POV. RAKA
Disaat sedang membersihkan kembali lantai lobby, aku seperti mendengar suara seseorang yang aku kenal.
Aku membalikan tubuhku kearah dimana suara itu berasal. Benar seperti dugaanku, aku memang mengenali suara seseorang itu. Orang itu ialah Bu Akira.
Aku memang mengenalnya karena dia adalah bos di perusahaan tempatku bekerja. Bukan hanya karena itu, aku mengenal Bu Akira karena beliau lah wanita yang sudah membuat jantungku berdebar hebat.
Hanya mendengar suaranya saja seperti sekarang ini, itu sudah mampu membuat jantungku berdebar tak karuan.
Aku yang sedang membersihkan lantai lobby seketika tidak bisa fokus lagi. Fokusku hanya tertuju pada Bu Akira yang memanggil nama 'Azzam dan Azzura'.
Ternyata yang dipanggil Bu Akira itu adalah anak-anak yang sudah membuat kekacauan di lobby.
Bisa aku dengar bila anak-anak itu memanggil Bu Akira dengan sebutan 'Mama'.
"Hahh? Apa saya tidak salah dengar, bila anak-anak nakal itu memanggil Bu Akira dengan sebutan Mama?" tanya Pak Ari terkejut.
Bukan hanya Pak Ari saja yang terkejut, melainkan aku juga ikut terkejut mengetahui fakta itu. Aku tidak pernah menyangka, bila Bu Akira itu sudah memiliki anak.
"Tidak salah dengar Pak, saya juga mendengarnya," jawabku.
"Ternyata gosip bila Bu Akira janda itu memang benar," ucap Pak Ari.
"Memangnya ada gosip seperti itu ya, Pak?" tanyaku pada Pak Ari.
"Iya Ka, dulu memang pernah ada gosip seperti itu yang kami dengar, tapi saya pikir itu hanya gosip saja." jawab Pak Ari.
Aku menganggukkan kepala, tanda mengerti pada apa yang dijelaskan Pak Ari.
Sejujurnya dilubuk hatiku paling dalam aku kecewa mengetahui fakta bila Bu Akira adalah janda beranak 2.
Bukan kecewa karena Ia sudah memiliki anak, melainkan aku kecewa karena semakin tidak mungkin aku bisa memilikinya.
Meski kecewa aku tetap mengaguminya, karena hanya itulah yang bisa aku lakukan. Mengagumi Bu Akira secara diam-diam.
Tidak lama kemudian aku melihat Bu Akira bersama kedua anak kembar tadi berjalan kearah pintu keluar, melewati ku yang masih berdiri menatap mereka bertiga.
Setelah tiga langkah melewatiku, kedua anak kembar disisi kiri dan kanan Bu Akira menghentikan langkah kakinya.
Kedua anak kembar itu membalikan tubuhnya menghadapku membuat Bu Akira juga membalikan tubuhnya ikut menghadapku.
"Maaf, ya, Om Raka, kami sudah menyusahkanmu," ucap kedua anak kembar itu.
Aku terkejut dibuatnya, ternyata kedua anak kembar itu tahu namaku. Padahal tadi aku mengajak mereka berkenalan, kedua anak itu mengabaikanku.
"Ahh, iya. Tidak apa-apa Dek, ini semua sudah menjadi pekerjaan saya," ucapku seraya tersenyum pada kedua anak kembar itu.
"Kenalin Om, namaku Azzam," ucap anak laki-laki itu mengulurkan tangannya padaku.
"Kenalin juga Om, namaku Azzura," ucap anak perempuan itu yang ikut mengulurkan tangannya padaku.
Aku kemudian menjabat tangan mereka satu persatu.
"Salam kenal Azzam, Azzura," ucapku.
"Sudah, kan?" tanya Bu Akira pada kedua anak kembar itu.
"Sudah Ma," jawab Azzura dan Azzam seraya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kita pulang sekarang ya," ucap Bu Akira.
"Iya, Ma," ucap Azzam dan Azzura serentak lagi.
Aku pikir mereka langsung akan pulang. Tapi ternyata Bu Akira mengucapkan terima kasih padaku, membuat aku serasa tersanjung.
"Terima kasih ya," ucapnya singkat tapi lagi-lagi membuat jantungku berdebar hebat.
"Sa-sa-ma sa-sa-ma, Bu," ucapku.
Entah kenapa bila berbicara dengan Bu Akira, aku selalu terbata membuat Bu Akira semakin ilfil padaku.
Setelahnya mereka bertiga membalikan tubuh untuk segera pulang ke rumah dengan Bu Lina yang mengikuti mereka bertiga dari belakang.
Pandanganku masih menatap pada kepergian mereka hingga tersadar oleh deheman dari Pak Ari.
"Ehhemm," dehem Pak Ari.
"Iya Pak," ucapku.
"Cepat selesaikan pekerjaanmu, baru setelahnya kamu boleh istirahat," ucap Pak Ari kemudian berlalu kembali kedapur.
Aku menganggukkan kepala meski Pak Ari berlalu dari hadapanku, setelahnya aku bersihkan kembali lantai yang kotor karena ulah si kembar tadi.
Hampir jam 01.00 siang aku baru selesai membersihkan lobby tersebut dan aku baru bisa beristirahat.
Ku datangilah dapur kantor yang berada di lantai satu ini untuk beristirahat di sana.
Para OB dan OG rupanya sudah berkumpul sejak tadi di dapur, karena mereka istirahat tepat pukul 12.00 siang sedangkan aku jam 01.00 siang ini baru bisa istirahat.
Istirahat hanya untuk sekedar minum saja aku tadi tidak sempat karena kedatangan kedua anak Bu Akira kekantor.
"Rajin banget kamu Raka, jam segini baru istirahat," ucap Bayu temanku sesama OB di kantor ini.
"Iya, tadi aku bersihin lobby kantor dulu, Bay," jawabku seraya mengambil air minum dari dispenser lalu meneguknya.
"Nggak usah rajin-rajin kamu Ka, meskipun kamu rajin, gaji OB seperti kita ini tetap segitu," ucap Bayu.
Aku diam tak menanggapi ucapan Bayu. Dalam benakku bagaimana aku tidak rajin bila yang selalu diberi pekerjaan oleh Pak Ari itu hanya aku, seolah aku ini anak tirinya.
Kubuka kotak bekal makan siangku yang memang sengaja aku bawa dari rumah, lalu memakannya.
"Bawa bekal lagi? sekali-sekali dong, Ka, kamu makan di kantin kantor, jangan bawa bekal terus," ucap Bayu mencibirku.
"Hemat, Bay," ucapku.
"Hidup itu dinikmatin Ka, kamu kerja setiap hari, dapat gaji setiap bulan, ya sekali-sekali lah makan enak," ucap Bayu terus berceloteh.
Celotehan Bayu itu sama sekali tidak aku tanggapi, sehingga lama kelamaan pria itu menutup mulutnya diam tak berbicara lagi.
Sudah biasa aku mendengar celotehan dari rekan kerjaku sesama OB, dan itu tentunya tidak mampu melunturkan semangat di dalam diriku untuk terus bekerja.
Tidak lama kemudian aku telah selesai dengan makan siangku.
Sembari menunggu jam kerja masuk, aku membuka ponselku yang sudah lusuh karena tadi mendengar suara bunyi notifikasi pesan masuk.
Aku membuka pesan yang belum terbaca itu.
Rupanya pesan itu berasal dari bank yang mentransfer gaji bulananku.
"Alhamdulillah, gajian udah masuk," gumamku.
Setelahnya, aku membuka aplikasi Mobile Banking, kemudian mentransfer sedikit gajiku ke rekening Ibu di kampung.
Tidak lama kemudian setelah aku mentransfer uang tersebut ponselku berbunyi, ternyata Ibu dikampung yang menghubungiku.
"Assalamualaikum, Bu," ucapku menjawab panggilan telepon tersebut.
"Kamu tadi habis transfer Ibu uang ya, Le?" tanya Ibu di seberang telepon.
"Nggih Bu, aku tadi transfer uang buat Ibu sama Bapak di sana untuk satu bulan," jawabku.
"Terima kasih banyak ya, Le. Kamu disana jangan lupa jaga kesehatanmu," ucap Ibu memberi pesan.
"Nggih Bu, Ibu sama Bapak di sana juga jaga kesehatannya ya," ucapku.
"Pasti Le. Ya sudah Ibu tutup teleponnya ya, Assalamualaikum," ucap Ibu.
"Iya Bu, Waalaikumsalam," ucapku kemudian panggilan telepon itu berakhir.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments