Bab. 10 Jangan masuk lagi ke ruang kerjaku

POV. AUTHOR

Akira baru saja tiba di taman kanak-kanak di mana Azzam dan Azzura bersekolah.

"Ingat ya, pulang sekolah Pak Ujang yang jemput, kalian jangan kemana-mana seperti kemarin," ucap Akira mengingatkan si kembar.

"Tapi boleh kan kami minta Pak Ujang mengantar ke kantor Mama?" tanya Azzam.

"Tidak boleh sayang, kalian langsung pulang ke rumah saja," jawab Akira.

"Kalau mampir ke mall dulu boleh kan, Ma?" tanya Azzura.

"Tidak boleh juga sayang, kalian pokoknya langsung pulang ke rumah jangan kemana-mana," jawab Akira.

"Baiklah Ma," ucap Azzura.

Azzam dan Azzura kemudian menyalimi tangan Akira, lalu bergegas masuk ke dalam sekolahan.

Setelah keduanya masuk ke dalam kelas, Akira segera datang ke kantor untuk menemui kepala sekolah di TK itu.

"Assalamualaikum," ucap Akira memberi salam pada kepala sekolah dan guru disana.

"Waalaikumsalam, Bu Akira. Silakan masuk," ucap salah satu guru di sana.

Wanita itu menganggukkan kepalanya terlebih dahulu baru setelahnya masuk ke dalam kantor.

Setelah dipersilahkan untuk duduk, Akira segera duduk menghadap wanita paruh baya yang menjabat kepala sekolah di TK itu.

"Maaf sebelumnya, Bu. Kedatangan saya ini hanya ingin berpesan agar tidak mengizinkan orang lain selain Pak Ujang menjemput Azzam dan Azzura saat pulang sekolah," ucap Akira.

Bukan tanpa sebab ia berpesan demikian, Akira khawatir bila yang menjemput Azzam dan Azzura itu ayah kandungnya lalu membawanya pergi darinya.

Kepala Sekolah di hadapan Akira itu menganggukkan kepalanya terlebih dahulu, baru setelahnya berbicara untuk menjawab ucapan Akira.

"Sebelumnya saya minta maaf, atas kejadian kemarin karena kami sudah lalai mengawasi anak-anak pulang sekolah, sehingga membuat anda mengkhawatirkan Azzam dan Azzura. Saya akan selalu mengingat pesan anda bahwa tidak ada yang boleh menjemput Azzam dan Azzura kecuali sopirnya," ucap kepala sekolah.

"Terima kasih Bu atas kerjasamanya," ucap Akira kemudian menjabat tangan kepala sekolah.

"Sama-sama Bu," ucap kepala sekolah.

Setelahnya wanita itu segera keluar dari kantor untuk segera berangkat bekerja. Tapi saat melewati kelas di mana Azzam dan Azzura belajar, ia mendengar di kelas itu ada anak-anak yang menangis.

Suara tangisan anak itu seperti suara Azzura, membuat Akira menghentikan langkah kakinya.

Akira yang menghentikan langkah kakinya segera kedalam kelas untuk melihat siapa yang sedang menangis disana.

"Azzam sama Azzura nggak punya papa, kita nggak usah temanin mereka," ucap salah satu anak didalam kelas itu.

Azzura menangis kencang, sedangkan Azzam disana hanya diam saja dengan mata yang berkaca-kaca, dia juga sudah ingin menangis.

"Hiks, hiks. Kami ini punya Papa! Papa kami lagi kerja!" teriak Azzura sembari menangis.

Akira yang berdiri di ambang pintu melihat sendiri bagaiman kedua anaknya dijauhi karena tidak punya ayah oleh teman-temannya.

Tidak lama kemudian ada seseorang yang menepuk bahunya. Orang itu ialah Bu Cindy wali kelas tempat si kembar belajar.

"Anda tidak usah khawatir Bu, Azzam dan Azzura bisa menanganinya sendiri," ucap Bu Cindy pada Akira.

"Iya Bu, kalau begitu saya titip anak-anak ya," ucap Akira.

"Iya Bu," ucap Bu Cindy.

Wanita itu segera melanjutkan langkah kakinya untuk pergi dari sana, lalu menuju kantor karena sekarang ini ia sudah terlambat.

Setibanya di kantor, Akira sudah tidak melihat para karyawan yang biasa mengantri dilobby untuk absen fingerprint.

