Bab. 11 Membuat Kesalahan

"Loh, Bu. Kalau saya tidak masuk ke ruang kerja Ibu terus siapa nanti yang bersihkan ruangan ini?" tanya Raka.

Untuk pertama kalinya pria itu berbicara pada Akira dengan lancar.

"Memangnya kamu pikir OB di kantor ini cuma kamu saja?" tanya Akira judes.

"Bukan seperti itu, Bu," jawab Raka.

"Sudahlah kamu keluar saja, tidak usah membersihkan ruangan ini," ucap Akira sembari memijat kepalanya yang sakit.

Sebetulnya kepala Akira sakit itu bukan karena ulah Raka, melainkan karena dia memikirkan Azzam dan Azzura yang dijauhi teman sekolahnya.

Kebetulan Raka yang ada diruang kerjanya membuat dia kesal, sehingga pria itu jadi pelampiasan Akira yang sedang sakit kepala.

Raka menganggukkan kepalanya, baru setelahnya ia melangkahkan kakinya mendekat pada meja Akira lalu meletakkan secangkit kopi latte disana.

"Ini kopinya Bu," ucap Raka seraya meletakkan secangkir kopi latte di meja Akira.

"Hem," ucap Akira tanpa menoleh pada Raka.

Setelahnya Raka segera undur diri keluar dari ruangan Akira sembari mendorong peralatan kebersihan yang tadi ia bawa.

"Kamu sih Raka, masuk keruangan Bu Akira tidak ketuk pintu dulu," gerutu Raka pada dirinya sendiri sembari berjalan.

Padahal Raka biasanya mengetuk pintu lebih dulu bila hendak membersihkan ruang kerja para staff.

Tapi saat masuk ke ruangan boss-nya ia justru melupakan kebiasaan itu karena terlalu semangat untuk bertemu dengan Akira.

"Kalau begini caranya, kamu tidak bisa lihat Bu Akira lagi, Ka. Kamu sih menyia-nyiakan kesempatan," ucap Raka masih menggerutu dirinya sendiri.

Tadinya Raka sangat senang mendapatkan tugas dari Pak Ari membersihkan ruang kerja Akira yang tentunya ia akan melihat wanita pujaan hatinya sedang bekerja disana.

Tapi siapa sangka, ia justru membuat kesalahan, sehingga ia tidak diizinkan masuk lagi ke ruang kerja Akira.

Ting.

Raka tiba di depan pintu lift bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.

Pria itu mendorong peralatan kebersihannya agar masuk ke dalam lift tersebut, baru setelahnya ia menekan angka satu.

Setibanya di lantai satu Raka segera menghampiri Pak Ari yang berada di dapur.

"Sudah selesai kamu bersihkan ruangan Bu Akira?" tanya pak Ari.

"Belum Pak," jawab Raka sembari menggelengkan kepalanya.

"Kenapa kamu justru datang ke sini kalau disana belum selesai dibersihkan," ucap Pak Ari.

"Saya tidak diizinkan masuk ke ruang kerja Bu Akira, Pak," ucap Raka.

"Kamu pasti buat kesalahan di sana?" tebak pak Ari.

Raka menganggukkan kepalanya, yang artinya ia tebakan Pak Ari itu benar bila dia sudah membuat kesalahan.

"Kesalahan apa yang kamu perbuat di sana?" tanya Pak Ari.

"Saya lupa mengetuk pintu, Pak," jawab Raka.

"Hanya karena kamu lupa mengetuk pintu, kamu tidak diizinkan masuk ke ruangan kerjanya?" tanya pak Ari heran.

"Iya Pak," jawab Raka.

"Ya sudah, kamu kerjakan yang lain saja. Ini ada catatan pesanan makan siang dari karyawan, kamu belikan mereka makan siang sesuai dengan apa yang ada di catatan ini," ucap pak Ari seraya memberikan kertas dan uang pada Raka yang tentunya langsung diterima oleh Raka.

Di kertas tersebut, Raka melihat ada 5 jenis menu makan siang yang harus ia beli.

"Baik Pak, kalau begitu saya belikan dulu," ucap Raka yang ditanggapi anggukan kepala oleh pak Ari.

Raka mengambil kunci motornya terlebih dahulu yang ada di dalam loker karyawan.

Baru setelahnya ia segera keluar dari kantor tersebut untuk membeli makan siang pesanan beberapa karyawan disana.

