Brownies, Kesukaanmu

Selang beberapa hari, selama dua hari ini secara diam-diam Yasmin memantau Tomi berserta keluarganya dari dalam jendela rumah. Terkadang dia cemburu melihat kedekatan Tomi dan Meli, terkadang pula dia tersenyum lebar jika melihat Tomi dan Arion kadangkala bermain di pekarangan rumah mereka.

Seperti minggu sore ini, Yasmin melihat Tomi dan Arion berlarian-larian di ujung sana.

"Ayah, ayo tangkap alion!" Kaki munggil Arion bergerak ke sana kemari. Bocah bertubuh tembab itu tampak kegirangan.

Mereka sedang bermain kejar-kejaran saat ini.

"Awas ya, nanti Ayah tangkap, Arion nggak boleh kabur!" Dari belakang Tomi melebarkan senyum lebarnya sambil berlarian kecil mendekati putranya itu.

"Hihi, kalau bisa!" Arion semakin mempercepat langkah kakinya. Begitupula dengan Tomi. Keduanya saling berlari satu sama lain.

Tanpa sadar Yasmin mengelus pelan perut ratanya. Bagai tertusuk sembilu, hatinya begitu sakit melihat Cakra tampak senang bermain bersama Arion. Sudah sejak lama ia menginginkan seorang anak. Namun, sampai saat ini Allah belum memberikannya kepercayaan untuk menimang anak. Terlebih lagi kepergian Cakra beberapa tahun silam membuatnya semakin sedih.

"Tenanglah Yasmin, sebentar lagi Cakra pasti akan mengingatmu, sekarang yang harus kau lakukan adalah membuatkannya makanan yang bisa mengingatkan dia denganmu," kata Yasmin kemudian, tanpa mengalihkan pandangan dari depan, kini Arion dan Tomi berpelukan satu sama lain, setelah berlarian-larian barusan.

Meli nampak keluar dari rumah sambil membawa cemilan dan menghampiri mereka. Semakin mencelos hati Yasmin kala melihat Tomi mencium kening Meli sekarang. Tak mau berlama-lama melihat kemesraan Tomi dan Meli, Yasmin memutuskan pergi ke dapur hendak membuatkan brownies coklat kesukaan Cakra.

Sesampainya di dapur, Yasmin membuka kulkas dan lemari. Lalu mulai mencari apa yang dibutuhkannya.

"Ah sepertinya besok aku baru bisa memberikan Cakra browniesnya," gumamnya pelan sambil menelisik isi di dalam lemari karena tidak ada bahan-bahan untuk membuat brownies. Tak mau menunda-nunda waktu dia pun pergi keluar membeli bahan-bahan brownies di supermarket terdekat.

Selang beberapa menit, Yasmin sudah sampai di rumah. Dia memutuskan membersihkan diri terlebih dahulu kala melihat hari sudah mulai petang. Setelah selesai mandi dan menunaikan ibadahnya. Yasmin bergegas pergi ke dapur. Dia langsung berkutat dengan belanjaan yang telah dibelinya tadi.

Dengan peralatan seadanya Yasmin tampak semangat mengaduk tepung, telur, mentega dan bahan lainnya.

"Selesai!" celetuk Yasmin kala melihat brownies buatannya sudah selesai. Kedua matanya berbinar-binar, melihat bagian atas brownies tampak mengkilat sesuai keinginannya. "Hm, lumayan," gumamnya.

Perpaduan aroma coklat dan mentega memenuhi seluruh ruangan dapur Yasmin, hingga Tomi dan Meli yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya, mencium bau wangi tersebut.

Meli melirik ke atas dinding sekilas, melihat waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam.

"Siapa yang membuat kue malam-malam begini, kurang kerjaan sekali,"kata Meli, sedikit ketus sambil memutar mata malasnya ke atas sesaat.

"Sepertinya tetangga sebelah kita Sayang, tak apa Sayang, mungkin saja dia sedang kelaparan atau apa. Wangi sekali, apa kau tidak bisa membuat kue Sayang?" tanya Tomi seketika.

"Sayang, kau tahu sendiri, aku tidak bisa membuat kue," jawab Meli cepat sambil melipat tangan di dada.

Mendengar hal itu, Tomi hanya mampu menghela napas pelan. Mencium aroma brownies membuat Tomi ingin sekali mencicipi kue coklat tersebut.

"Tetangga sebelah rumah. Bukankah sudah lama kosong Sayang?" Meli kembali menambahkan dengan dahi sedikit berkerut.

