Bab 3

"Hufftt ...."

Winter akhirnya bisa bernapas lega. Dia aman sekarang. Biar saja dirinya dianggap aneh oleh orang-orang, daripada wajahnya dilihat Daffin. Dia tidak mau mengambil resiko. Memang sih Daffin tidak kenal dia. Tapi bagaimana kalau cowok itu sadar kalau dirinya selalu mengikutinya diam-diam? Kan itu sangat beresiko.

Winter mengunyah roti yang dia beli tadi sambil menghadap kiri kanan. Ia berada di halte depan alfamart. Masih dekat dengan restoran kecil depan rumah sakit. Tentu saja masih dekat rumah sakit juga.

Dahi gadis itu mengernyit. Apa cuma perasaannya saja kalau halte yang dia tempati sekarang sangat sepi? Tapi kan jelas sekali halte tersebut memang sepi, tak ada penghuninya. Kenapa ya? Kok kebetulan? Winter menggeleng-geleng kepala. Kenapa dia jadi berpikiran aneh begini.

"Mendung," gumamnya kemudian. Ia menatap ke langit-langit yang mendung. Apa akan turun hujan sebentar lagi? Sial ...

Belum juga siap-siap, tapi hujan deras langsung mengguyur tempat itu. Dan masalahnya lagi ternyata atap halte itu bocor. Air hujan tembus membasahi Winter. Mau tak mau gadis itu harus menyingkir dari situ.

Winter berlari menyeberang jalan. Dia harus kembali ke rumah sakit sekarang. Tapi dia butuh payung. Hujannya terlalu deras. Dia pun masuk ke Alfamart untuk beli payung. Sayangnya, tak ada satupun payung yang tersisa. Pekerja di situ bilang payungnya sudah habis. Belum ada stok yang masuk.

Winter keluar toko itu dengan wajah ditekuk. Hah, kenapa hari ini banyak kesialan yang terjadi padanya sih. Ketika pandangannya memandang ke kanan, matanya tanpa sengaja melihat sebuah payung berwarna kuning bertengger manis didepan sana. Mata Winter berbinar-binar. Aha... Keberuntungan berpihak padanya.

Dilihatnya samping kiri kanan muka belakang dan ke dalam toko. Beberapa orang yang berbelanja sedang sibuk bertransaksi dengan kasir. Di luar tak ada orang sama sekali. Kalau dia ambil payung itu, pasti tidak akan ada yang lihat. Baiklah. Winter menghembuskan napas panjang kemudian melangkah ke arah payung kuning itu berada.

"Maafkan aku wahai pemilik payung. Aku harus mencuri payungmu. Aku tahu ini salah, aku tahu aku khilaf, mencuri itu sangat tidak baik, itu termasuk perbuatan jahat. Tapi sekarang benar-benar penting. Aku harus menggunakan payung ini demi kepentinganku. Tapi tenang saja, aku akan berdoa supaya kamu diberkati setiap hari. Dan payungmu akan kembali sepuluh kali lipat. Sekali lagi maaf ya," ucap Winter panjang lebar lalu menjulurkan tangannya mengambil payung itu pelan-pelan. Agar tidak ada yang curiga kalau dia adalah pencuri payung. 

Gadis itu sudah senang dengan payung ditangannya namun ketika dirinya berbalik, tatapannya bertemu dengan pemilik mata tajam yang sangat ia kenal. 

Laki-laki itu yang memiliki tinggi badan 185 cm, kulit putih, setengah Korea setengah China, penampilan rapi dan tatapan sedingin kulkas juga wajah super duper tampan yang bisa membuat semua wanita tergila-gila padanya, kini sudah berdiri didepan Winter, dengan tatapan dingin nan mengintimidasi.

Winter sendiri hampir terkena serangan jantung. Ia kaget bukan main. Karena pria yang selalu diam-diam ia ikuti sekaligus ia hindari untuk bertemu secara langsung itu kini berdiri tegak didepannya. Tampangnya sangat cool dan tampan sehingga sanggup membuat Winter menjerit histeris dalam hati. Winter menelan ludah. Apalagi pria itu terus diam mematung didepan sana sambil menatapnya dengan alis naik turun. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari Winter. Dan begitu mengintimidasi. Sanggup membuat sekujur tubuh Winter terasa panas dingin dalam waktu yang bersamaan.

