Bab. 15 Berteduh

Tok tok tok

Kali ini aku tidak lupa lagi mengetuk pintu saat hendak masuk ke ruangan Bu Akira.

"Masuk," ucapnya dari dalam ruangan.

Karena sudah dipersilahkan untuk masuk, aku segera membuka pintu ruangan ini.

Aku melihat Bu Akira sedang fokus pada laptopnya, ia sama sekali tidak menyadari bila yang masuk ke dalam ruangannya itu adalah aku.

Aku yang sudah masuk ke dalam ruangan Bu Akira jadi ragu untuk lanjut melangkah mendekat padanya. Aku khawatir bila Bu Akira akan marah lagi padaku dan mengusirku seperti tadi.

Meski ragu, tapi aku tetap melanjutkan langkah kakiku hingga kini sudah berada didepan meja Bu Akira.

"Permisi Bu, ini makan siangnya," ucapku seraya meletakkan kotak makan siang di meja Bu Akira.

Bu Akira yang tadi sedang fokus pada laptopnya, kini mengalihkan pandangannya menatap padaku.

"Oohh, kamu yang nganterin. Maaf, ya, tadi saya sudah ngusir kamu," ucap Bu Akira.

Aku pikir Bu Akira akan marah padaku, tapi ternyata tidak. Beliau justru meminta maaf padaku atas kejadian tadi pagi.

"Tidak apa-apa, Bu. Saya tadi memang salah karena tidak mengetuk pintu lebih dulu," ucapku yang diangguki Bu Akira.

"Kalau begitu saya permisi, Bu," ucapku kemudian membalikkan tubuh.

Tapi Bu Akira justru mencegahku untuk melangkah pergi keluar dari ruangan ini.

"Iya Bu," ucapku seraya membalikkan tubuh lagi untuk menghadap Bu Akira.

"Nama kamu Raka, kan?" tanya Bu Akira.

"Iya betul Bu, nama saya Raka," jawabku.

"Bagaimana Azzam dan Azzura tahu namamu?" tanya Bu Akira.

"Oh itu, saya ngajak kenalan pada mereka, Bu," jawabku.

"Oh, pantesan mereka tahu namamu," ucap Bu Akira.

Setelahnya, aku menunggu Bu Akira berbicara lagi namun beliau hanya diam saja.

"Kalau sudah tidak ada yang anda tanyakan, saya permisi keluar, Bu," ucapku.

"Iya," ucap Bu Akira.

Aku lebih dulu membungkukkan tubuhku, memberi hormat pada Bu Akira lalu setelahnya keluar dari ruangan ini.

Setibanya di luar ruangan Bu Akira, aku membungkukkan tubuhku lagi pada bu Lina kemudian berjalan menuju pintu lift.

Setibanya dilantai satu, bertepatan dengan jam istirahat, membuatku segera menuju dapur untuk beristirahat.

Tapi, baru saja tiba didapur, aku sudah dihampiri oleh seseorang.

"Ehh, Raka, mana pesanan makan siang punyaku?" tanya seorang wanita yang menghampiriku.

Pertanyaan orang itu tentunya membuatku tersentak. Aku sudah memberikan semua pesanan makan siang tadi, tapi ada orang yang menagih pesanan makan siangnya.

"Memangnya, Mbak tadi belum dapat?" tanyaku.

"Belum lah, kamu aja nggak ada nganterin ke ruanganku," jawab wanita itu.

"Waduh, Mbak, pesanan makan siangnya sudah habis, sudah saya antarkan semua," ucapku.

Rupanya aku salah memberikan pesanan makan siang milik wanita yang sedang protes ini, yang tadi justru aku berikan pada orang lain.

"Kamu ini gimana sih aku yang pesan tapi justru dikasihkan orang lain," ucap wanita itu mengomeliku.

"Maaf, Mbak, saya rasa tadi saya salah memberikannya," ucapku.

"Terus gimana dong, sekarang?" tanya wanita itu.

"Begini aja, Mbak, gimana kalau uang Mbak, saya ganti," jawabku.

"Ya sudah deh, dari pada aku nggak makan terus kehilangan duit kan mending diganti duitnya," ucap wanita itu.

Aku menganggukkan kepala kemudian merogoh saku celana seragam OB yang sedang aku kenakan.

