Bab 10

Satu jam istirahat, semua mahasiswa turun untuk makan malam. Selesai menyantap makan malam, Daffin pergi keluar untuk mencari angin segar. Berjalan-jalan di pesisir pantai dekat hotel sembari menikmati deburan ombak dan angin sejuk pantai. Setidaknya bisa mengurangi rasa penat di kepalanya. Pria itu selalu banyak pikiran, tentang semua hal yang menimpa keluarganya. Mulai dari papa dan mamanya yang bercerai, hingga adiknya yang di tabrak oleh orang tak bertanggung jawab dan kini harus hidup cacat. Semua itu membuat pikiran di kepala Daffin penuh. Tekanan hidupnya sangat berat, tapi dia selalu tenang menutupi semuanya. Mungkin dengan ikut ke Bali bisa membantunya melupakan semua masalahnya sejenak.

Saat Daffin tengah berjalan-jalan menyusuri tepi pantai, tak sengaja ia bertemu dengan gadis pencuri payung itu. Winter. Dari

kejauhan Daffin terus memperhatikan bagaimana antusiasnya gadis itu dengan pemandangan Bali.

Matanya yang berbinar-binar juga mulutnya yang menganga lebar menunjukkan kekagumannya pada pemandangan indah pantai. Seperti seseorang yang baru pertama kali berkunjung ke tempat seperti ini.

Daffin pun terkekeh sendiri melihat ekspresi berlebihan gadis itu. Sangat lucu.

"Winter! Aku ke kamar duluan ya?" seru teman Winter. Suaranya sangat kuat hingga Daffin bisa mendengarnya dari kejauhan.

"Ok." balas Winter singkat, tanpa sedikitpun menoleh pada temannya.

"Kamu jangan terlalu malam di luar! Besok kita akan ada kegiatan pagi. Minta saja kunci cadangan pada resepsionis, aku sudah mengantuk." ujar teman Winter lagi dan berlalu masuk ke dalam hotel.

"Iya, iya ... pergi sana cepat!" usir Winter dengan maksud bercanda.

"Astaga! Sebegitu senangnya dia di sini. Ckck, padahal kemarin dia mati-matian tidak mau ikut," ujar temannya Winter lagi berdecak heran.

\*\*\*

"Woahh ... indah sekali! Hemm ..." seru Winter setelah Mimi pergi. Ia teringat kelapa muda. Ingin minum minuman yang  minuman menyegarkan. Gadis itu lalu berjalan

menyusuri tepi pantai. Melihat-lihat apakah ada penjual kelapa muda di sekitaran hotel. Dan ternyata ada. Raut wajah Winter begitu senang setelah menemukan yang dia cari.

"Hai pak, saya mau beli, ini… kelapa." ujar Winter pada sih pedagang kaki lima.

"Berapa?" tanya sih penjual.

"Satu," ucap Winter dengan menunjukkan jari telunjuknya.

"Pakai es?" tanya sih penjual lagi dengan menunjukkan es batu.

"Tidak usah," Winter menggeleng. Lalu ia pun menunggu dan duduk di bangku yang disediakan. Sambil menunggu minumannya datang, ia mengambil momen di sana dengan beberapa swafoto dan video. Tempat ini benar-benar indah dimatanya. Nanti dia akan mengajak Arga liburan berdua. Liburan sama sahabat dekat jauh lebih menyenangkan. Mimi memang salah satu sahabatnya, tapi tidak sedekat Arga.

Perbedaannya adalah, Arga tahu semua tentang dirinya sampai rahasia sekecil apapun yang disimpan Winter. Arga itu adalah tempat Winter berbagi keluh kesah, sosok sahabat dan kakak yang Winter tahu akan terus bersamanya. Gadis itu mempercayai Arga seperti Arga mempercayainya. Semua rahasia Arga Winter tahu, begitu pula sebaliknya.

"Ini dek, kelapanya," sahut bapak penjual itu.

"Berapa pak?" Tanya Winter lagi sambil menyeruput air kelapa muda langsung di dalam batoknya. Uuuhh ... segar sekali!

"Enam belas ribu dek," ucap bapak penjual dengan dengan ramah. Winter segera merogoh tas sampirnya mengambil dompet untuk membayar minumannya.

Deg ....

Gadis itu kaget dan panik. Dompetnya tidak ada. Kemana dompetnya? Berkali-kali dia mengobrak-abrik tas kecilnya. Namun tidak ada.

Astaga!!

Apa dompetnya tertinggal di nakas kamar hotel? Ya ampun!! Bagaimana ini?

"Aku lupa membawa dompetku?!" Cerocos Winter dengan wajah paniknya.

