Bab. 20 Raka Sakit

"Anda tidak apa-apa, Bu?" tanya Lina karena melihat Akira yang diam saja di ambang pintu.

"Eehh, tidak Lin," jawab Akira yang tersadar bila dia diam saja diambang pintu.

Wanita itu kemudian masuk kedalam ruang kerjanya lalu menduduki kursi kebesarannya disana.

Lina yang sejak tadi bersama Akira bisa menangkap raut kecewa diwajah boss-nya tapi ia tak tahu apa sebabnya.

Wanita itu memilih kembali ke meja kerjanya yang berada di depan ruang kerja Akira untuk segera memulai pekerjaannya.

Akira yang ditinggal oleh Lina di ruang kerjanya bersama dengan OB yang sedang bersih-bersih mendengus kesal.

"Kenapa kamu yang bersihkan ruangan saya?" tanya Akira pada OB tersebut.

OB disana yang ditanyain Akira segera menghentikan pekerjaannya lalu menghadap pada wanita itu.

"Iya Bu, karena bu Yuli masih sakit," ucap OB tersebut.

"Bukannya selama bu Yuli sakit yang bersihkan ruangan saya itu Raka, ya?" tanya Akira.

"Betul Bu, tapi tadi pak Ari yang meminta saya membersihkan ruangan anda karena Raka juga sedang sakit," ucap OB tersebut.

"Raka sakit?" tanya Akira sembari mengerutkan keningnya.

Tadi malam saat ia mengajak Raka naik di mobilnya pria itu baik-baik saja dan justru memintanya untuk menurunkan di halte.

Tapi Akira bisa menduga penyebab pria itu sekarang sakit, yakni karena kehujanan.

"Iya, Bu, Raka lagi sakit," jawab OB tersebut.

Akira menganggukkan kepalanya kemudian mulai bergelut dengan berkas yang menumpuk dimeja kerjanya.

Sedangkan OB disana lanjut dengan pekerjaannya hingga tidak lama kemudian OB itu selesai juga membersihkan ruangan Akira dan pergi dari sana.

Mendapati dirinya yang sudah sendirian diruang kerjanya, Akira segera memanggil Lina melalui sambungan telepon agar asistennya itu segera masuk kedalam ruangannya.

"Iya, Bu, ada apa?" tanya Lina yang baru saja masuk keruang kerja Akira.

"Duduk dulu Lin," titah Akira.

Lina menganggukan kepalanya kemudian menduduki kursi yang berada disebrang Akira duduk.

"Kamu tahu dimana alamat rumah Raka?" tanya Akira.

"Raka? Raka siapa, Bu?" tanya Lina.

"Raka Alfareza. OB yang kemarin bersihkan ruangan saya," jawab Akira.

"Hahh?" Lina tercengang tak mengerti kenapa boss-nya menanyakan alamat rumah seorang OB.

"Kenapa bengong? Tahu tidak alamat rumahnya?" tanya Akira.

"Eehh, tidak tahu Bu. Saya tidak tahu alamat rumahnya," jawab Lina.

Akira menganggukan kepalanya.

"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Lina.

"Kata OB tadi Raka lagi sakit. Aku hanya ingin mengirimkan parcel ucapan semoga lekas sembuh," ucap Akira.

"Hahh?" lagi-lagi Lina tercengang dibuatnya.

Akira yang melihat Lina tercengang lagi mengerutkan keningnya karena tak mengerti kenapa asistennya menunjukkan ekspresi seperti itu.

"Kenapa Lin, kok malah bengong lagi?" tanya Akira.

"Anda yakin Bu mau ngirim parcel ucapan semoga lekas sembuh untuk seorang OB?" tanya Lina.

"Iya, memangnya kenapa?" tanya Akira.

"Tidak apa-apa Bu. Kalau begitu saya akan cari tahu alamat rumahnya pada bagian personalia," ucap Lina

Akira menganggukan kepalanya membuat Lina yang sedang duduk dikursi dengan menghadapnya segera bangkit dari tempat yang ia duduki.

Lina segera mendatangi bagian personalia untuk mencari tahu alamat rumah Raka. Begitu mendapatkannya, wanita itu kembali lagi ke ruang kerja Akira.

Di sana Lina diminta oleh Akira membeli parcel buah-buahan lalu di dalamnya diberi tulisan kalimat 'Semoga Lekas Sembuh'.

Akira juga meminta Lina untuk langsung mengirimkan parcel tersebut kealamat rumah Raka.

*****

Dirumah Raka.

