Bab. 18 Hanya Anakku

"Bu, di depan rumah ada Pak Aarav Adiputro ingin bertemu," ucap Satpam itu.

Akira yang mendengar satpam memberitahukan bila ada Aarav Adiputro di depan rumah tentu saja terkejut.

Kedatangan pria itu tentu saja membuatnya khawatir. Ia tak mau bila anak-anaknya mendengar perdebatan mereka, pasalnya setiap Akira bertemu dengan Aarav selalu saja keduanya bertengkar.

"Mau apa dia ke sini, Pak?" tanya Akira.

"Saya tidak tahu Bu," jawab satpam itu.

"Bilang padanya, Pak, tunggu saya di luar, jangan bolehkan dia masuk ke rumah," ucap Akira.

Selain karena tak mau Azzam dan Azzura mendengar pertengkaran mereka, Akira juga tidak mau bila Aarav bertemu dengan kedua anaknya sehingga ia melarang Aarav untuk masuk ke rumah.

"Baik, Bu," ucap satpam tersebut kemudian berlalu dari dapur.

Pembicaraan satpam dan Akira tentu saja bisa didengar oleh Azzam dan Azzura. Kedua anak itu bisa mengerti bila hubungan papa dan mamanya tidak baik.

Terlebih lagi saat mereka memperhatikan raut wajah Akira yang berubah saat tahu bila sedang ada papa mereka didepan rumah.

"Kalian makan sendiri, ya. Mama mau nemuin tamu dulu," ucap Akira.

"Apa tamu Mama itu papa kami?" tanya Azzam.

Akira terkejut mendengar pertanyaan Azzam, pasalnya ia tidak pernah memberitahukan nama Aarav pada kedua anak itu.

Dalam benaknya bagaimana Azzam bisa tahu nama yang disebutkan satpam tadi itu adalah nama papa mereka.

Akira tidak tahu saja bila kedua anak kembarnya itu sangat cerdas.

Meski ia tidak memberitahukan nama Aarav pada kedua anaknya itu, tapi Azzam dan Azzura bisa tahu nama tersebut melalui akun media sosial yang tadi Akira tunjukkan pada mereka.

"Bukannya Aarav Adiputro itu papa kami, Ma?" tanya Azzura.

Wajah Akira berubah pias, tadinya ia tidak akan memberitahu pada kedua anak kembarnya bila papa mereka datang.

Tapi bila seperti ini mau tidak mau Akira harus mengatakannya juga.

"Iya Nak, Aarav Adiputro itu papa kalian, dan sekarang dia sedang ada di depan rumah kita," ucap Akira.

"Apa Mama mau menemui papa?" tanya Azzam.

"Iya. Mama mau menemuinya sebentar. Kalian di sini saja jangan ikut keluar," ucap Akira.

"Baik Mah," ucap Azzam dan Azzura serentak.

Keduanya juga menganggukkan kepalanya secara bersamaan.

Setelahnya Akira segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu utama untuk bertemu dengan mantan suaminya.

langkah kakinya ia buat perlahan saat sedikit lagi tiba di tempat Aarav yang sedang duduk menunggunya dikursi teras.

Aarav yang sedang duduk itu rupanya menyadari kehadiran Akira yang sedang berjalan mendekat padanya.

"Aku tahu sekali kamu pasti tidak akan membiarkan aku menunggu lama," ucap Aarav tersenyum pada Akira yang sedang menghampirinya.

Akira tidak memperdulikan ucapan Aarav itu, ia lebih baik segera menduduki salah satu kursi kosong di sana.

"Mau apa kamu kemari?" tanya Akira.

"Tentu saja ingin bertemu denganmu dan juga anak-anak," jawab Aarav.

"Sudah aku katakan, mereka itu anakku, hanya anakku, Aarav." ucap Akira.

"Kamu sepertinya ketakutan sekali bila aku mengambil anak-anak darimu?" tanya Aarav.

Tentu saja Aarav bertanya demikian, pasalnya ia bisa tahu karena Akira tidak pernah memperkenalkannya pada Azzam dan Azzura seolah agar kedua anaknya itu tidak tahu siapa ayah mereka.

"Karena mereka itu hanya anakku, jadi kamu tidak berhak mengambil Azzam dan Azzura dari tanganku," ucap Akira.

"Bagaimana kalau kita tanyakan saja langsung pada Azzam dan Azzura. Apa mereka ingin ikut denganku, atau tetap bersamamu," ucap Aarav.

Akira ketakutan, meski kedua anaknya sudah mengatakan tidak akan pernah meninggalkannya tapi wanita itu tetap saja takut mereka melupakan janjinya.

"Tidak perlu, karena hak asuh Azzam dan Azzura jatuh di tanganku," ucap Akira.

Setelah mengatakan itu, Akira segera bangkit dari duduknya dan hendak kembali masuk ke dalam rumah tapi tangannya langsung dicekal oleh Aarav.

Pria itu menarik tangan Akira yang sudah diraihnya lalu membawa tubuh wanita itu duduk kepangkuannya.

"Lepaskan!" teriak Akira memberontak.

"Sstt, jangan teriak, nanti Azzam dan Azzura bisa mendengar bila kita sedang bertengkar," ucap Aarav seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir Akira.

Akira terdiam, dan ia tidak memberontak lagi sehingga Aarav seger mengutarakan maksud kedatangannya kerumah ini.

"Sebenarnya aku datang kerumahmu bukan untuk mencari keributan denganmu Akira. Aku kemari ingin mengajakmu rujuk denganku," ucap Aarav.

Mata Akira terbelalak lebar, mendengar Aarav mengajaknya rujuk.

Demi apapun ia tidak akan mau rujuk kembali dengan pria itu.

Cukup sekali ia merasakan menjalin rumah tangga bersama Aarav. Saat itu Aarav benar-benar memperlakukan semena-mena padanya.

Akira melepaskan tangan Aarav yang merangkul pinggangnya, kemudian bangkit dari pangkuan pria itu.

"Tidak! Aku tidak mau rujuk kembali denganmu," ucap Akira.

"Kenapa? Bukannya kamu sampai sekarang belum punya pasangan lagi karena masih menungguku?" tanya Aarav.

"Kamu salah Aarav, aku sudah memiliki kekasih dan mungkin sebentar lagi juga kami akan menikah," jawab Akira.

Terpaksa wanita itu harus mengatakan demikian, agar Aarav tidak lagi mengusik hidupnya.

"Aku tidak mempercayainya, selama ini kamu tidak pernah dekat dengan seorang pria," ucap Aarav.

"Terserahmu saja, Aarav. Sekarang sebaiknya kamu pulang karena aku ingin istirahat," ucap Akira.

Tanpa mendengar jawaban dari Aarav, Akira segera masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menaiki tangga untuk menuju kamarnya.

Tapi siapa sangka, Aarav yang ditinggal masuk kerumah oleh Akira itu mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Pria itu menghampiri Azzam dan Azzura yang masih duduk di kursi meja makan sedang menunggu Akira kembali kemeja makan itu.

"Hai Azzam, hai Azzura," sapa Aarav pada kedua anak kembarnya.

Kedua anak kembar yang disapa oleh Aarav itu hanya terdiam sembari saling tatap.

"Hei, kenapa diam saja? Ini papa kalian," ucap Aarav.

Pria itu kemudian merangkul bahu Azzam dan Azzura yang sedang duduk bersisian.

"Anda pria yang tadi datang ke sekolahan kami, kan?" tanya Azzam.

"Yup, benar sekali." jawab Aarav.

"Kalau anda Papa kami, kenapa baru datang menemui kami?" tanya Azzura.

"Apa pekerjaan anda lebih penting dari pada kami?" tanya Azzam.

Aarav kebingungan untuk menjawabnya, ia akui bila dirinya juga salah karena selama ini tidak pernah muncul dihadapan kedua anaknya.

Meski Akira tidak pernah mengenalkannya pada Azzam dan Azzura, tapi bila Aarav selama ini memperhatikan kedua anaknya, pasti ia dikenali oleh Azzam dan Azzura.

"Tentu saja lebih penting kalian. Hanya saja papa dan mama kalian ini sudah berpisah sehingga tidak bisa selalu ada di dekat kalian," ucap Aarav.

"Meski kalian sudah berpisah seharusnya anda tetap memperhatikan kami, bukan seolah kami tidak memiliki ayah," ucap Azzam.

Ucapan anak laki-laki itu tepat mengenai hati Aarav. Ia juga menyesali kenapa baru sekarang datang dihadapan kedua anak kembarnya.

Kalau bisa waktu diputar kembali, Aarav ingin membersamai Akira merawat kedua anak kembarnya itu.

Terpopuler

Comments

harwanti unyil

harwanti unyil

sakit hati

2023-09-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!