Bab 16

"Kau mengambil perhiasan mamamu diam-diam dan menjual perhiasan itu? Dasar gila, itu namanya mencuri dodol. Bagaimana kalau ketahuan?" Arga berseru takjub menatap Winter yang malah menyengir lebar kepadanya.

"Habisnya aku kebingungan harus bagaimana, seluruh uangku sudah habis. Kalau minta ke papa, lelaki tua itu akan curiga. Lagian perhiasan mama sangat banyak. Kehilangan satu saja tidak apa-apa. Maksudku kan juga baik, demi membantu orang yang membutuhkan." kata Winter panjang lebar. Arga makin cengo dibuatnya.

"Winter, bukan masalah mamamu punya banyak perhiasan, masalahnya perhiasan yang kamu curi itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan orangtuamu. Mama kamu pasti akan terus mencarinya. Dan kalau sampai ketahuan kamu yang ambil, kau bisa digantung. Mau?" Arga bukannya mau menakut-nakuti sahabatnya, ia hanya tidak mau Winter melakukan hal-hal yang salah hanya demi membantu laki-laki yang dia suka. Memang membantu orang lain yang sedang kesusahan itu baik, tapi bukan berarti sampai harus mencuri kan?

"Aku tahu aku salah ga, tapi aku benar-benar ke pepet."

"Ya sudah, lain kali kamu jangan gegabah begitu. Jangan sampai mencuri, sekalipun barang milik orangtua kamu sendiri. Kalau butuh apa-apa cari aku dulu. Biar kita bisa pikirkan bersama, ngerti?" ujar Arga panjang lebar. Winter menghela napas, menghembuskannya, lalu mengangguk. Arga menggeleng-geleng. Gadis ini benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.

"Kau tidak magang hari ini?" tanya Winter baru mengingat kalau Arga sedang sibuk magang.

"Baru jam sembilan, jadwalku hari ini jam sepuluh. Masih satu jam. Bagaimana denganmu, tidak ke kampus?" pria itu menjawab dan balik bertanya.

"Ada. Aku sudah memesan taksi. Kalau begitu aku pergi dulu, bye Arga." kemudian gadis itu bangkit dari kursi dan keluar dari rumah Arga. Rumah minimalis yang terbilang nyaman.

Arga tinggal sendiri. Orangtuanya di luar negeri. Sebenarnya mereka ingin dia tinggal dengan mereka di sana, tapi Arga menolak. Pria itu lebih nyaman di kota ini. Selain itu semua teman-temannya paling banyak di sini. Dia bahkan tumbuh besar bersama Winter, sudah dia anggap sebagai keluarga terdekatnya. Kalau dia sampai pindah, rasanya dia akan sangat merindukan sahabat priknya itu nanti. Belum lagi Kenny, sepupunya yang sering main futsal bareng.

                                    ***

Winter bersiul-siul gembira ketika melewati koridor kampus yang entah kenapa hari ini begitu sepi. Kaki Winter berhenti melangkah saat melewati ruangan dosen. Ada laki-laki yang sangat dia kenal berdiri di sana. Tentu saja Daffin, siapa lagi. Pandangan Winter menatap berkeliling, akhirnya ia bahagia karena koridor yang dia lewati sepi. Karena dia bisa melihat Daffin dengan leluasa.

Gadis itu mendekat dan melihat dari balik dinding kaca. Ia amat berhati-hati agar tidak ketahuan. Kening Winter berkerut. Pemandangan di dalam sana tampak tegang. Daffin dikelilingi beberapa dosen dan ...

Pandangannya berhenti ke laki-laki lain, laki-laki yang dia kenal memiliki jabatan sebagai ketua BEM di kampus ini. Bagaimana tidak kenal coba, dulu laki-laki itu pernah menembaknya dan langsung dia tolak mentah-mentah. Namanya Bian. Sejak awal melihat Bian Winter memang tidak menyukainya. Karena pria itu terlalu sombong dan merasa dirinya bisa mendapatkan apa saja yang dia mau.

Tapi kira-kira ada masalah apa ya di dalam sana? Kenapa mereka semua tegang begitu? Winter yang makin penasaran merasa kesal karena tidak bisa mendengar apa yang tengah mereka bicarakan di dalam sana.