Kondisi lobby sudah sepi dan bersih. Wanita itu juga tidak melihat Raka yang selalu berdiri di sudut lobby saat ia datang kekantor.

'Apa mungkin karena aku kesiangan datang jadi tidak melihat Raka berdiri disana' pikir Akira sembari menatap sudut lobby di mana Raka selalu berdiri di sana.

"Anda cari siapa Bu?" tanya Lina pada Akira.

"Ehh, tidak ada, Lin." jawab Akira.

Ternyata sejak tadi Lina memperhatikan Akira yang sedang mencari keberadaan Raka.

Kedua wanita itu terus berjalan untuk segera tiba diruang kerja Akira.

Setibanya di sana ternyata seseorang yang Akira cari itu berada di ruangannya sendiri sedang mengepel lantai ruang tersebut.

Akira terheran kenapa bisa Raka berada diruang kerjanya, dan sedang bersih-bersih, padahal setiap harinya OG seniorlah yang biasa membersihkan ruangan kerjanya.

"Loh kok, OB nya kamu?" tanya Lina pada Raka.

Ternyata bukan Akira saja yang heran karena Raka ada di ruangan itu, melainkan dengan Lina juga.

"Iya Bu, saya diminta Pak Ari untuk menggantikan Bu Yuli bersih-bersih di ruangan ini," jawab Raka.

Alis sebelah kanan Akira terangkat mendengar Raka berbicara dengan Lina begitu lancar. Wanita itu jadi bertanya sendiri dalam hati, apa padaku saja dia berbicara dengan gagap.

"Memangnya Bu Yuli kemana?" tanya Lina.

"Bu Yuli sedang sakit, jadi beberapa hari ini saya yang akan menggantikannya," jawab Raka.

Lina menganggukkan kepalanya, kemudian menyuruh Raka untuk lanjut mengerjakan pekerjaan pria itu sedangkan Lina sendiri menghampiri Akira yang sudah duduk di kursi kerja.

"Ibu kemarin tanya nama OB yang ini, kan?" tanya Lina pada Akira mengecilkan suaranya.

"Iya Lin, tapi sekarang aku sudah tahu namanya," jawab Akira

"Siapa Bu namanya?" tanya Lina.

"Raka Alfareza," jawab Akira.

"Tahu dari mana Bu?" tanya Lina.

"Tahu dari baju seragam OB yang dia pakai," jawab Akira apa adanya.

Lina menganggukkan kepalanya, kemudian berpamit pada Akira untuk lanjut mengerjakan pekerjaannya.

Tapi, sebelum keluar dari ruang kerja Akira, wanita itu meminta Raka untuk membuatkan dua cangkir kopi latte untuknya dan untuk Akira.

Setelah kepergian Lina dan Raka dari ruang kerja itu, Akira segera menghidupkan laptopnya dimana ia akan melanjutkan membuat desain baju yang kemarin belum selesai ia buat.

Tidak lama kemudian, pintu ruangan kerja itu dibuka oleh Raka yang membawakan secangkir kopi latte untuk Akira.

"Bisa tidak kalau masuk ketuk pintu dulu," ucap Akira yang mampu menghentikan langkah kaki Raka.

"Ma-ma-af Bu," ucap Raka tergagap lagi.

Pria itu kembali keluar dari ruang kerja tersebut lalu mengetuk pintu ruangan itu yang pintunya ia tutup sendiri.

Tok tok tok

Akira menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir pada kelakuan Raka yang menurutnya 'aneh'.

Tok tok tok

Pintu tersebut diketuk lagi oleh Raka tapi Akira diam saja, ia tidak mengheraninya.

Tok tok tok

Lagi-lagi Raka mengetuk pintu tersebut membuat Akira yang sedang bekerja terganggu, membuatnya melempar bolpoin yang ada ditangannya kearah pintu tersebut.

Bukk!

Aww!

Bolpoin yang Akira lempar rupanya mendarat di kepala Raka yang membuka pintu ruang kerja tersebut, karena Akira didalam ruangan tersebut tidak kunjung menjawab ketukannya.

Sembari mengusap kepalanya yang terkena bolpoin, Raka melangkahkan kakinya masuk keruangan itu.

"Jangan masuk lagi ke ruang kerjaku," ucap Akira dengan kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!