Bab 13

"Huffttt....

Winter membaringkan dirinya ke kasur. Akhirnya dia bisa kembali merasakan kasur empuk miliknya setelah tiga hari ini dia tinggali. Memang tempat tidur sendiri jauh lebih nyaman dibandingkan hotel yang dirinya tempati di Bali. Sekalipun itu adalah hotel bintang empat yang tak kalah dari hotel bintang lima, tetap saja Winter merasa jauh lebih baik adalah kamarnya sendiri.

Ketika ia pulang tadi mama papanya tidak ada. Hanya ada beberapa pembantu rumah yang mungkin sekarang sudah masuk ke kamar mereka masing-masing.

Winter berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia ingat Daffin. Kepergian pria itu yang tiba-tiba dari Bali pulang ke Jakarta membuat Winter penasaran. Kira-kira kenapa ya? Apa ada masalah sama adiknya? Pasti iya. Tapi malam itu adik Daffin baik-baik saja ketika berbicara dengan pria itu ditelpon. Winter jadi ragu. Apa sebenarnya penyebab Daffin tiba-tiba pulang? Pria itu sangat kepo tentang semua hal yang berhubungan dengan Daffin.

Lamunannya buyar ketika hapenya berbunyi. Winter berdecak. Siapa sih, baru juga sampai. Dia pun baru mau istirahat. Pasti Arga nih. Kan cuma cowok itu yang suka nelpon dia malam-malam gini. Dengan malas ia menjawab telpon.

"Aku sibuk, kalo mau nagih oleh-oleh besok aja." katanya cepat tanpa melihat siapa yang menelponnya.

"Ini aku," suara itu terdengar berbisik. Suara perempuan yang Winter kenal. Gadis itu menjauhkan hape dari telinganya sebentar, menatap ke layar, lalu cepat-cepat mengganti posisinya yang tidur-tiduran menjadi duduk.

"Kenapa menelponku malam-malam begini ?" tanyanya heran dengan suara setengah berbisik. Pasalnya wanita itu belum pernah menelponnya tengah malam. Kalau malam ini dia menelpon berarti ada kabar yang cukup penting.

"Ada masalah. Dua hari ini ayah Daffin terus datang ke rumah sakit, dan mereka terlibat pertengkaran. Sepertinya tentang biaya pengobatan Mika." kata wanita diseberang. Winter bisa dengar kalau wanita tersebut bicara sepelan mungkin, mungkin takut ketahuan orang lain.

"Di mana Daffin sekarang?" tanyanya.

"Rumah sakit, tadi aku melihat mereka naik ke atap rumah sakit dengan mamanya."

"Baiklah, aku ke sana sekarang juga. Kau urus Mika. Jangan sampai dia lihat orangtua dan kakaknya bertengkar."

selesai bicara, Winter langsung menutup telpon dan bergegas keluar. Sudah malam memang. Tapi jam berapapun itu, kalau mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Daffin dan keluarganya, Winter tidak bisa tidak peduli. Ia memang tidak mungkin menunjukkan dirinya secara langsung dihadapan mereka, namun setidaknya ia bisa melihat diam-diam dari jauh. Dengan begitu ia bisa tahu apa yang terjadi, dan kalau ada yang bisa dia bantu, dia akan berusaha sebisa mungkin. Tentu saja tanpa sepengetahuan Daffin.

Taksi yang membawa Winter berhenti tepat didepan rumah sakit. Setelah membayar ongkos taksi, Winter berlari masuk ke dalam. Gadis itu menapaki anak tangga menuju atap. Sesampainya di atas, ia bisa lihat dua pria berbeda jaman tengah berhadap-hadapan di sana. Siapa lagi kalau bukan Daffin dan papanya. Mama Daffin berdiri di sebelah Daffin sibuk menyeka airmatanya. Suasana di sana amat dingin dan menegangkan.

Winter mengendap-endap ke tempat yang aman untuk bersembunyi. Agar tidak ketahuan, tapi tetap bisa mendengar pembicaraan mereka.

"Daffin, sampai kapan kau akan bersikap keras begini? Mama kamu saja sudah setuju menerima uang itu, sekarang yang harus kau utamakan adalah pengobatan adikmu. Dia putri papa juga. Papa ingin putri papa menerima perawatan yang terbaik."

