Bab 14

Selepas kepergian Daffin dan mamanya, Winter baru keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis itu melangkah ke tempat mama dan anak itu berdiri tadi. Menatap langit-langit malam sambil melamun. Raut wajahnya tampak sedih. Ia merasa bersalah.

Semua ini gara-gara kamu. Kamu  tidak pantas diampuni Winter.

Gumamnya dalam hati. Winter tidak pernah membayangkan dia telah membuat satu keluarga hancur karena dirinya. Seandainya dirinya bisa kembali ke masa lalu, dia akan berusaha mengembalikan semuanya ke tempat semula. Sayangnya tidak bisa. Winter menarik menghembuskan napas panjang lalu kembali mengingat pembicaraan Daffin dan mamanya tadi.

"Empat puluh juta," gumamnya sambil berpikir. Mika membutuhkan biaya pengobatan sebesar empat puluh juta dalam tiga hari. Daffin pasti akan kesulitan mencari uang dengan jangka waktu secepat itu. Jadi Winter harus membantu pria itu.  Bagaimana pun caranya, dia akan berusaha sekeras mungkin. Karena apa yang terjadi pada Mika adalah tanggung jawabnya juga. Kemudian gadis itu pergi meninggalkan rumah sakit.

\*\*\*

"Bagaimana kondisi adikku?" Daffin menatap perawat yang biasa merawat Mika. Matanya terus menatap sang adik yang tampak lelap dalam tidurnya. Pria itu tersenyum.

"Habis minum obat tadi, adik anda langsung ketiduran." ucap perawat perempuan bernama Sisi. Sosok wanita yang bicara dengan Winter ditelpon tadi.

Daffin mengangguk-angguk sambil terus menatap Mika.

"Kalau ada apa-apa langsung telpon aku." katanya lagi. Kali ini bersiap pergi. Sisi mengangguk dan menatap laki-laki tampan dengan sejuta pesona tersebut meninggalkan ruangan tersebut.

Tiap kali melihat Daffin, Sisi langsung mengerti kenapa waktu awal-awal menjadi perawat Mika, Winter tiba-tiba datang dan mengajaknya kerjasama. Pasti karena gadis itu ingin mengejar kakaknya Mika. Winter menyukai Daffin, jadi masuk akal kalau dia mau membantu adik  pria itu diam-diam. Itulah yang ada dalam pikiran Sisi.

Sisi memang pernah menolak permintaan Winter, namun melihat betapa tulusnya niat gadis itu, Sisi jadi tersentuh. Bahkan sekarang sudah masuk tahun ketiga, dan Winter tidak pernah lelah. Gadis itu selalu sigap di saat ada keadaan kritis yang terjadi. Tentu saja itu semua dia lakukan secara diam-diam, tak ada siapapun yang tahu terkecuali Sisi.

Namun Sisi hanya tahu Winter melakukan itu semua karena menyukai Daffin, alasan lain dibalik itu ia tidak pernah tahu. Juga tidak mau ikut campur.

Saat Daffin sampai di rumah, hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa keadaan mamanya. Apakah wanita tua itu baik-baik saja, atau sedang menangis sendirian. Daffin melakukan itu karena ia pernah mendapati beberapa kali mamanya menangis sendirian. Anak mata yang tidak sedih coba melihat mamanya sedih.

Namun pria itu menarik napas lega ketika mendapati mamanya tertidur pulas. Ia pun beranjak naik ke kamar di lantai dua. Daffin melangkah sambil mengamati setiap ruangan yang ia lewati. Kenangan lama lalu terlintas dalam benaknya.

Dulu sebelum Mika kecelakaan keluarga mereka masih utuh. Rumah ini ramai dengan suara tawa Mika saat sedang bercanda dengan para pembantu. Ya, dulu pembantu mereka cukup banyak. Mereka bukanlah keluarga pas-pasan. Perusahaan papanya termasuk salah satu perusahaan terbesar di negara itu. Daffin dan Mika pun hidup dengan baik tanpa takut akan kehabisan uang.

