Bab 12

Paginya, para mahasiswa study tour kembali berkumpul di tempat makan. Mereka mengawali hari mereka dengan sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat destinasi wisata di pulau itu.

Mimi sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat menjelajahi Bali. Dari dulu dia sangat ingin mengunjungi pulau Bali. Sama dengan Winter, ini pertama kalinya Mimi menginjak tempat itu. Dan dirinya merasa sangat antusias. Dia menikmati suasana yang ada di Bali. Berbeda dengan Mimi yang tak sabar menunggu untuk pergi ke destinasi yang akan mereka kunjungi, Winter malah sibuk memandang sekeliling.

Tentu saja ia sedang mencari keberadaan Daffin. Tapi lelaki itu tak kunjung kelihatan juga. Apa masih tidur? Tapi kan ini sudah jam delapan pagi. Daffin bukan tipe pria yang suka bangun kesiangan. Jadi di mana dia? Kenapa tidak ikut sarapan? Sebentar lagi mereka akan segera pergi.

"Kamu cari siapa?" suara Mimi menyadarkan Winter.

"Tidak ada, hanya melihat-lihat. Ternyata jumlah jurusan kita sama jurusan komputer kalau terkumpul semua jumlahnya banyak juga." ujar Winter berdalih.

"Iya dong. Dari kemaren-kemaren emang banyak. Kamu saja yang baru memperhatikan, karena terlalu sibuk dengan duniamu sendiri." balas Mimi blak-blakan. Winter terkekeh. Memang dari semua teman sekelasnya, hanya Mimi yang sanggup bertahan dan tidak bosan berteman dengannya. Bukannya terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, Winter hanya terlalu sibuk memperhatikan dunia orang lain.

"Kok Daffin nggak keliatan ya?" salah satu teman mereka yang Winter ketahui bernama Diva bertanya. Ia sudah berdiri di sebelah Mimi dengan pandangan mencari-cari. Ternyata bukan Winter saja yang mempedulikan ketidakhadiran Daffin.

Wajar sih, pria itu kan sosok yang sangat populer di kampus mereka.

"Ya nggak mungkinlah cowok balok penyuka keheningan kayak Daffin muncul di sini. Lihat tempat ini, sudah sesak. Pasti tuh cowok lebih memilih sarapan sendiri di tempat lain dengan tenang." tutur Mimi.

Masuk akal. Batin Winter. Ya ampun, padahal sudah lebih dari tiga tahun dia selalu mengikuti Daffin diam-diam, tapi hal seperti ini malah tidak terpikir sama sekali di otaknya.

"Duduk sana yuk," ajak Mimi menunjuk meja yang masih kosong dibagian tengah. Winter mengekor dibelakangnya.

Habis sarapan, setengah jam kemudian bus yang mengantar mereka ke hotel kemarin kembali menjemput. Mereka langsung menjurus ke salah satu tempat paling terkenal di Bali. Salah satu tempat wisata yang tidak kalah indahnya dari tempat wisata manapun.

Itu adalah destinasi wisata tanah lot. Salah satu tempat wisata yang sangat menarik di Bali. Tempat tersebut berhasil memikat banyak wisatawan yang berlibur ke Bali. Banyak dari mereka yang menyempatkan diri berkunjung ke tempat itu karena keindahan alam pantainya yang indah dan mempesona.

Saat bus yang membawa mereka semua sampai ke tujuan, mereka langsung melangkah memasuki kawasan wisata Tanah Lot. Semuanya sudah tidak sabar memanjakan mata mereka dengan keindahan tempat yang terkenal itu. Mereka berpisah setelah tiba di sana dan membentuk kelompok masing-masing. Bahkan ada yang sendirian karena ingin bebas mencari sendiri tempat yang ia sukai.

Winter salah satunya. Ia begitu menikmati keindahan alam didepan matanya. Panorama wisata Tanah Lot benar-benar memikat. Gadis itu sampai-sampai tak mengedipkan mata.

"Win, keliling-keliling yuk!" ujar Mimi yang telah berdiri disampingnya.