"Iya, tetangga sebelah kita, tidak kosong lagi Sayang, kemarin aku ada melihat seorang pria berseragam polisi memasang CCTV. Sepertinya istrinya sedang membuat kue untuknya." Tomi menebak.

"Polisi?" Kedua mata Meli berkedip cepat setelahnya. Dia tampak berpikir keras.

"Iya." Anggukan pelan sebagai balasan Tomi.

Meli tak lagi bertanya. Wanita itu malah menyenderkan kepalanya di bahu Tomi sambil melempar senyum penuh arti pada sang suami.

*

*

*

Pagi pun tiba. Tepat pukul enam pagi, Yasmin sudah mandi dan memakai dress bunga di bawah selutut, yang dulu pernah Cakra belikan untuknya.

Hari ini Yasmin ingin tampil feminim di hadapan suaminya itu dan berharap Cakra dapat mulai mengingatnya.

Dari dalam jendela ruang tamu, Mata Yasmin celingak-celinguk ke arah rumah Tomi. Ingin memastikan apa mobil Tomi masih di luar atau tidak dan ternyata kendaraan roda empat itu masih terparkir dengan rapi.

Yasmin buru-buru mengambil kotak brownies dan berjalan pelan keluar dari rumahnya.

Sambil memandangi rumah Tomi. Yasmin berkata di dalam hatinya.

Sesampainya di teras rumah, Yasmin menarik napas panjang, menetralisir perasaan gugup yang tiba-tiba menderanya. Lalu setelah itu ia mulai menekan bel rumah.

Tak sampai semenit, pintu pun terbuka lebar.

Kebahagiaan merasuk ke relung hati Yasmin seketika tatkala yang membuka pintu adalah pria yang selama ini dia rindukan.

"Astaga, aku tak menyangka, ternyata kita tetanggaan, sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi. Aku baru saja mendapat perkerjaan baru di daerah ini," kilah Yasmin, dengan mimik muka sedikit terkejut.

Tomi pun sama terkejutnya, melihat wanita yang kemarin mengaku-ngaku istrinya berdiri tepat di hadapannya. Saat ini dia merasakan ada yang aneh dengan jantungnya, yang tiba-tiba berdebar-debar tanpa alasan yang jelas. Menurut Tomi penampilan Yasmin sedikit berbeda dari kemarin. Tampak feminim dan cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai ke belakang.

Cepat-cepat Tomi menepis pemikirannya. Dia menebak jika saat ini setan mulai merasuk ke palung hatinya.

"Iya, ada apa ya?" kata Tomi, dengan melempar senyum hambar.

"Sebagai kepindahanku kemari, aku sengaja membuatkan brownies untuk tetangga-tetanggaku." Sembari melempar senyum tipis Yasmin menyodorkan kotak persegi pada Tomi.

"Brownies?" Tomi tak langsung mengambil kotak tersebut.

"Iya, ayo ambillah!" kata Yasmin, dengan semangat.

Tomi tampak ragu-ragu menerimanya. Belum sempat ia mengangkat tangan ke udara. Suara Meli di belakang tubuhnya menghentikan pergerakan tangannya.

"Siapa Sayang?"

Mendengar suara Meli, raut wajah Yasmin berubah drastis.

"Ini, tetangga baru kita ternyata wanita kemarin Sayang," kata Tomi.

Meli menatap Yasmin seketika lalu melempar senyum sinisnya. "Oh, jadi kau tetangga baru kami, ada perlu apa kau datang kemari?" tanyanya sambil merangkul tangan Tomi.

Napas Yasmin langsung tercekat. Dia merasa pasokan udara di paru-paru terhenti saat melihat kemesraan di depan matanya kini. Ingin sekali dia mendorong tubuh Meli dan berkata jangan dekat-dekat dengan Tomi. Namun, dia tidak boleh bertindak gegabah. Apalagi saat ini ingatan suaminya belum pulih sama sekali.

Yasmin melempar senyum getir lalu menarik napas dalam.

"Hai Mel, aku baru saja pindah kerja dan aku mau memberikan brownies ini untuk kalian, sebagai tanda kepindahanku," kata Yasmin sambil menyodorkan kotak brownies pada Meli.

Sial4n! Wanita ini sudah mulai bertindak sesuka hatinya.

Sambil mengambil alih kotak tersebut, Meli melempar senyum kakunya.

Terpopuler

Comments

ria

ria

semangat berjuang yasmin untuk mendapatkan hati dan cinta suamimu kembali😙😙

2023-08-04

0

I'M Yacem

I'M Yacem

lanjut thor

2023-07-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!