Bab 4

"Apa katamu?  Kau mencuri payung dan ternyata pemilik payung itu Daffin? Bwahahahah ... Konyol, konyol sekali Winter. Aku tidak menyangka hal memalukan seperti itu akan terjadi padamu. Pftttt ...."

Arga terus-terusan menertawai Winter selesai gadis itu bercerita padanya tentang kejadian memalukan tadi siang. Tentu saja Winter malu. Seumur hidup, baru kali ini ia merasakan rasa malu yang ingin membuatnya menghilang saja dari dunia ini.

Malah Arga menertawai dan meledeknya habis-habisan lagi. Ya ampun, mau taruh di mana mukanya coba.

"Aku berharap Daffin segera lupa seperti apa bentuk wajahku," kata Winter penuh harap.

"Hey, berhenti tertawa. Kau pikir itu lucu? Tertawa di atas penderitaan sahabatmu sendiri!" jengkel Winter memandangi Arga. Cowok itu malah mengangguk-angguk masih menertawainya. Arga  bisa membayangkan betapa konyolnya kejadian sore tadi. Pertemuan pertama Winter dan Daffin yang sangat konyol.

"Jujurlah, kau pasti senang bertemu langsung dengannya bukan?" ujar Arga kemudian, setelah tawanya reda.  Winter mencebik.

"Senang apanya. Kau tahu aku tidak pernah berharap lebih padanya kan? Aku lebih nyaman melihatnya dari kejauhan,"

"Ya, ya, seperti penguntit."

"Arga!" Winter langsung melemparinya dengan bantal sofa.

"Memang kenyataan kan? Kau selalu mengikuti pria itu diam-diam persis seperti penguntit. Winter, dengar. Aku pikir bertemu secara tidak langsung dengannya tadi adalah hal yang baik. Kamu bisa menggunakan kesempatan itu untuk membuat seorang laki-laki cuek sepertinya melihatmu."

Winter menarik napas panjang. Dia tidak yakin.

"Aku tidak percaya diri. Kamu tahu sendiri Daffin sangat cuek pada semua orang selain orang-orang yang dekat dengannya. Sekarang dia pasti hanya menganggapku seorang pencuri. Aku mungkin sangat rendah dimatanya." ucap Winter tak percaya diri.

"Coba saja dulu. Rajin-rajin menampakan diri didepannya. Gadis seperti kamu punya daya tarik yang kuat, aku yakin cowok-cowok pasti gampang jatuh cinta padamu. Buktinya banyak cowok-cowok di kampus kita yang berusaha dilihat sama kamu kan?"

"Hushh ... Daffin berbeda. Jangan samain dia dengan cowok-cowok di luar sana. Mereka sangat berbeda. Jelas sekali perbedaannya."

Arga menatap Winter dengan tatapan tercengang. Gadis ini benar-benar sudah sangat tergila-gila pada Daffin. Cinta yang dia dan Winter jelas tahu sangat sulit terjadi. Mereka tidak mungkin bersatu. Karena ...

Arga merasa kasihan pada Winter. Ia masih tidak menyangka rasa bersalah di awal perlahan-lahan berubah menjadi cinta, dan cinta itu tumbuh makin besar di hati Winter. Sebagai sahabat yang tahu semua rahasia Winter, Arga jelas tahu perasaan Winter pada lelaki itu. Kakak dari seorang gadis manis yang hidupnya hancur karena Winter.

Arga mendesah berat. Di satu sisi, Winter memang salah karena telah menyebabkan kecelakaan fatal itu dan melarikan diri karena waktu itu Winter masih terlalu muda dan sangat ketakutan, makannya tidak bisa berpikir jernih, lebih memilih untuk kabur. Tapi di sisi lain, Arga tahu pengorbanan seperti apa yang sudah Winter lakukan untuk menebus semua kesalahannya.

Itu sebabnya Arga ingin Daffin bisa melihat Winter. Mengenali keseluruhan kepribadian gadis itu, sehingga nanti ketika Daffin mengetahui semua rahasia Winter, ia bisa mengerti dan mengampuni gadis itu. Setidaknya itulah yang dipikirkan Arga sekarang.

"Winter, bunga yang mama pesenin tadi siang kamu beli nggak?" suara mama Winter yang muncul dari dapur menghentikan pembicaraan Arga dan gadis itu.

"Ada ma, udah aku taruh di taman depan." sahut Winter.

"Eh ada Arga,"

"Halo tante."

"Lagi ngomongin apa kalian? Dari tadi tante dengar kayaknya seru banget."

