Bab. 12 Mantan Suami

Jam pulang sekolah tiba, kedua anak kembar Akira itu berjalan keluar dari gerbang sekolahan untuk menghampiri supir mereka yang sudah menunggu tak jauh dari pintu gerbang sekolah.

Mereka yang tadi dijauhi oleh teman-teman sekolahnya, kini sudah tidak merasa sedih lagi, sehingga keluar dari gerbang sekolah dengan ceria.

Tapi, setibanya di luar gerbang, Azzam dan Azzura lebih dulu dihampiri oleh seorang pria yang belum pernah mereka lihat selama ini.

"Hai Azzam, Azzura," sapa pria tersebut pada kedua anak kembar Akira.

Azzam dan Azzura yang dihampiri oleh seseorang tentunya menghentikan langkah kaki mereka.

"Om, tahu nama kami?" tanya Azzam heran.

"Apa kalian tidak mengenaliku?" tanya pria tersebut tak kalah heran.

Azzam dan Azzura serentak menganggukan kepalanya karena memang mereka tidak mengenali pria tersebut.

Pria itu segera mengeluarkan ponselnya, lalu membuka galeri foto untuk mencari foto lamanya. Setelah mendapatkan foto tersebut, pria itu segera memperlihatkan pada Azzam dan Azzura.

"Kalian lihat ini? Ini foto Mama kalian dan juga saya," ucap pria tersebut sembari memperlihatkan foto pernikahan Akira dan dirinya.

Rupanya, pria itu ialah mantan suami Akira yang tak lain ayah dari Azzam dan Azzura.

"Lalu?" tanya Azzam yang tak mengerti mengenai foto pernikahan tersebut.

Belum sempat pria itu menjawab pertanyaan Azzam, Pak Ujang lebih dulu datang menghampiri kedua anak kembar Akira.

"Den Azzam, Non Azzura, ayo pulang," ajak Pak Ujang.

"Iya Pak," jawab Azzam dan Azzura serentak.

Kedua anak kembar itu langsung berlari menuju mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Pak Ujang, meninggalkan ayah mereka disana.

Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Pak Ujang langsung menutup pintu mobil tersebut, lalu hendak membuka pintu mobil bagian kemudi tapi langsung dihadang oleh mantan suami Akira.

"Maaf Pak, jangan menghalangi jalan saya," ucap Pak Ujang pada pria tersebut.

"Saya Papa-nya Azzam dan Azzura. Saya ingin mereka pulang bersama saya," ucap pria tersebut yang mampu membuat Pak Ujang terkejut.

Selama ini ia belum pernah melihat sosok ayah dari Azzam dan Azzura sehingga ini pertama kali baginya melihat mantan suami majikannya itu.

Pak Ujang yang terkejut tentunya langsung memperhatikan dari ujung rambut hingga ujung kaki pria di hadapannya.

Pria itu sangat tampan, dan tentunya sangat mirip dengan anak laki-laki Akira yakni Azzam.

Namun, rasa terkejutnya buru-buru ia kendalikan, karena mengingat pesan dari Akira.

"Maaf, Pak, Bu Akira tidak mengizinkan anak-anak pulang dengan orang lain, selain saya," ucap Ujang.

"Saya ini Papa-nya, saya juga berhak membawa mereka!" ucap pria itu dengan tegas.

"Sekali lagi saya minta maaf, Pak, saya tidak bisa membiarkan Den Azzam dan Non Azzura anda bawa. Bila anda bersi keras ingin membawa mereka, silahkan hubungi Bu Akira dulu," ucap Pak Ujang.

Setelah mengatakan demikian Pak Ujang segera masuk kedalam mobil dimana anak majikannya sudah menunggu didalamnya, lalu melajukan mobil tersebut menuju rumah Akira.

Pria yang mengaku ayah dari kedua anak kembar itu juga segera pergi dari depan gerbang sekolahan untuk menuju kantor dimana saat ini ia yakini Akira sedang berada disana.

Setibanya dikantor tersebut, pria itu segera menghampiri resepsionis terlebih dahulu untuk mematuhi prosedur bertamu.

"Katakan pada Akira bila Aarav Adiputro ingin bertemu," ucap pria yang tadi mengaku sebagai ayah Azzam dan Azzura.