Berkali-kali ia menelepon temannya tapi tidak diangkat. Mimi sudah tidak aktif. Sial bagaimana ini? Mana sih bapak tidak nyiapin barcode buat bayar pakai aplikasi Gopey atau semacamnya lagi. Astaga, jaman begini harusnya para penjual sudah menyiapkan metode pembayaran yang lain. Biar pelanggan yang ketinggalan dompet tidak kebingungan begini.

"Dek? Jadi gimana bayarnya?" tanya sih bapak itu melihat pembelinya aneh.

"Uhmm ... Aku bisa ambil uang sebentar ke hotel terus balik ke sini lagi nggak pak?" tanya Winter mencoba tawar menawar. Raut wajah bapak pedagang yang tadinya ramah kini berubah tidak bersahabat.

"Kamu jangan coba-coba nipu saya ya, kalo gak punya uang, ya gak usah beli. Cantik-cantik tapi bokek!" sindir bapak itu kesal karena merasa ditipu. Winter cengo. Siapa nipu? Orang dia benar.

Dan saat sih bapak tukang kelapa itu hendak berbalik, seorang laki-laki tinggi menyodorkan uang selembar seratus ribuan pada pedagang itu.

"Saya bayar. Itu," tunjuk Daffin pada minuman Winter, dengan suara beratnya yang khas. Dan bapak itu pun tersenyum senang karena tidak jadi rugi

"Saya pesan satu," ujar Daffin lagi kemudian duduk dibangku sebelah Winter.

Winter menatap kaget sekaligus malu lantaran terciduk lupa membawa dompet dan tidak bisa bayar. Sangat memalukan. Sungguh kejadian yang memalukan baginya. Tiap kali bertemu Daffin, selalu saja seperti ini.

"Pakai es?" tanya sih bapak dengan menunjukkan es batu. Sama persis seperti yang dilakukan pada Winter tadi.

"Tidak." jawab Daffin dengan menggerakkan tangannya. Seleranya sama dengan Winter, tidak suka minuman yang di campur es.

"Emm ... T... Terima kasih banyak. Nanti aku ganti," ujar Winter yang tertunduk malu. Minuman yang tadinya menyegarkan sekarang terasa hambar akibat kecanggungan dan kejadian memalukan barusan. Bagaimana tidak canggung coba kalau duduk dekat begini dengan pujaan hatinya dan kejadian memalukan tadi.

"Tidak usah. Itu tidak seberapa. Harganya tidak mahal. Anggap saja aku mentraktir seorang gadis yang lupa membawa dompet." ujar Daffin yang bersikap santai melupakan kejadian konyol tadi. Meski dengan setengah menyindir. Sedangkan Winter mati-matian menahan malu. Tak henti-henti dalam hatinya merutuki kebodohan dan kecerobohannya yang lupa membawa dompet.

"Apa ini pertama kalinya kau liburan ke Bali?" tanya Daffin kemudian. Ia penasaran karena melihat ekspresi Winter saat melihat pemandangan pantai di pulau itu tadi. Winter tersenyum kikuk. Kemudian mengangguk.

"Kau juga?" ia balas bertanya, sekedar basa-basi. Saking nervous dan awkward-nya bertemu lagi dengan pria itu plus kejadian memalukan tadi yang semakin menambah rasa canggung dan kikuknya. Winter sampai bingung mencari kosa kata yang tepat untuk dijadikan bahan obrolan. Apalagi pria itu adalah sosok yang ia kagumi diam-diam.

"Ini ke empat kalinya aku ke sini." jawab Daffin dengan nada datar tanpa ada ekspresi apapun. Benar-benar pria minim ekspresi.

Drrtt… Drrtt ...

Percakapan mereka terhenti sebentar karena ponsel Daffin berbunyi.

"Ya?" Daffin mengangkat telpon dengan nada suara lembut. Winter jelas tahu itu siapa. Pasti adiknya.

"Dua hari lagi kakak pulang. Jangan malas minum obat. Mm, nanti kakak telpon lagi." ujar Daffin lalu mengakhiri pembicaraannya di telpon.

Winter diam-diam tersenyum melihat ekspresi lain dari pria dingin itu. Daffin selalu berubah hangat jika bersama dengan orang terdekatnya. Bahkan bisa tertawa lepas walaupun hanya sebentar. Winter ikut bahagia melihat senyum hangat yang sangat jarang terjadi itu. Menurut Winter, Daffin semakin terlihat tampan jika sedang tertawa daripada wajah dingin dan datarnya.

Terpopuler

Comments

Rita

Rita

sdh nasibmu bertemu Daffin dgn cara gini lbh berkesyannn

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

😅😅😅

2023-07-20

0

Lovey

Lovey

makhlum bapak². gak ngerti kali

2023-07-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!