"Biasa tan, sih Winter dan kekonyolannya." Winter langsung berubah jengkel menatap Arga. Dasar cowok ini. Ember sekali. Tuhkan lihat, mamanya malah ikut tertawa.

"Ma, kok papa belum pulang sih?" tanya Winter mengalihkan pembicaraan. Tapi memang dia lagi perlu sama papanya. Uangnya sudah hampir habis. Dia perlu minta uang lagi. Akhir-akhir ini kan dia banyak sekali kebutuhan.

"Papa kamu lagi sibuk dikantor anak mama sayang. Emangnya kenapa? Tumben banget kamu cari papa kamu." Winter menyengir lebar.

"Biasa ma, papa kan ATM berjalan."

mamanya menggeleng-geleng.

"Kamu tuh ya, kalo butuh uang aja baru cari papa kamu. Ckck,"

                                 ***

"Winter, kamu udah dengar belum? Jurusan kita bakalan study tour bareng jurusan komputer. Beruntung banget kita bisa bareng-bareng sama anak-anak dari jurusan terkenal itu. Mana cowoknya ganteng-ganteng semua lagi." seru Mimi gembira. Tapi Winter malah tidak meresponnya sama sekali. Gadis itu sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan mungkin perkataan Mimi tidak sampai ke otaknya.

"Winter, kamu dengar aku nggak sih?" seru Mimi lagi. Winter baru bergeming.

"Hm?" ujarnya bingung.

"Tahu ah, mending aku ngomong sama yang lain aja. Kamunya nggak asyik." kata Mimi jengkel. Ia lalu berpindah ke teman-teman kelas lainnya yang tengah berkelompok dan membahas hal yang sama. Mereka semua tentu saja terlihat sangat antusias.

Berbanding terbalik dengan Winter yang sebenarnya masih memikirkan kejadian memalukan kemarin. Gadis itu meringis pelan tiap kali mengingat kejadian memalukan itu. Tapi Daffin memang sangat tampan. Tanpa sadar gadis itu tersenyum. Bahagia sekali rasanya melihat Daffin yang ketampanannya jauh di atas rata-rata.

Winter memang selalu membayangkan dan tak jarang berkhayak tentang hubungannya dengan laki-laki tampan itu. Meski hanya dalam angan, karena ia takut berharap. Ia tahu kenyataan takkan pernah seindah mimpi.

Kesalahan yang ia lakukan sangat berat. Winter telah menghancurkan kehidupan seseorang yang paling disayangi pria itu. Dan dia tidak berhak berharap bersama dengan laki-laki hebat seperti Daffin. Namun satu hal yang Winter tahu, dia akan berjuang keras untuk membalas semua kesalahannya di masa lalu.

Meski dia tahu, dirinya adalah manusia paling brengsek di dunia ini. Yang tidak pernah berani bertanggung jawab dengan menyerahkan dirinya ke polisi, tidak berani mengambil resiko karena takut akan menyakiti hati orangtuanya dan menghancurkan mereka, Winter bersumpah akan membalas kesalahannya dengan cara yang lain. Bahkan seluruh dirinya sanggup dia berikan jika itu memang perlu.

Bunyi dering hape menyadarkan Winter. Ia merogoh benda pipih miliknya dari tas. Gadis itu cepat-cepat mengangkat ketika melihat siapa yang memanggilnya.

"Bagaimana? Ada kabar baru?"

"Ada, tapi bukan kabar baik. Kau mau dengar atau ...?"

"Katakan,"

"Dokter itu sudah pensiun, sekarang dia sedang berlibur ke luar negeri dengan keluarganya. Aku juga mendengar dia tidak akan melakukan  operasi lagi."

Winter menutup telpon dan mendesah berat. Usahanya selama beberapa bulan ini belum ada yang membuahkan hasil. Kasihan, kasihan sekali. Ternyata mencari seorang dokter ahli itu memang sangat sulit. Mana uangnya hampir habis lagi.

"Winter, yuk!" Mimi kembali setelah puas bergosip. Winter menatapnya bingung.

"Kemana?" tanyanya.

"Aula, jurusan yang mau ikut study tour katanya berkumpul di aula dulu. Ayo," sahut Mimi lalu menarik tangan Winter keluar.

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

hmmm

2024-11-13

0

Rita

Rita

maaf keinginan mu tdk terkabul mlh terbalik

2024-11-13

0

Rita

Rita

diketawain pula gondok ngga tuh

2024-11-13

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!