rumahnya, yang tak ada tanda-tanda Meli ataupun Arion keluar rumah.
Yasmin menatap aneh Tomi. Dia dapat menebak jika Tomi tak mau Meli sampai tahu karena sudah pulang bersamanya. Helaan napas berat terdengar dari hidungnya sesaat.
Secepat kilat Yasmin membuka seatbelt dan berkata,"terima kasih tumpangannya Tom, lain kali aku pulang sendiri saja."
Nada suara Yasmin barusan tak enak di dengar. Tomi melirik Yasmin seketika. Melihat raut wajah Yasmin nampak muram seperti tadi pagi.
"Oh Yas, maaf aku tak bisa keluar dari mobil."
"Iya, tak apa Tom." Yasmin membuka cepat mobilnya dan melangkah cepat menuju rumahnya, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Tomi menarik napas panjang sambil melihat Yasmin masuk ke dalam rumah. Entah mengapa perasaan begitu kacau sekarang. Di satu sisi ia merasa bersalah dengan Meli dan di sisi lain dia juga tak tega melihat Yasmin yang nampak sedih.
"Argh!" Tomi memukul stir kemudinya lalu menyugar kasar rambut depannya. Setelah itu dia menjalankan kembali mobilnya menuju rumahnya.
Tanpa disadari Tomi, Meli melihat Yasmin turun dari mobil Tomi barusan. Kedua tangan Meli terkepal kuat, menahan amarah yang membuncah di dalam hatinya. Saat mendengar pintu terbuka, Meli melangkah cepat, mendekati Tomi.
"Tomi! Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Napas Meli terdengar memburu. Dia menatap tajam suaminya itu yang masih sibuk membuka sepatu.
Tomi mengerutkan dahi lalu bertanya,"Apa maksudmu Sayang?"
"Jangan berbohong denganku, Tom. Aku melihat Yasmin keluar dari mobilmu tadi, kenapa kalian bisa bersama!?" serunya dengan mata mulai berkaca-kaca.
Lidah Tomi mendadak kaku. Bagaimana bisa Meli tahu. Padahal dia sudah berusaha agar Meli tak melihat dirinya dan Yasmin pulang bersama.
"Kau jahat, Tom! Mengapa kau bisa satu mobil dengan Yasmin ha! Wanita mana yang tak sakit hati, melihat suaminya pulang bersama wanita lain! Apalagi jelas-jelas wanita itu kemarin berusaha menghancurkan hubungan kita!" jerit Meli dengan berlinangan air mata.
Tomi tampak serba salah. Dia mulai melangkah malu, mendekati Meli.
"Sayang, aku bisa menjelaskannya. Ini semua salah paham, aku–"
"Cukup! Kau tidak mencintaiku lagi! Dengan bersama wanita lain yang bukan muhrimnya, sama saja kau berselingkuh di belakangku Tom!" Meli mundur beberapa langkah kemudian.
Tangisan Meli terdengar nyaring di ruangan. Kedua matanya sudah banjir dengan air mata. Tomi merasa bersalah. Dia tak tega melihat Meli menangis tersedu-sedan. Ingin sekali dia memeluk saat ini dan menenangkannya.
"Astaga, Meli dengarkan aku. Aku tidak berselingkuh dengan Yasmin. Yasmin karyawan baru yang baru saja mas–"
"Stop! Aku tidak butuh penjelasanmu!" potong Meli cepat, kemudian berlarian menuju meja kecil dan melempar vas bunga ke lantai hingga berserakan. Secepat kilat ia mengambil pecahan vas itu.
Mata Tomi membulat sempurna, melihat Meli mengarahkan beling vas kaca itu ke tangannya. Secepat kilat ia menghampiri istrinya dan menyentak kasar tangan Meli seketika sehingga pecahan kaca itu terlempar ke sudut ruangan.
"Meli! Maafkan aku Sayang! Jangan seperti ini, aku minta maaf." Tomi menarik tubuh Meli ke dalam pelukannya lalu merengkuhnya nya dengan begitu erat. Hatinya terasa perih kala mendengar isakan tangis sang istri.
Di dalam dekapannya, air mata Meli tak berhenti mengalir.
"Sayang, maafkan aku, aku janji tidak akan pulang lagi bersama Yasmin..." lirihnya sambil mengelus pelan punggung Meli.
"Tidak hanya pulang..., bilaperlu jangan berinteraksi lagi dengannya, Sayang..." Meli sesenggukan. Pundaknya nampak naik dan turun.
Tomi mengecup cepat pucuk kepala Meli.
"Iya, iya Sayang. Aku janji,"ucapnya sambil mengeratkan lagi pelukannya.
Mendengar hal itu, senyum sinis terukir di bibir Meli seketika.
...----------------...
Guys, judul novel ini nanti akan di ubah ya🙈 tapi isinya tidak kok.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
kalea rizuky
maless bekasi melly mending cerai
2024-03-26
0
ria
semangat berjuang yasmin..hempaskan meli😁
2023-08-05
0
I'M Yacem
lanjut thor makin seruu
2023-07-28
0