"Ada yang lucu?" suara Daffin kontan membuat senyuman di wajah Winter memudar. Ya ampun, saking bahagianya melihat Daffin tersenyum lepas, dia jadi lupa kalau dirinya tengah duduk bersebelahan dengan pria itu.
"Aku hanya teringat sesuatu yang lucu," ujar Winter canggung.
"Seperti waktu kau mau mencuri payungku?" Daffin menatap gadis itu dengan alis naik turun. Wajah Winter langsung memerah. Aduh, kenapa pria ini malah membicarakan kejadian itu lagi sih.
"Aku pikir itu adalah kejadian memalukan," katanya. Daffin terkekeh.
"Ya, sangat memalukan. Bahkan kalau aku jadi kau, aku tidak mungkin berani menunjukkan diriku pada sih pemilik payung lagi." Daffin menatap Winter lekat. Ekspresinya datar hingga Winter mengira kalau pria itu serius dengan ucapannya. Suasana berubah hening. Tak lama sesudah itu Winter berdiri.
"A ... Aku harus balik sekarang," ucapnya hendak meninggalkan tempat itu. Namun sebelum berhasil pergi, ia merasakan pergelangan tangannya di sentuh.
Deg ...
Lagi. Perasaan itu datang lagi. Degupan jantung yang berdetak cepat tak seperti biasanya kembali memenuhi dirinya. Bagaimana tidak, duduk bersebelahan dengan jarak sedekat itu saja sudah membuat Winter menahan napas, apalagi saat kulit mereka bersentuhan.
Winter bisa merasakan telapak tangan besar milik Daffin yang masih menggenggam pergelangannya. Setelah berhasil menetralkan napasnya, gadis itu berbalik. Mata hitamnya yang bersinar bak boneka bertemu dengan mata hitam pekat Daffin. Oh ya ampun, Winter berharap dia tidak jatuh pingsan sekarang. Pria itu terlalu menawan. Daffin terlalu tampan dan menarik, sampai-sampai dia bisa pingsan kalau terlalu lama bertatapan seperti itu.
"Aku belum tahu siapa namamu," ujar Daffin sengaja. Padahal dia sudah tahu nama gadis itu. Ia tidak tahu kenapa dengannya, tapi yang ia tahu, dirinya masih ingin berlama-lama dengan gadis itu di sini. Aneh memang, tapi itu fakta. Untuk pertama kalinya Daffin ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan seorang wanita selain mama dan adiknya.
Winter berdeham.
"Namaku ...,"
"Duduk dulu baru bicara," lalu Daffin melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Winter.
"Ehem," deham Winter untuk kedua kalinya. "Namaku Winter," lanjutnya.
"Hanya itu saja?"
"Mm," karena gugup Winter bahkan tidak bisa berpikir jernih.
"Jadi kau tidak ada nama depan atau nama belakang?" menarik. Daffin makin tertarik melihat keluguan Winter. Setelah dilihat dari dekat, ternyata gadis ini sangat cantik. Bahkan kalau wajahnya dipoles, kecantikannya bisa mengalahkan artis-artis cantik papan atas. Daffin saja yang cuek dengan penampilan orang lain tidak bisa tidak memperhatikan keseluruhan penampilan Winter. Gadis ini dikaruniai wajah yang amat cantik. Bentuk tubuh yang bagus, dan kulit yang putih bersih. Pantas saja laki-laki sekelas Bian yang memiliki selera sangat tinggi sampai tertarik pada gadis ini.
"Emph ... Nama lengkap ku Winter Zuri Ravidson." tambah Winter. Meski ragu-ragu, ia tetap mengatakan nama lengkapnya.
Daffin mengangguk-angguk.
"Aku Daffin. Kau pernah dengar namaku di kampus?" balas Daffin. Bukannya sombong. Tapi dia memang sangat terkenal di kampus. Bukan hanya di jurusannya, tapi di seluruh kampus.
"Ya, kau sangat terkenal di kampus." ucap Winter tersenyum tipis. Tapi aku mengenalmu jauh sebelum kau kuliah di kampus itu. Gumam gadis itu dalam hati. Daffin merasa puas dalam hati mendengar jawaban Winter.
