Bab. 2 Mengagumi

Keesokan harinya.

Setiap pagi aku ditugaskan oleh Pak Ari untuk membersihkan lobby kantor yang tentu saja membuatku dengan senang hati melakukannya.

Meski harus membersihkan lobby kantor yang luas seorang diri, tapi aku sangat senang mendapatkan tugas tersebut.

Setiap pagi aku menyempatkan diri untuk berdiri disudut lobby memperhatikan seseorang yang telah membuat jantungku berdebar hebat saat melihat maupun memikirkannya.

Dilobby inilah kesempatan bagiku untuk bisa melihatnya, karena selama aku bekerja disini aku tidak bisa melihatnya di tempat lain.

Aku berdiri disudut lobby seorang diri, dengan mengenakan seragam OB bertulisan nama diriku 'Raka Alfareza' di sebelah dada kiri.

Peralatan pel masih berada di tanganku, namun pandanganku menatap seseorang yang sedang melangkahkan kakinya, berjalan masuk kedalam kantor.

Wanita cantik dengan style yang sempurna, mengenakan rok span berwarna hitam diatas lutut, dengan atasan kemeja putih yang dibuka dua kancing bagian atas, serta kacamata hitam yang bertengger dihidungnya.

Rambut panjang yang terurai semakin membuat wanita itu memancarkan pesona kecantikannya.

"Cantiknya," gumamku tanpa aku sadari mulutku terbuka karena saking kagumnya pada wanita cantik itu.

Para karyawan yang melihat kedatangan wanita itu segera berbaris rapih menyambutnya masuk kedalam kantor.

Wanita cantik itu berjalan bersama satu orang wanita disebelah kirinya, yang aku tahu wanita itu ialah sekretaris dari wanita yang sedang aku pandangi.

"Selamat pagi Bu," ucap salah satu karyawan yang menyapa wanita itu.

"Pagi juga," ucap kedua wanita itu dengan serentak.

Aku terus memandangi wajah cantik wanita itu, membuat aku semakin terkagum padanya.

Kedua wanita itu terus melangkahkan kakinya melewati para karyawan yang menyambut kedatangan mereka.

Tak tok tak tok

Suara high heels yang terhentak dilantai mengiringi langkah kaki mereka untuk menuju pintu lift lantai satu.

Setibanya didepan lift kedua wanita itu menunggu sejenak hingga tidak lama kemudian pintu lift tersebut terbuka dan kedua wanita itu masuk kedalam lift tersebut untuk menuju ruangannya.

Aku jadi tidak bisa lagi memandangi wanita cantik itu karena ia sudah masuk ke dalam lift.

Entah di mana ruang kerjanya berada, aku tidak tahu. Karena aku belum pernah masuk kedalam ruang kerja wanita cantik itu.

Tapi yang aku dengar dari selentingan para karyawan pria dikantor ini, bila wanita cantik itu bekerja dilantai 6.

"Ngapain kamu mandangin Bu Akira seperti itu?" tanya pak Ari menegurku.

Aku yang masih terkagum pada wanita cantik yang tadi lewat, langsung tersadar karena teguran dari Pak Ari.

"Eehh, tidak Pak. Saya melihat Bu Akira biasa saja kok," ucapku.

"Jaga matamu kalau kamu masih mau bekerja di sini," ucap Pak Ari.

"Baik Pak, kalau begitu saya permisi lanjut bekerja," ucapku.

"Iya," jawab Pak Ari.

Setelahnya aku melanjutkan pekerjaanku membersihkan semua penjuru lobby.

Pukul 09.00 pagi aku baru saja selesai membersihkannya. Aku segera menghampiri Pak Ari untuk menanyakan pekerjaan yang harus aku kerjakan selanjutnya.

Aku melihat Pak Ari sedang duduk di kursi yang berada di dapur kantor, sembari meminum kopi dan tangannya yang memegang ponsel.

"Sudah selesai kamu bersihkan lobby?" tanya Pak Ari setelah melihat aku menghampirinya.

"Sudah Pak, bagian mana lagi yang harus saya bersihkan?" tanyaku.

"Bersihkan ruang meeting yang ada dilantai 4," titah Pak Ari.

