Bab 17

"Susi, kenapa kamu berbohong?"

Susi menundukkan kepala. Merasa takut dan malu. Semua orang dalam ruangan tersebut menatapnya dengan tatapan menyelidik. Apalagi pak Tumnus. Sekarang sudah jelas mereka semua mulai berpikir kalau Daffin ada kemungkinan dijebak seseorang. Jangan-jangan Susi ini berkomplot lagi dengan orang tersebut. Tapi siapa?

"Aku ..." gumam Susi lirih. Matanya sesekali melirik Bian. Tentu saja cowok itu langsung membuang muka darinya.

"Aku tidak bohong pak, memang ada yang memintaku memanggil Daffin. Katanya pak Tumnus yang suruh." gadis itu mulai mengarang cerita.

Daffin tersenyum miring. Mungkin gadis itu bisa dengan mudah membohongi mereka, tapi dia tidak bisa dibohongi sama sekali. Dia tidak bodoh. Dimatanya, jelas-jelas gadis itu sedang berbohong. Tapi Daffin memilih diam. Sikapnya tenang. Bahkan terlalu tenang, sampai-sampai Winter diluar sana yang jadi gigi gatal sendiri.

"Kamu kenal orang yang menyuruh kamu itu siapa?"

"Tidak pak, aku lupa." sahut Susi menundukkan kepala.

"Pak, kenapa jadi bahas yang lain sih? Bukankah kita harus cari tahu siapa pencuri itu?" sela Bian menatap-natap Daffin dengan raut wajah angkuh.

"Tenang Bian, mungkin memang ada yang sengaja menjebak Daffin."

"Menjebak? Huh!" sudah jelas dia orangnya. Siapa yang tahu, bisa saja dia bekerja sama dengan cewek ini. Ngaku kamu!" pandangan Bian sinis ke cewek itu. Susi menaikkan wajahnya dan menatap balik Bian dengan ekspresi seperti terluka. Dan Bian buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.

"Periksa CCTV saja. Biar semuanya jelas. Kampus ini punya cctv di mana-mana bukan? Itu bisa membuktikan aku mencuri koper itu atau tidak." jangan remehkan Daffin. Otaknya cemerlang. Tak sembarangan orang bisa orang bisa berbuat jahat padanya.

Lihat saja sekarang, Susi dan Bian saling bertukar pandang. Bian memang tampak tenang, tapi Susi jelas sekali langsung gelagapan. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah seseorang menelpon Bian.

"Apa, kopernya sudah ditemukan? Di mana? Baiklah, aku akan segera ke sana." lalu pembicaraan Bian dengan seseorang yang entah siapa itu terputus. Ia menatap para dosen bergantian.

"Koper sudah ketemu. Ternyata salah satu anggota BEM yang mengganti tempat penyimpanannya." katanya menjelaskan. Tentunya semua langsung bernapas lega.

Hanya Daffin mendengus dan tersenyum miring. Dasar bodoh. Aktingnya sangat jelas. Daffin tahu Bian sengaja mau menjebaknya. Bukannya menuduh. Memang hanya cowok itu yang tidak suka dan selalu berniat menjatuhkannya selama ini. Bukan tidak mungkin dia menjebaknya.

"Kalau begitu masalah ini sampai di sini saja. Susi, jangan mengulangi kesalahan seperti tadi lagi. Dan Bian, jangan terlalu cepat berspekulasi. Kau tahu tuduhanmu itu bisa menghancurkan nama baik Daffin bukan?"

Bian hanya diam. Tidak merasa bersalah sama sekali. Dia malah marah karena rencananya gagal total. Para dosen sialan, mereka juga malah lebih percaya dan membantu laki-laki brengsek itu. Tunggu saja, dia akan mencari segala cara untuk menghancurkan pria itu.

"Aku pergi dulu," kata Bian kemudian lalu berbalik hendak pergi.

"Tunggu Bian, kamu harus ...,"

"Minta maaflah karena sudah menghina adikku," belum sempat pak Tumnus melanjutkan kalimatnya, Daffin langsung memotong. Suaranya amat tegas, dan penuh tekanan.