Tidak, tidak. Gadis itu harus cepat-cepat pergi dari sini. Seperti kata orang, pertemuan pertama bagi dua orang kebanyakan tidak terlalu berkesan. Dengan tipe cuek dan dingin macam Daffin ini pasti pria itu tidak akan mengingat wajahnya lagi kalau dia segera menghindar.

Winter mengerjap-ngerjapkan mata. Ia cepat-cepat memalingkan wajah ke arah lain. Jantungnya tidak bisa berkompromi saat melihat Daffin dari jarak sedekat ini. Ya Tuhan, kenapa ada manusia yang parasnya seindah ini? Lalu dengan gerakan cepat gadis itu berjalan melewati Daffin. Ingin cepat-cepat menghilang dari situasi canggung saat ini. Namun tiba-tiba suara laki-laki itu menghentikan langkahnya.

"Itu payungku,"

Jleb.

Payungnya? Pandangan Winter turun ke payung kuning ditangannya. Ia berpikir sebentar lalu menutup matanya dalam-dalam. Ya ampun, kebetulan macam apa ini? Jadi payung yang dia curi adalah payung milik Daffin? Daffin adalah pemiliknya? Winter ingin segera menenggelamkan diri ke dasar laut sekarang juga, biar langsung menghilang dari hadapan pria itu. Memalukan, sangat memalukan. Dia kedapatan mencuri oleh laki-laki yang dia sukai diam-diam. Oh astaga Winter. Pertemuan pertama yang sangat memalukan.

Winter berbalik berusaha keras terlihat santai. Walau dalam hati ia sudah sangat malu. Daffin juga terus menatapnya dengan kedua tangan pria itu berada dalam saku celananya. Tatapannya kali ini sedikit angkuh, seperti memandang rendah Winter. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyum miring. Lihat kan, pria itu pasti menganggapnya pencuri.

Winter menelan ludahnya. Karena sudah begini, dia cari alasan saja. Gadis itu kemudian menunjukkan senyum lebarnya.

"Hahaha, maaf. Aku pikir ini payungku. Ternyata milikmu, berarti payung kita mirip tapi yang ini memang milikmu, hehe." katanya menyengir lebar, berusaha keras menutupi rasa malunya. Tapi kalimatnya sedikit konyol. Lihat cara Daffin menatapnya.

Daffin tampak menertawai kebodohannya. Winter menunduk. Dia benar-benar kapok. Mencuri payung adalah kejadian yang paling memalukan yang pernah dia lakukan. 

Winter maju selangkah dan mengulurkan payung kuning tersebut ke depan Daffin. Situasi di antara keduanya sangat awkward.

Daffin tidak bicara sepatah katapun, hanya menatapnya dengan tatapan mengintimidasi itu.

"Maaf," kata Winter akhirnya. Gadis itu menunduk. Dia terlalu malu menatap wajah Daffin. Pastinya. Setelah menyerahkan payung tersebut ke tangan Daffin, gadis itu langsung berbalik pergi. Berlari menerobos hujan. Ia tidak peduli lagi dirinya basah kuyup. Gadis itu sudah terlalu malu dengan kejadian barusan.

Sedang Daffin terus menatap kepergian gadis itu sampai menghilang dari pandangannya. Sebenarnya dia tidak sekejam itu mau gadis tadi mengembalikan payung miliknya atau tidak. Hanya saja gadis itu terlalu cepat berbalik dan kabur dari hadapannya, ia jadi tidak bisa bicara apa-apa.

Sudut bibir Daffin terangkat. Kalimat panjang sih gadis pencuri payung sebelum mengambil payungnya masih tertanam jelas dalam benaknya. Konyol sekali gadis itu. Gadis yang pertama kali dia lihat di restoran kecil depan rumah sakit.

Daffin masih ingat. Ia yakin sekali sih pencuri payung itu adalah gadis yang sama dengan gadis di warung makan tadi. Topi dan pakaian yang gadis itu kenakan masih sama. Suaranya saat berbicara juga sama. Akhirnya Daffin tahu seperti apa bentuk wajah gadis itu.

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

dah disimpan mukamu winter😊

2024-11-13

0

Rita

Rita

malu smpe ubun2😂😂😂😂

2024-11-13

0

Rita

Rita

wajah mungkin ngga kelakuan iya😅

2024-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!