Tapi itu dulu, sebelum semua peristiwa menyedihkan itu terjadi. Mika kecelakaan, dan papanya ketahuan selingkuh. Peristiwa itu menghancurkan Daffin, tapi dia tahu yang paling hancur adalah mamanya. Itu pasti. Jadi Daffin selalu menyimpan kesedihannya dalam hatinya. Biar dia sendiri yang tahu.

Pria itu tersenyum hambar lalu melanjutkan langkah naik kekamarnya. Begitu kamarnya terbuka, ia duduk bersandar di sofa sambil memijit pelipisnya. Otaknya sudah penuh dengan segala macam tanggung jawab. Bahkan mau pecah rasanya.

Tiga hari, hanya ada waktu tiga hari baginya untuk mencari uang sejumlah empat puluh juta. Darimana ia akan mendapatkan uang itu dalam kurun waktu yang cepat? Harusnya tadi ia tidak bersikap angkuh dan egois ketika papanya datang menawarkan bantuan. Biar bagaimanapun Mika membutuhkan perawatan terbaik.

Uang yang dia hasilkan dari program yang dia buat untuk beberapa perusahaan, sudah terpakai untuk perawatan Mika minggu lalu. Sekarang ada tersiksa lima belas juta ditangannya. Apa yang harus dia lakukan, apa dia harus bekerja? Tapi pekerjaan mana yang akan langsung menghasilkan uang banyak dalam waktu tiga hari? Daffin mendengus, apa-apaan. Pikirannya saat ini betul-betul tidak masuk akal.

Pria itu mendesah berat. Ia memutuskan menghilangkan pikiran-pikiran itu dan istirahat otak sebentar. Lalu ia merogoh ponsel dari sakunya dan melihat-lihat siapa saja yang memanggilnya hari ini. Tidak ada yang penting.

Daffin bersiap meletakkan hapenya di atas meja namun terhenti karena ia tiba-tiba teringat sesuatu. Dibukanya galeri dan langsung muncul gambar dua hari yang lalu ketika dirinya masih berada di Bali. Bukan foto dirinya, tempat-tempat wisata atau foto-foto menarik lainnya, itu adalah foto seorang gadis yang tampak ketakutan. Dillan yang memotretnya. Siapa lagi kalau bukan Winter. Gadis yang baru dia kenal beberapa hari.

Daffin tersenyum. Matanya terus menatap foto Winter dalam galeri hapenya. Dia merasa lucu dengan raut wajah ketakutan Winter. Padahal ular yang gadis itu takuti berada dalam kandang, tidak bisa menyakitinya sama sekali, tapi masih saja takut. Lalu pria itu menggeser galeri lagi dan berhenti masih pada gambar gadis yang sama. Namun kali ini posenya berbeda. Daffin ingat ia memotret diam-diam saat gadis itu sedang ketiduran dalam bus.

Tanpa sadar tangan Daffin terangkat mengusap-usap wajah Winter dalam galeri itu dengan jempolnya. Ia tidak tahu apa yang membuat gadis itu menarik dihatinya. Mungkin karena gadis itu sedikit berbeda dengan kebanyakan wanita lain yang terang-terangan mendekatinya. Setelah ia ingat-ingat, gadis itu malah cenderung ingin menghindarinya. Gadis aneh. Memangnya dia kurang tampan apa?

Daffin lalu tersadar dari lamunannya dan menggeleng-geleng menjernihkan otaknya. Astaga! Ada apa dengannya? Daffin cepat-cepat menaruh hape di meja kecil depan sofa dan masuk ke kamar mandi.

Ia harus menjernihkan pikirannya. Mandi, kemudian tidur. Tapi Daffin tidak memungkiri kalau foto Winter yang dia lihat tadi berhasil membuat pikirannya terasa lebih baik.

Terpopuler

Comments

Intan

Intan

gak enak rasanya sembunyi terus

2023-08-07

0

Lovey

Lovey

Sebenarnya aku nggak kebayang, gadis yang bikin Daffin bahagia ternyata adalah orang yang udah ngehancurin keluarganya dia. Gimana dong🥺

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

pedih banget sih rasanya di posisi Winter

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!