Ia menatap Bian tajam. Tidak peduli nama baiknya rusak karena sesuatu yang tidak ia lakukan sama sekali. Tapi jika ada yang berani menghina keluarganya, apalagi mengatakan adiknya cacat, ia tidak akan tinggal diam. Untung mereka ada di ruangan dosen sekarang. Kalau tidak Daffin yakin tangannya sudah melayang di wajah pria sombong itu.

Bian balas menatap Daffin tajam. Sangat tidak bersahabat. Kalau hanya mereka berdua saja jangan harap ia akan minta maaf.

"Maaf," katanya dengan nada yang sangat tidak tulus. Daffin tersenyum remeh.

"Minta maaf yang benar, Bian" ujar sih dosen perempuan. Dia yang paling menyukai Daffin, karena selain pintar, Daffin keliatan sekali sosok yang mau berusaha keras dengan kekuatannnya sendiri.

Bian mengembuskan nafas kesal. Dosen sialan. Pria itu berusaha keras menahan diri agar tidak menyumpah serapah dosen itu dihadapan mereka semua.

"Maaf, aku sudah menuduh dan menghina adikmu. Lain kali tidak akan kulakukan lagi." katanya kemudian lalu beranjak keluar dari ruangan itu diikuti Susi dari belakangnya. Dalam hati Bian merasa terhina. Tidak pernah seorang Bian minta maaf dan dikalahkan sebelumnya. Lihat saja nanti, ia pasti akan membalas sakit hatinya berkali-kali lipat.

"Daffin, namamu sudah bersih. Tidak perlu khawatir lagi." ucap pak Tumnus, dosen pembimbing Daffin. Pria itu mengangguk kemudian pamit keluar.

Saat ia hendak meninggalkan tempat itu, langkahnya terhenti sesaat. Ia melirik ke arah kanan dan melihat sosok gadis yang dia kenal tengah berceloteh tanpa suara sambil menghadap depan. Ketika Daffin menatap kedepan, tidak ada siapa-siapa. Jadi kenapa gadis itu terus berceloteh bahkan sesekali mencibir ke orang yang entah siapa itu?

Bahkan saking asyiknya dengan kesibukannya sendiri, gadis itu sampai-sampai tidak menyadari ada yang tengah memperhatikannya. Daffin pun mendekatinya dan membungkuk menyamakan tinggi badan mereka lalu berbisik pelan ditelinga gadis itu.

"Sampai kapan kau akan bersikap seperti orang gila di sini?"

Winter terlonjak kaget dan hampir melompat mendengar suara Daffin. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya. Astaga, Winter! Lagi-lagi kau berbuat konyol didepan pria idamanmu.

Salahkan Bian. Saking emosinya ke ketua BEM yang belagu itu, Winter terus-terusan menyumpahinya dari belakang. Saat Bian keluar dari ruang dosen tadi, pandangan Winter terus menatap Bian dengan horor. Cowok itu tidak menyadari keberadaannya karena tidak menoleh kearahnya sedikitpun. Bahkan gadis itu terus berceloteh kesal meski Bian sudah tidak terlihat di depan pandangannya lagi. Itu sampai tidak menyadari keberadaan Daffin.

"Hehe, hai ..." Winter menatap lelaki itu menyengir canggung sekaligus malu. Gayanya seperti orang yang tertangkap basah. Daffin terus menatapnya dengan alis naik turun, kedua tangan terlipat di dada. Menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu kemudian terus menatap Winter lekat-lekat. Winter memutar otaknya mencari alasan.

"Mm, a ..."

"Winter? Kebetulan sekali. Kau mau memasukkan tugas kan? Sekalian bawa buku teman-temanmu yang sudah ibu periksa." ujar sih dosen wanita yang dipanggil bu Wiwit oleh para mahasiswa.

Winter bernapas lega. Bu Wiwit benar-benar adalah penyelamatnya. Kalau tidak ia tidak tahu lagi mau beralasan apa.

"Daffin, kamu dan Winter saling kenal?" kali ini pandangan bu Wiwit berpindah ke Daffin.

"Iya.

"Tidak.

ujar keduanya bersamaan. Bu Wiwit sampai merasa heran. Karena Daffin bilang iya, sedang Winter malah menjawab tidak. Sebenarnya mana yang benar sih?

Terpopuler

Comments

Lovey

Lovey

next thor

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

💪💪💪💪💪

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!