Bab. 13 Munculnya Aarav

"Tentu saja ada hal penting, Sayang," ucap Arrav yang membuat Akira semakin muak pada pria itu.

"Hal penting apa yang membawamu kemari?" tanya Akira.

Aarav menurunkan kakinya yang tadi ia letakkan di atas meja, lalu menegakkan tubuhnya dengan pandangan menatap serius pada Akira.

"Kenapa kamu tidak mengenalkanku pada anak-anak?" tanya Arrav.

"Karena mereka hanya anakku," jawab Akira.

Arrav tersenyum sinis mendengar jawaban Akira.

"Kamu pikir bila kita tidak bercinta maka akan ada anak-anak?" tanya Aarav.

"Hentikan! Aku tidak mau mengingat itu lagi!" ucap Akira marah karena Arrav membahas itu.

Aarav menyeringai kemudian bangkit dari duduknya untuk menghampiri Akira yang duduk di kursi kebesarannya.

Setibanya di hadapan Akira, dengan masih berdiri Arrav meletakkan kedua tangannya dimeja lalu menatap pada Akira yang masih duduk dikursinya.

"Kenapa kamu tidak mau mengingatnya, padahal saat itu kamu menikmatinya?" tanya Aarav dengan bibirnya yang menyeringai.

"Tutup mulutmu, Aarav! Hentikan omong kosongmu itu! Aku sudah tidak mengingatnya!" teriak Akira sembari menunjuk di wajah Aarav.

Jari telunjuk Akira yang berada didepan wajah Aarav segera digenggam oleh pria itu.

Aarav mendekatkan wajahnya pada Akira yang masih duduk di kursinya, membuat wajah keduanya saling berdekatan.

"Apa kamu tidak merindukan saat-saat kita bercinta?" tanya Aarav.

Plakk!

Akira menampar pipi sebelah kanan Arrav menggunakan tangan kirinya karena tangan kanan Akira jari telunjuknya masih digenggam oleh pria itu.

"Sudah kukatakan, hentikan omong kosongmu itu!" ucap Akira kemudian menarik kuat tangannya yang digenggam oleh Aarav lalu bangkit dari tempat duduknya.

Aarav yang ditampar Akira segera berdiri menegakkan tubuhnya kembali, dan mencekal pergelangan tangan Akira.

"Lepaskan!" teriak Akira.

Bukannya melepaskan, Aarav justru mendorong tubuh Akira hingga menempel pada dinding. Pria itu memegang kuat kedua tangan Akira lalu meletakkannya ke atas kepala wanita itu.

"Mau apa kamu?" tanya Akira pada Aarav yang berada di hadapanmu.

"Bukan kah kamu masih mencintaiku?" tanya Aarav.

"Tidak! Aku sudah tidak mencintaimu," ucap Akira.

"Benarkah?" tanya Aarav kemudian mendekatkan wajahnya hendak mencium Akira.

Bugh!

Belum sempat Aarav mendaratkan ciumannya, Akira lebih dulu menginjak kaki pria itu membuat Aarav meringis kesakitan dan melepas cekalan tangannya pada tangan Akira.

"Aku sudah melupakan semuanya. Semua tentangmu aku tidak ingin mengingatnya lagi," ucap Akira seraya menyeka air matanya.

Sungguh Akira merasa tersakiti saat Aarav memperlakukan dirinya semena-mena.

"Kenapa kamu melupakan kenangan manis kita, Akira?" tanya Aarav.

"Untuk apa aku ingat lagi, Aarav? kenangan itu begitu menyakitkan untukku, setelah aku tahu kamu menghianatiku," ucap Akira.

"Bukankah sudah pernah aku katakan, Akira, bila semua itu hanya salah paham," ucap Aarav.

"Salah paham kamu bilang?" tanya Akira tersenyum miring.

"Iya Akira, semua itu salah paham, kamu terlalu percaya begitu saja tanpa mendengar penjelasanku," jawab Aarav.

"Kamu tidak pernah berubah Aarav, kamu yang dulu hingga sekarang tetap saja sama. Kamu egois, angkuh, dan selalu bertindak semaunya," ucap Akira.

"Oke, aku minta maaf tentang itu. Dan tentang perselingkuhanku, itu kamu hanya salah paham," ucap Aarav.

"Kamu pikir aku tidak menyelidiki dulu tentangmu sebelum menggugat cerai? Aku sudah melakukannya, Aarav, dan itu semua sudah terbukti," ucap Akira.

Aarav menggelengkan kepalanya.

"Sekarang, silakan kamu keluar dari ruangan kerjaku," ucap Akira.

"Tidak, aku tidak akan keluar sebelum selesai bicara denganmu." ucap Aarav.

"Apalagi yang ingin kamu bicarakan?" tanya Akira.

"Mengenai anak-anakku, aku tidak terima kamu tidak mengenalkanku pada mereka," ucap Aarav.

"Jangan pernah kamu sebut Azzam dan Azzura itu anakmu," ucap Akira.

"Karena memang mereka itu anakku," ucap Arrav.

"Kamu hanya menyumbang benih saja, Aarav. Kamu tidak pantas disebut ayah mereka," ucap Akira dengan menatap nyalang pada mantan suaminya itu.

Setelahnya Akira berjalan menuju pintu ruang kerjanya untuk membukakan pintu tersebut lalu mengusir Arrav dari sana.

"Silahkan keluar!" usir Akira.

Aarav yang diusir Akira segera keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang menahan amarah.

Brakk!

Akira membanting pintu setelah memastikan Aarav keluar dari ruangannya.

Wanita itu kemudian berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk kembali di kursi kebesarannya.

Huufftt.

Terdengar suara helaan nafas yang keluar dari mulut Akira.

"Setelah sekian lama kamu pergi, kenapa baru sekarang ini kamu muncul, Aarav," gumam Akira seraya menyeka lagi air matanya.

Setelahnya wanita itu segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu menghubungi Pak Ujang.

Akira mengkhawatirkan Azzam dan Azzura, ia takut bila kedua anak kembarnya ingin ikut bersama ayah kandung mereka dan meninggalkan dirinya bila tahu Arrav sudah kembali.

"Halo, Bu," ucap Pak Ujang setelah panggilan telepon tersebut terhubung.

"Apa tadi ada seseorang yang menemui Azzam dan Azzura?" tanya Akira.

"Betul Bu, beliau mengaku ayah dari Den Azzam dan Non Azzura," ucap Pak Ujang.

Mendengar itu Akira semakin cemas, rupanya Aarav sudah lebih dulu muncul dihadapan Azzam dan Azzura sebelum menemuinya.

"Apa saja yang dia katakan, Pak? tanya Akira.

"Saya kurang tahu Bu apa saja yang beliau katakan pada Den Azzam dan Non Azzura," ucap Pak Ujang.

"Ya sudah, Pak, biar saya saja yang menanyakan pada mereka setelah pulang kerumah," ucap Akira.

"Iya Bu," ucap Pak Ujang.

Setelahnya wanita itu mematikan sambungan teleponnya.

Akira kemudian memikirkan bagaimana caranya agar Aarav tidak mengusiknya lagi.

*****

Disisi lain.

Aarav yang baru saja keluar dari ruang kerja Akira segera melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu lift.

Saat itu juga bertepatan dengan Raka yang mengantarkan makan siang pesanan Lina.

Rupanya, dua porsi makan siang yang Raka beli di restoran itu adalah pesanan Lina untuk wanita itu dan juga Akira sehingga saat ini Raka sedang mengantarkannya.

Lina membungkukkan sedikit tubuhnya pada Aarav yang lewat didepan meja kerjanya.

Melihat Lina yang membungkukkan tubuhnya pada seseorang yang lewat, Raka juga ikut melakukannya.

"Bukannya orang itu yang tadi aku tabrak di restoran ya?" gumam Raka bertanya sendiri sembari pandangannya masih menatap Aarav yang sedang berjalan menuju lift.

"Kamu ngomong apa?" tanya Lina yang mendengar gumaman Raka tapi tidak jelas.

"Ehh, tidak Bu. Yang tadi lewat itu siapa, Bu?" tanya Raka.

"Pria tadi itu mantan suaminya Bu Akira, namanya Aarav Adiputro. Ganteng, kan?" ucap Lina seraya tersenyum bangga pada Raka.

Raka di sana terperangnya kaget, tak menyangka, bila pria yang baru saja lewat itu ialah mantan suami dari wanita idamannya.

"Iya Bu, ganteng," ucap Raka pelan.

Tubuh Raka terasa lemas tak bertenaga setelah mengetahui mantan suami Akira ialah pria kaya dan tampan, sedangkan Raka sendiri pria itu menggelengkan kepalanya karena ia hanya pria miskin dan jelek.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!