Bab. 19 Sakit

Raka yang harus pulang jalan kaki membuatnya terlambat sampai rumah. Ia tiba di rumah sudah pukul 08.00 malam, sehingga tidak bisa mengikuti kuliah malam.

Setibanya di rumah kontrakan, pria itu bergegas membersihkan diri mandi dan lain-lain agar tidak sakit karena tadi kehujanan.

Air yang dingin mengguyur tubuhnya dimalam hari sama sekali tidak terasa oleh Raka, karena tubuhnya sudah kedingin lebih dulu oleh air hujan.

Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Raka segera membuka penanak nasi.

Rasa lapar di perutnya harus tertunda untuk ia isi karena Raka harus memasak lebih dulu barulah bisa makan malam.

Tapi bagi Raka tak masalah meski harus menunggu seperti ini, karena ia sudah biasa dengan semua ini.

Kring.

Ponselnya berbunyi disaat ia baru saja selesai dengan makan malamnya.

"Zaskia," gumam Raka saat melihat nama di ponselnya.

Rupanya seseorang yang menghubungi Raka itu ialah Zaskia teman satu kelasnya berkuliah. Raka lantas saja segera menjawab panggilan telepon tersebut.

"Assalamualaikum." ucap Raka.

"Waalaikumsalam, Raka. Kamu dimana, Raka?" tanya Zaskia setelah menjawab salam dari Raka.

Sejak tadi Zaskia di kampus menunggu-nunggu kedatangan Raka, namun hingga satu mata kuliah terlewatkan, pria itu tak kunjung datang kekampus.

"Aku tidak berangkat ke kampus, Zas. Aku baru saja sampai rumah," ucap Raka.

"Hahh? Baru saja sampai rumah? Kamu jam segini baru pulang Raka?" tanya Zaskia.

"Iya, Zas." jawab Raka.

"Apa kamu dikerjai lagi sama teman-teman dan atasanmu, Raka?" tanya Zaskia.

"Ceritanya panjang, Zas, besok deh aku ceritain sama kamu di kampus," jawab Raka.

"Ya sudah Raka, kamu jangan khawatir ketinggalan pelajaran, kamu nanti bisa pinjam buku catatan milikku," ucap Zaskia.

"Terima kasih, Zas, besok aku pinjam buku catatan milikmu," ucap Raka.

"Iya, Raka. Kamu sekarang sebaiknya istirahat saja," ucap Zaskia.

"Iya, Zas. Assalamualaikum." ucap Raka.

"Waalaikumsalam." ucap Zaskia.

Panggilan telepon tersebut berakhir.

Raka yang tidak berangkat kuliah memilih belajar di rumah. Pria itu menghidupkan laptop yang susah payah ia beli dengan mengumpulkan sisa gajinya setiap bulannya.

Berkuliah di bidang ekonomi Raka berharap nantinya akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan tentunya bisa menghidupi kedua orang tuanya dikampung yang serba kekurangan.

Setelah laptopnya menyala ia memilih mengerjakan tugas yang semalam dosen berikan.

Ada untungnya juga hari ini ia tidak berangkat kuliah, karena memang ia juga belum mengerjakan tugas tersebut.

Padahal selama ia berkuliah Raka sama sekali belum pernah melalaikan tugas dari dosennya.

Di sela-sela ia mengerjakan tugas tersebut Raka teringat pada Akira, membuatnya menghentikan jari tangannya yang sedang mengetik.

"Bu Akira sudah sampai rumah belum ya?" tanya Raka pada dirinya sendiri.

Ia jadi mengkhawatirkan Akira yang harus mengemudikan mobilnya di saat hujan turun.

Tapi Raka hanya sebatas mengkhawatirkan wanita itu. Ia tidak berani bertindak lebih jauh karena status dirinya dan Akira tentu saja berbeda bagaikan langit dan bumi.

Di saat ia sedang mengkhawatirkan Akira, tiba-tiba saja ia bersin.

Hacih.

Hidungnya terasa gatal membuat ia mengucaknya. Bukan hanya itu saja, Raka merasakan kepalanya pusing dan tubuhnya juga menggigil.