Raka yang sedang sakit, terpaksa harus turun dari tempat tidurnya untuk membukakan pintu rumah yang diketuk oleh seseorang.

Beruntung tadi pria itu bisa tertidur sehingga kini tubuhnya sedikit lebih segar meski demam dan flu masih melanda tubuhnya.

Ceklek.

Setibanya di depan pintu, Raka segera membukakan pintu rumah.

"Zaskia," ucap Raka.

Ternyata, yang mengetuk rumahnya tadi itu Zaskia yang datang membesuknya.

Setengah jam yang lalu Zaskia menghubungi Raka karena ingin menanyakan jadi atau tidaknya pria itu meminjam buku catatan miliknya.

Tapi saat Zaskia menghubungi Raka, wanita itu justru dikejutkan dengan kabar bila pria itu sedang sakit.

Zaskia langsung saja mengatakan ingin membesuk Raka karena mengkhawatirkan pria itu.

Raka sendiri yang mendengar Zaskia ingin membesuknya segera mencegah wanita itu agar tidak datang membesuknya ke rumah kontrakan.

Tapi Zaskia bersi kukuh untuk datang membesuknya, hingga kini wanita itu telah berada didepan pintu rumah Raka.

"Iya Raka, ini aku. Kamu sakit apa?" tanya Zaskia pada Raka sembari menempelkan punggung tangannya kekengin pria itu.

"Kamu benar-benar datang kesini ya, padahal aku sudah melarangmu datang," ucap Raka semberi menurunkan tangan Zaskia dari keningnya.

"Aku khawatir sama kamu Raka. Kamu sakit apa?" tanya Zaskia lagi.

"Kamu tidak perlu khawatir, Zas, karena aku hanya sakit demam dan flu saja," ucap Raka.

"Tetap aja aku mengkhawatirkan kamu Raka," ucap Zaskia.

Raka tersenyum pada Zaskia karena merasa bangga memiliki teman sepertinya. Hanya Zaskia lah satu-satunya orang yang mau berteman dengannya.

"Kalau begitu duduk, Zas. Tapi diteras aja ya," ucap Raka sembari menunjuk pada kursi yang ada di teras.

Pria itu tak mau bila mengajak Zaskia masuk ke dalam rumahnya karena khawatir nantinya akan ada timbul fitnah mengenai dirinya dengan wanita itu.

"Iya, Raka," ucap Zaskia kemudian menduduki salah satu kursi yang ada di teras rumah kontrakan Raka.

"Sebentar, aku buatkan kamu teh dulu ya," ucap Raka kemudian hendak berlalu dari sana namun tangannya segera dicekal oleh Zaskia.

"Tidak perlu Raka, kamu duduk saja di sini," ucap Zaskia.

Raka tidak langsung menjawab, pria itu lebih dulu memutar pergelangan tangannya yang dicekal Zaskia agar wanita itu melepaskan tangannya.

"Eehh, maaf, Ka, aku tidak sengaja," ucap Zaskia.

Raka menganggukan kepalanya kemudian menarik salah satu kursi kosong untuk ia duduki sendiri.

"Kamu bawa buku catatan kamu tidak?" tanya Raka pada Zaskia.

"Bawa. Sebentar," ucap Zaskia.

Wanita itu segera mengeluarkan dua buku catatan dari dalam tasnya kemudian menyerahkan pada Raka yang sedang duduk menyandar pada sandaran kursi.

Dengan kepalanya yang masih terasa pusing, Raka mengambil buku catatan milik Zaskia kemudian membukanya.

"Wajahmu pucat sekali Raka, kita ke dokter ya," ucap Zaskia.

Sedari tadi datang, Zaskia memperhatikan wajah pria di hadapannya. Wajah Raka tampak pucat dengan tubuhnya yang lemas.

Raka yang sedang menunduk membaca buku catatan milik Zaskia, segera mengangkat kepalanya untuk menatap wanita di depannya.

"Tidak perlu, Zas. Aku sudah baikan," ucap Raka.

"Baikan gimana, wajah kamu itu pucat sekali," ucap Zaskia.

"Tidak, aku tidak apa-apa. Kalau kamu mau bantu aku, tolong belikan obat saja," ucap Raka.

"Tentu Raka, aku belikan kamu obat, sekarang." ucap Zaskia langsung bangkit dari duduknya untuk segera pergi ke apotek.

Tapi, sebelum Zaskia pergi dari rumah Raka, ada seseorang yang datang menghampiri Raka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!