Di kantor itu ada dua ruang meeting yang biasa digunakan untuk rapat. Satu berada dilantai 2 untuk meeting para staff kantor dan satu lagi berada dilantai 4 untuk meeting para direksi.

Aku mengernyitkan kening karena heran dengan perintah Pak Ari yang memintaku membersihkan ruang meeting di lantai 4 karena tugasku hanya membersihkan lantai 1 dan 2.

Ruang meeting itu tentu saja bukan bagianku membersihkan di sana.

"Kenapa? Kamu mau protes?" tanya Pak Ari.

"Tidak, Pak," jawabku.

"Tugas kamu memang membersihkan lantai 1 dan 2. Tapi saya mau kamu yang membersihkan disana, kasihan yang lain perlu istirahat," ucap Pak Ari.

Ingin aku menjawab, 'Aku juga perlu istirahat' tapi aku urungkan. Aku tidak mau mendapat masalah karena menolak perintah dari supervisi apalagi sampai dipecat.

Aku sudah merasakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan. Oleh karenanya aku sangat menyayangi pekerjaanku ini, meski aku diperlakukan tidak adil disini.

"Kalau begitu biar saya yang mengerjakannya, Pak," ucapku.

"Ya sudah sana kamu kerjakan," ucap Pak Ari.

Aku menganggukkan kepalaku terlebih dahulu, baru kemudian segera menuju lantai 4, di mana aku ditugaskan membersihkan ruang meeting dan juga toilet disana.

Setibanya di sana, rupanya ada wanita cantik yang aku kagumi sedang duduk menatap pada layar laptop diruangan tersebut.

Aku merasa seperti mendapat keberuntungan karena bisa melihat Bu Akira lagi. Bu Akira yang sedang fokus pada layar laptopnya terlihat lebih cantik, dibandingkan tadi pagi aku melihat saat wanita itu baru datang ke kantor.

"Permisi Bu," ucapku yang sudah terlanjur membuka pintu ruang meeting.

Aku kira di dalam ruang meeting itu tidak ada orang sehingga aku membuka pintu begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dahulu.

Bu Akira menoleh padaku, membuat jantungku semakin berdebar tak karuan. Aku jadi grogi dibuatnya.

"Kamu OB yang mau bersihkan ruangan ini?" tanya Bu Akira sembari menatapku.

"I-iya Bu," jawabku terbatas karena grogi.

"Kalau begitu bersihkan saja, jangan sampai menggangguku yang sedang bekerja," ucap Bu Akira.

"Ba-ba-ik Bu," ucapku.

Kulihat Bu Akira menggelengkan kepalanya, mungkin Ia berpikir bila aku ini 'gagu' karena berbicara padanya dengan terbata.

Aku kemudian mulai membersihkan ruangan tersebut, dengan sesekali melirik pada Bu Akira yang kembali fokus pada laptopnya.

Kulihat Bu Akira juga sesekali melihat padaku, atau hanya aku saja yang terlalu percaya diri.

"Permisi Bu, boleh kakinya diangkat dulu lantainya mau saya pel," ucapku.

"Tentu," ucap Bu Akira tanpa melihat padaku.

Bu Akira segera menaikkan kakinya menginjak pada injakan kursi, lalu setelahnya aku mengepel lantai di bagian bawah kursi tersebut.

Dengan posisi tubuh yang menunduk aku merasa tidak nyaman karena melihat kaki mulus Bu Akira dihadapanku.

"Astaghfirullahaladzim," ucapku beristighfar pelan.

Aku cepat-cepat membersihkan bagian bawah kursi yang diduduki Bu Akira dan tidak lama kemudian akhirnya selesai juga.

Selanjutnya aku lanjut membersihkan toilet yang ada di ruangan tersebut. Setelah selesai juga, aku segera membereskan peralatan kebersihan dan menyempatkan diri menatap wajah cantik Bu Akira sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Saat keluar dari ruang meeting aku berpapasan dengan sekretaris Bu Akira yang dibelakangnya diikuti oleh OB yang membawa konsumsi.

Aku anggukkan kepala pada wanita itu yang juga membalas anggukan kepalaku, setelahnya aku akan kembali kedapur untuk beristirahat sejenak baru setelahnya lanjut mengerjakan pekerjaan lainnya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!