Yasmin mengerutkan dahi kala mendengar bunyi ketukan dari luar. Menerka-nerka, siapa yang bertandang malam-malam ke rumahnya. Tak mungkin Hendra sebab pria itu baru saja mengirimkan dia pesan kalau sedang di Jakarta, mengurus sesuatu.
"Siapa ya?" Yasmin meletakkan ponsel di atas meja lalu beranjak dari tempat duduk.
Bunyi ketukan kali ini terdengar lebih kuat dari sebelumnya diikuti suara tangisan seorang anak kecil.
Yasmin tergelak. Dia kenal betul dengan suara itu.
"Arion..." Secepat kilat Yasmin menggerakkan kakinya menuju ambang pintu ruang tamu.
Saat pintu terbuka, Yasmin tersentak kala Arion memeluk kakinya seketika. Matanya celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Tomi ataupun juga Meli. Dia semakin heran mengapa Arion sendirian menyambangi rumahnya.
"Tante Yasmin..." Arion mendongakkan wajahnya ke atas, menatap sendu sang pemilik rambut panjang hitam legam itu.
Mata Yasmin membulat. Melihat penampilan Arion yang kacau. Dia merendahkan badannya seketika lalu memegang pundak Arion. "Kenapa Sayang? Bunda dan Ayah mana?"
"Lapar." Bukannya menjawab pertanyaan Yasmin, Arion kecil malah meminta makanan.
Dahi Yasmin semakin berkerut kuat. Sepertinya ada yang tidak beres di sini, tebaknya. Dia pun membingkai pipi bulat Arion. Melihat bola mata munggil Arion yang memancarkan kesedihan, membuat Yasmin semakin iba. Arion kecil terlihat habis menangis. Hal itu dapat dilihat dari kantong matanya yang sembap. Yasmin bertanya-tanya apa yang terjadi pada Arion.
"Iya nanti Tante suapin ya, sekarang Arion jawab dulu, Ayah sama Bunda di mana?" tanya Yasmin sambil melirik sekilas ke pekarangan rumah Tomi, yang ternyata tak ada kendaraan roda empat milik Tomi terparkir di halaman.
"Kata Kakak Yanti, Ayah sama Bunda ke Mall."
"Terus Kak Yanti-nya ke mana?" tanya Yasmin penasaran.
"Alion nggak tahu Tante, tadi Kak Yanti pergi keluar." Arion menampakkan wajah muramnya. Secara bersamaan pula terdengar bunyi kelaparan dari perut Arion.
Lantas Yasmin memeluk tubuh munggil Arion. Dia sangat kasihan dengan keadaan bocah itu. Dan menyayangkan sikap Tomi dan Meli meninggalkannya sendirian di rumah.
"Ya sudah yuk. Kita masuk, Tante ada makanan di dalam," ucap Yasmin melempar senyum tipis sambil mengurai pelukan.
Bola matanya berbinar-binar seketika. Arion kecil mengangguk pelan. Kemudian Yasmin mengandeng tangan Arion untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Arion suka kangkung dan telur dadar?" Saat ini Yasmin tengah mengambil makanan yang dia masuk tadi sore di atas meja.
"Suka!" Arion mengangkat kedua tangannya ke atas dengan semangat. Saat ini dia duduk di kursi sedang memperhatikan Yasmin tengah menyiapkan makanan untuknya.
Yasmin tersenyum simpul. Melihat Arion tampak senang. Sambil mengambil lauk di atas meja. Yasmin tersenyum hambar seketika. Seandainya saja ia memiliki anak, mungkin saja dia tidak kesepian saat ini.
"Bagaimana, enak tidak?" Yasmin mengelus pelan kepala Arion. Kagum dengan Arion yang mau makan sendiri. Padahal Yasmin sudah menawarkan pada bocah itu untuk menyapinya. Tapi Arion menolak dengan halus tadi. Kini ia dan Arion duduk bersama-sama di kursi.
"Enak, Tante Yasmin pintar masak," kata Arion dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Yasmin terkekeh pelan, melihat reaksi Arion. Dia kembali mengelus lembut kepala bocah tersebut. "Makanlah yang banyak ya, kalau masih kurang, bilang aja, nanti Tante ambilin makanannya lagi."
Arion mengangguk cepat sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Lalu mengunyah makanan dengan cepat.
Senyum Yasmin memudar seketika kala melihat luka lebam di leher Arion. "Arion ini apa?" tanyanya sambil mendekatkan wajahnya hendak memastikan.
Arion langsung meletakkan sendoknya ke piring kemudian menyentak kasar tangan Yasmin. "Bukan apa-apa, Tante," ucapnya sambil menundukkan wajah.