"Hufft!" gadis itu menghembuskan napas jengkel. Dia kepo. Semua yang berurusan dengan Daffin membuatnya merasa kepo. Lalu gadis itu menoleh ke pintu ruangan yang terbuka lebar disamping kirinya. Tanpa pikir panjang Winter melangkah ke dekat pintu. Siapa tahu suara mereka bisa kedengaran dari sana. Tentu saja di tetap berhati-hati agar tidak ketahuan orang-orang dalam ruangan dosen tersebut.

"Mengaku saja, hanya kau yang masuk ke ruang BEM tadi." Bian berkata di dalam sana.

"Setelah kau keluar, koper berisi uang itu hilang. Itu adalah jumlah yang sangat besar. Setidaknya cukup untuk membiayai perawatan adikmu yang cacat itu beberapa kali terapy," ucap Bian lagi dengan nada sinis dan merendahkan. Tadi pagi ketika mengantar sepupunya ke rumah sakit, tanpa sengaja ia mendengar beberapa perawat bergosip tentang Daffin, tentang keadaannya yang kesulitan keuangan karena harus merawat adiknya yang cacat.

Daffin mengencangkan kepalan tangannya saat mendengar hinaan Bian ke adiknya. Rahangnya mengeras. Bahkan Winter yang sembunyi diluar pintu rasanya ingin masuk dan meninju laki-laki sombong itu. Berani-beraninya dia menghina Daffin. Berani-beraninya menganggap Daffin-nya pencuri.

"Aku tidak mencuri. Kalau kau mau menuduhku, setidaknya berikan bukti yang kuat." kata Daffin dengan suara rendah. Sangat rendah dan berat. Membuat suasana dalam ruangan tersebut makin terasa mencekam.

"Daffin benar Bian, kau harus punya bukti yang kuat sebelum menuduhnya." salah satu dosen yang berada di antara mereka buka suara.

"Buktinya sudah ada. Aku sendiri yang melihatnya keluar dari ruangan BEM. Dia bukan anggota BEM. Tidak memiliki kepentingan masuk ke sana, bukannya itu sangat mencurigakan?" Bian tetap bersikeras.

"Daffin, tolong jelaskan kenapa kamu ke ruang BEM?" kata sih dosen perempuan berambut lurus, umurnya sekitar tiga puluh lima tahun.

"Salah satu mahasiswa bilang pak Tumnus memanggilku. Katanya dia berada ruang BEM, jadi aku ke sana." ujar Daffin santai. Dia tidak salah apa-apa, jadi kenapa harus gugup?

"Aku memanggilmu? Siapa yang bilang? Aku tidak menyuruh orang memanggilmu hari ini. Lagipula untuk apa aku memanggilmu datang ke ruang BEM padahal ada ruangan dosen." pak Tumnus yang berdiri di dekat Daffin menatap pria itu heran. Perkataan pak Tumnus memang masuk akal.

"Kau kenal siapa mahasiswa yang bilang pak Tumnus manggil kamu?" tanya sih dosen perempuan. Dia percaya pada Daffin, tidak mungkin laki-laki sebaik Daffin melakukan hal kotor itu, tampaknya Daffin memang dijebak. Apalagi dosen itu tahu sih Bian ini orangnya tidak lurus-lurus amat, banyak akal busuknya. Bahkan dia jadi ketua BEM karena pria itu  adalah anaknya salah satu penyumbang dana terbesar di kampus ini. Termasuk berkuasa.

"Namanya Susi. Jurusan komunikasi, sama dengannya." jawab Daffin sambil menatap wajah Bian. Ingin lihat reaksi pria itu. Setelah dipikir-pikir, kejadian hari ini memang mencurigakan. Seperti ada yang sengaja mau menjatuhkannya. Daffin tidak bodoh. Ada kemungkinan Bian sendiri yang mengatur rencana itu untuk memfitnahnya. Untuk Daffin pintar dan menanyakan nama mahasiswi tadi dan jurusannya. Wajah gadis itu pun dia ingat.

"Kalian tunggu di sini, aku akan memanggil mahasiswi bernama Susi itu dan bertanya kenapa dia berbohong atas namaku." kata pak Tumnus lalu beranjak keluar. Di luar pintu, Winter cepat-cepat bersembunyi.

Terpopuler

Comments

ZUU

ZUU

Bian😡

2023-08-07

0

Rita

Rita

pasti berkelitlah secara Bian licik

2023-07-20

0

Rita

Rita

pgn tau Winter bkln ngelakuin apa

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!