"Jadi, kalian saling kenal atau tidak?"
Mata Daffin fokus ke Winter. Menarik. Ia mendengus pelan. Baru kali ini ada perempuan yang bilang tidak kenal dia dihadapan orang lain, padahal jelas-jelas mereka sudah saling kenal. Pernah minum kelapa muda bersama bahkan menikmati sejuk dan indahnya pemandangan pantai berdua saat di Bali.
Kalau dipikir-pikir, walau baru sekitar dua minggu mengenal Winter, Daffin sudah cukup banyak terlibat dengan gadis itu. Dan itu adalah sesuatu yang cukup menyenangkan bagi Daffin.
"Kau tidak kenal aku?" ucap Daffin menatap Winter lekat-lekat. Gadis itu menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum kaku.
"Kenal kok. Tadi aku salah bilang." sahutnya cepat.
"Ya ampun Winter, kamu itu yah. Makanya jangan terlalu banyak melamun dan sibuk dengan dirimu sendiri. Ayo ikut ibu ke dalam." bu Wiwit kemudian berbalik masuk. Winter mengekor dari belakang, meninggalkan Daffin yang masih berdiri dekat pintu. Cowok itu menggeleng-geleng pelan, kemudian meninggalkan tempat itu.
***
Winter duduk menyendiri di bawah pinus besar belakang kampus. Dia masih terus kesal mengingat bahasa kasar Bian ketika menuduh Daffin. Tidak, ia tidak akan membiarkan cowok itu berbuat seenaknya pada Daffin. Harus dia balas. Bian harus tahu bahwa bukan dirinya paling berkuasa di kampus ini.
Dari dulu Winter memang sudah tahu Bian adalah jenis laki-laki sombong, playboy, suka berbuat seenaknya dan menganggap diri berkuasa. Winter paling tidak suka model laki-laki seperti itu. Gadis itu memutar otaknya. Kira-kira apa yang harus dia lakukan untuk balas semua perbuatan pria itu?
Gadis itu berpikir keras. Cukup lama hingga akhirnya ia mendapatkan sebuah ide. Dengan cekatan Winter berdiri dari posisi duduknya dan pergi mempersiapkan apa saja yang ada di otaknya sekarang.
Setelah mempersiapkan semuanya, Winter berjalan menuju ruang BEM. Iya sudah memeriksa tadi. Dan hanya dua makhluk yang berada di dalam sana. Yang lain sudah pulang. Wajar sih, apalagi sekarang sudah sore. Kebanyakan mahasiswa sudah pulang . Hanya ada segelintir dari mereka yang masih betah atau masih memiliki keperluan lainnya.
Dua orang dalam ruangan itu adalah Bian dan gadis yang dipanggil ke ruang guru tadi oleh pak Tumnus. Hah! Kebetulan sekali. Ternyata sih Susi, Susi itu berhubungan diam-diam dengan Bian. Artinya mereka memang sengaja bekerja sama menjebak Daffin. Benar-benar jahat.
Tadi ketika diam-diam memeriksa ruangan dari celah pintu, Winter bahkan melihat dua orang itu tengah berciuman panas di dalam sana. Ya ampun, sadar tempat kenapa sih. Winter menggeleng-geleng melihat kelakuan mereka.
Ia lalu kembali fokus dengan maksud awalnya. Sekarang waktunya beraksi sebelum mereka meninggalkan tempat itu. Lalu ia membuka tangga lipat yang diambilnya dari gudang, menaikinya, dan diikatnya ember yang berisi air comberan dengan tali yang dia letakkan di celah atas pintu. Dilakukannya secepat mungkin agar tidak ketahuan Bian dan Susi yang ada di dalam ruangan.
Usai melakukan itu, Winter kembali melipat tangga dan bersembunyi dibalik tembok. Tentu saja ingin menunggu Bian keluar. Cukup lama gadis itu menunggu tapi Bian belum keluar-keluar juga. Astaga, apa yang mereka lakukan di dalam sana? Tadi saat ia mengintip mereka sedang berciuman panas, apa jangan-jangan sekarang?
Winter menutup mulut dengan kedua tangannya. Tidak, tidak. Itu pasti hanya khayalannya. Mereka terlalu berani kalau sampai melakukan adegan itu di ruang BEM.
Byurrr ....
"Arghh!