Yasmin tergelak. Namun, dia semakin penasaran. Dia yakin sekali bahwa luka lebam itu adalah bekas pukulan.
"Arion, sekarang jujur sama Tante, tadi Arion dipukul sama siapa?" tanya Yasmin sambil mengapai dagu Arion. Yasmin terkejut kala melihat mata Arion sudah digenangi air mata.
Arion terisak pelan. Dada munggilnya nampak naik dan turun. Bocah itu berusaha menyeka air matanya tapi air matanya malah semakin keluar.
Yasmin menarik tubuh Arion ke dalam pelukannya lalu mengusap pelan punggung belakang Arion. Di dalam dekapan tangis Arion seketika pecah. Tubuhnya tampak bergetar hebat setelahnya.
Kini Yasmin yakin sekali jika Arion dianiaya oleh seseorang. Mendengar tangisan Arion, hatinya bagai tertusuk sembilu. Yasmin terenyuh hingga tanpa sadar air matanya juga ikut menetes.
Lima menit pun berlalu. Tak ada lagi suara tangisan yang menggema di ruangan. Arion sudah tampak tenang, hanya sesekali dadanya sesenggukan akibat terlalu lama menangis barusan. Lantas Yasmin mengurai pelukan lalu menangkup pipi Arion, menatap dalam bola mata bocah itu.
"Arion, sekarang cerita sama Tante, yang pukul Arion siapa?"
Arion tak serta-merta langsung menjawab. Dia nampak takut-takut.
"Arion nggak usah takut ya, ayo cerita sama Tante," kata Yasmin lagi, berusaha membujuk Arion.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di sebelah rumah Yasmin. Tomi dan Meli baru saja keluar dari mobil sambil membawa beberapa paperbag. Keduanya melangkah cepat menuju pintu utama. Sesampainya di dalam, Tomi memanggil-manggil anaknya.
"Arion, Ayah datang, Nak. Lihat Ayah beliin Arion mobil-mobilan ini!" sahut Tomi sambil mengedarkan pandangan, menelisik keberadaan Arion. Namun, tak ada tanda-tanda suara derap langkah kaki akan mendekat.
Tomi mengerutkan dahi sedikit. Lalu dia melempar pandangan pada Meli sekilas.
"Kemana dia?" Meli pun sama mencari keberadaan Arion. "Yanti!" teriaknya seketika.
Yanti yang mendengar suara panggilan bergegas ke ruang tamu. Dia tampak ketakutan. Karena Arion tak ada di rumah.
Lima menit sebelumnya, dia baru saja datang dari luar, Yanti sibuk bertemu dengan kekasihnya yang kebetulan tempat kerjanya satu komplek rumah Tomi. Namun, saat pulang ke rumah. Dia terkejut tak menemukan keberadaan Arion di rumah.
"Ke mana Arion?" tanya Tomi seketika dengan raut wajah datarnya.
Yanti tampak salah tingkah. "Maaf Tuan, Arion hilang, saya nggak tahu dia ada di mana sekarang."
"Hilang, apa maksudmu?" Rahang Tomi mengetat seketika.
Lalu Yanti berbohong dengan Tomi jika tadi dia sedang mencuci piring dan tiba-tiba Arion hilang tak tahu pergi ke mana.
Tomi naik pitam. Tanpa banyak kata dia bergegas keluar sambil memanggil-manggil Arion. Begitupula dengan Meli. Sementara, Yanti semakin was-was.
"Arion! Ini Ayah, Nak!"
"Arion!"
Di rumah sebelah, Yasmin baru saja mengetahui jika Yanti lah yang memukul Arion. Saat mendengar suara Tomi dan Meli di luar, lantas bangkit berdiri dari kursi.
"Arion, itu Ayah dan Bundamu, kita keluar ya!"
Arion mengangguk pelan. Kemudian Yasmin menggendong Arion seketika dan melangkah pergi keluar.
"Arion!"
Saat melihat Arion bersama Yasmin. Langkah kaki Tomi terhenti. Namun, berbeda dengan Meli. Matanya melebar sempurna. Secepat kilat ia menghampiri Yasmin dan mengambil paksa Arion dari tangan Yasmin.
"Dasar penculik! Berani sekali kau menculik anakku hah!!!" teriak Meli seketika sambil melayangkan tatapan tajam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments
ria
harusx kamu juga bilang kalo disiksa meli juga..arion..biar yasmin punya senjata buat menjatuhkan meli di depan tomi
2023-08-05
0
EBI
coba bilang klo Meli juga
2023-07-31
0
I'M Yacem
meli Wewe gombel ...
2023-07-31
0