Mereka akan study tour ke Bali. Awalnya mendengar tempat study tour mereka, Daffin sebenarnya ingin menolak. Terlalu jauh. Tapi akhirnya tidak jadi. Ia memutuskan untuk ikut. Dua hari di sana masih cukup. Adiknya ada mamanya yang lihat juga perawat yang mereka bayar. Total pergi balik pakai pesawat dan kendaraan mungkin akan memakan waktu tiga hari dua malam. Tidak terlalu lama. Lagipula dia juga sudah lama tidak ikut serta dalam tiap kegiatan kampus.
Beberapa tahun ini hidupnya terlalu serius. Bahkan bergaul saja sepertinya sangat sulit untuk dia. Hidupnya terlalu serius. Dia butuh refeshing. Dan disinilah cowok itu sekarang. Depan jurusan Sastra, menunggu semua orang terkumpul sebelum melanjutkan perjalanan panjang mereka. Mereka disuruh kumpul di jurusan itu kemarin. Karena lokasi bus yang akan mengantar mereka ke bandara berada dekat jurusan tersebut.
Para cewek jurusan Sastra langsung berbisik-bisik kegirangan saat Daffin muncul. Auranya sangat kuat. Banyak mata tertuju padanya, hanya saja Daffin terlalu cuek. Sedikit senyum pada mereka pun tidak. Ia memilih berdiri sendirian dekat pot bunga besar dekat tangga dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Dia Daffin kan? Astaga, tampannya! Aku ingin punya pacar setampan dia!"
"Aku juga."
"Dia jauh lebih tampan dari dekat. Nanti aku akan meminta berfoto bersama dengannya."
"Tapi dengar-dengar dia punya tidak pernah mau ikutan kegiatan-kegiataan yang diselenggarakan sama pihak kampus, kenapa hari ini dia ada?"
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Kan malah bagus cowok populer sekelas Daffin ikut, biar kita-kita bisa sekalian cuci mata."
begitulah bisikan-bisikan yang terdengar dari mulut para cewek jurusan Sastra. Daffin bahkan bisa mendengar perkataan mereka. Tapi Daffin tidak merasa senang sama sekali. Ia tidak pernah suka orang-orang membicarakan dirinya. Mau itu memuji atau tidak, sama saja. Itu juga salah satu penyebab yang menjadi alasan dirinya jarang ikut kegiatan beginian, karena lebih banyak gosip daripada menimbah ilmu.
Daffin berusaha menahan diri saat di perhatikan dan digosipkan oleh orang-orang tak ada kerjaan itu. Dalam hati ia berharap mereka cepat berangkat. Tapi bagaimana mau berangkat coba kalau masih banyak yang belum datang. Sepertinya dia yang terlalu cepat datangnya. Ia jadi menyesal. Mana sih Dillan belum muncul-muncul juga.
Tiba-tiba seseorang berjalan melewatinya. Awalnya Daffin sama sekali tidak peduli, tapi entah kenapa pandangannya secara refleks mengikuti sih cewek yang barusan melewatinya. Mengamatinya dari belakang.
Rambut panjang lurus pakai topi dan pakaiannya yang serba hitam-hitam membuat Daffin merasa gadis itu cukup familiar. Ia belum bisa melihat rupanya karena gadis itu berjalan membelakanginya. Gadis itu berhenti di perkumpulan cewek-cewek yang tukang gosip tadi. Ternyata mereka berteman. Jarak para cewek itu tidak jauh dari tempat Daffin berdiri. Kira-kira enam meter.
Daffin tidak tahu kenapa dengannya, tapi matanya terus memandangi gadis itu, berharap gadis itu akan berbalik hingga dia bisa melihat bagaimana rupanya. Teman-temannya berbincang dengannya, namun kali ini Daffin tidak dengar apa yang mereka bilang. Dia terlalu fokus ingin tahu rupa gadis serba hitam itu. Lalu tak lama setelah itu, gadis itu memiringkan wajah dan menoleh ke arah mereka.
Benar firasat Daffin. Gadis itu adalah sih gadis aneh yang memberinya kesan di hari pertama mereka bertemu. Sih pencuri payung. Ternyata mereka satu kampus, kebetulan sekali. Sudut bibirnya melengkung, dimata orang lain lebih terlihat seperti mencibir.
