Jarak dari bandara dan hotel yang akan mereka tempati selama dua hari kedepan masih jauh di jangkau, kurang lebih satu jam dari bandara. Letak hotel yang berada di pusat kota itu memang lagi-lagi membuat mereka semua harus menunggu dengan sabar.
Dalam perjalanan menuju hotel, banyak ragam perasaan yang tercipta. Ada yang merasa bosan, ada yang tidak sabaran, ada yang capek dan ada yang sangat menikmati perjalanan tersebut sambil menikmati pemandangan kota yang dilewati oleh mobil tersebut.
Kalau dibagi tiga jenis, ada tiga tipe orang dalam perjalanan. Yang pertama ada tipe orang yang suka heboh, ngomongin hal-hal yang nggak penting untuk dibahas, ada tipe orang yang cuek bebek bahkan lebih memilih tidur ketimbang membicarakan hal-hal yang tidak jelas, contohnya Winter. Dipikirannya cuma satu, cepat sampai buat ngelanjutin tidur. Dan yang terakhir, tipe yang ketiga adalah tipe orang yang pendiam. Tidak tidur atau ngobrol, paling-paling cuma
mandangin jalan.
Tentu saja Daffin termasuk dalam jenis orang yang ketiga. Alias berdiam diri, memandangi jalanan Bali yang ramai dan lancar. Ia diam bukan karena menahan sakit atau tidak ada teman ngobrol. Tapi tipenya memang begitu. Akan bicara kalau dia mau atau ada orang lain yang menanyakan sesuatu. Selebihnya, cowok itu adalah makhluk yang sulit sekali bicara. Kayak batu. Ia selalu tenang dimanapun dirinya berada.
Daffin menoleh ke kanan, tepatnya ke arah Winter yang duduk bersebelahan dengan Lira. Gadis itu masih tertidur pulas dengan mulut terbuka. Daffin menatap ke semua penghuni dalam bus itu. Ketika di rasa tidak ada yang memperhatikan, cowok itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotret gaya kocak Winter untuk dijadikan koleksi pribadi saat ia butuh hiburan. Ia sangat berhati-hati supaya tidak ada yang curiga dia sedang memotret gadis itu diam-diam. Habisnya lucu sekali. Entah kenapa dia merasa gadis itu sangat menghibur. Ia jadi tidak menyesal ikut kegiatan ini. Cowok itu memasukan kembali ponselnya ke saku dan melihat jalan lagi.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bus yang mereka tumpangi sudah sampai di pelataran hotel Maison Aurelia, hotel bintang empat yang memiliki fasilitas kamar dan suite mewah dengan spa, kolam renang outdoor, dan restoran modern. Pantas saja uang yang mereka kumpulkan untuk kegiatan study tour ini tidak main-main. Hotel yang di sewa saja sudah tampak mahal dari luar.
Winter sudah tidak sabar merasakan kasur empuk di dalam hotel ini. Ia ingin cepat-cepat tidur. Tenaganya sudah terkuras habis seharian ini.
Setelah turun dari bus, satu persatu mulai berjalan menuju lobby hotel. Dengan dua asisten dosen yang bertanggung jawab atas mereka berjalan didepan mereka. Terdapat beberapa karyawan yang menyambut mereka di lobby. Dengan senyum ramah dan pakaian rapi.
Asisten dosen memberikan kunci kepada setiap kelompok kamar dengan satu kamar yang telah ditentukan dua sampai tiga orang. Untungnya Winter dan Mimi satu kamar. Karena Winter tidak terlalu pandai bergaul dengan orang baru. Dia tidak pandai membuka pembicaraan, jadi dia senang ketika Mimi sekamar dengannya. Hanya mereka berdua. Lebih bagus.
Daffin dan Dillan sekamar. Memang Dillan yang meminta dengan sengaja untuk diatur begitu. Alasannya Daffin membutuhkan ketenangan dan Dillan sudah terbiasa dengan pria itu.
"Itu koper siapa?" tanya Dillan heran karena Daffin memegang dua koper ditangannya. Seingatnya waktu masih dari Jakarta cowok itu hanya bawah satu koper.
Daffin tidak menjawab. Pandangannya lurus ke depan sana. Melihat Winter yang membelakangi mereka. Sejak turun dari bus tadi gadis itu langsung masuk ke lobby, mungkin lupa kalau dia ada koper yang harus diambil. Jadi Daffin berinisiatif membawa masuk koper gadis itu. Dia sudah mencari-cari kesempatan menyerahkan koper tersebut ke Winter, tapi gadis itu sibuk mengobrol dengan teman-temannya di ujung sana.
Daffin juga melihat mereka langsung pergi setelah diberikan kunci kamar. Jadi ia akhirnya tidak bisa memberikan koper tersebut ke pemiliknya, hanya bisa membawa barang itu bersamanya. Ia tahu gadis itu tetap akan sadar dan mencarinya nanti. Pasti. Sebenarnya bisa saja Daffin menitipkannya ke resepsionis, tapi dia urungkan niat itu. Ia ingin melihat gadis itu datang sendiri padanya.
Dillan masih penasaran koper siapa kira-kira yang dibawah sahabatnya. Ia ingin bertanya lagi tapi Lira dan salah satu temannya mendatangi mereka. Seperti yang biasanya cewek itu lakukan, dia akan berbicara dengan nada yang dibuat selembut-lembut mungkin saat berhadapan dengan Daffin.
"Daff,"
Daffin dan Dillan sama-sama menoleh ke arah Lira. Mereka teman sekelas, tapi Daffin tidak pernah akrab dengan cewek-cewek itu. Hanya saja Lira ini adalah tipe cewek yang terlalu pemberani mendekati cowok dan tidak tahu malu. Jatuhnya malah membuat cowok-cowok ilfeel. Apalagi kalau jenis cowoknya macam Daffin. Sudah jelas sekali Lira bukan tipenya.
"Makan malam nanti kamu mau makan apa? Aku akan pesan ke koki biar bisa membuatkan makanan khusus untuk kamu."
"Tidak perlu," tolak Daffin langsung. Terlalu berlebihan. Mereka juga tidak dekat sampai cewek itu harus peduli tentang makanannya segala. Dillan saja merasa begitu.
"Yakin? Aku hanya pengen kebutuhan gisi kamu terpenuhi Daff. Akhir-akhir ini aku perhatikan kamu selalu sibuk, jadi kamu harus mengisi tubuh kamu dengan makanan yang sehat." Lira tetap bersikukuh.
"Pikirkan saja kebutuhan gizimu sendiri, tidak usah pedulikan aku." heran, memangnya perempuan ini siapa? Akrab saja tidak, tapi berani sekali bicara tentang kebutuhan gizinya.
"Apa aku membuatmu marah?" Daffin tidak bicara lagi. Cowok itu memilih cuek. Capek bicara dengan perempuan yang pura-pura tidak peka seperti Lira ini. Lebih baik masuk ke kamar saja.
Daffin lalu melirik Dillan yang berdiri disebelahnya.
"Aku masuk ke kamar dulu, bagaimana denganmu?" katanya lalu bertanya. Mereka tidak mempedulikan keberadaan Lira lagi sampai cewek itu bosan sendiri dan memilih pergi.
"Aku juga ingin istirahat sebentar. Badanku sudah pegal-pegal seharian ini di jalan." ujar Dillan kemudian keduanya meninggalkan lobi dan masuk ke lift untuk pergi ke lantai sembilan.
"Bagaimana dengan pemilik koper itu? Kau tidak menunggu sih pemilik datang?" tanya Dillan lagi balik ke koper yang ia percaya memang milik orang lain.
"Biar dia sendiri yang datang ambil. Kalau dia perlu, dia akan mencariku." sahut Daffin tersenyum tipis.
"Memang siapa pemiliknya?" Dillan makin penasaran siapa yang berhasil membuat seorang Daffin bersedia membawa kopernya.
"Lihat saja nanti, kau kenal dia." balas Daffin misterius. Sukses membuat Dillan makin penasaran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Rita
parah Winter🤣
2023-07-20
0
Lovey
Tenang aja Dillan, kamu kenal kok siapa orangnya🤭
2023-07-19
0
Lovey
wkwkwk, sih Daffin bakal modus nih
2023-07-19
0