Mereka semua sudah berada dalam pesawat. Meski mahal, namun lebih praktis, efisien dan lebih cepat sampainya naik pesawat. Pesawat yang dinaiki rombongan mahasiswa itu akhirnya bisa mendarat dengan mulus di bandara Bali. Jika di total keseluruhan mulai dari check ini, boarding pass, take off, flying dan landing, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam 30 menit perjalanan mereka dari Jakarta sampai menginjak tanah Bali.
Setelah mengambil koper dan barang-barang mereka, rombongan yang di total-total ada sekitar enam puluh orang itu segera berjalan ke arah depan terminal. Di sana sudah ada enam bus besar yang menanti kedatangan mereka. Mereka lalu masuk satu persatu. Semuanya sudah dewasa, jadi tidak perlu di jaga ketat oleh dosen ataupun asisten yang bertanggung jawab. Toh mereka tidak mungkin bisa hilang. Apalagi di jaman teknologi yang makin berkembang ini.
Winter merasakan seseorang merebut koper dari tangannya. Awalnya ia kaget dan berpikir kalau ada pencuri yang nekat mencuri di bus itu, ternyata oh ternyata. Ia malah kaget melebihi melihat seorang pencuri. Karena orang yang merebut koper dari tangannya adalah Daffin.
Deg deg ...
Gadis itu mematung di tempatnya. Ia tidak bergeming bahkan membiarkan orang lain yang berdesak-desakan masuk mendorongnya. Untung ada Daffin yang refleks menahannya jadi dia tidak sampai terjatuh.
"Cepat masuk, kopermu tidak akan hilang di tanganku." ujar lelaki itu lalu berjalan ke bagian belakang bus untuk memasukan koper miliknya dan Winter.
Daffin bukannya mau merebut koper Winter, tapi ia tidak tahan melihat gadis itu tampak kesulitan membawa kopernya dan akhirnya memutuskan untuk membantu. Ia juga tidak tahu kenapa dengannya, ketika melihat gadis itu kesulitan, tubuhnya secara refleks mendatangi gadis itu dan mengambil alih koper yang ia pegang.
Winter tentu saja harus mati-matian menahan rasa gugupnya yang makin menjadi-jadi. Ya Tuhan, Daffin bicara padanya. Suaranya itu loh ... Gadis itu merasa sangat senang tapi berusaha menahan diri agar terlihat biasa saja. Mereka sudah berada dalam bus.
Winter baru sadar ternyata yang ada dalam bus ini kebanyakan adalah orang-orang yang tidak dia kenal. Dia tidak melihat Mimi, Iren dan teman-temannya yang lain. Pasti rata-rata yang ada dalam bus ini adalah anak-anak jurusan komputer. Ya ampun, kenapa dia tidak perhatikan tadi? Jadi canggung begini kan jadinya. Apalagi yang duduk di sebelahnya adalah cewek yang gayanya amat cuek dan terlihat angkuh. Cewek itu sepertinya memang tidak berniat bicara padanya, bahkan ketika Winter tersenyum, ia tidak balas tersenyum, malah terkesan sinis. Jadi Winter merasa keadaan di antara mereka makin canggung. Dia berharap bus cepat berjalan dan mereka cepat sampai ke hotel agar kecanggungan ini akan segera berakhir.
"Daffin, di sini!" seru salah satu cowok yang duduk di jok kursi bagian kiri Winter. Winter menutup matanya dalam-dalam mendengar nama Daffin di sebut. Kenapa cowok disebelahnya panggil-panggil Daffin sih. Kalau Daffin datang kan jarak tempat duduk mereka akan sejajar, walau berjarak sekitar satu meter tetap saja mereka bisa saling melihat. Ckck, bukannya Winter tidak suka melihat Daffin. Dia malu. Apalagi mengingat pertemuan pertama mereka yang sangat memalukan itu.
Daffin berhenti sebentar diruang kosong jarak antara jok bagian kanan dan kiri. Pandangannya turun ke samping kanan, melirik Winter dengan tatapan datarnya. Tak ada senyum. Semua orang jurusan komputer juga tahu kalau Daffin adalah sosok yang sangat kaku dan dingin, jarang sekali tersenyum. Raut wajahnya selalu serius. Dan Winter sendiri sudah tahu itu sejak lama. Jadi ia tidak heran lagi.
"Hai Daff," sapa cewek yang duduk disamping Winter. Cewek yang dari tadi wajahnya selalu sinis itu langsung berubah bahagia seketika saat melihat Daffin. Jelas sekali dimatanya dia menyukai Daffin. Winter merasa agak jengkel dalam hati. Memangnya susah ya ramah sama orang asing sepertinya. Biar bagaimanapun kan mereka satu kampus, walau beda jurusan.
Daffin tidak balas menyapa gadis yang duduk di sebelah Winter yang entah namanya siapa itu. Hanya tersenyum tipis, sangat tipis sehingga orang yang tidak memperhatikan akan mengira cowok itu tidak tersenyum sama sekali.
"Aku senang kamu ikut, lebih seru." katanya lagi. Winter yang berada di tengah-tengah mereka memilih menutup matanya, daripada lebih canggung nanti. Ia tidak tahu kalau Daffin kembali menatapnya, cukup lama sebelum duduk di sudut kiri samping cowok di sebelah Winter yang memanggil nama cowok itu tadi. Meski menutup mata, Winter masih tetap mendengar suara-suara yang bicara dari arah belakangnya.
"Lira, kamu harus gunakan kesempatan baik-baik di sini buat deketin Daffin." bisik salah satu cewek yang duduk di kursi belakang. Suara bisikannya cukup kuat hingga Winter bisa dengar.
Oh, jadi nama cewek sinis itu Lira. Ternyata dia suka Daffin juga.
"Dillan ke mana?" kali ini Winter mendengar cowok disebelahnya bertanya. Pasti pada Daffin.
"Di bus sebelah," benar. Itu suara Daffin. Suara berat namun begitu enak ditelinga. Winter tersenyum sambil terus menutup mata sampai akhirnya gadis itu malah ketiduran. Capek juga berjam-jam duduk di pesawat.
"Tuh cewek anak Sastra kan?" Sion di sebelah Daffin menunjuk Winter yang sudah berada di alam mimpinya. Daffin ikut menatap gadis itu. Sudut bibirnya kembali berkedut. Tidurnya benar-benar pulas, seperti bus ini adalah kamarnya sendiri. Tidak peduli dengan penampilannya. Tapi dimata Daffin gadis itu lebih cantik ketika tidur, membuatnya makin tertarik memperhatikan.
"Dia kayak terdampar di sini, anak komputer semua." gelak Sion kemudian. "Malah tidur lagi, padahal busnya belum jalan," tambahnya.
Sementara itu Lira tanpa sengaja melihat Daffin yang diam-diam memperhatikan cewek disebelahnya. Sudah dua kali ini ia lihat Daffin bersikap tidak seperti biasa. Biasanya kan cowok itu tidak pernah peduli pada perempuan, apalagi bicara duluan. Tapi tadi, Lira melihat cowok itu mengambil koper cewek ini dan bicara padanya. Memang Lira tidak dengar cowok itu bicara apa, tapi hal itu adalah peristiwa yang sangat langka. Dan Lira jelas tidak suka.
Dia saja yang sudah lebih dari dua tahun ini sekelas dengan Daffin tidak pernah di sapa, apalagi di ajak bicara duluan sama cowok itu. Itu sebabnya Lira bersikap sinis pada gadis ini saat melihatnya duduk disebelahnya. Dia merasa tersaingi. Apalagi penampilan gadis itu biasa sekali, jauh dibawahnya. Sama sekali tidak level.
Pakaian yang dia kenakan keliatan murahan. Lira tersenyum sinis. Dia tidak akan membiarkan gadis rendahan ini merebut miliknya.
Tak lama kemudian bus itu melaju meninggalkan bandara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Jnadi
😑😑😑😑
2023-08-05
0
Jnadi
gak usah khawatir, nggak bakal hilang kayaknya🤪
2023-08-05
0
Lovey
kenapa suaranya? sebagus itu ya?🤪
2023-07-19
0