Bab 8

Winter membanting dirinya dikasur. Empuk sekali. Tidak sia-sia dia membayar mahal hotel ini.

"Ahhh, akhirnya aku bisa tidur di atas kasur." gumamnya senang. Lalu menutup mata. Mimi menggeleng-geleng. Memang temannya yang satu ini muka bantal sekali. Di mana-mana mereka pergi, hal utama yang akan dia lakukan adalah tidur. Mimi sudah hafal sekali. Makanya dia kadang kesal kalau tidur sekamar dengan Winter. Bawaannya bikin emosi dulu. Apalagi waktu dirinya dalam mode suka bergosip tapi Winter malah lebih memilih tidur. Siapa yang tidak kesal coba.

Mata Mimi memandang sekeliling kamar. Sepertinya ia merasa ada yang hilang. Tapi apa ya? Gadis itu berpikir keras.

"Winter, mana kopermu?" Mimi baru sadar Winter datang dengan tangan kosong. Koper merah miliknya tidak ada.

Winter membuka mata. Mengubah posisi menjadi duduk lalu matanya memandang ke segala arah. Kemudian gadis itu meringis pelan.

"Ya ampun Winter, kenapa kau bisa lupa. Dasar bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri setelah ingat ia meninggalkan kopernya dalam bus yang tadi ia naiki.

"Masih di bus tadi. Aku lupa bawah turun." Mimi menjatuhkan rahangnya. Winter benar-benar sesuatu. Sampai barang pentingnya saja dia lupa ambil.

"Tapi bus tadi pasti sudah pergi Winter, kenapa kamu sampai lupa barang penting milikmu sih. Bagaimana sekarang?" cetus Mimi masih tercengang.

Winter menyengir lebar. .

"Jangan khawatir. Aku akan memberitahu kak Kenny, siapa tahu dia bisa menghubungi sopir bus tadi." katanya santai. Kenny adalah salah satu mahasiswa S2 di kampus mereka. Juga salah satu asisten dosen yang akan bertanggung jawab atas mereka semua beberapa hari kedepan. Winter cukup akrab dengan pria itu. Karena Kenny merupakan sepupu Arga, sahabatnya.

"Kalau begitu telpon sekarang," suruh Mimi langsung. Mau tak mau Winter mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mulai menelpon.

"Bagaimana?" tanya Mimi setelah Winter selesai menelpon.

"Kak Kenny bilang dia akan segera menghubungi sopir busnya sekarang." sahut Winter lalu turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu keluar.

"Kamu mau kemana?"

"Bertemu dengan kak Kenny di lobi." sahut Winter sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu. Mimi mengangkat bahunya kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Di lobi, pandangan Winter berhenti ke sosok laki-laki jangkung yang cukup tampan dengan wajah agak ke bule-bulean didepan sana. Siapa lagi kalau bukan Kenny. Sosok lelaki berkarisma yang termasuk dalam jajaran pria populer kampus. Umurnya dua puluh dua tahun. Orangnya dewasa dan baik hati. Winter menyukai karakter Kenny, terlebih cowok itu lembut pada perempuan.

Winter melihat pria itu mengangkat tangan sebelah ke arahnya dengan sebelah tangan yang lain memegangi ponsel yang menempel di pipinya. Winter berjalan mendekati pria itu.

"Jadi sudah tidak ada barang satupun dalam bus itu? Bapak yakin sudah memeriksa secara detail? Baiklah kalau begitu. Terimakasih atas infonya ya pak." lalu Kenny memutuskan pembicaraan. Pandangannya berpindah ke Winter yang juga tengah menatapnya.

"Tidak ada barang yang tertinggal dalam bus. Kata sopir bus, semua barang-barang sudah dikeluarkan tadi." ujar Kenny. "Kamu yakin meninggalkan kopermu di bus? Atau ada temanmu yang membantu mengeluarkan? Coba diingat-ingat lagi." kata pria itu lagi. Winter tampak berpikir. Gadis itu tetap tenang, tidak seperti kebanyakan orang yang akan panik saat kehilangan barang. Lagipula memang tidak ada barang berharga dalam kopernya. Kebanyakan hanya baju saja. Bisa dibeli ulang kalau hilang.

