Bab. 9 Kekampus

Pukul 05.30 sore aku baru keluar dari gedung kantor di mana seharian ini aku sudah bekerja.

Dengan mengendarai sepeda motor Supra, aku membelah jalanan yang dipadati oleh banyaknya kendaraan berlalu lalang dijalanan menuju tempat tujuannya masing-masing.

Aku sendiri mengendarai sepeda motor ini untuk menuju rumah, di mana sudah setengah tahun ini aku tempati.

Setibanya di rumah kontrakan, aku segera membersihkan diri, baru setelahnya memasak makan malam.

"Akhirnya selesai juga," ucapku.

Hanya membutuhkan waktu 15 menit aku sudah selesai membuat makan malam. Telur dadar serta sambal adalah menu khas diriku untuk makan malam.

Telur yang mudah dimasaknya tentu saja menghemat waktu diriku, karena setelah ini aku harus segera berangkat kuliah.

Untuk nasinya, masih ada sisa nasi tadi pagi yang aku masak.

"Ka, Raka," panggil seseorang diluar rumah membuatku yang sedang menikmati makan malam segera menghentikannya.

"Iya," jawabku seraya membukakan pintu rumah.

Ternyata yang memanggilku tadi ialah Bu Mega, Ibu pemilik kontrakan yang aku tempati.

"Sudah tanggal 5 Ka, waktunya bayar kontrakan," ucap Bu Mega.

"Oh, iya Bu, maaf, saya belum sempat nganterin ke rumah Ibu," ucapku.

"Iya tidak apa-apa, Ka, yang penting kamu bayar sekarang," ucap Bu Mega.

"Tunggu sebentar saya ambilkan dulu uangnya, Bu," ucapku yang hanya diangguki oleh Bu Mega.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah, mengambilkan beberapa lembar uang berwarna merah untuk membayar kontrakan.

"Ini Bu, uangnya," ucapku seraya menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah tersebut.

Bu Mega langsung menerima uang yang aku berikan padanya, lalu menghitungnya.

"Oke, pas," ucap Bu Mega setelah selesai menghitung uang yang aku berikan.

"Makasih ya Raka," ucap Bu Mega seraya melengos pergi dari rumah kontrakan yang aku sewa, aku bahkan belum sempat menjawab ucapan terima kasihnya, tapi wanita paruh baya itu sudah pergi.

Setiap tanggal 5 seperti hari ini, Bu Mega memang selalu berkeliling untuk menagih uang sewa kontrakannya.

Setelah menerima uang tersebut, wanita paruh baya itu selalu pergi begitu saja, sehingga aku sudah tidak heran lagi melihat kelakuan Bu Mega tadi.

Setelah kepergian Bu Mega, aku segera menghabiskan lagi makan malam yang baru separuh aku makan.

Begitu selesai dengan makan malam, aku segera berangkat ke kampus yang membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di sana.

Setibanya di kampus ternyata pelajaran sudah dimulai, aku terlambat 10 menit, di mana jam pertama dimulai pukul 07.30 malam, sedangkan sekarang ini sudah pukul 07.40 menit.

"Maaf, Bu, saya terlambat," ucapku pada dosen yang sedang mengajar di kelas ini.

"Saya pikir kamu tidak hadir, Raka, karena kamu tidak pernah terlambat seperti ini sebelumnya," ucap Bu dosen dikelas ini.

"Iya Bu, karena saya tadi terlambat pulang kerjanya," ucapku.

"Baiklah, kamu boleh duduk. Untuk hukuman kamu yang terlambat, silahkan kamu salin catatan milik temanmu yang baru saja saya jelaskan," ucap Bu dosen.

"Baik Bu, terima kasih," ucapku, kemudian duduk di kursi tempat aku biasanya duduk saat berada di kelas ini.

"Salin dari buku catatan punyaku aja, Ka," ucap Zaskia yang duduk di kursi sebelah kananku.

Aku terlebih dahulu menoleh pada Zaskia yang menawarkan buku catatannya baru setelahnya aku mengambil buku tersebut.

"Aku pinjam dulu ya," ucapku yang diangguki oleh Zaskia.

Beruntung aku terlambat hanya 10 menit sehingga catatan yang harus aku salin itu tidak begitu banyak.