Daffin mendengus keras. Menatap tajam lelaki tua didepannya.

"Aku tidak butuh uang dari laki-laki brengsek sepertimu. Kau pikir aku sudah lupa bagaimana kau memperlakukan adikku didepan teman-temanmu? Perlu kuingatkan lagi? Kau malu mengakui Mika adalah anak kandungmu. Kau bilang adikku hanyalah putri seorang pembantu di rumahmu," ucapan panjang lebar Daffin jeda sebentar. Demi Tuhan, mengingat kejadian itu ia ingin meninju apapun yang terlihat oleh matanya.

"Ingat, kau juga selingkuh dari mamaku. Apa kau pantas menyebut dirimu manusia? Simpan saja uangmu itu untuk dirimu sendiri!" Daffin yakin kalau tidak ada mamanya yang menahan, ia sudah meninju pria tua itu.

"Lebih baik kau tidak menunjukkan dirimu didepan kami lagi." katanya lagi. Kehadiran pria itu hanya menambah luka dalam hati mereka.

"Bagaimana dengan uang pengobatan Mika? Kalian membutuhkan jumlah uang yang sangat besar dalam beberapa hari kedepan. Semua harta mamamu hampir habis untuk pengobatan adikmu, sekarang hanya aku yang bisa membantu." kata pria tua itu dengan gaya angkuhnya.

"Kau tenang saja, selama aku masih hidup, akan ku pastikan adikku mendapatkan perawatan terbaik. Tanpa uangmu," balas Daffin percaya diri.

Senyuman kemenangan lelaki tua didepannya tersebut mendadak hilang. Ia baru sadar sifat Putra sulungnya ini amat dingin, keras dan begitu pendendam.

"Baiklah, mari kita lihat sejauh mana kau akan mempertahankan sikap angkuhmu itu, Huh!" setelah berkata seperti itu lelaki itu akhirnya pergi dengan raut wajah menahan emosi.

Selepas kepergian papanya, Daffin menoleh ke sang mama. Kadang ia tidak tahan melihat mamanya yang begitu lemah didepan papanya, tapi ia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mau menyakiti mamanya dengan perkataan kasar, namun sudah sempat ia peringatkan dengan tegas ke sang mama bahwa dirinya tidak akan pernah setuju jika papanya minta mereka kembali rujuk, atau menolong membiayai perawatan adiknya.

"Daffin, sekarang bagaimana? Biaya pengobatan adik kamu cukup besar. Uang mama sudah terpakai semuanya untuk pengobatan bulan lalu, dan akhir-akhir ini butik mama juga sepi. Bagaimana kita bisa mendapatkan empat puluh juta dalam waktu tiga hari?" ucap mamanya cemas. Seluruh tenaganya hampir terkuras habis karena kelelahan. Baik fisik maupun pikiran.

"Mama tidak usah khawatir, masalah biaya pengobatan Mika biar aku yang pikirkan." ujar Daffin berusaha menghilangkan kekhawatiran sang mama.

"Tapi bagaimana? Kamu saja masih kuliah. Bahkan biaya kuliah kamu, kamu sendiri yang tanggung. Selama ini mama sama Mika sudah sangat menyusahkan kamu, mama sedih lihat pengorbanan kamu Daffin." balas wanita tua itu menatap Daffin sedih. Ia kasihan melihat putranya yang sudah berkorban begitu banyak.

"Ma, aku sudah pernah bilang kan. Sejak papa ninggalin kita, aku yang akan bertanggung jawab terhadap keluarga ini. Jadi jangan pernah merasa bersalah padaku." ucap Daffin. Mamanya ingin menangis lagi tapi ditahannya.

"Mama harap semua kesulitan yang kita hadapi bisa cepat selesai. Mika sembuh, dan kamu bisa mengejar impian kamu. Hanya itu kebahagiaan mama." Daffin tersenyum.

"Aku yakin semua masalah ini akan berlalu, sekarang aku anterin mama pulang ya." ucap pria itu lagi yang dibalas dengan anggukan sang mama.

Mereka lalu turun dari tempat itu tanpa menyadari ada yang terus mengamati mereka diam-diam dari tempat persembunyiannya.

Terpopuler

Comments

Lovey

Lovey

tukang selingkuh pula

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

tega banget sih memang papa kayak gini

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!