Tatapan mereka bertemu. Dan Daffin tertawa dalam hati ketika melihat mata gadis itu melotot lebar saat menyadari keberadaannya. Wajahnya berubah merah padam. Jelas sekali ia kaget bukan main melihat Daffin. Cukup lama keduanya saling menatap sampai gadis itu membuang wajahnya ke arah lain. Tidak sanggup menatap Daffin lama-lama. Tak lama kemudian Daffin melihat gadis itu siap-siap mau pergi.
"Win, mau kemana? Di sini aja, sebentar lagi kita sudah mau berangkat ke bandara." tahan Mimi.
Win? Wina? Widya? Wiwit? Daffin berujar dalam hati, mencoba menyambungkan nama yang mungkin bisa menjadi nama gadis itu. Daffin bahkan tidak sadar Dillan sudah berdiri disebelahnya. Saking terlalu fokus dengan pikirannya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Dillan mengikuti arah pandangan Daffin.
"Tidak ada," balas Daffin cepat-cepat mengalihkan pandangannya dari Winter. Meski tidak seratus persen. Dia masih memperhatikan gadis itu sekali-kali dari sudut matanya.
"A ... Apa aku bisa membatalkan keberangkatan? Tiba-tiba aku ingat ada sesuatu yang harus kulakukan," ujar Winter beralasan.
"Apaan sih Win, lupakan dulu urusanmu yang lain. Sekarang fokus dulu ke kegiatan kampus kita. Tiga hari doang kok." kata Mimi.
"Iya, Mimi benar," timpal Iren, sih cewek berambut sebahu. Winter jadi merasa tidak enak. Alasannya ingin pergi memang karena dia melihat seseorang yang harusnya dia hindari.
Daffin. Kenapa pria itu ada di sini? Dan ... Ya ampun, Daffin sudah melihatnya. Cowok itu pasti masih mengenalinya, karena cowok itu terus menatapnya tadi. Dia dikenal sebagai sih pencuri payung oleh lelaki itu. Rusak sudah imagenya dihadapan Daffin.
"Ah, ternyata tuh cewek ikut," ucap Dillan pelan. Pandangannya lurus ke depan sana. Saat Daffin mengikuti arah pandang Dillan, cowok itu sadar Dillan sedang menatap gadis yang sama dengan yang ditatapnya tadi. Sih pencuri payung.
"Siapa?" tanya Daffin ingin memastikan apakah maksud Dillan memang gadis itu, dan laki-laki itu kenal atau tidak. Kalau kenal, mungkin dirinya bisa dapat sedikit informasi karena dia merasa penasaran. Pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan terhadap Daffin. Ia jadi ingin tahu tentang gadis itu.
"Tuh, cewek yang pake topi." kata Dillan pelan tidak menunjuk karena perhatian cewek-cewek di sana sedang tertuju ke mereka. Hanya Winter saja yang tidak. Karena gadis itu lebih fokus bagaimana caranya menghilang dari sini.
"Winter Zuri. Cewek yang pernah Bian tembak waktu ospek. Kau tidak ingat? Itu hari yang bersejarah karena dia menolak Bian sih mantan ketua BEM itu mentah-mentah. Alasannya kau tahu? Dia bilang karena lubang hidung Bian terlalu besar, dia tidak suka." Daffin hampir tidak bisa menahan tawanya mendengar kalimat terakhir Dillan.
"Mungkin sih Bian masih sakit hati padanya sampai sekarang, karena kata-katanya." kali seulas senyum terukir di sudut bibir Daffin. Gadis itu benar-benar sesuatu. Ternyata namanya Winter. Bukan satupun yang dia pikirkan tadi. Raut wajah Daffin kembali datar saat salah satu asisten dosen berdiri didepan mereka semua. Memberi arahan.
"Semuanya dengar, ada empat bus yang siap mengantar kalian ke bandara. Kalian bebas naik bus yang mana. Ayo naik sekarang, kita akan segera berangkat!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Jnadi
kenapa?
2023-08-05
0
Jnadi
kepo banget sih
2023-08-05
0
Rita
takdir dr othornya mulai mempertemukan kalian😊
2023-07-20
0