Merasakan tubuhnya yang tidak nyaman, Raka segera mematikan laptopnya lalu membereskan buku-buku yang berserakan sehabis ia gunakan untuk mengerjakan tugas.

"Sepertinya, aku mau sakit," gumam Raka.

Padahal begitu tiba di rumah Raka langsung mandi untuk mengantisipasi agar ia tidak sakit.

Tapi tetap saja, tubuhnya yang lelah ditambah lagi ia terlalu lama kehujanan membuat tubuhnya tidak tahan juga.

Sembari berjalan masuk kedalam kamar, Raka terus memijit kepalanya yang terasa sakit.

Pria itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya yang terasa dingin tapi panas.

Raka kemudian berusaha memejamkan matanya.

Pagi datang.

Raka benar-benar tidak bisa bangkit dari tempat tidur karena tubuhnya terasa lemas dan sakit.

Semalaman ia sama sekali tidak bisa terlelap, dan ia hanya bisa memejamkan matanya.

Tinggal seorang diri di perantauan tentu saja membuat Raka yang sedang sakit tidak ada yang merawatnya. Bahkan hanya sekedar untuk membelikannya obat saja itu tidak ada.

Mau tidak mau Raka hari ini tidak bisa bekerja.

Ia kemudian menghubungi Pak Ari untuk meminta izin tidak masuk kerja.

"Jadi, kamu tidak berangkat kerja karena sakit?" tanya Pak Ari.

"Iya Pak, hari ini saya tidak bisa berangkat kerja karena sakit," jawab Raka.

"Ya sudah tidak apa-apa, saya akan menyuruh OB yang lain mengerjakan pekerjaanmu," ucap Pak Ari.

"Terima kasih, Pak." ucap Raka.

"Ya," ucap Pak Ari singkat kemudian memutus lebih dulu sambungan teleponnya.

Raka mengusap dadanya agar ia terus bersabar.

Pak Ari selaku atasannya langsung, sama sekali tidak berempati pada dirinya yang sedang sakit.

Hanya sekedar mengucapkan kata 'semoga lekas sembuh, Raka' begitu saja Pak Ari tidak mau.

Padahal selama ini Raka lah OB yang paling aktif bekerja, dan tentunya selalu menuruti perintah dari pria itu.

Setelah menghubungi pak Ari untuk meminta izin dirinya tidak masuk kerja, Raka kembali memejamkan lagi matanya.

Tidak seperti semalam ia kesulitan untuk terlelap. Kali Ini Raka langsung terlelap pulas begitu ia memejamkan matanya.

Dikantor.

Setelah mendapat telepon dari Raka, pak Ari bergegas meminta Bayu untuk menggantikan pekerjaan Raka membersihkan lobby kantor.

Kini Bayu salah satu rekan sesama OB dengan Raka sedang mengepel lantai lobby kantor karena pekerjaan utama Raka di pagi hari adalah itu.

Tidak lama kemudian Akira datang memasuki kantor tersebut bersama Lina yang berjalan disisi kirinya seperti biasa.

Akira yang mulai memasuki kantor mengedarkan pandangannya ke penjuru lobby. Ia sedang mencari keberadaan Raka yang selalu berdiri di sudut lobby setiap kali Ia datang.

Tapi pria yang sedang ia cari itu tidak ada, dan justru OB lainnya yang sedang membersihkan lobby.

"Kenapa, Bu?" tanya Lina saat tiba-tiba Akira menghentikan langkah kakinya di tengah-tengah lobby.

Akira menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Lina, karena Ia berpikir mungkin Raka sedang berada di ruang kerjanya karena pria itu sejak kemarin membersihkan ruangan tersebut.

Akira kemudian melanjutkan langkah kakinya untuk segera tiba di ruang kerjanya.

Wanita itu ingin memastikan sendiri bila Raka berada di sana, karena entah kenapa akhir-akhir ini OB culun itu selalu mengusir pikirannya.

Setibanya di depan pintu ruang kerjanya, Akira langsung membuka pintu tersebut tanpa menunggu Lina yang membukakan seperti biasanya.

Tapi begitu masuk ke dalam ruangan tersebut, Akira hanya diam berdiri ditempatnya sembari menatap pada OB yang sedang bekerja disana.

Siapa OB yang Akira lihat disana?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!