Didalam saku, hanya ada uang satu lembar berwarna biru yang tadinya akan aku gunakan membeli pertalite untuk sepeda motorku.

"Ini Mbak," ucapku seraya menyerahkan uang tersebut.

"Uangku tadi 55 ribu, dan ini masih kurang 5 ribu, tapi ... ya udah deh nggak apa-apa," ucapnya.

Wanita itu segera mengambil uang yang aku serahkan padanya lalu pergi dari hadapanku.

Hufftt.

"Lagi-lagi aku dikerjain," gumamku.

Aku menggelengkan kepala tak habis pikir pada orang yang sudah mengaku memesan makanan milik wanita tadi yang ternyata tidak, sehingga aku harus menggantinya.

Aku yakin orang itu pasti sengaja mengerjaiku.

"Nasib-nasib," gumamku.

Uang untuk membeli pertalite sudah aku berikan pada wanita tadi, membuat aku sekarang bingung hendak pulang bagaimana karena bahan bakar di motorku tinggal sedikit lagi.

Belum lagi dompetku yang ada ATM-nya ketinggalan dirumah kontrakan.

"Kenapa Ka? Dikerjain lagi kamu?" tanya Bayu.

"Ya begitulah, Bay, nasib orang jelek pasti selalu dikerjain," jawabku.

"Kamu ini kerja diperusahaan yang menggeluti bidang fashion, Ka, jelas aja lah kamu sering dikerjain karena penampilan kamu itu culun banget, nggak sesuai dengan bidang perusahaan," cibir Bayu.

"Mau gimana lagi, Bay. Inilah aku, apa adanya," ucapku pasrah.

"Untung aja Bu Akira tidak mempermasalahkan penampilan karyawan yang culun kayak kamu, jadi kamu masih bisa kerja di sini," ucap Bayu.

"Nah, tuh, Bu Akira aja tidak mempermasalahkan kenapa kalian yang tidak terima?" tanyaku.

Pertanyaanku itu mampu membungkam mulut Bayu yang terus saja mencibirku.

Pria itu justru melengos pergi tanpa menjawab pertanyaan dariku.

Lagi-lagi aku hanya mampu menggelengkan kepala. Selama 6 bulan bekerja dikantor ini, aku sama sekali tidak memiliki teman.

Baik OB, maupun karyawan yang lainnya, mereka enggan berteman denganku karena aku culun dan tentunya tidak selevel dengan mereka.

*****

Detik berganti menit, menit berganti jam.

Kini hari sudah sore tepatnya pukul 05.30 saatnya bagiku untuk pulang kerja.

Seperti biasa aku pulang kerja setengah jam lebih akhir karena harus membersihkan ruangan yang ada di lantai 2.

Setibanya di parkiran, rupanya hanya tersisa motorku dan satu mobil mewah yang terparkir di parkiran mobil.

"Itu, kan, mobilnya Bu Akira. Apa dia belum pulang?" tanyaku.

Aku hampiri motorku yang berada di parkiran motor, kemudian membuka jok motor untuk melihat isi pertalite di dalam tangki.

"Yah, ini mah habis, paling juga baru jalan setengah kilo sudah mati," gumamku sembari menutup lagi tangki motorku ini.

"Mending jalan aja lah," gumamku.

Aku memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumah, selain karena motorku kehabisan BBM aku juga tidak ada uang untuk membayar taksi ataupun ojek.

"Kenapa pas banget aku nggak bawa dompet dan uang disaku buat ganti makanan orang," ucapku sembari berjalan.

Kurang lebih sudah 1 KM aku berjalan menjauh dari kantor, tiba-tiba terasa rintik air hujan perlahan turun.

Rintik air yang awalnya kecil, lama kelamaan menjadi hujan lebat membuatku segera berlari mencari tempat bernaung.

Teras toko aku pilih untuk bernaung karena tempat itulah yang paling dekat dari tempatku terakhir kalinya.

Aku bernaung di sana meski pakaianku sudah sedikit basah.

Cukup lama aku berada diteras toko ini untuk menunggu hujan reda.

Tidak lama kemudian, ada sebuah mobil mewah berhenti di depan toko tempat aku berteduh.

Kaca jendela mobil bagian kemudi dibuka oleh seseorang di dalamnya, lalu memanggil namaku.

"Raka, ayo pulang," ajak seseorang didalan mobil tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!