Bab 15

"Pa, papa lihat perhiasan mama yang papa kasih di ulang tahun pernikahan kita kemaren nggak?" Loly, mama Winter bertanya dengan nada heboh ke suaminya. Itu adalah hadiah pernikahan yang paling dia suka. Jelaslah dia panik saat perhiasan itu hilang.

"Pa, papa dengar mama nggak sih?" ulang Loly dengan mode ngambek karena suaminya lebih fokus menatap tabletnya dibanding sang istri.

"Papa ...,"

"Iya ma, papa dengar. Emang mama taro di mana? Papa nggak liat." Gayan, nama pria paruh baya itu. Suaminya Loly dan papa kandungnya Winter. Lelaki tua tersebut jadi tidak fokus dengan pekerjaannya karena sang istri.

"Mama lupa. Seingat mama di kotak perhiasan doang, tapi pas mama cek ternyata nggak ada."

"Coba mama periksa lagi. Barangkali mama salah taruh."

"Nggak mungkin pa,"

"Cari dulu ma. Masa ada pencuri di rumah kita. Pembantu-pembantu kita nggak akan berani." Gayan berucap dengan yakin. Karena selama ini baru sekarang ada kasus kehilangan barang di rumahnya. Kalau pria tua itu meyakini istrinya salah satu di suatu tempat. Lagian kalau hilang bisa beli lagi. Ia masih punya uang untuk beli. Apa sih yang tidak buat istrinya.

"Mama sama papa kenapa sih udah pada heboh pagi-pagi begini?" ujar Winter dari anak tangga lantai dua, tempat kamarnya berada.

"Tahu tuh mama kamu, lagi cari perhiasannya. Hilang katanya." sahut sang papa. Mendengar itu langkah Winter terhenti di tengah anak tangga.

"Winter, kok bingong? Kamu nggak jadi turun?" Gayan berseru lagi dari bawah karena sang putri malah berbalik dan naik tangga lagi.

"Aku mau ambil hape pa, ketinggalan di kamar!" seru Winter. Papanya berdecak. Anak dan istrinya memang sebelas dua belas anehnya.

"Lihat tuh anak mama, sifatnya persis kayak mama." katanya menatap sang istri.

"Anak papa juga. Udah jangan bahas putri kita dulu, pokoknya perhiasan mama harus ketemu. Kalau nggak mama lapor polisi, titik!"

"Nggak usah berlebihan mama. Bisa beli lagi kan,"

"Tapi beda pa, perhiasan itu mama sayang banget."

"Ya udah, ya udah. Sekarang mama tenang dulu. Nanti papa bantu cari." lelaki dewasa itu berusaha menghibur sang istri. Meski dalam hati ia merasa istrinya terlalu berlebihan.

Sementara itu dikamarnya, Winter terus-terusan menahan napas. Ternyata ia salah ambil. Perhiasan yang dia ambil adalah barang kesukaan mamanya. Ya ampun, mana sudah dia jual lagi. Gadis itu mondar-mandir gelisah. Mudah-mudahan saja dia tidak ketahuan, kalau tidak ia bisa di cincang hidup-hidup sama mamanya.

"Semoga mama nggak tahu kalau aku yang curi perhiasannya. Semoga papa beliin perhiasaan baru buat mama yang lebih bagus. Ya Tuhan, niat aku mencuri demi kebaikan, ampuni aku besok dan seterusnya ya," gumam gadis itu sambil memohon ampun pada sang Mahakuasa atas semua dosa yang sudah dia lakukan.

                                     ***

"Sudah dibayar? Sama siapa? Bisa beritahu saya siapa yang membayar perawatan adik saya?" tanya Daffin. Ia berdiri didepan petugas administrasi rumah sakit itu. Tidak mungkin papanya yang bayarkan?

"Maaf mas, wanita itu tidak mau menyebutkan namanya. Tapi katanya ia memiliki hutang pada adik anda, jadi dia ingin menebusnya dengan memberikan perawatan terbaik untuk adik anda. Dia juga menitipkan ini untuk diberikan ke adik anda." jawab sih petugas administrasi memberikan penjelasan lalu menyodorkan buket bunga mawar kuning ke depan Daffin.

Daffin mengernyitkan dahinya. Wanita? Berarti benar bukan papanya. Ia kemudian mengambil buket bunga di tangan petugas administrasi didepannya kemudian berbalik pergi setelah mengucapkan terimakasih.

Pria itu terus berpikir selama perjalanannya kembali ke ruang perawatan Mika. Pandangannya turun ke bunga mawar kuning ditangannya. Memang ini bukan kali pertama atau kedua kalinya Mika dikirimi bunga tersebut, mawar kuning itu selalu ada tiap minggu. Dan pengirimnya sampai sekarang tidak diketahui siapa.

Sepertinya sosok yang membayar biaya perawatan Mika dan pemberi bunga ini sama. Tapi siapa? Apakah dia benar-benar berhutang pada Mika? Ah sudahlah. Walau tidak sepenuhnya senang ada yang telah membayar perawatan adiknya, Daffin tetap bersyukur. Setidaknya biaya perawatan Mika untuk minggu ini telah terlunasi. Sekarang dia harus memikirkan cara bagaimana mencari uang tambahan untuk minggu depan, minggu depannya lagi, dan begitu seterusnya.

"Daffin? Kebetulan sekali," suara seseorang menghentikan langkah Daffin. Pria itu mengangkat wajahnya dan melihat sosok laki-laki tinggi dengan raut angkuh berdiri didepannya. Bian, ketua BEM di kampus mereka. Laki-laki itu memiliki sifat semena-semena dan tidak suka ada yang menyainginya.

Hubungan Daffin dan Bian kurang baik. Itu dimulai dari Daffin menolak semua permintaan Bian yang memintanya menjadi anggota BEM, dan masih banyak lainnya. Daffin tidak pernah mau terlibat dengan segala macam organisasi maupun kegiatan yang dilakukan Bian.

Semenjak itu Bian merasa Daffin terlalu sombong dan tentu lelaki itu tidak menyukainya. Bian juga iri pada  Daffin yang selalu mendapatkan perhatian dari semua dosen dan para mahasiswa, terutama para gadis. Bian tidak senang melihat saingannya yang mendapatkan terlalu banyak perhatian. Ia sebagai cowok nomor satu di kampus jadi merasa tersisih.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bian basa-basi.

"Bukan urusanmu," balas Daffin datar lalu melanjutkan langkah meninggalkan Bian. Ia selalu bersikap begitu pada rata-rata orang yang tidak akrab dengannya. Dan Bian ini berbeda. Setiap perlakuan acuh tak acuh Daffin padanya dia pupuk dalam hatinya dan perlahan-lahan membangkitkan kebencian yang makin hari kian besar.

Bian merasa Daffin tidak menghargainya sebagai senior. Hah! Dipikir lelaki itu baik-baik saja apa? Bian tersenyum sinis. Tunggu tanggal mainnya, dia tidak akan membiarkan pria itu. Ia akan membuat Daffin tunduk padanya.

"Bian, sudah belum sih?" seru seseorang dari belakang Bian. Seorang cewek berambut ungu dengan tato bulan di lehernya. Mukanya sangar seperti preman. Sebenarnya kalau penampilannya tidak seperti itu, gadis itu akan terlihat cantik.

"Sudah, tunggu di situ sebentar." sahut Bian malas. Ia paling malas berhubungan dengan cewek yang banyak maunya. Apa itu pusing sedikit saja sudah mengadu sakit dan memaksa di anterin ke rumah sakit. Padahal bukan siapa-siapa, sepupu doang.

"Eh, tadi itu Daffin ya? Dia sama siapa ke sini? Apa dia sakit? Aduh kasihan sekali kalau Daffin pujaan hati semua perempuan itu jatuh sakit." perempuan berambut ungu tersebut berseru heboh.

"Daffin, Daffin! Sampai lumutan pun dia tidak akan pernah bicara denganmu. Jadi berhentilah bermimpi." kata Bian berhasil membuat senyum di wajah sepupunya pudar. Ia benci karena semua perempuan malah tergila-gila pada Daffin.

"Bilang saja kamu sirik sama Daffin. Biar bagaimanapun perbandingan dirimu dan Daffin sangat jauh di mataku."  balas cewek bernama asli Nadine itu. Bian tersenyum sinis mendengarnya lalu berjalan pergi meninggalkan sepupunya.

"Hei, tunggu aku!"

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

hmmmmm

2023-07-20

0

Rita

Rita

jujur Winter yg ada tambah runyam

2023-07-20

0

Rita

Rita

coba tanya Winter

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!