POV. AKIRA
Aku terbangun saat mendengar suara alarm berbunyi yang sudah aku atur pukul 05.00 pagi.
Ku kerjapkan terlebih dahulu mata yang masih mengantuk ini, setelah merasa lebih segar, aku segera turun dari tempat tidur untuk menyiapkan baju kerja yang akan aku kenakan.
Aku membuka pintu lemari baju, untuk mencari pakaianku di sana.
Berbagai model pakaian ada di dalam lemari itu membuatku tidak kesulitan untuk memilihnya, karena aku setiap harinya selalu mengenakan pakaian yang berbeda.
"Yang ini aja lah," ucapku
Aku mengambil satu rok yang berderet disana. Rok span berwarna hitam menjadi pilihanku hari ini.
"Eemm. Atasannya yang mana ya?" gumamku.
Aku menatap pada deretan baju kemeja untuk mengambil salah satu di antara mereka.
Pandangan mataku terfokus pada kemeja berwarna putih, sehingga aku segera mengambilnya.
"Baju ini cocok deh sama rok tadi," gumamku.
Stelan kantor sudah aku siapkan. Sekarang aku tinggal menyiapkan seragam sekolah TK untuk si kembar.
Kamar si kembar berada di sebelah kamarku, sehingga bisa menghemat waktuku yang padat.
Begitu masuk ke dalam kamar mereka, aku segera menuju ruang ganti yang ada dikamar itu.
Di sana ada beberapa lemari dengan warna yang berbeda. Lemari berwarna biru bertuliskan nama 'Azzam', sedangkan lemari berwarna pink bertuliskan nama 'Azzura'.
Kata mereka agar bisa membedakan mana lemari milik Azzam dan mana lemari milik Azzura.
"Hari ini kan rabu, jadi seragamnya pakai batik," gumamku.
Aku kemudian menyiapkan seragam baju batik untuk kedua anak kembar ku.
Setelah selesai menyiapkan baju untuk si kembar, aku kemudian menyiapkan keperluan sekolah yang lainnya, seperti alat tulis, tas, kaos kaki dan sepatu.
Usia si kembar yang baru 5 tahun, membuat mereka belum bisa menyiapkan keperluan sendiri sehingga aku yang menyiapkannya.
"Sekarang saatnya bangunin mereka," gumamku lagi.
Aku segera menghampiri si kembar yang sedang terlelap tidur di ranjang mereka masing-masing.
Azzam lah yang aku hampiri terlebih dahulu untuk dibangunkan, karena anak laki-laki itu sulit sekali bangun pagi, setelah membangunkan Azzam barulah aku akan membangunkan Azzura.
"Bangun, Nak," ucapku sembari menggoyang tubuh Azzam.
"Emmm," Azzam hanya merenggangkan otot tubuhnya lalu terlelap lagi.
"Azzam, ayo bangun, Nak," ucapku membangunkan Azzam lagi tapi yang terbangun justru Azzura yang tidur diranjang yang lain.
"Mama, Azzam susah lagi dibanguninnya?" tanya Azzura padaku.
Aku menoleh pada Azzura yang sudah terbangun.
"Iya Ra, kakakmu ini sulit sekali Mama bangunin," ucapku.
"Kalau begitu biar Azzura aja Ma yang bangunin Azzam," ucapnya.
"Memangnya Azzura bisa?" tanyaku.
"Bisa Ma," ucapnya.
"Coba cepat bangunin Azzam, Mama mau lihat gimana caranya Azzura banguninnya," ucapku.
"Oke Ma," ucapnya.
Azzura kemudian naik ke atas tempat tidur Azzam, lalu mendekat pada anak laki-laki yang masih tertidur itu.
Dikeluarkan lah oleh Azzura bulu angsa dari dalam saku bajunya.
Aku mengerutkan kening, karena heran dari mana Azzura mendapatkan bulu angsa itu. Tapi aku diam saja, memperhatikan apa yang akan Azzura lakukan dengan bulu angsa itu pada Azzam.
Azzura yang sudah mengeluarkan bulu angsa itu ternyata dia gunakan untuk mengelitiki hidung dan telinga Azzam.
"Hi hi hi," Azzura yang menggelitik Azzam juga ikut tertawa geli.
"Iihh, geli tahu," ucap Azzam sembari menepis bulu angsa yang Azzura gelitiki dihidungnya.