Lalu suasana kembali hening. Daffin dan Winter sama-sama diam sambil menatap ke laut. Berbeda dengan Daffin yang menikmati waktu berduaan mereka dalam diam, Winter malah merasa canggung setengah mati. Ia ingin balik secepatnya ke hotel, melarikan diri dari suasana awkward ini. Tapi dirinya merasa tidak enak. Dan lagi, pemandangan pantai yang indah di malam hari sungguh membuat keinginannya untuk balik ke hotel hilang.
Saat Winter menoleh ke samping, Daffin tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Jadi gadis itu mengambil kesempatan itu berdiri dan buru-buru berjalan menuju tepi pantai. Ia tidak sadar Daffin mengamati setiap gerak-geriknya dari belakang. Bahkan kini pria itu sudah ikut berdiri, mengikuti gadis itu dari belakang.
Udara dingin berembus kencang saat Winter berjalan di tepi pantai. Bulan dan Bintang menyinari angkasa di malam hari. Winter hanya bisa menatap takjub pemandangan yang ada dihadapannya.
Winter melepaskan sepatunya. Kaki-kakinya merasakan pasir yang ada tepat dibawah telapak kakinya. Gadis itu menghembuskan napas panjang lalu memutuskan untuk duduk dan menikmati pemandangan indah didepan matanya kini.
"Apakah pemandangan yang kau lihat sebagus itu sampai kau seantusias ini?" Winter kaget. Ternyata lelaki itu belum pergi.
"Kamu belum balik ke hotel?"
"Aku bertanya lebih dulu padamu." Winter tersenyum merasa tidak enak.
"Bagiku, pemandangan yang aku lihat sekarang sangat indah. Aku selalu senang menikmati pemandangan yang jarang-jarang kulihat."
Daffin ikut duduk disebelahnya. Sudah dua kali. Dua kali mereka duduk bersebelahan. Kali ini Winter mulai bisa mengontrol dirinya. Karena sudah begini, lebih baik jalani saja. Karena Daffin sudah mengenalnya, dan entah itu kebetulan atau tidak dirinya akan mencoba lebih bersahabat sekarang.
"Apa kau sering melihat langit?" Daffin tidak menjawab. Ia hanya menoleh menatap gadis itu. Seakan menunggu perkataan Winter selanjutnya.
"Ada pepatah yang mengatakan, kalau kita terus menatap ke langit dan memohon dengan sungguh-sungguh pada Tuhan, permohonanmu akan terkabul." ujar Winter lagi. Daffin tersenyum tipis, sangat tipis. Maksud gadis itu mungkin adalah menatap langit sambil berdoa. Itu bukan pepatah namanya. Tapi memang sudah kewajiban manusia untuk terus mendekatkan diri kepada sang Mahakuasa. Dan hal itu bisa dilakukan di mana saja, bukan hanya menatap langit.
"Jadi, apakah permohonanmu sudah terkabul?" lelaki itu akhirnya mulai buka suara lagi. Posisi kepalanya terus dimiringkan menatap Winter.
"Ya Beberapa, aku tahu kau mungkin tidak akan percaya. Tapi memang benar beberapa permohonanku memang telah terkabul." kata gadis itu. Hening sebentar. Lalu suara berat milik lelaki itu kembali terdengar.
"Winter," untuk pertama kalinya pria itu menyebut namanya. Winter terdiam sebentar. Ia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau akan ada hari seperti ini. Duduk berdua dengan laki-laki yang diam-diam dia sukai. Ini seperti mimpi. Dan cara Daffin menyebut namanya benar-benar akan membuat banyak perempuan iri kalau mereka mendengarnya.
"Kau memiliki nama yang bagus," gumam Daffin. Bukan sekedar basa-basi. Ia memang merasa nama gadis itu memang bagus.
"Terimakasih," Winter tersenyum melirik pria itu sebentar lalu menghadap depan lagi. Kali ini keduanya sama-sama diam, menikmati pemandangan laut dan deburan ombak malam hari. Sebelum akhirnya seseorang menelpon Winter dan gadis itu pergi. Daffin menatap kepergian gadis itu dengan raut wajah datar, entah apa yang dia pikirkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Rita
🤣🤣🤣🤣nyindir atau ngingetin Fin
2023-07-20
0
Lovey
Cieee modus
2023-07-20
0
Lovey
kayaknya nyuri payung udah melekat banget dihati Daffin
2023-07-20
0