"Sial, bangsat!"
pekikan kuat dan makian Bian terdengar menggelegar. Winter sampai kaget. Ia merapatkan dirinya di tembok. Dengan sangat berhati-hati mengintip ke sana. Baju yang dikenakan Bian dan Susi sekarang basah kuyup saat membuka pintu ruangan. Kelihatan sekali dari wajah Bian kalau pria itu sangat marah. Ia sampai memaki berkali-kali.
"Brengsek! Siapa yang berani main-main denganku? Tunggu saja sampai aku menemukannya! Bangsat!"
"Sayang, aku kedinginan. Anterin aku pulang ya?" rengek Susi manja, hingga Winter yang mendengar serasa mau muntah.
"Pulang sendiri sana, bangsat!" maki Bian. Emosinya belum stabil. Susi yang dimaki begitu langsung merasa sakit hati.
Sesaat kemudian gadis itu terkikik. Ia bersandar puas di tembok. Dendamnya akhirnya terbalaskan. Ketika pandangannya lurus ke depan, matanya bertemu dengan sosok laki-laki tinggi tegap yang tengah berdiri bersandar di tembok didepannya sambil bersedekap dada. Lorong tempat persembunyian gadis itu terbilang sempit, jarak berdiri laki-laki tampan didepannya mungkin tak sampai satu meter.
Detik itu juga Winter langsung gelagapan. Daffin, lagi-lagi dia tertangkap basah oleh pria itu. Tapi, sejak kapan pria itu di sini? Jangan-jangan Daffin lihat lagi semua yang dia lakukan tadi. Dari mana juga datangnya? Dan kenapa dia belum pulang? Padahal ini sudah sangat sore. Setahu Winter Daffin tidak biasanya akan pulang sesore ini, karena masih harus membesuk adiknya. Bagaimana dirinya tahu? Ya karena dirinya selalu mengamati pria itu diam-diam.
Winter lalu menempelkan telunjuknya ke mulutnya, mengisyaratkan ke Daffin agar pria itu diam. Padahal sejak tadi Daffin memang hanya diam menatapnya.
Setelah Bian dan Susi pergi dari situ, barulah Winter bisa bernapas lega. Gadis itu mengusap-usap dadanya lega, lalu menyengir lebar ke Daffin yang masih terus menatapnya. Entah apa yang pria itu pikirkan ketika menatapnya. Winter berdeham. Malu? Jelaslah malu. Ia tertangkap basah lagi oleh pria yang dia sukai diam-diam.
"A ... Aku pergi dulu," ucap Winter kemudian. Sebelum suasana menjadi makin canggung. Ketika ia mulai berjalan meninggalkan Daffin, pria itu malah mengikutinya. Bahkan mengambil alih tangga lipat ditangannya.
"Mau kembalikan kemana?" tanya Daffin buka suara.
"Biar aku saja, kau tidak perlu repot-repot membantuku." balas Winter merasa tidak enak.
"Jawab pertanyaanku," Daffin berkata dengan nada mendominasi.
"Gudang," sahut Winter akhirnya. Kemudian Daffin berjalan mendahuluinya. Winter mengekor dari belakang.
Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama perjalanan. Karena Winter tidak tahu mau bicara apa. Sedang Daffin, Winter tahu cowok itu memang pendiam. Jadi ia tidak heran lagi kalau Daffin jarang bicara.
Mereka pun memasuki gudang. Daffin meletakan tangga lipat tersebut di samping lemari berisi barang-barang rongsokan yang sudah tidak terpakai lagi. Gudang itu cukup besar dan rapi. Ada banyak barang yang masih bisa dipakai, tapi kebanyakan sudah tak terpakai lagi. Bahkan dalam gudang itu ada sofa. Kalau semua barang-barang tersebut dibuang, Winter pasti sudah membuat markasnya sendiri diruangan ini. Karena selain letaknya paling belakang, hampir tidak pernah ada orang satupun yang datang ke situ.
"Thank's," gumam Winter ke Daffin. Daffin meliriknya, namun sebelum pria itu angkat suara, pintu gudang tiba-tiba tertutup. Kedengaran ada yang sengaja menguncinya dari luar. Daffin Winter saling berpandangan. Berbeda dengan Daffin yang tetap tenang, Winter tampak cukup panik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Rita
biar pdktnya lbh enak
2023-07-21
0
Rita
😂Winter kebalik harusnya cowok yg marah klo ceweknya ada yg ngusilin eh ini kebalik winter yg marah krn Daffin dijahatin go winter
2023-07-21
1
Lovey
😍😍😍😍
2023-07-20
0