"Baik Pak," ucap resepsionis disana.

Sesuai prosedur, wanita itu segera menghubungi Lina, untuk memberitahukan bila ada yang ingin bertemu dengan bos mereka.

Lina sendiri tentunya tahu siapa Aarav Adiputro, yang tak lain mantan suami dari bos-nya itu.

"Sebentar, saya tanyakan dulu pada Bu Akira, apa beliau ingin menemuinya atau tidak," ucap Lina.

"Baik, Bu Lina, saya tunggu kabarnya," ucap resepsionis tersebut yang langsung mengakhiri sambungan teleponnya.

"Bagaimana?" tanya Aarav.

"Sebentar Pak, masih disampaikan oleh Bu Lina pada Bu Akira," ucap resepsionis itu yang diangguki oleh Aarav.

Pria itu menunggu kabar tersebut sembari berdiri didepan meja resepsionis, padahal ia sudah diminta duduk dikursi tunggu yang ada dilobby, tapi pria itu tidak mau.

Aarav hanya ingin menunggu gambar itu dari tempatnya berdiri.

Diruangan Akira, Lina baru saja masuk kedalam ruangan tersebut untuk memberi tahukan bila sedang ada yang menunggu wanita itu dilobby.

"Bu Akira ada yang ingin bertemu dengan anda," ucap Lina.

"Siapa?" tanya Akira tanpa melihat pada Lina dan masih berkutat pada laptopnya.

"Eemm," Lina ragu mengatakannya.

"Siapa?" tanya Akira lagi.

"Pak Aarav Adiputro, Bu," ucap Lina yang tentunya mampu menghentikan tangan Akira yang sedang berkutat pada leptopnya.

Akira kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatap pada Lina.

"Mau apa dia kemari?" tanya Akira.

"Tidak tahu, Bu," jawab Lina.

"Suruh dia pulang, saya tidak mau menemuinya," ucap Akira.

"Baik Bu," ucap Lina.

Setelahnya wanita itu segera keluar dari ruangan Akira, lalu menghubungi resepsionis dilantai satu.

Lina mengatakan pada resepsionis itu, bila Akira tidak mau menemui Aarav Adiputro.

Hal itu tentunya langsung resepsionis sampaikan pada pria yang masih berdiri didepan mejanya.

"Jadi Akira tidak mau menemuiku?" tanya Aarav.

"Betul Pak. Silahkan anda kembali lain kali saja," ucap resepsionis.

Aarav tidak mengindahkan ucapan resepsionis disana, ia justru melangkahkan kakinya untuk semakin masuk ke dalam kantor itu.

"Pak, anda tidak boleh masuk sembarangan," ucap resepsionis sembari mengejar Aarav.

Tapi pria yang dikejar itu sama sekali tidak mau menghentikan langkah kakinya, dan masih terus berjalan hingga akhirnya masuk kedalam lift.

Resepsionis yang gagal menghentikan Aarav tentu saja panik. Wanita itu segera menghubungi Lina untuk memberitahukan bila Aarav Adiputro sedang menuju ruangan Akira.

Sambungan telepon tersebut berakhir, dan Lina segera memberitahukan pada bos-nya bila Aarav Adiputro memaksa ingin bertemu. Pria itu sedang menuju ruangannya.

"Apa tidak ada yang mencegah dia masuk?" tanya Akira.

"Pak Aarav sudah dicegah oleh resepsionis, Bu tapi beliau tetap memaksa," jawab Lina.

Tidak lama kemudian pintu ruangan Akira dibuka oleh pria bernama Aarav Adiputro itu.

"Kenapa kamu tidak ingin bertemu denganku?" tanya Aarav begitu membuka pintu ruangan Akira.

Lina yang mengerti situasi tersebut segera pergi dari sana.

Akira tak langsung menjawab, ia lebih dulu menatap pada pria yang sedang melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerjanya.

Tanpa dipersilakan Aarav menduduki sofa di ruangan itu, mengangkat kedua kakinya lalu Ia silangkan dimeja kaca.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Akira.

"Tentu saja mau bertemu denganmu," jawab Arrav.

Akira tersenyum miring pada pria di hadapannya.

"Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan padaku, silahkan keluar dari sini," ucap Akira.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!