Setibanya di meja makan, kedua anakku langsung menarik kursi masing-masing lalu mendudukinya.
Begitupun juga denganku, aku juga menarik kursi yang biasa aku duduki lalu mendudukinya.
Setelahnya kami bertiga memulai sarapan dengan menu yang sudah disiapkan oleh pelayan.
"Aku mau nasi goreng Ma," ucap Azzam.
"Ini Mama ambilkan untuk mu, Zam," ucapku.
"Aku nggak mau nasi goreng Ma, Aku mau roti sama slai stroberry," ucap Azzura.
"Oke sayang, ini Mama ambilkan juga," ucapku.
Setelah selesai mengambilkan makanan yang diminta oleh Azzam dan Azzura, aku juga mengambil makanan untuk diriku.
Kami pun memulai sarapannya. Sepanjang menikmati sarapan si kembar terus berceloteh membicarakan teman di sekolahnya.
"Mama, di sekolahan ada yang mengganggu Azzura, anak itu menyembunyikan pensil milik Azzura," ucap Azzam.
"Oh ya?" tanyaku.
"Iya Ma, setelah ketahuan olehku menyembunyikan pensil Azzura, anak itu aku pukul," ucap Azzam.
"Eittss, apa tadi Azzam bilang? Azzam memukul teman?" tanyaku.
"Iya Ma, habisnya sih dia gangguin Azzura jadinya aku pukul," ucap Azzam.
Aku mengangguk mengerti oleh apa yang diucapkan Azzam. Aku beralih menatap pada Azzura untuk meminta klarifikasi pada apa yang dijelaskan oleh Azzam.
"Azzura ayo, Nak, jelaskan. Apa betul yang tadi Azzam katakan?" tanyaku pada Azzura.
"Betul Ma, Daffa menggangguku, dia menyembunyikan pensilku lalu Azzam memukulnya," ucap Azzura.
"Azzam," panggilku.
"Iya Ma," ucap Azzam kemudian menatapku.
"Lain kali Azzam jangan memukul teman lagi ya, Azzam kan bisa membicarakannya baik-baik.
Niat Azzam memang baik mau menjaga Azzura agar tidak diganggu oleh teman yang lainnya. Tapi bila Azzam memukul teman, itu tidak benar. Kasihan kan teman Azzura yang dipukul Azzam pasti kesakitan," ucapku menasehati Azzam.
"Iya Mah, Azzam akan meminta maaf padanya," ucap Azzam.
Aku aku mengganggukan kepala seraya tersenyum pada Azzam.
"Sekarang kalian habiskan sarapannya, setelah itu kita berangkat ke sekolah," ucapku yang diangguki oleh Azzam dan Azzura.
Kami lanjutkan sarapan yang baru separuh dimakan. Setelah habis, kami bergegas bangkit untuk berangkat.
Azzam membukakan pintu mobil bagian tengah agar Azzura masuk ke dalamnya, setelah Azzura masuk ke dalam mobil, barulah Azzam yang masuk juga. Azzam masuk sembari menutup pintu mobil.
Melihat anak-anak yang sudah masuk ke dalam mobil, barulah aku membuka pintu bagian kemudi, duduk di sana Lalu menutup pintunya.
"Azzam, Azzura, pastikan sabuk pengamannya dipakai ya," ucapku.
"Sudah Mah," jawab Azzam dan Azzura serentak.
Setelah memastikan Azzam dan Azzura mengenalkan sabuk pengaman, aku kemudian melajukan mobil untuk menuju sekolahan mereka.
Letak kantorku melewati sekolahan si kembar dan masih berada di arah yang sama, sehingga setiap harinya aku mengantar Azzam dan Azzura terlebih dahulu kesekolahan baru setelahnya aku berangkat ke kantor.
Untuk pulang sekolahnya Azzam dan Azzura akan dijemput oleh supir di rumah.
"Oiya, Ma. Hari ini kami pulang pukul 09.00, karena bu guru mau rapat," ucap Azzura memberitahu.
"Iya Nak, nanti mama beritahu Pak Ujang untuk menjemput kalian pukul 09.00," ucapku.
"Iya Ma," ucap Azzura.
Di perjalanan menuju ke sekolahan Azzam dan Azzura bernyanyi bersama mengiringi lajunya mobil yang dikemudikan olehku.
Tidak lama kemudian mobil yang aku kendarai sudah tiba di depan pintu gerbang sekolahan TK dimana tempat Azzam dan Azzura belajar.