"Makanya ayo bangun, Zam," ucap Azzura lalu menarik tangan Azzam agar anak laki-laki itu terbangun.
Mau tidak mau Azzam akhirnya bangun dari tidurnya karena tidak tahan diganggu oleh Azzura.
Aku yang melihat interaksi kedua anakku itu tentu saja tersenyum bangga pada mereka. Kedua anak itu begitu saling menyayangi satu sama lain.
"Azzura, dari mana kamu mendapatkan bulu angsa itu?" tanyaku.
Jelas saja aku bertanyaan demikian, karena aku ingin tahu dari mana dia mendapatkan bulu angsa itu, pasalnya di rumahku tidak memelihara angsa.
"Emmm, aku mendapatkannya dari taman kompleks Ma. Kemarin sorekan aku dan Azzam bermain di sana untuk melihat angsa, bulu angsanya jatuh di tanah jadi aku ambil dan aku bawa pulang kerumah," ucap Azzura.
Aku baru teringat bila kemarin sore mereka aku ajak bermain di taman kompleks. Disana memang ada beberapa angsa yang sengaja dipelihara untuk menghiasi taman itu.
Saat Azzura mengambil bulu angsa dan dia masukkan ke dalam saku baju untuk di bawahnya pulang aku sama sekali tidak melihatnya.
Bila saat itu melihat, aku pasti sudah tahu dan membantu mencucikan bulu tersebut sebelum dipegang oleh Azzura.
"Ya sudah, bulu angsanya kamu simpan dirumah ya, jangan dibawa ke sekolahan. Ingatkan apa kata bu guru?" tanyaku.
"Ingat Ma. Tidak boleh bawa mainan dari rumah," ucap Azzura.
"Nah, kalau begitu sekarang bulu angsanya kamu letakkan di dalam laci nakas," ucapku.
"Iya Ma," ucap Azzura, kemudian turun dari ranjang Azzam lalu menghampiri nakas di sebelah ranjang tidurnya.
Membuka laci nakas tersebut dan meletakkan bulu angsa kedalamnya.
"Sudah Ma," ucap Azzura.
"Sekarang kalian mandi, terus pakai bajunya sendiri-sendiri, tadi Mama sudah siapkan baju kalian," ucapku.
"Iya Ma," ucap kedua anak kembar itu dengan serentak kemudian masuk kedalam kamar mandi masing-masing.
Setelahnya aku kembali kekamarku untuk bersiap juga pergi ke kantor.
30 menit waktu yang aku gunakan untuk bersiap. Kini aku sudah mengenalkan setelan kantor yang aku siapkan tadi, yakni rok span berwarna hitam dan kemeja putih untuk atasannya.
Setelah selesai aku segera mendatangi kamar anak-anak. Ternyata Azzam dan Azzura sudah selesai juga berpakaian hanya saja masih berantakan.
"Ehh, anak Mama sudah selesai pakai baju ya," ucapku kemudian mendekati Azzam dan Azzura.
"Sudah Mama," ucap Azzam.
"Ini kerahnya belum benar, Mama rapihkan dulu ya," ucapku yang diangguki oleh Azzam.
Aku kemudian membenarkan kerah baju milik Azzam karena kerah bagian belakangnya belum terlipat.
"Mama, aku nggak bisa naikkan resleting," ucap Azurra mendekat padaku kemudian menunjukkan roknya yang resletingnya belum dinaikkan.
Azura hanya mengaitkan rok tersebut dan memakai sabuk.
Aku tersenyum melihatnya, lalu membantu menaikkan resleting rok milik Azzura.
"Sudah," ucapku.
"Makasih Ma," ucap Azzura.
"Sama-sama sayang," ucapku.
Setelahnya aku menyisir rambut Azzam terlebih dahulu, baru setelahnya aku menyisir rambut Azzura. Rambut panjang milik Azzura aku belah menjadi dua, lalu aku ikat dan aku kepang.
"Nah, sudah selesai. Ayo kita sarapan," ajakku.
Kedua anakku itu menganggukkan kepalanya, lalu bangkit dari tempatnya duduk, mengambil tas dan mereka kenakan. Kedua anak kembar itu berjalan lebih dulu didepanku.
Aku tersenyum menatap anak-anakku yang tumbuh dengan baik, pintar, dan juga ceria meski tanpa sosok ayahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Sondang Sartika Lumbanraja
language thor
2023-07-19
0