Dengan mengendarai sepeda motornya Raka menuju rumah makan yang menyediakan pesanan tersebut.

Setibanya disana ia membaca lagi catatan pesan makan siang tersebut. Rupanya ada dua menu makan siang yang tidak tersedia di rumah makan itu. Karena menu itu adanya di restoran, bukan rumah makan seperti ia datangi.

"Pesan yang ada dulu aja lah," gumam Raka kemudian memesan makanan yang terdaftar di catatan tersebut.

Sembari menunggu pesanannya selesai dibuat, Raka memilih duduk di salah satu kursi yang ada di rumah makan tersebut.

"Raka," panggil seseorang pada Raka yang sedang duduk.

Mendapati dirinya dipanggil oleh seseorang, Raka segera menoleh pada sumber suara.

"Eh, Zas, kamu di sini?" tanya Raka.

Rupanya seseorang yang memanggil Raka itu ia Zaskia, teman satu kelas di kampusnya.

"Iya Ka, ini Rumah Makan punyaku," ucap Zaskia kemudian duduk di hadapan Raka.

"Ooh, jadi ini, usaha yang pernah kamu ceritain itu," ucap Raka.

"Iya Ka, usaha ini aku buat sendiri tanpa campur tangan dari orang tuaku," ucap Zaskia.

"Aku salut sama kamu Zas, di usia yang masih muda, kamu sudah bisa jalanin bisnis sendiri," ucap Raka.

Zaskia tersenyum lebar, ucapan Raka itu ia artikan sebagai pujian untuk dirinya.

"Kamu lagi ngapain disini?" tanya Zaskia.

"Aku lagi nunggu pesanan makan siang," jawab Raka.

"Gimana kalau kamu juga makan, biar aku yang traktir," ucap Zaskia.

"Lain kali aja ya Zas, sekarang ini aku masih kerja," ucap Raka.

Tidak lama kemudian pesanan yang Raka tunggu sudah selesai disiapkan.

"Ya udah deh, lain kali mau ya aku traktir," ucap Zaskia.

"Insya Allah, Zas. Kalau begitu aku kembali ke kantor," ucap Raka.

"Iya Ka, hati-hati," ucap Zaskia yang hanya diangguki oleh Raka.

Raka yang keluar dari rumah makan itu segera menyusun kotak makan yang ia bawa di keranjang motor.

Setelah selesai menyusun kotak makan tersebut, Raka segera mencari dua menu makan siang yang belum ia dapatkan.

Raka mendatangi restorant Cempaka untuk mencari dua menu makan siang tersebut.

Beruntung di restoran itu ada menu yang sedang Raka cari sehingga ia tidak kerepotan mencari ke tempat lain.

Brukk!

Karena terburu-buru, Raka tak sengaja menubruk tubuh seorang pria yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya.

"Jalan tuh lihat-lihat!" bentak pria yang ditubruk oleh Raka.

"Maaf, Pak, saya tidak sengaja," ucap Raka.

Pria yang ditubruk Raka, berlalu begitu saja tanpa menanggapi ucapan permintaan maaf darinya.

"Yang penting aku sudah minta maaf, lagi pula aku tidak sengaja," gumam Raka sembari menatap kepergian pria tersebut.

Setelahnya Raka segera menghampiri kasir untuk membayar makanan yang sudah ia bawa. Untungnya saat tadi ia menubruk seorang pria, makanan tersebut tidak tumpah, sehingga ia tidak perlu mengganti makanan tersebut.

"Semuanya 700 ribu," ucap Kasir di sana.

"Hahh?"

Raka terbengong, makanan 2 porsi harganya 700 ribu? Bagi Raka uang segitu sudah banyak dan bisa digunakan untuk makan satu bulan.

Pria itu menggelengkan kepala, tak habis pikir pada orang yang sudah memesan makanan tersebut.

Pantas saja tadi ia diberi uang banyak oleh Pak Ari untuk membeli pesanan makan siang karyawan, pikirnya.

Meski awalnya terheran, Raka tetap membayarnya, lalu bergegas kembali ke kantor.

Terpopuler

Comments

Tri Haryani

Tri Haryani

Jangan lupa tinggalkan like dan coment-nya ya..

Ikuti akun author juga, supaya bisa terus menikmati karya terbaru dari author.

Terima kasih, salam sayang dari author untuk pembaca tercinta.

2023-07-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!