Aku turun lebih dulu dari anak-anak untuk membukakan pintu mobil tengah bagian kiri, di mana Azzura lah yang duduk disana.
"Sini Mama bantu," ucapku membantu membukakan sabuk pengaman milik Azzura.
"Makasih Ma," ucap Azzura kemudian turun dari mobil.
Aku menganggukkan kepala untuk menanggapi ucapan terima kasih dari Azzura.
Setelahnya hendak membantu Azzam melepaskan sabuk pengaman juga, namun ternyata sabuk pengaman yang dikenakan oleh Azzam itu sudah bisa ia buka sendiri.
"Tidak usah Ma, aku bisa buka sendiri," ucap Azzam kemudian turun dari mobil.
"Kalau begitu kalian masuk ya," ucapku.
"Iya Ma," ucap Azzam dan Azzura serentak kemudian mereka menyalimiku.
Setelahnya Azzam dan Azzura masuk ke dalam sekolah melewati pintu gerbang yang disambut oleh guru TK di sana.
Aku menatap Azzam dan Azzura hingga masuk ke dalam kelas mereka.
"Lihatlah Mas. Meski tanpamu, aku tetap bisa membesarkan anak-anak sendirian," gumamku.
Aku membalikkan tubuh untuk masuk lagi kedalam mobil. Setelah masuk ke dalam mobil aku melajukan lagi mobilku menuju kantor.
Kantor itu adalah kantor milikku sendiri, dimana aku adalah seorang desainer disana.
Jarak antara sekolahan si kembar dengan kantorku, dibutuhkan waktu kurang lebih setengah jam.
Aku tiba di kantor pukul 07.50 menit.
Ceklek.
Begitu aku tiba di kantor pintu mobilku dibukakan oleh Lina, sekretarisku di kantor.
"Selamat datang, Bu. Silahkan," ucap Lina setelah membukakan pintu mobilku.
"Terima kasih Lina," ucapku.
Aku kemudian mengenakan kacamata hitam terlebih dahulu, baru setelahnya turun dari mobil.
Lina menutup pintu mobilku kemudian berjalan di sisi kiriku untuk masuk bersama ke dalam kantor.
Kulihat banyak karyawan yang berada di lobby sedang mengantri absen fingerprint. Mereka yang menyadari kedatanganku segera berbaris untuk menyambutku.
"Selamat pagi, Bu," ucap salah satu karyawan di sana yang menyapaku.
"Pagi juga," ucapku yang kebetulan lina juga menjawabnya.
Aku dan Lina terus melangkahkan kaki semakin masuk ke dalam kantor.
Entah hanya perasaanku saja atau memang itu adanya. Setiap pagi aku masuk ke dalam kantor, selalu ada seorang OB yang berdiri di sudut lobby sedang memperhatikanku.
Aku memang mengabaikan keberadaannya, tapi lama-kelamaan aku juga heran kenapa OB itu selalu ada di tempat yang sama setiap saat aku datang ke kantor.
"Sudahlah, itu tidak penting." gumamku sembari terus melanjutkan langkah kaki menuju pintu lift.
"Ibu bicara apa?" tanya Lina yang mendengar gumaman dari mulutku.
"Ahh, tidak Lin. Kamu hanya salah dengar," jawabku.
Lina menganggukkan kepalanya, ia juga merasa mungkin dirinya tadi hanya salah dengar.
Setelah kurang lebih menunggu 2 menit, pintu lift akhirnya terbuka sehingga aku dan Lina langsung masuk ke dalamnya.
Sebelum pintu lift itu tertutup aku menyempatkan diri melihat pada OB tadi yang selalu berdiri di sudut lobby.
OB itu masih memperhatikanku meski aku sudah berada di dalam pintu lift yang sebentar lagi akan tertutup.
Lina kemudian menekan tombol bertulisan angka 6, di mana ruangan kerjaku berada.
"Bacakan agenda hari ini, Lin," titahku pada Lina.
"Baik Bu," ucap Lina kemudian membuka tabletnya.
"Pukul 08.00 sampai 10.00 Anda memeriksa laporan dan menandatanganinya, pukul 10.00 sampai 12.00 meeting bersama direksi. Lanjut pukul 14.00 sampai pukul 17.00 anda hanya perlu memeriksa operasional perusahaan," ucap Lina.
"Baiklah, atur saja semuanya," ucapku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments