Bab. 17 Ini Papa Kalian, Nak

Raka berjalan menyusuri jalanan di bawah rintik air hujan yang semakin membuat tubuhnya basah.

"Kenapa di saat aku terlihat menyedihkan Bu Akira melihatnya?" tanya Raka pada dirinya sendiri seraya terus berjalan.

Sungguh ia seperti tidak memiliki harga diri lagi di depan Akira. Dirinya yang begitu menyedihkan seperti seorang pengemis, membuat Akira mengasihani dirinya.

Harusnya Raka tidak merasa seperti itu, karena Akira benar-benar tulus mau mengantarnya pulang kerumah.

Tapi perasaannya tidak bisa dibohongi, karena ia tahu diri bila dirinya hanyalah seorang OB.

Setelah Raka turun dari mobil Akira, wanita itu tidak langsung mengemudikan lagi mobilnya. Akira memperhatikan Raka yang sedang berjalan di tepi jalan.

"Mau dianterin pulang malah tidak mau," gumam Akira seraya menggelengkan kepalanya tak habis fikir pada Raka.

Ia sudah berbaik hati menumpangi Raka naik kemobilnya dan hendak mengantarnya pulang, tapi Raka sendiri justru minta diturunkan dihalte sehingga pria itu harus berjalan kaki dibawah rintik air hujan.

Tidak lama kemudian, Akira melajukan kembali mobilnya. Saat melewati Raka yang sedang berjalan, wanita itu menyempatkan untuk membunyikan klakson mobilnya.

Raka yang mendengar bunyi klakson tersebut menganggukan kepalanya sekilas untuk menghargai sapaan dari Akira.

30 menit waktu yang ditempuh oleh Akira, akhirnya ia tiba juga di rumahnya.

Begitu membuka pintu rumah, ia sudah disambut oleh Azzam dan Azzura yang menunggunya di ruang tamu.

"Mama kenapa terlambat sekali pulangnya?" tanya Azzura.

"Di jalan hujan lebat, Nak, jadi Mama pelan-pelan bawa mobilnya," ucap Akira seraya menduduk bokongnya di sofa.

"Iya Mama di sini juga hujan," ucap Azzura.

Akira menganggukan kepalanya.

"Kalian sudah makan?" tanya Akira pada kedua anaknya.

"Sudah Ma, baru aja kami selesai makan malam," jawab Azzura sedangkan Azzam hanya diam saja.

Azzam yang biasa ceria banyak bertanya saat ini Akira melihatnya hanya diam saja hal itu tentu saja membuat Akira bertanya-tanya.

Wanita itu terlebih dahulu mengusap puncak kepala Azzam barulah membuka suaranya.

"Azzam kenapa diam aja?" tanya Akira.

"Azzam sama Azzura dijauhi teman-teman Ma, karena kami tidak punya papa," jawab Azzam.

Akira tersenyum getir. Ia tentu saja merasakan apa yang dirasakan oleh kedua anak kembarnya itu. Terlebih lagi Akira melihat sendiri bagaimana Azzam dan Azzura dijauhi oleh teman-temannya.

"Azzam, Mama kan pernah bilang, kalau Azzam dan Azzura itu punya papa, hanya saja papa kalian sedang kerja di luar kota," ucap Akira.

"Kenapa papa kami tidak pernah pulang, Ma?" tanya Azzura.

Wajah Akira berubah pias, karena ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Azzam dan Azzura.

Wanita itu hanya mampu diam sembari memikirkan bagaimana cara menjelaskannya

"Kenapa Mama diam aja?" tanya Azzam.

"Iya Ma, kenapa mama diam?" tanya Azzura.

Akira yang didesak oleh kedua anaknya akhirnya kembali bicara.

Tapi sebelum bicara, Akira lebih dulu merangkul kedua anak kembarnya dan menangis dipelukan Azzam dan Azzura.

Melihat Akira yang menangis tentu saja membuat Azzam dan Azzura kebingungan.

"Mama kenapa nangis?" tanya Azzura.

"Iya Mama kenapa nangis?" tanya Azzam.

Akira mengurai pelukannya, lalu menatap pada kedua anak kembarnya.

"Kalian janji ya, kalau Mama kasih tahu siapa papa kalian, Azzam dan Azzura tidak akan meninggalkan Mama," ucap Akira sembari menyeka air matanya.

Kedua anak kembar Akira itu saling pandang kemudian menganggukkan kepalanya.

"Kami janji tidak akan meninggalkan Mama, meski tahu siapa papa kami," ucap Azzam.

Akira menganggukan kepalanya kemudian mengeluarkan ponsel di dalam tasnya.

Wanita itu membuka akun media sosial milik mantan suaminya, lalu menunjukkan foto Aarav Adiputro pada Azzam dan Azzura.

"Ini, kan, orang yang tadi pagi nemuin kami di sekolahan Ma," ucap Azzura.

"Iya Ma, orang ini juga menunjukan foto mama dan pria ini menggunakan baju pengantin," ucap Azzam.

"Ini papa kalian, Nak," ucap Akira.

"Jadi ... orang ini papa kami Ma?" tanya Azzura yang dijawab anggukan kepala oleh Akira.

"Kalau papa sudah pulang kerja kenapa dia tidak pulang ke rumah kita Ma?" tanya Azzam.

"Tidak bisa Nak, karena mama dan papa kalian ini sudah berpisah," jawab Akira.

"Apa itu artinya kami tidak boleh bersama dengan papa?" tanya Azzura.

Akira terdiam, Azzam dan Azzura tentunya ingin bersama dengan papa mereka karena selama ini kedua anak itu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.

Tapi bila ia mengizinkan Azzam dan Azzura ikut bersama Aarav, ia khawatir mantan suaminya pasti tidak akan membiarkan kedua anaknya kembali padanya.

"Kalau kalian bersama dengan papa artinya kalian akan meninggalkan mama, bukannya kalian tadi sudah janji tidak akan meninggalkan mama?" tanya Akira.

Azzam dan Azzura serentak menganggukkan kepalanya.

"Kami tidak akan pernah meninggalkan mama," ucap Azzam dan Azzura serentak

"Terima kasih, Nak," ucap Akira menangis haru.

Wanita itu langsung saja memeluk kedua anaknya. Akira akui dirinya memang egois karena tidak pernah mengenalkan Aarav pada kedua anaknya sehingga Azzam dan Azzura tidak mengenal siapa ayah mereka.

Bukan tanpa sebab Akira melakukannya. Ia sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan Aarav.

Saat ia hamil Azzam dan Azzura juga, Aarav sama sekali tidak pernah memperhatikannya. Akira melalui kehamilan seorang diri tanpa didampingi oleh suaminya.

Oleh karena itu, Akira mengklaim Azzam dan Azzura hanya anaknya. Aarav sama sekali tidak berhak atas kedua anak kembarnya itu.

Setelah puas memeluk Azzam dan Azzura, Akira segera mengurai pelukannya.

"Ayo temani Mama makan malam," ajak Akira.

"Siap Mama!" ucap Azzam dan Azzura serentak dengan semangat.

Akira bangkit dari duduknya kemudian menggandeng Azzam disisi kanan dan Azzura di sisi kirinya untuk segera menuju meja makan.

"Yakin nih, Azzam dan Azzura tidak mau makan lagi?" tanya Akira.

"Tidak Mah, aku sudah kenyang," jawab Azzura.

"Kalau Azzam?" tanya Akira.

"Aku juga sudah kenyang Mah," jawab Azzam.

"Baiklah kalau begitu Mama saja yang habiskan makanannya," ucap Akira.

"Iya Ma, Mama makan yang banyak," ucap Azzura.

Akira segera menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Sembari mengunyah makanan itu, ia melirik pada Azzam dan Azzura yang sedang memperhatikannya makan.

Kedua anaknya itu tertangkap olehnya sedang menelan saliva karena melihat makanan yang enak.

Meski kedua anak itu sudah kenyang, tapi Akira yakin Azzam dan Azzura masih ingin makan lagi.

Pada akhirnya Akira menyuapi Azzam dan Azzura yang tentunya langsung diterima oleh kedua anak itu.

Di saat ia sedang asik menyuapi Azzam dan Azzura tiba-tiba wanita itu dihampiri oleh satpam.

"Bu, di depan rumah ada Pak Aarav Adiputro ingin bertemu," ucap Satpam itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!