"Enaknya elo Ka, terlambat cuma dihukum suruh nyalin catatan. Kalau gue yang terlambat, gue pasti udah nggak dibolehin masuk kelas sama tuh dosen," ucap Arga yang duduk di sebelah kiriku.

Belum sempat aku menjawab ucapan Arga, Zaskia lebih dulu berbicara.

"Itu karena kamu sudah kesering terlambat, Ga." ucap Zaskia.

"Aduh, sayang kamu kok yang jawab sih. Aku kan lagi ngomong sama Raka, bukan sama kamu," ucap Arga pada Zaskia.

"Enak aja panggil sayang, emangnya kapan kita pernah jadian," ucap Zaskia.

Aku di sini hanya jadi pendengar, Zaskia dan Arga yang berdebat, sembari terus menyalin catatan di buku milik Zaskia.

"Ada apa di sana ribut-ribut?" tanya Bu dosen pada kami bertiga.

"Tidak ada, Bu," jawab Zaskia, sedangkan aku dan Arga hanya diam saja.

"Saya ingatkan kembali, jangan ada yang berbicara di saat saya sedang menjelaskan," ucap Bu dosen.

"Baik Bu," ucap kami serentak.

Setelannya kami benar-benar memperhatikan Bu dosen yang sedang menjelaskan di depan.

Arga yang biasanya banyak bicara juga, kini diam dan memperhatikan kedepan.

Tidak terasa jam kuliah berakhir, membuat kami yang berada di dalam kelas segera membubarkan diri.

Setiap harinya kami yang berkuliah malam pulang pukul 10.30 malam, dengan dua mata pelajaran yang kami pelajari setiap malamnya.

Kalau bisa memilih aku inginnya berkuliah saat siang hari, pasalnya waktu kuliah lebih panjang dan tentunya banyak pelajaran yang bisa aku pelajari.

Tapi, seperti ini saja aku sudah bersyukur karena bisa berkuliah meski diusia yang sudah 23 tahun, aku baru memasuki semester 2.

"Ka, aku pulang bareng kamu ya," ucap Zaskia padaku, membuat aku menoleh padanya.

"Memangnya mobil kamu kenapa, Zas?" tanyaku.

"Mobilku nggak papa sih, Ka. Aku cuma pengen pulang bareng kamu aja," ucap Zaskia.

"Kalau mobilmu tidak apa-apa mendingan kamu naik mobil aja, Zas. Bahaya kalau perempuan malam-malam naik motor," ucapku.

"Kan ada kamu Ka," ucap Zaskia.

"Iya sih, Zas, tapi sebaiknya kamu naik mobil aja," ucapku.

"Ya sudah deh kalau kamu nggak boleh aku bareng kamu," ucap Zaskia kemudian berlalu menuju mobilnya.

Setelah kepergian Zaskia, aku segera memasang helm, lalu menghidupkan motor untuk segera aku kendarai.

Baru saja aku hendak menarik gas, bahuku tiba-tiba ditepuk oleh seseorang, membuatku menoleh pada orang tersebut.

"Kenapa, Ga?" tanyaku pada Arga.

"Elo tahu kan kalau gue suka sama Zaskia?" tanya Arga.

"Iya tahu, soalnya kamu pernah nembak Zaskia tapi ditolaknya," jawabku biasa tapi dianggap oleh Arga mengejeknya.

"Siialan lo!" ucap Arga sembari melayangkan kepalan tangannya padaku, namun aku bisa menghindarinya.

"Ngapain lo ngehindar?" tanya Arga.

"Kita bisa membicarakannya baik-baik, Ga. Tidak perlu pakai kekerasan seperti ini," ucapku.

"Ck! Sok bijak lo! Gue minta elo jauhin Zaskia, dia itu punya gue!" ucap Arga kemudian berlalu dari hadapanku.

Aku tak mengerti kenapa Arga bisa begitu marah padaku, padahal aku sendiri tidak pernah mendekati Zaskia.

Aku hidupkan kembali, motor Supra yang tadi sudah aku matikan karena didatangi oleh Arga.

Setelahnya aku kendarai motor tersebut untuk menuju rumah kontrakanku.

Terpopuler

Comments

George Lovink

George Lovink

Thor...anda lagi tulis pengalaman pribadikah...kalau nulis novel setahu saya tidak pake kata Aku...seolah anda lagi nulis kisah pribadi...

2023-08-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!