"Aku masih mau di sini sebentar, nanti aku nyusul." tolak Winter halus. Mau tak mau Mimi akhirnya mengajak temannya yang lain. Ketika Winter membalikan badan lagi, pandangannya bertemu dengan Daffin. Wajah cowok itu datar seperti biasanya. Ia dan temannya itu  berdiri dengan jarak kira-kira tiga meter dari tempatnya berada. Winter ingin menyapa tapi malu. Akhirnya dia hanya tersenyum tipis, itu pun tidak dibalas oleh Daffin. Hanya teman pria itu yang membalas senyumannya.

"Kau mau ikut ke sana? Sayang sih kalau tidak ke sana padahal sudah di sini." tanya Dillan menatap Winter sambil menunjuk ke arah Gua Suci di ujung. Beberapa kelompok yang lain sudah berjalan ke sana. Winter menimbang-nimbang sebentar kemudian mengikuti kedua pria yang sudah berjalan lebih dulu didepannya.

Di gua itu, mereka melihat ada banyak ular. Dan ada satu ular yang menarik perhatian Daffin. Ular besar yang ia lihat didepan matanya secara langsung. Bahkan ia langsung berhadapan dengan ular tersebut. Setahu Daffin ular berekor putih itu adalah jenis ular yang sangat berbisa.

Dillan disebelahnya juga tampaknya tertarik. Pria itu bahkan ingin mengabadikan moment di Gua Suci dengan berfoto bersama ular itu. Karena ada Daffin, sekalian saja berfoto dengan Daffin juga. Lalu matanya memandang ke siapa saja yang berada dekat situ untuk bisa dia mintai tolong mengambil potret mereka. Dan matanya menemukan Winter. Gadis itu berdiri tak jauh dari mereka. Dillan lalu meminjam ponsel di tangan Daffin dan memanggil nama Winter.

"Winter," nada panggilannya seolah mereka sudah akrab. Daffin ikut melirik ke arah panggilan Dillan. Ia memang tahu kalau gadis itu sejak tadi berada dekat mereka, tapi ia pura-pura cuek seakan tak peduli. Padahal sudut matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Winter beberapa kali. 

Ketika gadis itu menoleh, Daffin menyadari kalau gadis itu tampak ketakutan. Winter berdiri kaku ditempatnya. Wajah takutnya terpampang jelas.

"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Dillan tidak peka.

"T ....Takut," sahut Winter langsung.

Wajah takutnya kelihatan lucu sehingga Daffin dan Dillan harus menahan tawa mereka. Bagaimana Dillan bisa memintanya memotret mereka coba kalau perempuan itu penakut begini. Bergerak sedikit saja kayaknya dia berat.

Akhirnya yang terjadi adalah Dillan yang memotret wajah ketakutan Winter. Pakai ponsel Daffin. Kebetulan memang ponsel cowok itu yang sedang ada ditangannya. Salahkan ekspresi ketakutan yang lucu, itu lebih menarik dari memotret ular dibelakang mereka. Setidaknya menurut Dillan.

"Kenapa malah memotretku?" tanya Winter dengan raut wajah keberatan.

"Biar nanti kamu lihat bagaimana ekspresimu saat ini," jawab Dillan lalu tertawa pelan.

Winter memasang tampang jengkel. Iseng sekali sahabatnya Daffin ini. Namun perasaan jengkelnya memudar seketika saat melihat wajah tampan Daffin. Perasaannya selalu adem melihat pria itu.

"Tidak perlu takut, ular itu ada dalam kandang, tidak akan melukaimu." gumam Daffin setelah bermenit-menit diam saja tak bicara. Winter merasa senang. Tidak salah dia memilih pria itu sebagai lelaki idamannya.

"Daff, mama kamu nelpon." Daffin dengan cepat meraih ponsel ditangan Dillan. Pria itu menjauh saat bicara dengan mamanya. Winter terus memperhatikan. Dan raut wajah Daffin yang tadinya datar kini berubah, marah? Kemudian Winter melihat pria itu bergegas keluar. Itu adalah terakhir kalinya Winter melihat Daffin di Bali.

Terpopuler

Comments

Intan

Intan

uhh

2023-08-07

0

Rita

Rita

hmmmm

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

wkwk, bisa aja sih Dillan

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!