Tiba-tiba Winter teringat Daffin. Apa cowok itu yang mengeluarkan kopernya? Tadi kan dia yang membantu memasukan kopernya ke dalam bus. Bisa jadi. Astaga, kalau benar, artinya dia akan berhadapan lagi dengan pria itu. Dia kan malu. Ya ampun, Winter makin yakin. Kopernya pasti ada dengan Daffin.

"Winter, Winter?" Kenny memanggil-manggil gadis itu. Merasa heran karena melihat perubahan ekspresinya.

"Kenapa?" tanyanya saat Winter bergeming dan menoleh padanya. Gadis itu  tersenyum dan menggeleng cepat.

"Tidak apa-apa. Aku ingat sekarang. Mungkin koperku ada pada temanku, hanya saja aku lupa tadi. Maaf sudah merepotkan kak Kenny," katanya kemudian. Ia tersenyum tidak enak pada Kenny. Merasa sangat merepotkan pria itu. Tapi Kenny yang pada dasarnya memang tipe cowok baik hati, hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa. Itu kewajibanku. Kalau begitu sudah tidak ada masalah lagi kan?" balas pria itu sekaligus bertanya. Winter mengangguk.

"Sekali lagi maaf ya kak," katanya lagi.

Kenny memegangi kepalanya dan tersenyum lagi.

"Iya Winter. Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu ya. Jangan lupa sejam lagi berkumpul di restoran sebelah. Semua akan makan malam bersama di sana." ucap Kenny. Winter langsung mengangguk dengan senyuman lebar.

Dia suka dengan karakter sepupunya Arga ini. Orangnya sangat baik dan dewasa. Suka menolong dan tidak banyak mengeluh. Winter cukup dekat dengannya, ia menganggap Kenny adalah sosok kakak yang baik. 

Sepeninggalnya Kenny, gadis itu langsung pergi ke resepsionis. Ia bertanya kalau-kalau ada yang menitipkan koper atas namanya tapi ternyata tidak ada.

"Maaf nona, apakah nama anda Winter?" tanya sih resepsionis berwajah ramah itu. Winter mengangguk. Lalu sih resepsionis menyodorkan sebuah kertas kedepannya. Terang saja Winter merasa bingung.

"Ini apa mbak?" tanyanya.

"Ah, tadi ada seorang pria seumuran anda yang menyerahkan kertas ini. Katanya kalau ada perempuan bernama Winter menanyakan kopernya, berikan saja kertas ini." jelas sih resepsionis. Walau agak bingung, Winter tetap mengambil kertas tersebut.

"Makasih ya mbak," ucapnya. Setelah itu berbalik pergi dari situ. Iya tidak enak karena ada beberapa pelanggan yang antri di belakang, buat check in.

Winter berhenti sebentar di sisi sofa. Kemudian membuka kertas tersebut dan membaca catatan yang tertulis di dalamnya.

"Kopermu ada padaku. Datang ambil sendiri. Kamar nomor 380." Deg. Winter merasa gugup sehabis membaca catatan tersebut. Memang tidak ada nama yang tertulis dibawahnya itu catatan dari siapa. Tapi Winter tahu jelas itu siapa. Ia bahkan bisa mengenal Daffin dari cara menulisnya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya lirih. Walau ia berusaha keras ingin bersembunyi dari Daffin, sepertinya takdir mengatakan lain. Karena entah bagaimana dia secara kebetulan terus terlibat dengan pria itu. Secara langsung. Dan itu membuatnya merasa sangat canggung.

Kau harus kuat Winter, harus kuat. Sudah lama kau menantikan bisa melihatnya dari jarak dekat. Ini adalah kesempatan. Winter menarik napas dalam-dalam. Setelah mengambil keputusan untuk mengambil kopernya, Winter masuk ke lift menuju lantai sepuluh dengan memberanikan diri. Pokoknya dia harus terlihat biasa saja didepan Daffin. Seperti tidak ada yang terjadi.

Winter menghembuskan napas panjang ketika dirinya sampai didepan pintu kamar nomor 380, Setelah di rasa siap, gadis itu lalu mengetuk.

Terpopuler

Comments

Lovey

Lovey

datang ambil sendiri kata Daffin. wkwk 🤣

2023-07-19

0

Lovey

Lovey

Santai banget. Kalo aku pasti udah panik koper nggak ada🤔

2023-07-19

0

Lovey

Lovey

Ada sama Daffin

2023-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!