Ting.
Pintu lift terbuka. Aku keluar lebih dulu dari dalam lift baru setelahnya Lina mengikutiku dari belakang.
Namun begitu tiba di depan pintu ruang kerjaku, Lina justru mendahuluiku membukakan pintu untukku.
"Terima kasih Lin," ucapku pada Lina yang sudah membukakan pintu.
"Sama-sama Bu," ucap Lina.
Aku kemudian masuk ke dalam ruang kerja tersebut lalu mendudukkan bokongku dikursi kerja.
Di atas meja kerjaku, banyak map ditumpuk menjadi satu tumpukan
Map itu berisi laporan dari semua departement yang ada di perusahaanku.
Ku ambil lebih dulu map yang berada paling bawah, lalu membukanya.
Map itu berisi hasil laporan dari manager pabrik yang melaporkan hasil pembuatan pakaian serta bahan-bahan yang digunakannya.
Aku periksa lebih dulu laporan tersebut barulah aku tanda tangani. Setelah selesai menanda tangani laporan itu barulah aku berganti pada laporan lainnya dan melakukan hal yang sama memeriksa dan menanda tangani juga.
Tidak terasa satu jam berlalu, aku kini telah selesai dengan memeriksa dan menanda tangani laporan tersebut.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi.
"Lin, masuklah," ucapku memanggil Lina melalui telepon kantor.
"Baik, Bu," ucap Lina, kemudian panggilan telepon tersebut aku matikan.
Tidak lama kemudian Lina yang aku telepon tadi masuk ke dalam ruang kerjaku.
"Tolong kamu siapkan apa saja yang akan diperlukan saat meeting," titahku.
"Baik Bu, akan saya siapkan," ucap Lina.
"Untuk sekarang, tolong bawakan laptop dan map ini ke ruang meeting. Saya akan mengerjakannya di sana," ucapku.
"Baik Bu," ucap Lina lalu menghampiri meja kerjaku untuk mengambil laptop dan map yang aku maksud.
Aku keluar lebih dulu dari ruang kerja untuk menuju lantai 4 di mana ruang meeting berada. Sedangkan Lina mengikutiku dari belakang sembari membawa laptop dan map yang akan aku gunakan.
Setibanya di ruang meeting aku menduduk diri diujung meja panjang. Tidak lama kemudian, Lina datang meletakkan laptop dan map di hadapanku.
"Saya pamit menyiapkan konsumsi untuk meeting, Bu," ucap Lina pamit padaku.
"Ya, silahkan," ucapku menoleh pada Lina sekilas lalu kembali menatap pada laptop.
Lina yang pamit padaku langsung pergi keluar dari ruang meeting untuk menyiapkan konsumsi meeting nanti.
Aku melanjutkan lagi pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena pindah tempat dari ruang kerja menuju ruang meeting.
Saking fokusnya aku tidak tahu bila pintu ruang meeting dibuka oleh seorang OB tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Beberapa saat OB itu masuk ke dalam ruang meeting, aku baru menyadarinya, membuatku menoleh pada OB itu.
OB itu ternyata orang yang setiap pagi selalu berdiri disudut lobby kantor saat aku datang.
"Kamu OB yang mau bersihkan ruangan ini?" tanyaku pada OB tersebut.
"I-iya Bu," jawabnya terbata.
Aku mengerutkan kening, karena heran dengan jawabannya yang terbata.
"Kalau begitu bersihkan saja, jangan sampai menggangguku yang sedang bekerja," ucapku.
"Ba-ba-ik Bu," ucapnya terbata lagi.
Aku menggelengkan kepala karena lagi-lagi OB itu terbata saat berbicara denganku.
'Apa mungkin dia gagu?' tanyaku dalam hati tapi tak berani melontarkannya takut OB itu tersinggung.
Pandanganku, aku fokuskan lagi pada layar laptop yang masih menyala. Membuat desain pakaian tentu saja membutuhkan ketelitian yang jeli.
Bukan hanya itu saja, kunci utamanya yaitu fokus. Fokus pada setiap pekerjaan yang kita lakukan tentunya akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Namun, keberadaan OB itu membuat pikiranku tidak bisa fokus meski pandanganku menatap pada layar laptop.
Aku jadi teringat pada OB ini yang selalu memperhatikanku dari sudut lobby setiap pagi.
Aku alihkan pandanganku dari layar laptop menatap pada OB itu yang sedang fokus bekerja.
Tidak lama setelah aku menatapnya, OB itu ternyata menatap balik padaku, membuat aku memfokuskan kembali pandanganku kelayar laptop.
"Permisi Bu, boleh kakinya diangkat dulu, lantainya mau saya pel," ucap OB tersebut.
"Tentu," ucapku tanpa melihat pada OB itu.
Setelahnya, aku kemudian menaikkan kedua kakiku pada injakan kursi. Lalu OB tersebut mengepel dibagian bawah kursiku.
"Astaghfirullahaladzim," ucap OB tersebut.
Aku bisa mendengar OB tersebut beristighfar, tapi aku tidak tahu alasannya kenapa.
Setelah selesai membersihkan bagian bawah kursiku, OB itu kemudian membersihkan toilet yang ada di ruang meeting.
Aku lihat lagi OB itu telah selesai dengan pekerjaannya dan sedang membereskan peralatan kebersihan yang tadi ia gunakan
Tanpa berpamit padaku OB tersebut keluar begitu saja dari ruang meeting.
"Datang tidak ketuk pintu, keluar juga tidak pamit," ucapku sembari menggelengkan kepala.
Tidak lama setelah kepergian OB itu, masuklah Lina bersama OB lainnya yang membawakan konsumsi untuk meeting.
"Letakan kotak nasi tersebut bersama air mineralnya di meja depan kursi masing-masing," titah Lina pada OB disana.
"Baik Bu," ucap OB tersebut.
Lina mengawasi OB disana yang sedang meletakkan kotak nasi serta air mineral di meja depan kursi masing-masing.
"Lin," panggilku.
"Iya Bu," ucap Lina kemudian menghampiriku.
"Kamu tahu tidak, OB yang baru saja keluar dari ruang meeting ini namanya siapa?" tanyaku pada Lina.
"Saya tadi lihat OB yang keluar dari ruang meeting ini, Bu. Tapi saya tidak melihat nama di bajunya," jawab Lina jujur.
"Siapa ya namanya?" tanyaku bergumam.
"Oh, mungkin, OB itu tahu namanya, Bu," ucap Lina menunjuk pada OB yang sedang menyiapkan konsumsi, membuat pandanganku mengikti arah jari telunjuk Lina menunjuk.
"Apa perlu saya tanyakan pada OB itu, Bu?" tanya Lina.
Aku terdiam sembari berfikir.
"Tidak perlu Lin," jawabku.
"Baik Bu," ucap Lina.
Tidak lama kemudian OB di dalam ruang meeting ini telah selesai dengan tugasnya, sehingga pria itu keluar dari sini dan berganti dengan para direksi perusahaan yang masuk ke dalam ruang meeting.
Meeting internal perusahaan dimulai pukul 10.00 pagi, dan masih ada sisa waktu 10 menit lagi sebelum meeting itu dimulai.
"Bagaimana kabar anda Bu Akira?" tanya wakil direktur di sana setelah menyalimiku.
"Kabar saya baik, Pak Azril," jawabku.
Setelahnya kami berbincang santai lebih dulu, hingga tepat pukul 10.00 pagi barulah kami memulai meeting internal perusahaan.
Dari masing-masing departemen tentunya mempresentasikan laporan yang mereka kirim padaku.
Aku tidak mau hanya sekedar laporan yang aku terima, aku juga ingin mereka menjelaskan apa saja yang departement mereka kerjakan selama 1 bulan terakhir.
Meeting berlangsung hampir 2 jam. Pukul 12.00 kurang 15 menit kami baru selesai dengan meeting tersebut.
Saat itu juga aku baru teringat pada Azzam dan Azzura yang mengatakan bila mereka pulang pukul 09.00 pagi.
Aku belum sempat menghubungi Pak Ujang untuk menjemput mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments